
Bunyi ketukan palu dan juga mesin potong keramik bersahutan. Batra yang baru saja selesai menjalankan sholat Ashar, berdiri menatap rumah milik mertuanya yang baru saja ia bangun kembali. Senyuman tersungging di sudut bibirnya. Hatinya tak henti-henti mengucapkan rasa syukur kepada sang Pencipta dan juga kebaikan abang nya, yaitu Rozi yang dengan ikhlas membantu dirinya untuk mendapatkan uang agar bisa membangun rumah tersebut.
"Uda."
Batra menoleh dan melihat Siti dan kedua anak mereka berjalan menghampiri dirinya.
"Ini Siti bawakan kopi dan gorengan untuk uda dan lainnya," Ucap Siti, seraya memamerkan rantang yang bersusun tiga dan termos yang sedang ia pegang.
"Alhamdulillah. Pasti enak sekali. Terima kasih ya sayang," Ucap Batra, seraya mengecup lembut pipi Siti. Sedangkan Siti menjadi salah tingkah karena perlakuan Batra yang tidak pernah berubah sejak mereka awal menikah dulu.
"Kalian main lah, biar papa sama mama ngobrol dulu ya," Ucap Batra pada kedua anaknya.
"Iya pa," Sahut si sulung. Lalu ia mengajak adiknya bermain mobil mobilan di tumpukan pasir untuk bahan bangunan yang masih tersisa.
"Berapa lama lagi selesai da?" Tanya Siti, seraya membuka rantangnya.
"Sekarang lagi di kramik. belum di asbes. Masih banyak yang harus di selesaikan. mungkin sekitar kurang lebih dua minggu lagi," Ucap Batra, seraya menuangkan kopi ke dalam gelas plastik yang sengaja Siti bawa untuk dirinya.
"Da,"
"Ya?"
"Sampai sekarang, Siti belum dapat kabar dari bundo doh da.." Ucap Siti dengan raut wajah yang tampak khawatir.
"Kenapa kamu gak menghubungi uda Fadli?" Tanya Batra.
"Malas Siti da. Nanti juga dia menghubungi kalau bundo sampai di sana."
"Seharusnya sudah sampai apa belum ya?" Tanya Batra.
"Seharusnya sudah sih da. Soalnya kalau di hitung-hitung, sudah tiga hari dua malam." Jelas Siti.
"Ya mungkin uda Fadli memang sengaja tidak menghubungi. Mudah-mudahan dengan tidak menghubunginya mereka telah menerima bundo dengan senang hati." Batra mencoba menghibur Siti.
"Tapi da, bundo itu baru sembuh. Apa iya dia bisa sampai ke sana? Siti hanya takut bundo terlantar."
Batra menatap Siti dengan seksama, lalu ia menghela napas panjang dan mencoba untuk menenangkan Siti seraya mengusap punggung istrinya tersebut.
"Pertama, bundo sudah pernah ke sana. Kedua, setelah kamu tinggal pulang waktu itu, uda sudah menyusul bundo ke rumah sakit. Tetapi bundo katanya sudah pergi pakai taksi. Uda sangat khawatir sekali, lalu, uda coba mencari di terminal, tetapi sudah tidak ada bundo. Kita bisa apa? Kita hanya bisa mendoakan saja, semoga bundo sampai di tujuan dengan selamat."
Siti menghela napas panjang, lalu ia mengangguk pasrah dan menyodorkan gorengan pisang ke hadapan suaminya.
"Da, ini masih hangat. Makan lah da."
"Terima kasih sudah memasak untuk uda," Ucap Batra seraya mengecup kening istrinya itu.
"Da Batra!" Panggil seorang pemuda yang bergegas menghampiri dirinya.
"Ya jang?" Sahut Batra.
"Da, kita butuh pupuk besok da. Terus kita butuh pembasmi hama. Soalnya sisanya tinggal sedikit," Ucap Ujang, pemuda yang Batra percayai untuk membantunya mengelola sawah peninggalan ayah mertuanya.
__ADS_1
"Ok, besok uda belanja. Oh iya, kebun kita sudah panen belum? Kalau sudah, antarkan ke rumah ya. Uda mau bawa ke pekan," Ucap Batra.
"Sayur-sayuran nya sudah panen da. Tadi pagi sudah di antarkan si Putra ke gudang. Terus buah-buahannya rencana besok mau di panen sama anggota kita." Terang ujang.
"Alhamdulillah. Terima kasih ya Jang. Besok subuh nanti di pindahkan ke truk uda. Nanti biar uda yang suplay ke pakan."
"Siap Boss!" Seru ujang seraya tersenyum.
"Boss dari mana?," Batra tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya.
"Da,"
"Ya?" Batra menoleh dan menatap Siti dengan seksama.
"Uda sudah persis seperti bapak Siti. ternyata bakat uda di pertanian ya," Seloroh Siti.
Batra tersenyum dan lalu menyeruput kopinya.
