
Sri kembali ke dalam mobilnya, saat ia baru saja menerima kenyataan yang pahit. Air mata terus membanjiri di pipinya, Sri seakan hilang kontrol dan meraung di dalam mobil tersebut.
"Apa salahku mas? Di mana kurang ku sebagai istri? Apa aku sudah tidak cantik lagi? Apa aku tidak melayani mu dengan baik? Di mana letak kekurangan itu hingga kamu tega mengkhianati aku?" Sesal Sri seraya memukul-mukul kemudi mobilnya.
Hati wanita mana yang tidak hancur, kala dirinya mendapatkan kenyataan bila ia bukanlah menjadi satu-satunya bagi orang yang ia cintai? Remuk redam hatinya, langit seakan gelap, tubuh Sri pun menggigil hebat menahan emosi. Namun dirinya tidak dapat berbuat apa-apa, ia hanya mampu menatap gerbang rumah Grazia yang sangat tinggi tersebut.
"Kamu kenapa bisa seperti ini mas? Kamu tega sama aku! Kamu tega sama anak kita!" sri terus menyesali apa yang telah terjadi.
"Cempaka! Dia harus tau kelakuan a'a nya!" Dalam keadaan emosi, Sri langsung melajukan kendaraannya menuju rumah Cempaka, namun saat ia berada di persimpangan jalan, ia mendadak mengurungkan niatnya.
Sri sadar betul bila dirinya dan Cempaka adalah sahabat baik, yang berakhir menjadi kakak ipar dan adik ipar. Mereka sudah menjadi keluarga sejak Sri memutuskan untuk menikah dengan Dewa. Awalnya Sri ingin mengadu pada Cempaka dan ia pun yakin, Cempaka pasti akan membela dirinya. Namun ia tidak sampai hati bila masalah ini dapat merusak hubungan persahabatan yang sudah menjadi keluarga tersebut, antara dirinya dan Cempaka. Dengan kata lain, Sri takut bila dirinya kehilangan sahabat baik seperti Cempaka, bila kenyataannya tidak sesuai dengan ekspektasinya. Bagaimanapun Dewa adalah kakak kandung Cempaka yang tidak akan pernah bisa terputus pertalian darahnya.
"Apa yang harus aku lakukan? Kemana aku harus mengadu?" Batin Sri, di sela isak tangisnya.
Sri pun memutuskan untuk menghubungi Siti. Namun panggilan telepon darinya tidak kunjung di angkat oleh Siti yang sedang bertengkar hebat dengan keluarganya, karena masalah Batra yang tidak memiliki banyak penghasilan dan juga tidak dapat mengelola harta pusaka milik keluarga Siti. Saat itu pun Siti dan Batra masih menetap di Padang.
Masih dalam keadaan putus asa, Sri pun memutuskan untuk menghubungi Butet. Namun seperti cerita Butet sebelumnya, ponsel Butet hilang dan sudah tidak aktif. Tidak ingin merasa sendiri, Sri pun memutuskan untuk mencari Butet ke rumahnya. Namun tanpa Sri ketahui, ternyata Butet baru saja pindah rumah dan ia benar-benar kehilangan kontak dengan Butet. Sedangkan nomor ponsel Moan, Sri tidak pernah tahu.
Sri benar-benar putus asa dan menghentikan laju mobilnya di tepi jalan. Ia menangis sepuas-puasnya hingga air matanya mengering. Lalu tepat di tengah malam, ia pun kembali ke rumah dan mengunci dirinya di dalam kamar. Sri terjaga hingga fajar terbit dan ia terus mengurung dirinya di kamar tanpa mempedulikan Ardi yang harusnya ia persiapkan untuk berangkat sekolah. Berkali-kali Ardi dan mbok Han mengetuk pintu kamarnya, namun Sri selalu menolak untuk membuka pintu kamar tersebut dengan alasan dirinya sedang sakit flu.
Selama dua hari Ardi di urus oleh mbok Han dan di antara kan ke sekolah oleh satpam di rumah Sri. Selama dua hari juga Sri mengurung diri di kamarnya. Hingga sore ini ia mendapat pesan dari Dewa, yang mengatakan dirinya akan kembali pulang ke rumah, barulah Sri keluar kamar dan berdandan seperti biasanya.
Tepat pukul sepuluh malam, Dewa sudah sampai di rumah. Kala itu keadaan Sri sudah sedikit merasa tenang, namun kedua matanya masih terlihat sembab. Dewa pulang dengan membawa banyak oleh-oleh dan senyum yang begitu bahagia, memperlihatkan bila dirinya sangat merindukan Sri dan juga Ardi. Namun Sri tahu itu semua hanya sandiwara yang di perlihatkan Dewa kepada dirinya.
Seperti biasa, Sri melayani Dewa dengan baik, tanpa bertanya apapun kepada Dewa. Karena Ardi sangat merindukan ayahnya, Dewa pun terpaksa harus menemani Ardi tidur di kamarnya, setelah mereka semua makan malam. Setelah Ardi tertidur, Dewa pun beranjak keluar dari kamar Ardi dan menatap Sri yang masih duduk di ruang keluarga, menunggu dirinya.
