
Dreeettt....! Dreeetttt..! Dreeettt..!
Moan terpaksa menghentikan laju sepeda motornya di tepi jalan, karena ponselnya terus berdering, seakan sesuatu begitu mendesak dan harus segera di angkat.
Moan merogoh kantong celananya dan menatap layar ponsel miliknya.
Istriku Tercinta
Begitulah nama Butet di sematkan pada nomor kontak di ponsel Moan.
Seketika Moan tersenyum penuh kemenangan. Pikirnya Butet telah menyesal meninggalkan dirinya dan ingin segera berbaikan kepada dirinya.
"Ha, nyesal kau kan! Udah ku bilang, aku gak kek gitu! Pasti kau mau bilang, 'Abangggg... maafkan aku bang, aku cinta kali samamu. Balek kita lagi bang, gak jadi aku tuntut kau cerai.' Gitu kan? gitu kan? ha.. nyesal kau dek!" Batin Moan seraya terus tersenyum. Lalu ia pun bergegas menerima panggilan dari Butet.
"Moaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnnnnnnn! Ku benamkan kau nanti di Toba itu ya! Binik cabit dari rumah, senang kau ya! Karoke kau langsung! Memanglah gadak hotak kau itu! Penghianat kau Moan! Makin yakin aku cere sama kau!"
Saking kencangnya suara Butet, hingga membuat Moan menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Iyah! apa lagi ini?" Batin Moan.
"Maksud kau dek?" Tanya Moan.
"Gak kau tengok rupanya pesanku? Di situ jelas kali kalau kau di peluk-peluk perempuan!"
Sorrrrr..!
Darah Moan berdesir kala mendengar ucapan Butet.
"Hah?"
"Hah, Hah, Hah? Jan kau purak-purak polos ya Moan! Capek ati aku udah sama kau! Kek gini rupanya kelakuan kau! Jadi jijik aku mau jadi binikmu lagi!"
Moan yang baru saja melihat pesan dari Butet pun terkejut bukan main. Ia tidak menyangka bila ada seseorang yang mengambil foto dirinya dengan pose yang membuat salah paham dan mengirimkannya pada Butet.
"Dek, ini...."
"Gosah kau bela diri! Langsung ke pengadilan aku besok! Tengok lah Moan ya! Ku laporkan kau sama mamak dan amang mu! Biar mati kau di buat orang tu!"
"Dekkk... ya Tuhan..." Moan mulai menangis, menahan rasa di hatinya.
"Gadak cerita! binik pigi dari rumah, bukan di carik sama dia. Eh, becewek dia di luar sana. Memang teladan kali lah kelakuan kau!"
"Dek, ampun aku dek. Kau hanya salah paham aja nya," Ucap Moan, seraya menangis sesenggukan.
"Jahanam kau memang! Setan pun gak pede nengok kelakuan kau!"
"Dek! Alamakjanggg...! Kek mana aku harus jelaskan nya? Kek gini aja lah, aku udah cakap sama si Choky, jumpa kita betiga."
"Gadak cerita! Rasa percayaku sama kau udah habes!"
Tut... Tut... Tut...!
"Makjangggg... ajab kali. Abes udah aku di buat si Choky lah!. Chokyyyyyyyy....! Kimak kau memanggg!" Jerit Moan.
*
Esok harinya...
__ADS_1
Mobil yang di kendarai Butet, berhenti di depan sebuah rumah yang tak asing baginya. Ia menatap rumah itu dengan kedua mata yang berkaca-kaca, menahan tangis.
"Mak, ngapain kita ke rumah nenek?" (Moana memanggil nyak Tatik dengan sebutan nenek)
"Teros, mau kemana kita? Mau pulang ke Toba? Masih banyak yang harus aku selesaikan di sini Moana. Ck! Kau pun banyak kali nanyak!" Butet yang suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja pun, menjawab pertanyaan Moana dengan sedikit emosi.
"Janganlah ngegas mak. Aku kan cuma nanyak!"
"Kau nanyeakkkk, kau bertanyeaaakk tanyeakkk?" Ucap Butet dengan ekspresi wajah yang terlihat kesal.
"Ish, mulai aneh mamak ku tengok!" Keluh Moana.
"Dah lah, turun lagi kita." Perintah Butet.
Mereka berdua pun turun dari mobil, dan melangkah ke gerbang rumah kost milik nyak Tatik. Perlahan, Butet mulai membuka gerbang rumah tersebut. Suasana di halaman rumah kost tersebut sudah banyak berubah dari terakhir kali Butet mampir ke rumah tersebut, tepatnya kurang lebih satu tahun yang lalu. Dari gerbang tersebut, terlihat paviliun yang di jadikan kost-kostan yang dulu pernah butet tempati. Namun ada yang berbeda dari rumah kost tersebut. Dari luar, tampak rumah kost itu terlihat begitu sepi dan tak terawat.
Butet mengajak Moana untuk memasuki halaman rumah tersebut. Hingga sampailah mereka di teras utama rumah itu.
Ting! Tong!
