Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Kenyataan tak seindah angan


__ADS_3

Sebelumnya..


"Udah jadi..." Ucap Butet, seraya mematikan api kompornya dan mengusap peluh yang membanjiri dahinya.


"Huffff... semoga suka lah si Moan. Kasian kali aku nengok suamiku itu. Udah lama kali dia pingin Arsik ikan lah. Hmmm, mandi lah aku dulu, teros pakek baju sama make up yang cantek dulu. Biar terpesona dia nengok bidadarinya datang, ya kan..." Gumam Butet, seraya tersenyum sendiri. Lalu Butet beranjak menuju ke kamarnya dan bergegas untuk segera mandi dan bersiap-siap.


Waktu menunjukan pukul 12.00, saat Butet sudah siap mandi dan berdandan. Lalu ia beranjak ke dapur dan melihat asisten rumah tangganya sedang menata makanan yang hendak Butet bawa, ke dalam rantang.


"Udah di masok kan nasik nya bik?" Tanya Butet.


"Sudah semua bu, tingga di bawa." Sahut bibik.


"Mantap lah...!" Butet tersenyum puas dan meraih rantang yang baru saja di susun oleh asisten rumah tangganya.


"Bik, nitep si Moana ya. Dia gak mau aku ajak. Tah hapa nya, kecanduan kali dia game."


"Siap bu. Ibu sama bapak pacaran saja dulu. Biar makin sweet gitu.." Ucap bibik.


"Ish.. mantap kali si bibik ini lah," Celetuk Butet, seraya tertawa cekikikan bersama sang asisten rumah tangga tersebut.


"Ok lah kalok kek gitu. Pigi aku dulu ya bik."


"Iya bu, hati-hati ya bu."


"Ashiappppp.."


Butet pun melangkah menuju ke ruang depan rumahnya, seraya membawa rantang makanan yang sudah di persiapkan untuk Moan.


"Pigi sekarang mamak?" Tanya Moana.


"Iya, kau sama bibik dulu ya."


"Iya." Sahut Moana.


"Jan aneh-aneh kau di rumah. Cukop bapak kau aja yang aneh," Ucap Butet.


"Ish.. apa nya mamak ini," Celetuk Moana, seraya menatap Butet dengan tatapan sebal.


"Dah lah, pigi aku dulu. Baek baek kau di rumah nang,"


"Iya maaaakkk.." Sahut Moana.


Dengan hati gembira dan harapan akan di puji oleh Moan, Butet pun memasuki mobilnya dan menaruh rantang makanan di atas bangku penumpang yang berada tepat di samping bangku kemudi nya.


"Ish.. datang dia. Di bawak nya aku Arsik ikan mas! Mantap kali istri ku ini lah. Makin cinta aku sama mu Butet!"

__ADS_1


Begitulah kata-kata harapan yang ada di angan-angan Butet, sebelum ia melajukan mobilnya menuju ke cafe Moan.


Sepanjang jalan menuju ke cafe Moan, Butet terus berkhayal tentang hal-hal yang begitu indah dan romantis. Saking khayalan nya begitu indah, sampai ada seorang pengendara motor yang tak sengaja menyerempet spion mobilnya pun, Butet tidak memarahinya.


Brakkkk..!


Terlihat seorang pengendara motor berhenti dan meminta maaf kepada Butet, karena telah menabrak spion mobilnya. Butet pun membuka kaca mobilnya dan melihat spion nya bergeser dan ada goresan kecil di sarang spion tersebut.


"Bu, maaf bu.. saya tidak sengaja," Ucap sang pengendara motor tersebut.


"Tidak apa-apa pak. Cuma bergeser aja. Iya saya maafkan. Laen kali hati-hati ya pak," Ucap Butet dengan full senyuman.


"Terima kasih banyak bu.. ibu baik sekali," Ucap pengendara motor tersebut.


Butet hanya tersenyum menanggapinya. Lalu ia membetulkan letak spion dan kembali menutup kaca mobilnya.


"Untong kau pak, mood aku lagi bagos hari ini." Batin Butet.


Butet semakin tidak sabar ingin melihat ekspresi dan mendengar pujian dari sang suami. Maka Butet dengan cepat melajukan mobilnya agar cepat sampai di cafe Moan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya.


Sesampainya di cafe Moan, Butet memperhatikan begitu banyak mobil dan sepeda motor yang terparkir di depan cafe milik suaminya tersebut. Lalu Butet membuka kaca mobilnya dan bertanya kepada petugas parkir yang sedang berjaga di sana.


"Kipli!" Panggil Butet.


Kipli, petugas parkir yang sudah berjaga di sana, sejak berdirinya cafe Moan, pun menoleh dan menatap Butet yang memanggilnya dari dalam mobil.


"Rame kali, parkir di mana aku ini?" Tanya Butet.


"Alhamdulillah lah bu boss, cafe nya rame begini."


"Iya, puji syukur aku mamang. Tapi aku mau carik parker. Cepat lah Kipli... Udah lapar suami ku itu, terlanjur makan pulak dia nantik!" Keluh Butet.


"Cieeee.. bawain makan siang. Padahal makanan di dalam pun banyak," Celetuk Kipli.


