
Dua hari berlalu, sejak keluarnya Siti dan Batra dari rumah bundo Niar. Terlihat bundo Halimah sedang berbaring di atas ranjang kamar tamu. Ia terlihat lemas dan tak bersemangat. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Namun sosok Fadli, putra kesayangannya, belum juga muncul untuk menemui dirinya.
Tok!
Tok!
Tok!
Tiba-tiba saja, terdengar ketukan dari luar kamar tersebut.
Bundo Halimah menoleh ke arah pintu kamar itu, lalu ia kembali mendengar ketukan di sertai suara bundo Niar yang sedang memanggil dirinya.
"Mah, ooo... Mah.." Panggil bundo Niar.
Mendengar bundo Niar memanggil namanya, bundo Halimah pun beranjak duduk dan bergegas memakai turban, sebagai penutup kepalanya. Setelah itu, ia pun beranjak untuk membukakan pintu kamar tersebut.
"Ya, uni?" Jawab bundo Halimah.
"Si Fadli sudah datang," Ucap bundo Niar.
Seketika, kedua mata bundo Halimah terlihat berbinar. Rasa bahagia pun menghampiri dirinya. Keyakinannya terjawab sudah, bila Fadli pasti akan datang menemui dirinya. Atau bahkan akan membawanya untuk tinggal bersama dengan putranya tersebut.
"Dima nyo ni?" Tanya bundo Halimah dengan bersemangat.
"Ado di ruang tamu. Cepat temui anakmu," Ucap bundo Niar.
"Iyo uni." Bundo Halimah pun bergegas ke arah ruang tamu.
Sesampainya bundo Halimah di ruang tamu, ia melihat Fadli, beserta dengan anak dan istrinya, sedang duduk menunggu dirinya. Saat itu juga, bundo Halimah menghampiri Fadli dan memeluk putranya itu dengan erat. Bundo Halimah pun menangis di pelukan Fadli. Sedangkan anak dan istri Fadli, hanya mampu menatap sisa duka yang sengaja di ekspresikan oleh bundo Halimah kepada Fadli.
Fadli membalas pelukan bundo Halimah. Raut wajahnya pun terlihat datar dan sangat susah untuk di tebak. Entah ia sedang merasa kehilangan, duka, sesal, atau apa pun itu, tak ada satupun yang dapat melihatnya dari wajah Fadli.
"Kama sajo kau? Apak kau meningga. Kenapo kau indak segera datang? Adiak kau si Siti bangih-bangih nyo." Sesal bundo Halimah, di sela tangisannya.
Fadli menghela napas panjang. Lalu ia melepaskan pelukannya dan menuntun bundo Halimah untuk duduk di sampingnya.
"Fadli sudah bilang samo bundo. Fadli di lua nagari," Jawab Fadli.
Bundo Halimah mengusap air matanya dan menatap Fadli dengan seksama. Sementara istri Fadli, beranjak untuk menyalami bundo Halimah.
"Bundo," Sapa istri Fadli, yang bernama Rima.
"Iya.." Sahut bundo Halimah.
__ADS_1
"Nek," Sapa anak Fadli yang tertua. Sedangkan yang kedua, masih di dalam gendongan sang ibu.
"Iya.." Sahut bundo Halimah, seraya mencium dan memeluk cucunya tersebut.
"Jadi, apak di kubua dima bun?" Tanya Fadli.
"Apak kau, di kubua di pemakaman keluarga. Tadi kau sudah mencaliak rumah kita?" Tanya bundo Halimah.
"Sudah," Sahut Fadli.
"Rumah kita habis, nak. Entah dima bundo ka tingga kini."
Wajah Fadli mendadak berubah. Tampak sekali ia sedang memikirkan sesuatu yang memberatkan pikirannya.
"Si Siti baa, bun? Lah pulang nyo ke Jakarta?" Tanya Fadli, tanpa mengacuhkan ucapan bundo Halimah sebelumnya.
"Antah. Inyo pai lah duo hariko." Jawab bundo Halimah.
"Kok bundo indak tau? Nyo baliak ka Jakarta?" Tanya Fadli sekali lagi.
Bundo Halimah hanya menggelengkan kepalanya dan terdiam membisu.
"Manga bundo indak ikuik jo si Siti? Kan lamak hiduik di Jakarta."
Bundo Halimah terperangah mendengar ucapan Fadli.
"Rumah kan alah rato jo tanah. Tu, kama lai bundo ka tingga?" Ucap Fadli.
Bundo Halimah mengerutkan keningnya. Lalu ia menatap Fadli dengan seksama.
"Bundo minta tolong jo kau, Fadli. Tolong bangun rumah tu. Ketek pun indak masalah," Ucap bundo Halimah.
