
Hampir satu minggu berlalu. Siti dan Batra mulai tidak enak untuk terus menumpang di rumah bundo Niar. Sedangkan bundo Halimah masih ingin menunggu kedatangan Fadli. Siti yang baru saja masuk ke dalam kamar, menatap Batra yang sedang duduk terdiam di tepi ranjang, di kamar tamu yang ia dan keluarganya tempati di rumah bundo Niar.
Menyadari kehadiran Siti, Batra menatap Siti dan tersenyum kepada istrinya tersebut.
"Uda sedang apa?" Tanya Siti, berbasa-basi, seraya beranjak duduk di samping Batra.
Batra menghela napas panjang dan menatap Siti dengan seksama.
"Ti, mau sampai kapan kita menumpang di rumah orang?" Tanya Batra.
Siti terdiam dan menundukkan pandangannya.
"Uda mau kembali ke Jakarta dulu?" Siti kembali bertanya kepada Batra.
"Bukan begitu, tetapi uda Fadli katanya mau datang. Ti, kamu tahu sendiri, kalau bundo tidak mau keluar dari rumah ini, kalau uda Fadli belum datang," Ucap Batra.
Siti kembali terdiam dan tak mampu berkata-kata. Faktanya, uda Fadli belum kunjung datang. Walaupun bapak sudah meninggal lima hari lamanya.
"Ti, coba kasih pengertian pada bundo. Apa tidak sebaiknya kita ke Jakarta saja semua. Kalau lama-lama di sini, juga tidak enak sama yang punya rumah, Ti."
Siti menatap Batra. Wajahnya tampak menahan rasa malu yang luar biasa.
"Da, kata uda Fadli, dia akan datang besok. Dari Singapura, dia akan langsung terbang ke sini," Terang Siti.
Batra kembali menghela napas panjang dan menundukkan pandangannya. Ada rasa kesal yang tak dapat Batra sembunyikan, yaitu tentang sikap Fadli yang terlihat begitu tidak peduli dengan musibah yang menimpa kedua orang tuanya.
"Uda Fadli kenapa seperti itu ya, Ti? Ini orang tuanya yang meninggal, kenapa dia lebih memilih untuk bertahan berhari-hari untuk liburan. Padahal, dia bisa langsung datang esok harinya dan ikut menunjukkan kepeduliannya pada kedua orang tuanya," Ucap Batra.
Siti terdiam, lalu ia meraih tangan Batra dan menggenggamnya dengan erat.
"Mungkin uda Fadli sudah terlanjur beli tiket pulang dan pergi, da. Jadi tidak bisa di batalkan," Ucap Siti.
"Kalau aku jadi dia, aku tidak akan mempedulikan tiket yang hangus. Aku akan mengupayakan kembali secepatnya," Pungkas Batra.
Lagi-lagi Siti terdiam, menahan rasa malunya.
"Da, maafkan keluarga Siti ya.." Ucap Siti, seraya menahan air mata yang hampir saja terjatuh di pipinya.
"Uda tidak masalah, Ti. Hanya saja, uda ingin menyampaikan, uda tidak habis pikir dengan sikap uda Fadli," Ucap Batra, seraya mengusap pipi Siti dan menatap istrinya itu dengan seksama.
__ADS_1
"Gara-gara musibah ini juga, uda melewatkan kesempatan untuk naik jabatan. Sekali lagi, Siti minta maaf ya da." Air mata Siti, kini terjatuh di pipinya.
"Kok nangis. Sudah, aku tidak mempermasalahkan itu, Ti. Demi Allah, aku ikhlas, Ti. Ya sudah, tidak usah kita bahas. Masalah rezeki, sudah ada yang mengatur. Aku percaya, bila hari ini gagal, besok pasti ada kesempatan yang lebih baik lagi," Ucap Batra, seraya meraih tubuh Siti dan memeluknya dengan erat.
"Ti!" Tiba-tiba saja, terdengar suara bundo Halimah memanggil Siti dari luar kamar tersebut.
Sejenak, Siti menatap Batra dan Batra pun mengangguk, tanda ia mempersilahkan Siti untuk menemui ibu dari istrinya itu.
Siti pun beranjak keluar dan menemui bundo Halimah.
Samar terdengar di telinga Batra, bila bundo Halimah sedang membahas tentang diri Batra. Seolah wanuta paruh baya itu tidak sama sekali memandang perjuangan yang telah Batra lakukan untuk dirinya dan keluarga besarnya.
"Ti, suamimu itu tidak usah ikut tinggal di rumah iniini. Kita tidak enak dengan bundo Niar. Dia tidak melakukan apapun, sama seperti waktu tinggal di rumah kita," Ucap bundo Halimah.
Siti terkejut mendengar ucapan ibu kandungnya itu. Lalu ia mencoba mengajak bundo Halimah untuk tidak berbicara di depan pintu. Siti khawatir, bila Batra mendengar ucapan tajam sang ibu.
"Maksud bundo apa?" Tanya Siti yang kini sedang berada di dapur, bersama dengan sang ibu.
"Ngapain dia ikut menumpang di sini? Bikin berat orang saja!" Ucap bundo Halimah lagi.
"Apa bundo tidak merasa di sini juga memberatkan orang?" Tanya Siti.
Siti mengerutkan keningnya dan menatap bundo Halimah dengan tatapan tak percaya.
"Bundo tahu? Kayak apa uda Batra memprioritaskan keluarga kita? Bundo tidak bisa melihat sisi itu?" Tanya Siti lagi.
Bundo Halimah menghela napas panjang dan lalu mendengus kesal.
"Untuk apa kau membela suamimu yang tidak bisa di andalkan dari segi apapun? Andaikan dia mau tetap di sini, harusnya dia menginap di hotel dan tidak ikut menumpang di sini. Buat malu saja!"
