Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Maafkan aku Tuhan... Maafkan aku Sri


__ADS_3

"Jadi, segini biaya perbaikan mobilnya mas Dewa," Ucap sang Mekanik, seraya menyerahkan sebuah bon tagihan kepada Grazia.


Grazia menatap deretan angka yang tertera di kolom bon tersebut. Lalu ia menyerahkan kartu kredit miliknya.


"Pakai ini bisa?" Tanya Grazia.


"Bisa mbak. Sebentar, saya ambilkan mesinnya," Ucap Mekanik tersebut seraya melangkah keluar dari ruangan kaca.


Dari arah Mushola, Grazia melihat Dewa yang baru saja selesai menunaikan sholat Maghrib nya. Seakan dunianya teralihkan, Grazia terus menatap Dewa yang berjalan menuju ke ruangan kaca.


"Maaf menunggu lama," Ucap Dewa, seraya duduk di depan Grazia.


"Tidak apa-apa." Sahut Grazia, seraya merapikan rambutnya, untuk mengusir grogi yang tengah ia rasakan.


"Hmmm, jadi menurut Mekanik..."


"Sudah, saya sudah tahu. Nah, ini mau saya bayar," Ucap Grazia, seraya menyambut kedatangan Mekanik yang sedang membawa mesin pembayaran. Lalu dengan cepat Grazia menyerahkan kartu kreditnya dan menekan tombol pin kartu tersebut, setelah sang Mekanik memasukkan jumlah tagihan yang harus ia bayar.


Sedangkan Dewa tampak terlihat bingung dan terus memperhatikan Grazia yang terlihat sangat tergesa-gesa.


"Sudah mbak. Terima kasih." Ucap Mekanik tersebut, seraya menyerahkan bon tagihan yang sudah lunas, serta bukti pembayaran tersebut kepada Grazia.


"Sama-sama." Sahut Grazia.


Lalu Grazia kembali menatap Dewa yangasih terdiam di bangkunya dan mencoba tersenyum kepada Dewa.


"Maaf bila mbaknya terpaksa harus menyempatkan diri ke sini," Ucap Dewa.


"Ah, tidak apa-apa. Say sangat bersyukur karena saya bertemu dengan mas. Mas baik, dan mau mengantarkan saya pulang, setelah mobilnya saya buat ringsek," Ucap Grazia, berbasa-basi.


"Hmmm, sama-sama." Sahut Dewa.


"Ng... sesuai seperti yang mas bilang. Mobil saya juga di perbaiki di sini."


"Iya, saya lihat di depan." Sahut Dewa, seraya melirik arlojinya.


"Hmmm, jadi diantara kita sudah tidak ada masalah lagi ya mbak. Kalau begitu, saya permisi dulu," Ucap Dewa.

__ADS_1


"Loh, kok buru-buru mas? Bagaimana bila kita makan malam dulu. Sebagai bentuk rasa terima kasih saya sama mas." Cegah Grazia.


"Sepertinya tidak perlu mbak. Saya mau makan di rumah saja. Kasihan istri saya sudah masak, masa tidak saya makan." Dewa tersenyum kepada Grazia, lalu ia pun bersiap-siap untuk meninggalkan ruangan tersebut.


"Istri?" Tanya Grazia dengan wajah yang tampak kecewa.


"Iya." Sahut Dewa, seraya kembali tersenyum. Lalu ia beranjak dari duduknya dan menatap Grazia dengan tatapan yang bersahabat.


"Terima kasih sekali lagi mbak. Kalau begitu saya pulang dulu." Dewa pun menyodorkan tangannya ke hadapan Grazia. Dengan ragu, Grazia pun menjabat tangan Dewa.


"Sa-sama-sama." Sahutnya.


Dengan tatapan hampa, Grazia pun hanya dapat memandang punggung Dewa yang beranjak meninggalkan bengkel mobil itu, tanpa sekalipun menoleh ke belakang.