"Membangun rumah?" Tanya Fadli, dengan ekspresi yang tak percaya.
"Iyo, hanya kau yang bisa bundo andalkan. Kalau si Siti, laki nyo miskin!"
Fadli melirik istrinya yang mulai memasang wajah yang tak nyaman.
"Kami baru beli rumah, bun. Kami juga baru aja jalan-jalan dari luar negeri. Uang kami sudah habis," Ucap Fadli.
"Tapi, Fadli..."
Belum selesai bundo Halimah berbicara, Rima pun memotong pembicaraan tersebut.
__ADS_1
"Bundo, kami juga butuh banyak biaya untuk hidup dan persiapan sekolah anak kami. Jadi, kami tidak bisa membantu membangun rumah bundo. Lagi pula, bagi orang Minang, yang berhak atas rumah itu kan si Siti, bukan uda Fadli atau anak-anaknya. Jadi, kenapa bundo tidak meminta bangun rumah pada si Siti saja?"
Bundo Halimah terperangah seraya menatap Rima dengan tatapan tak percaya.
"Kalau bisa, jangan memberatkan anak. Kami pun berusaha untuk hidup yang layak di rantau orang." Sambung Rima.
Deg!
Hati bundo Halimah pun terasa terhantam batu karang. Rasa perih karena ucapan Rima, mengalir ke seluruh tubuhnya. Hingga membuat dada bundo Halimah terasa sesak.
Mereka semua terdiam. Termasuk bundo Niar yang juga duduk di ruang tamu tersebut.
"Hmmm, bagaimana kalau bundo kalian ini, di kontrakan rumah saja. Atau.. ikut bersama dengan kalian ke Batam." Akhirnya bundo Niar memberanikan diri untuk memberikan jalan tengahnya.
"Ikut? Tidak mungkin! Saya sudah terlalu repot mengurus dua anak kecil sekaligus. Tidak mungkin saya juga mengurus bundo!" Ucap Rima, dengan tegas.
Bundo Halimah kembali terperangah dan menatap Rima dengan tatapan tak percaya.
"Astaghfirullahalazim... Kalau begitu, bagaimana di kontrakan rumah saja. Biar bundo kalian nyaman," Ucap bundo Niar lagi.
"Tidak bisa. Kami tadi sudah bilang, kalau kami pun butuh biaya. Kami tidak bisa membantu sama sekali. Lagi pula, anak bundo bukan hanya uda Fadli kan?" Ucap Rima, dengan raut wajah yang terlihat kesal.
Bundo Halimah menatap Rima dan Fadli dengan air matanya yang bercucuran. Bundo Halimah tidak mampu lagi membendung rasa sedihnya. Sudah kehilangan suami, kehilangan rumah dan isinya. Kini anak yang ia banggakan tidak dapat membantu dirinya. Bahkan menantunya sendiri, dengan terang-terangnya menolak dirinya.
"Uda, ayo kita balik ke hotel!" Perintah Rima.
Bak sapi yang di cocok hidungnya, Fadli pun beranjak dari duduknya dan menuruti permintaan istrinya tanpa memikirkan perasaan ibunya yang sedang berharap atas belas kasih Fadli sebagai seorang anak.
"Fadli pamit dulu bun. Saran Fadli, ikutlah bersama dengan Siti. Lagi pula, suami lnya Siti itu pernah tinggal sama bundo Inilah saatnya dia balas budi. Kalau Fadli sendiri, jujur, Fadli tidak bisa menampung bundo," Ucap Fadli, seraya menyalami bundo Halimah.
Lalu Fadli berbalik badan dan berjalan ke arah pintu rumah tersebut, bersama dengan anak dan istrinya.
"Fadli.." Panggil bundo Halimah.
Fadli pun menoleh dan menatap bundo Halimah tatapan yang tampak merasa bersalah.
"Bawa bundo, Fadli.. Bundo mohon.." Bundo Halimah, tampak begitu mengiba dengan air mata yang terus membasahi kedua pipinya.
"Maaf bundo. Nanti Fadli telepon si Siti, untuk menjemput bundo. Assalamu'alaikum," Ucap Fadli. Lalu ia beserta anak dan istrinya meninggalkan bundo dan rumah tersebut begitu saja.
Bundo Halimah tak kuasa menahan rasa pilunya. Ia terduduk di atas lantai, serta meraung menahan perih di hatinya.
"Fadliiii..." Panggilnya lagi.
__ADS_1
Namun yang terlihat hanya punggung Fadli dan keluarganya yang perlahan menghilang begitu saja dari pandangan matanya.
"Halimah! Halimah! Bangun Halimah!" Seru bundo Niar.