"Sebenarnya bukan bakat. Tetapi mempelajari. Kalau buka uda, siapa lagi? Masa harus kamu yang menghandle semuanya? Kamu cukup di rumah, melihat perkembangan anak kita, terima duit dan bahagia bersama denganku," Ucap Batra seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Ondeh makkk.. udaaaaa... melehhh hati adiak ko mah da.." Siti tersenyum malu-malu dan merebahkan kepalanya di baju Batra.
"Doakan saja uda ya. Banyak cita-cita uda yang mau dan akan uda usahakan untuk mewujudkannya. Tanpa doa kamu, semua tidak akan bisa berjalan. Semoga, inilah jalan kita menuju sukses," Ucap Batra.
"Aamiin da. Doa ku selalu untuk uda. Tapi....."
"Tapi apa?" Tanya Batra seraya melirik Siti.
"Baru saja uda mau bilang. Uda mau punya perempuan satu lagi."
"Uda!" Siti memukul lengan Batra dan memasang wajah yang penuh dengan kecemburuan.
"Itu loh maksudnya, uda mau anak perempuan satu lagi," Seloroh Batra.
"Ish uda! Hampir saja Siti jantungan!" Siti mendengus kesal.
"Ti, insya Allah, uda gak akan meninggalkan Siti atau mencari yang lain nya. Durhaka uda kalau uda mencari perempuan lain. Saat uda susah, cuma Siti yang mau terima. Saat uda di hina, cuma Siti yang mau membela. Kepercayaan Siti pada uda begitu besar. Siti percaya kalau uda mampu membahagiakan Siti di kemudian hari. Lantas, mengapa harus uda khianati kepercayaan Siti? Rezeki yang datang kepada uda pun berkat doa tulus Siti. Uda gak mau main-main masalah hati istri. Takut di kutuk Allah dan malaikat," Ucap Batra, seraya tersenyum manis kepada Siti.
"Onde mande uda kanduang kesayangan ambo...!"
Saking bahagianya, Siti memeluk erat Batra tanpa mempedulikan banyak nya pasang mata menatap mereka berdua.
.
"Stop! Stop! Di siko!"
Angkot yang membawa bundo Halimah pun menepi di pinggir jalan raya yang sedang padat.
"Nih pitihnyo," Ucap Bundo Halimah, seraya memberikan uang sebesar lima ribu rupiah pada pengemudi angkot.
"Kurang bu," Ucap pengemudi tersebut.
__ADS_1
"Gak ada uang lagi! Ambil saja itu! Terima kasih!" Ucap bundo Halimah, seraya berlalu begitu saja.
Supir angkot itu pun menggelengkan kepalanya.
"Untung sudah tua dan sulit berjalan. Kalau masih sehat, gak ikhlas saya!" Ucap supir angkot tersebut kepada penumpang yang duduk di depan bersama dengannya.
Sang penumpang pun hanya tersenyum. Lalu mereka berdua menatap bundo Halimah yang berjalan dengan perlahan memasuki gerbang perumahan.
"Maaf bu, mau kemana?" Tanya seorang satpam penjaga gerbang perumahan tersebut.
"Mau ke blok D." Jawab bundo Halimah.
"Mohon maaf, mau ke rumah siapa ya?" Tanya Satpam itu lagi.
Tin!
Tin!
Tiba-tiba saja seseorang membunyikan klakson mobilnya, karena merasa terhalangi bundo Halimah yang berdiri di tengah jalan.
"Ibu nya minggir dulu ya," Pinta sang satpam.
Dengan susah payah, bundo Halimah pun mengangkat tas nya dan mencoba untuk menepi. Namun ternyata pengemudi mobil tersebut pun tidak kunjung melajukan mobilnya. Justru ia membuka kaca mobilnya dan memperhatikan bundo Halimah.
"Bundo!" Serunya.
Ternyata dia adalah Fadli yang baru saja pulang dari bekerja.
"Fadli! Ya Allah.. Akhirnya. Bundo mau kerumah kau. Sulit bundo jalan nak," Ucap bundo Halimah.
Fadli pun beranjak turun dari mobilnya dan menghampiri bundo Halimah yang berdiri di tepi pos satpam.
"Bundo sama siapa ke sini?"
"Sendiri." Jawab bundo Halimah.
"Duh ya ampun! Kurang ajar sekali si Siti! Kenapa dia biarkan bundo pergi sendiri ke sini!" Ucap Fadli dengan geram.
"Bundo yang mau pergi sendiri. Bundo gak mau tinggal jo si Siti dan laki nyo. Bundo mau tinggal di sini sama kau Fadli."
Deg!
Mendengar ucapan bundo Halimah, Fadli pun tertegun.
"Ti-tinggal di-di sini?" Fadli mencoba memastikan ucapan ibunya itu.
"Iya. Ayo kita pulang," Ucap bundo Halimah, seraya menyerahkan tas nya kepada Fadli.
Dengan enggan, Fadli pun meraih tas milik bundo Halimah dan menuntun bundo Halimah menuju mobilnya.
"Mampussss aku! Apa kata si Rima nanti?" Seketika pikiran Fadli pun menjadi kalut.
__ADS_1