"Kamu belum tidur sayang?" Tanya Dewa, seraya menghampiri Sri dan memeluk istrinya itu dengan hangat.
Hal yang biasanya sangat Sri sukai itu, mendadak membuat Sri merasa mual dan ingin muntah.
__ADS_1
"Belum mas," Sahut Sri dengan sekenanya.
"Kata mbok Han, kamu sakit. Pantas saja matanya sembab. Kamu banyak tidur ya?" Tanya Dewa lagi.
"Iya mas."
"Maaf ya, saat kamu sakit, aku terpaksa harus ke luar Kota." Dewa mempererat pelukannya dan mengecup lembut kening Sri.
"Apa yang kamu kerjakan di Makassar mas?" Tanya Sri seraya menghalau tangan Dewa yang sedang melingkar di tubuhnya.
Dewa terlihat gelagapan, namun ia mencoba untuk mengontrol rasa terkejutnya atas pertanyaan dari Sri.
"Ya kerja lah sayang. Kan kamu tahu pekerjaanku." Jawab Dewa.
"Apa yang tidak aku ketahui mas?" Tanya Sri lagi.
Kali ini Dewa terdiam seraya menatap kedua mata sembab Sri dengan seksama.
"Bisakah kamu jelaskan apa yang tidak aku ketahui mas?" Tegas Sri.
Dewa mengerutkan keningnya dan mencoba membaca emosi di wajah Sri.
"Apakah tidak ada yang kamu sembunyikan di belakangku?" Tanya Sri lagi.
Dewa menggelengkan kepalanya dengan ragu, lalu ia mulai merasa ada yang tidak beres.
"Tidak ada?" Sri terus mendesak Dewa.
"Tidak." Sahut Dewa.
__ADS_1
"Oh, ya sudah." Sri beranjak dari duduknya dan melangkah menuju ke kamarnya.
Merasa ada yang aneh dengan sikap istrinya, Dewa pun menyusul Sri yang sudah masuk ke dalam kamar mereka.
"Kamu kenapa?" Tanya Dewa, seraya mengusap punggung Sri yang membelakangi dirinya dengan lembut.
Tanpa mampu Sri bendung lagi, tangisannya pun kembali meledak. Dewa pun mulai merasa bingung dan mencoba menenangkan istrinya tersebut. Namun berapa kali pun Dewa berusaha menenangkan, tangan Dewa terus menerus di tepis oleh Sri.
"Katakan padaku, apa salahku? Mengapa kamu bersikap seperti ini?" Tanya Dewa yang mulai merasa panik, karena sikap Sri.
"Kenapa kamu tega mengkhianati aku mas?"
"Mengkhianati?" Tanya Dewa dengan wajah yang terlihat bingung.
"Ya, surat tagihan kartu kredit yang membayar banyak keperluan wanita dan bayi. Rumah di perumahan elite. Wanita bernama Grazia dan putrinya yang masih bayi. Kamu yang berpura-pura keluar Kota, padahal kamu pulang ke rumah wanita cantik itu. Kamu yang menghabiskan akhir pekan dengan keluarga barumu. Kamu yang menggendong anak kalian dengan penuh kasih sayang dan kebapakan. Itu semua aku tahu mas!"
Dewa terperangah, ia tak mampu berkata-kata dan menyangkal apa yang baru saja di sebutkan oleh Sri.
"Aku melihatmu di tempat wisata, pada akhir pekan kemarin. Yang dimana kamu janjikan akan menghabiskan waktu untuk aku dan Ardi. Kamu tahu? Ardi sangat kecewa padamu. Aku melihat kamu ngantor di kantormu, jadi kamu tidak ke Makassar. Aku melihat mobilmu di parkir di rumah wanita yang bernama Grazia tersebut! Apa kamu pikir aku tidak tahu apa-apa mas!" Selama pernikahan Sri dengan Dewa, baru kali ini Sri bernada tinggi kala berbicara dengan suaminya itu.
Dewa masih terdiam membisu. Tubuhnya gemetar seiring rasa bersalah yang mulai menggerogoti setiap relung hatinya.
"Apabila aku kurang baik sebagai istri, apa hukuman seperti ini yang pantas untukku mas? Tolong di jawab," Ucap Sri lagi.
Dewa masih diam membisu. Namun kali ini wajahnya tertunduk dalam-dalam.
"Apa aku sudah tidak cantik? Apa karena dia jauh lebih muda dan cantik. Oh iya, pastinya dia anak orang kaya. Pastilah dia cukup menyilaukan di matamu ya mas? Tidak seperti aku yang hanya anak dari orang desa. Tetapi apa itu adil untukku mas? Bila kamu mau menikah lagi, setidaknya kamu jujur padaku. Bahas padaku! Jangan bohongi aku!" Sri mengucapkan semua isi hatinya dengan sorot mata yang penuh amarah.
"Kenapa kamu tidak mau menceraikan aku saja? Mengapa harus dengan jalan yang seperti ini?"
__ADS_1
Dewa memicingkan kedua matanya, Lalu ia bersimpuh di kaki Sri dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.
"Maafkan aku Sri." Ucap Dewa, seraya mencium kaki Sri.