"Banyak kali cakapmu. Cepat lah..!"


"Iya, iya.. ke depan lagi aja bu boss. Nanti saya liat-liatin. Kalau ada yang kosong, saya panggil bu boss buat pindahkan mobilnya," Ucap Kipli.


"Betol kau ya! Yodah, parkir aku di depan," Ucap Butet, seraya melajukan mobilnya beberapa meter dari cafe tersebut.


Setelah mobil Butet terparkir dengan baik, Butet pun menyempatkan diri untuk mengoreksi make up nya. Setelah di anggap sempurna dan membubuhi sedikit lipstik lagi di bibirnya, dengan berhati-hati Butet meraih dan membawa rantang makanan untuk Moan tersebut, turun dari mobil. Setelah itu, Butet menutup pintu mobilnya dan menguncinya. Lalu dengan percaya diri, Butet melangkah menuju ke cafe Moan.


"Cantik kali bu boss hari ini.." Ucap Kipli, saat Butet berjalan melintas di depannya.


"Banyak kali cakap mu. Nah, buat belik rokok sama kopi!" Butet mengeluarkan selembar uang sebesar lima puluh ribu rupiah dan menyerahkan nya kepada Kipli.

__ADS_1


"Beneran nih bu boss? Ada angin apa ini bu boss?" Tanya Kipli, seraya tersenyum semringah saat meraih uang tersebut.


"Mau gak kau? Pakek nanyak kau!"


"Hehehe, mau dong bu boss. Makasih ya bu boss."


"Sama-sama." Sahut Butet. Lalu ia pun kembali berjalan menuju ke pintu cafe tersebut.


Dari dinding kaca, samar Butet melihat Moan yang sedang berbincang dengan seorang perempuan yang duduk membelakangi pintu cafe tersebut. Butet pun mengerutkan keningnya. Butet mengurungi niat nya untuk segera memasuki cafe tersebut. Melainkan dirinya berusaha memantau melalui dinding kaca tersebut.


"Eh, tumben kali si Moan. Siapa cewek itu. Kok nampak perhatian kali si Moan cakap sama cewek itu." Batin Butet.


Butet pun semakin penasaran. Ia mencoba berjalan lebih ke depan seraya merunduk, agar ia tidak terlihat oleh Moan ataupun pegawai yang mengenali dirinya. Hal itu Butet lakukan, hanya karena ia ingin melihat siapa wanita yang sedang berbincang dan duduk berhadapan dengan Moan.


Setelah berada lebih di depan, akhirnya Butet berhasil melihat wajah wanita tersebut. Wanita dengan wajah yang cantik itu, tampak sedang menangis dan terlihat juga Moan yang tampak panik, saat wanita itu menangis tersedu-sedu.


"Eh, kok nangis dia? Kek lagi mintak tanggung jawab aja dia sama lakik ku. Tapi... kok aku kek pernah nengok cewek itu ya? Siapa ya dia. Kek kenal aku.." Batin Butet.


Angan Butet melayang ke beberapa tahun yang lalu. Ada seorang wanita yang mampir di cafe Moan dengan wajah yang sama persis seperti wanita yang tengah duduk di hadapan Moan.


"Eh, itu.. mantan si Moan?" Batin Butet pun bertanya-tanya.


Di tengah tanda tanya yang begitu besar, Butet pun kembali mengintip ke arah Moan dan wanita tersebut. Namun apa yang sedang ia lihat, membuat Butet naik pitam. Pasalnya Moan menghampiri dan mulai mengusap-usap bagian dada wanita tersebut.


"Alamakjanggggg.."


Butet terlihat geram. Dengan cepat ia berjalan menuju pintu masuk cafe dan membukanya dengan kasar.


"Halomoan Pangaribuannnnnn...!!!!!" Pekik Butet.


Seketika semua orang menoleh ke arahnya. Namun Moan belum juga menoleh. Moan tampak terpaku dengan tangan yang masih berada di daerah dada wanita tersebut.


"Ngapain kauuuuuuu Halomoaaaaaannnnnnn...!" Butet kembali berteriak.


Saat itu juga Moan menoleh dan mendapati Butet yang tengah bersiap untuk melemparkan rantang ke arahnya.


"Tet... Tet... kau salah sangka, Tet... Jangan lempar Tet," Ucap Moan, seraya mengangkat kedua tangannya.


Melihat hal itu, Risma pun beranjak berdiri dari duduknya dengan ekspresi wajah yang tak kalah panik. Ia baru menyadari bila wanita yang berdiri di depan pintu masuk itu adalah Butet, istri dari Moan. Risma dan Butet sudah pernah bertemu sebelumnya, saat Butet masih bekerja sambilan di cafe Moan, sebelum Butet menikah dengan Moan. Risma tahu betul seperti apa tingkah Butet kala terbakar cemburu.


"Ja-ja-jadi, kau jadi nikah sama dia?" Tanya Risma kepada Moan yang masih berdiri di sebelahnya.


"I-i-iya. Cabot kau! Mati nantik kau di buat nya!" Ucap Moan.


"Gatal kau!" Seru Butet, seraya melemparkan rantang tersebut ke arah Moan dan Risma.

__ADS_1


Prangggggg...!


Dan hening...


__ADS_2