Siti tampak emosi mendengar ucapan bundo Halimah. Bagaimanapun yang bundo Halimah sedang bicarakan adalah suaminya sendiri. Baik dan buruk Batra, Siti lah orang yang paling tahu tentang suaminya tersebut.
Siti menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak percaya dengan penilaian bundo Halimah tentang Batra.
"Kalau uda Batra pergi, Siti juga pergi. Kalau bundo memang ingin uda pergi saat ini juga. Biarlah kami sekeluarga ikut pergi. Kami di sini juga sedang menunggu kehadiran anak kesayangan bundo! Tapi nyatanya apa? Apakah anak kesayangan bundo bisa berkorban seperti uda Batra?"
Siti tampak begitu emosi, hingga ia membulatkan kedua matanya, saat berbicara kepada ibundanya tersebut.
"Kenapa kamu memarahi bundo? Bundo hanya tidak ingin dia di sini! Kalau kamu ya tidak apa-apa! Memang dia berkontribusi apa di sini?" Tanya Bundo Halimah, dengan nada suara yang terdengar tak kalah emosi.
__ADS_1
Siti kembali menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang bundo Halimah katakan kepadanya.
"Uda Batra ikut memberikan uang belanja untuk kita di sini bun! Bunda tidak tahu kan? Uda Batra rela berkorban mengalahkan pekerjaannya demi bundo! Demi keluarga kita! Uda Batra di sini, bukan karena dia tidak sanggup membayar hotel! Tapi dia di sini setidaknya bisa ikut membersihkan puing-puing rumah kita yang sudah terbakar! Meringankan pekerjaan rumah di rumah yang kita tumpangi! Kalau Siti, tidak mungkin melakukan itu semua bun! Apalagi anak kesayangan bunda! Apa dia datang, saat mendengar bapaknya meninggal? Rumahnya terbakar? Dia sedang bersenang-senang di negeri orang, bersama keluarganya! Apa bundo berharap kalau Siti dan uda Batra juga seperti itu!" Nada suara Siti meninggi. Tampaknya dia tidak mampu lagi menahan emosi dan rasa gemas nya pada sang ibu.
Baru saja bundo Halimah hendak membalas kata-kata Siti, tiba-tiba saja, Batra muncul dan menatap Siti dengan seksama.
"Jangan marah dengan ibumu. Nanti kamu menyesal. Kalau memang bundo menginginkan kita pulang saja, ayo kita pulang." Tegas Batra.
Bundo Halimah terdiam mendengar ucapan menantunya itu.
Lalu Batra beranjak mendekati bundo Halimah dan meraih tangan bundo Halimah, lalu ia mengecup punggung tangan mertuanya tersebut.
"Saya pamit bundo. Maaf kalau saya dan keluarga tidak memiliki kontribusi apapun di sini. Sekali lagi, saya mohon maaf atas kesalahan saya dan keluarga," Ucap Batra.
Lalu Batra meraih pundak Siti dan mengajak istrinya tersebut untuk meninggalkan dapur itu dan kembali ke dalam kamar untuk membereskan barang-barang mereka.
Sejenak, Siti menatap bundo Halimah. Lalu ia lebih memilih untuk ikut dengan Batra. Karena bagaimanapun, saat ini yang harus ia ikuti adalah suaminya. Siti adalah wanita yang sangat taat pada suaminya. Karena Batra mampu untuk di cintai, di perjuangkan dan juga untuk di hormati. Tidak ada ke cacatan dari sosok Batra sebagai suami, di mata Siti. Lalu tidak ada alasan Siti untuk membangkang pada suaminya tersebut.
Setibanya di kamar, Batra mengeluarkan koper mereka dan mulai memasukkan barang-barang mereka ke dalam koper. Siti tidak lagi mempertanyakan 'Mengapa? ataupun Kenapa'. Melainkan Siti ikut berkemas, agar dapat segera pergi dari rumah tersebut.
Setelah selesai berkemas, Siti menatap Batra dengan seksama. Lalu ia menghampiri Batra dan memeluk erat suaminya tersebut.
"Kita mau kemana, da?" Tanya Siti.
Batra membalas pelukan Siti dengan erat. Lalu ia mengecup puncak kepala istrinya tersebut.
"Kita tidak mungkin dapat penerbangan saat ini. Lebih baik kita tinggal di hotel untuk dua hari ke depan. Kita tunggu kabar dari bundo, apakah memang uda Fadli jadi datang atau tidak. Dan... bagaimana keputusan uda Fadli." Tegas Batra.
Siti tercengang dan menatao Batra dengan tak percaya. Bahkan, dalam keadaan sakit hati, Batra tidak ingin meninggalkan bundo Halimah begitu saja. Sedangkan ada banyak alasan bagi Batra untuk tidak lagi peduli pada ibundanya tersebut. Namun, Batra tidak seperti itu. Batra lebih memilih untuk menghindar sementara waktu. Dan kembali merangkul bila dirinya di butuhkan.
Siti tak kuasa menahan tangisan haru nya. Siti mengangguk dan menyeka air matanya, seraya menatap lelaki yang ia nikahi beberapa tahun yang lalu tersebut.
"Terima kasih uda," Ucap Siti, di sela tangisannya.
"Sudah, jangan menangis. Ayo kita pergi, siapkan anak-anak," Pinta Batra.
Siti mengangguk, dan mulai keluar dari kamar tersebut untuk memanggil anak-anak mereka yang sedang bermain di halaman rumah itu.
"Pasangan terbaik adalah, pasangan yang tidak hanya menjadikan kamu bagian dari dirinya. Tetapi juga menjadikan keluargamu, juga bagian dari dirinya." -De'Rini-
__ADS_1