Sikap acuh Dewa ternyata membuat Grazia merasa penasaran. Ia pun mulai sering menghubungi Dewa, walaupun itu hanya sebatas basa basi belaka. Namun sikap ramah, namun tidak merespon berlebihan dari Dewa, rupanya membuat Grazia mulai putus asa untuk mendekati Dewa.


Hingga suatu saat, beberapa bulan tidak berkomunikasi, Grazia kembali menghubungi Dewa. Tetapi kali ini Grazia sedang menangis, hingga membuat Dewa merasa khawatir. Mereka pun bertemu di sebuah cafe. Betapa terkejutnya Dewa, saat melihat wajah Grazia yang terlihat lebam. Dewa pun dengan khawatir mulai mempertanyakan apa yang terjadi pada Grazia, hingga ada lebam di wajah gadis tersebut.


Grazia pun menceritakan bila ia mendapatkan kekerasan dari kekasihnya yang baru saja seminggu kembali lagi kepadanya. Grazia yang merasa tidak memiliki siapa-siap untuk berbicara tentang nasibnya pun, akhirnya melimpahkan semuanya kepada Dewa. Dewa yang sabar dan juga penuh kelembutan, pun mendengarkan kisah Grazia dengan tenang. Hal itu membuat Grazia mulai merasa nyaman dengan Dewa.


Sebenarnya Dewa hanya menganggap Grazia sebatas teman saja. Namun karena lama-lama Grazia seperti bergantung dengannya, lagi-lagi Dewa di kalahkan oleh rasa ibanya sendiri.


Namun entah mengapa kepala Dewa terasa begitu berat, hingga ia harus menumpang beristirahat di kamar tamu yang berada di kediaman Grazia. Dengan senang hati, Grazia pun mengizinkan Dewa menempati kamar tamu untuk sementara.


Hingga pagi menjelang, Dewa pun tersentak dari tidurnya. Dengan wajah yang panik, Dewa segera mencari ponselnya. Namun ia semakin terkejut setelah mendapatkan dirinya yang sudah polos tanpa busana dan hanya tertutupi selimut. Dewa juga semakin terkejut dan tampak pucat, saat ia tidak sengaja menyenggol tubuh seorang wanita yang terbaring di sebelahnya.


"Astaghfirullahalazim!" Dewa pun beranjak dari ranjang dengan menutupi bagian tubuhnya dengan tangannya.


Wanita yang berada di atas ranjang pun mengulet dan lalu menoleh menatap Dewa.


"Kamu sudah bangun," Ucap wanita itu, seraya tersenyum manja.


"Gra-Grazia! Astaghfirullah! Apa yang kamu lakukan!" Dewa terlihat panik, dan langsung memunguti pakaiannya yang berserakan di atas lantai.


"Apa yang aku lakukan? Gak salah mas? Mas lupa?" Tanya Grazia dengan ekspresi wajah yang tampak begitu polos.


"Apa yang kita lakukan? Memang ada apa?" Dewa pun semakin panik.

__ADS_1


"Mas tidak berbusana, aku pun tidak, memang apa lagi?" Grazia membalas pertanyaan Dewa dengan pertanyaan kembali.


Dewa terdiam. Ia benar-benar tidak mengingat apa yang telah terjadi. Ia hanya mengingat bila dirinya menumpang beristirahat sejenak di kamar tamu. Tetapi ia tidak mengingat sedetikpun tentang perbuatan hina nya dengan Grazia.


"Tidak, ini tidak pernah terjadi." Dewa pun mulai memakai pakaiannya dengan tergesa-gesa.


"Tidak pernah terjadi?" Tanya Grazia.


"Ya, aku tidak pernah menyentuh kamu. Aku sudah punya anak dan istri Grazia!"


"Lalu, ini apa?" Grazia menunjukkan tubuhnya yang tampak polos.


