
"Dek, kok diam aja kau?" Moan yang sedang menyetir mobil, melirik Butet yang termenung di kursi penumpang, tepat di sebelah Moan.
Butet melirik Moan dan mencoba tersenyum. Lalu ia kembali menatap kedepan dan larut ke dalam pikirannya lagi.
"Ada apa?" Merasa apa yang di pikirkan Butet begitu berat, Moan pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Gak ada apa-apa bang." Jawab Butet. Lalu Butet mengusap wajahnya yang terasa berminyak, karena belum mandi.
"Cerita lah.. apa masalahnya?" Moan mencoba terus menggali apa yang sedang di pikirkan oleh Butet.
"Aku bilang gak ada loh.." Butet mulai terlihat terganggu, karena Moan mencoba mendesak dirinya.
"Oh, ya udahlah." Moan memilih diam dan membiarkan Butet memikirkan apa yang tidak ia ketahui.
Butet kembali diam, lalu ia perlahan mulai melirik Moan lagi.
Moan, sosok lelaki yang humoris, perhatian, family man, pejuang dan tampan. Kategori lelaki impian semua wanita itu lebih memilih Butet untuk hidup bersama dengannya. Sebenarnya tidak ada yang kurang dari Moan, bahkan prihal ke jujuran. Tetapi hanya kesalahan sedikit saja yang membuat semua bukti mengarah kepada dirinya, dengan seketika ia kehilangan kepercayaan dari istrinya.
Harusnya Butet beruntung memiliki Moan. Hanya saja, Butet adalah manusia biasa. Ia wanita yang rapuh dengan perasaan cinta yang luar biasa. Hal itu membuat dirinya berekspektasi tinggi atas kesetiaan Moan selama ini. Hanya orang yang mencintai dan merasa memiliki, yang memiliki rasa cemburu yang begitu menggebu. Hanya saja, setiap manusia memiliki banyak karakter dan titik kesabaran yang berbeda-beda, pun dengan cara mengekspresikan nya.
Mungkin Sri terlihat jauh lebih hebat dalam mengelola emosi daripada Butet. Tetapi inti dari perasaan manusia itu sama, yaitu rasa memiliki hingga rasa cemburu. Itulah yang di sebut dengan emotional quotient. Tinggi atau rendahnya emotional quotient yang di miliki manusia itu berbeda-beda. Hal itu terlihat saat seseorang di hadapi oleh sebuah masalah atau kejadian yang melibatkan rasa sabar atau emosi itu sendiri. Tetapi kembali lagi, setiap manusia itu tidak bisa di banding-bandingkan. Semua memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Mungkin saja Sri lebih memiliki emotional quotient yang lebih tinggi daripada Butet. Namun Butet memiliki kecerdasan yang lebih tinggi daripada Sri. Namun apapun itu, kembali lagi pada intinya, manusia itu di ciptakan beranekaragam, tidak sama persis ataupun lebih dan kurangnya.
"Bang.." Panggil Butet.
"Hmmm?" Moan menoleh ke arah Butet dan menatap istrinya itu seperkian detik, sebelum ia kembali fokus dengan kemudinya.
"Jadinya kita pigi bang? Aku rasa, si Moana udah nunggu-nunggu kita kali lah," Ucap Butet.
Moan tersenyum dan kembali melirik Butet.
"Ish, jadi lah. Masak enggak," Ucap Moan dengan bersemangat.
Butet membalas senyuman Moan dan kembali menundukkan wajahnya. Saat ini Butet butuh banyak berpikir tentang sosok Moan sendiri. Apakah Moan layak ia perjuangkan seperti Sri memperjuangkan Dewa, atau lebih baik ia lepaskan dan hidup masing-masing.
Laju mobil yang di kendarai Moan berhenti di depan rumah mereka. Terlihat Moana dengan bersemangat berlari hingga membukakan pagar untuk kedua orang tuanya tersebut. Butet yang baru saja turun dari mobil, menyambut hangat Moana dan memeluk putri semata wayangnya itu. Pun dengan Moan yang baru saja menyusul keluar dari mobil. Lelaki yang di panggil 'bapak' itu oleh Moana, menghampiri Butet yang sedang memeluk Moana dan langsung memeluk istri dan anaknya tersebut. Butet sempat merasa risih, namun kembali lagi ia mengingat perjanjian antara dirinya dan Moan, bila yang terbaik saat ini adalah psikologi Moana. Ia pun mencoba menerima pelukan hangan Moan yang mendarat di tubuhnya dan Moana, tanpa berusaha untuk menolak ataupun mendorong Moan seperti biasanya.
"Jadinya kita pigi?" Tanya Moana yang terlihat begitu bersemangat, saat mereka bertiga baru saja berpelukan.
"Jadilah," Sahut Butet seraya tersenyum manis pada Moana.
"Asekkk..!" Seru Moana.
__ADS_1
"Memangnya kau sudah bereskan bajumu nang?" Tanya Butet.
"Udah mak. Bibik yang bantu aku," Ucap Moana dengan kedua mata yang berbinar.