Butet menekan tombol bell yang terletak di samping pintu rumah tersebut.
Karena merasa belum ada tanda-tanda pemilik rumah akan membukakan pintu, Butet pun kembali menekan tombol bell itu.
Ting! Tong!
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki mendekat ke pintu utama rumah tersebut.
Cklekkk!
"Butet!" Seru Cempaka.
"Cem!" Butet langsung menghambur ke pelukan Cempaka.
"Kamu teh kemana saja Tet! Ya Allah.." Tanya Cempaka.
"Maaf ya Cem, hape aku hilang. Jadi, aku gak punya lagi nomormu. Teros aku mau ke sini gak sempat-sempat aku Cem. Baru ini lah aku ada waktu, itu pun karena aku gak tau mau kemana." Terang Butet.
"Sebentar, gak tau mau kemana? Memangnya teh kamu kenapa atuh Tet?" Tanya Cempaka lagi.
"Nantik lah aku ceritakan ya Cem. Ngomong-ngomong, ini anak kau yang dulu masih bayi kan?"
"Hehehe, iya Tet, masa nambah lagi."
"Hahahah! Barangkali kan, rajin kali kau," Ucap Butet.
"Ah, kamu teh ada-ada saja. Hayuk masuk Tet, ngapain masih di luar?"
"Kan kau nutopin jalan, kek mana aku bisa masok!"
"Eh, iya juga." Cempaka tersenyum dan lalu mempersilahkan Butet untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Bang Rozy mana Cem?" Tanya Butet.
"Ya kerja atuh, masa di rumah," Ucap Cempaka seraya beranjak duduk di depan Butet.
"Anak kau yang besar mana dia?"
__ADS_1
"Oh, si Romi. Sekolah lah Tet."
"Kalau adeknya yang satu lagi?" Tanya Butet lagi.
"Ya sekolah juga. Hahaha.." Sahut Cempaka seraya tertawa.
"Si Sri sama si Siti apa kabar orang tu?"
"Alhamdulillah, baik Tet. Mereka teh juga sering bertanya sama saya, tentang kabarmu. Tetapi, saya kan tidak tahu kabarmu. Habisnya, kamu teh hilang begitu saja." Terang Cempaka.
"Ish, minta maaf lah aku ya. Abesnya kek manalah ya, baru ini aku ada waktu ke mari."
"Tidak apa-apa atuh Tet. Oh iya, Moana teh sudah besar ya, cantik sekali kamu Moana."
"Terima kasih tante." Sahut Moana.
"Oh iya, kamu teh mau minum apa Tet?"
"Gak usah kau repot-repot. kau gendong anak aja udah payah ku tengok. Oh iya, nyak mana? Kok gadak dari tadi ku tengok?"
Cempaka menghela nafas panjang dan mulai menundukkan pandangannya.
"Eh, kok diam kau Cem!"
"Tet, hmmm, nyak sudah meninggal dunia."
"Hah!" Butet tampak sangat terkejut mendengar berita duka itu.
"Iya tet, sudah lima bulan yang lalu." Terang Cempaka.
"Ya Tuhan, kenapa? Sakit?" Tanya Butet penasaran.
"Enggak kok Tet, baik-baik saja nyak mah. Mungkin umur Tet, siapa yang bisa prediksi usia seseorang sampai mana kan?"
Butet terdiam, air mata mulai menetes di pipinya.
"Nyakkkkk...!" Tiba-tiba saja Butet meraung, menangisi kepergaian nyak Tatik.
"Maaf ya Tet, saya teh bukan tidak mau mengabari kamu. Tetapi kamu tahu sendiri, kamu teh tidak bisa di hubungi."
"Iya Cem, memang lah paok kali aku. Aturannya aku sempat-sempatkan mampir ke sini. Itu jugak yang jadi penyesalanku Cem. Nyakkkkk...! Kok nyak pigi tinggalkan aku! Nyakkkkk...!" Butet terus meraung.
"Sudah Tet, relakan Tet. Doakan nyak ya Tet."
"Sampek nya doaku sama nyak? Kami kan beda server." Tiba-tiba saja Butet berhenti menangis dan menatap Cempaka dengan seksama.
"Ck! Kamu itu ya Tet, gak pernah berubah. Ya sudah, aku mau bikinin minum dulu." Cempaka beranjak dari duduknya dan bergegas ke dapur sambil menggendong anak bungsunya.
"Jadi, nenek udah meninggal mak?" Tanya Moana.
"Iya nak e..., sedih kali mamakmu ini lah... Nyakkkkkk...! Kenapa nyak pigi cepat kali...." Butet kembali menangis.
"Nenekkkkk...! Huaaaaaaa!" Moana pun ikut menangis.
"Heg... huaaaaaa... " Dari arah dapur, Roma, anak Cempaka ikut menangis, karena terkejut-kejut mendengarkan tangisan Butet dan Moana.
"Haizzzz, Butettttt...! Saya teh capek mendiamkan si Roma. Jadi nangis lagi kan!" Keluh Cempaka.
__ADS_1