"Astaghfirullahalazim! Tutupi itu Grazia. Sebenarnya apa yang kamu masukkan dalam minumanku? Ini gila! Ini tidak mungkin!" Dewa masih tidak mempercayai apa yang telah terjadi.


"Mas, aku tidak memasukkan apapun dalam minumanmu. Kamu yang memilih minuman itu. Aku pikir kamu tahu mana minuman yang beralkohol atau tidak. Ternyata kamu tidak tahu. Kamu pusing, terus kamu menumpang tidur di kamar tamu. Kamu memintaku untuk membangunkan kamu, satu jam setelah kamu beristirahat. Tadinya bibi ku suruh untuk membangunkan kamu. Tapi kamu tidak bangun-bangun! Sampai acara usai pun kamu tidak bangun! Akhirnya aku yang membangunkanmu. Kamu tahu? Kamu menarikku dan memaksaku untuk melakukan ini semua! Aku pikir kamu mencintaiku. Ternyata..." Grazia mulai menangis tersedu-sedu di atas ranjang.


Dewa pun terdiam, ia mulai tampak begitu merasa bersalah. Namun ia tidak ingin percaya begitu saja, ia merasa dirinya tidak pernah melakukan itu semua. Lalu dengan mengalahkan rasa iba, akhirnya Dewa pun pergi meninggalkan rumah Grazia begitu saja.


Di jalan menuju ke kantor, Dewa mulai mengecek ponselnya. Terdapat panggilan tak terjawab sebanyak lima belas kali dari Sri. Ia pun langsung menangis, karena merasa begitu berdosa kepada Sri. Akhirnya ia pun memutuskan untuk mengabari Sri, bila dirinya baik-baik saja.


"Kemana saja sih mas? Kok tidak pulang?" Tanya Sri, yang baru saja selesai menjalankan sholat Subuh.


"Maaf sayang, aku ada urusan semalam. Hingga aku harus lembur dengan beberapa orang lainnya. Kami pun terpaksa harus menginap di kantor. Ponselku aku cas dan aku ketiduran. Sekali lagi aku minta maaf," Ucap Dewa, dengan perasaan yang penuh penyesalan.


"Oh begitu, ndak apa kok mas. Lain kali kabari aku kalau lembur. Hampir saja aku melapor ke polisi. Aku mau menyusul ke kantormu pun aku gak tega ninggalin Ardi. Badannya panas mas."


"Ardi sakit?" Tanya Dewa dengan khawatir.


"Cuma demam biasa mas. Sekarang sudah turun kok panasnya. Eh, tapi mas kok kayak sedang di jalan ya?" Sri mulai merasa curiga karena terdengar bunyi klakson yang bersahutan di jalan raya.


"Ng... aku habis mencari sarapan." Sahut Dewa.


"Oh, yo wes mas. Kalau begitu, hati-hati. Mau kembali ke kantor toh? Jangan lupa sikat gigi, ganti bajumu. Baju bersih ada di bagasi mobilmu mas. Sudah aku persiapkan kalau misalnya ada apa-apa dengan bajumu," Ucap Sri.


"O-ok. Terima kasih ya sayang."


"Sama-sama mas."

__ADS_1


percakapan itu pun berakhir, dengan segera, Dewa menepikan mobilnya dan mengecek bagasi mobilnya. Betapa terkejutnya ia saat melihat kemeja dan celana yang terlipat rapi dalam sebuah bungkus plastik, yang berada di bagasi mobilnya.


"Ya Tuhan... aku sangat merasa bersalah. Istriku begitu sempurna. Ia sangat perhatian, sampai baju saja tanpa sepengetahuanku dia siapkan dalam bagasi. Aku sangat berdosa kepadanya. Maafkan aku Tuhan.. maafkan aku Sri...." Dewa menangis tersedu-sedu. Tanpa ia peduli dengan tatapan orang yang sedang melintasi jalan tersebut.


__ADS_2