"Ish, mantap kali. Ya udahlah kalo kek gitu. Mamak bereskan baju mamak juga. Siap itu, mamak mandi ya. Kasi mamak waktu sejam aja. Siaptu pigi kita. Ya kan bang?" Butet tersenyum kepada Moan, saat ia melemparkan pertanyaan itu kepada Moan.
"I-iya." Sahut Moan, seraya membalas senyuman Butet.
"Ya udahlah, ke dalam dulu mamak ya," Ucap Butet lagi.
"I-iya mak." Sahut Moana.
Setelah Butet beranjak masuk ke dalam rumah. Moana dan Moan pun saling bertatapan. Seolah mereka tidak percaya dengan perubahan sikap Butet yang kini begitu lembut kepada mereka.
"Pak." Panggil Moana, seraya mengguncang tangan Moan.
"Apa?" Tanya Moan, seraya menatap Moana dengan seksama.
"Mamak kenapa?" Tanya Moana.
Moan terdiam, ia sendiri pun tidak mengerti dengan perubahan sikap Butet. Lalu ia hanya mengangkat bahunya dan tersenyum kepada Moana.
Lalu mereka berdua pun tertawa geli dan melangkah masuk ke dalam rumah, untuk bersiap-siap dengan rencana liburan mereka sekeluarga.
.
Dewa melirik Sri yang sedang duduk di depannya. Ada rasa berat yang menghantam hatinya begitu saja. Saat ini adalah giliran Dewa menetap di rumah Grazia. Sangat berbeda dari sebelumnya, Dewa merasa begitu nervous untuk pergi ke rumah Grazia. Karena misi nya kali ini ke rumah Grazia adalah untuk mengambil sample rambut dari balita yang di akui Grazia sebagai anak Dewa.
Dewa kembali melirik Sri yang sedang merangkul Ardi yang sedang asik dengan gadget nya. Lalu ia memperhatikan senyuman Sri yang begitu manis, saat Ardi tidak berhasil melewati tantangan game yang sedang di mainkan oleh putranya tersebut. Senyum yang sudah lama hilang dari pandangan Dewa, yang kini kembali lagi setelah mereka mulai menemui titik terang atas masalah mereka berdua.
"Arghhh..! Ardi kalah kan bun.." Ucap Ardi, seraya mengerutkan dagunya.
Sri hanya tertawa kecil menanggapi ucapan putranya tersebut.
"Sudah, sekarang salim sama ayah. Ayahnya mau ke luar Kota," Ucap Sri, seraya melirik Dewa yang terus menatap dirinya.
"Keluar Kota lagi, yah?" Tanya Ardi, seraya meletakkan gadget nya di atas meja.
"I-iya," Sahut Dewa, seraya berusaha tersenyum kepada Ardi.
"Yah... Kok ayah sering banget sekarang ke luar Kota?" Tanya Ardi.
__ADS_1
Dewa terdiam, lalu ia kembali melirik Sri yang juga terdiam di samping Ardi.
"Memangnya, orang kerja di perusahaan itu, segitu sibuknya ya yah?" Tanya Ardi lagi.
Dewa hanya mampu menghela napas panjang dan tak mampu menjawab pertanyaan dari putranya sendiri.
"Hmmm, sayang.... doakan saja ya, semoga Ayah tidak lagi di tugaskan ke luar Kota. Jadi, kita bisa seperti dulu lagi. Liburan saat weekend dan menghabiskan waktu bersama di rumah," Ucap Sri.
Dewa kembali melirik Sri yang terlihat begitu tulus dalam ucapannya.
"Aamiin, bun."
"Ya sudah, sekarang salim dulu sama ayah. Setelah itu, kita antarkan ayah ke depan." Pinta Sri.
Ardi pun menurut dan menganggukkan kepalanya. Lalu ia beranjak menghampiri Dewa dan menyalami ayahnya tersebut.
"Ayah jangan lama-lama ya," Ucap Ardi dengan senyuman tulusnya.
Dewa mengangguk seraya menahan tangisannya.
"Ya sudah, sekarang mari kita antarkan ayah ke depan, yuk." Pinta Sri.
Ardi pun mengangguk dan Sri pun beranjak dari duduknya. Dewa yang masih duduk pun terlihat begitu berat untuk meninggalkan sofa tersebut. Lalu dengan berat hati, ia pun beranjak dari sofa itu dan mengikuti Sri yang mulai melangkah meninggalkan ruang keluarga tersebut.
Kini mereka bertiga berdiri di teras rumah. Dewa menatap Sri dan tersenyum tipis kepada istrinya tersebut. Sri pun membalas senyuman Dewa dan menganggukkan kepalanya. Tanda ia mengizinkan Dewa untuk pergi dan menjalankan misi yang telah mereka sepakati bersama.
"Hati-hati mas. Semoga segala kebaikan berpihak kepada kita sekeluarga. Aamiin," Ucap Sri.
Dewa menghela napas panjang dan meraih bahu Sri, lalu ia menjatuhkan tubuh Sri ke dalam pelukannya yang erat.
"Aku yakin. Aku sangat yakin, bila kebaikan akan selalu berpihak untuk kamu yang sangat baik." Bisik Dewa.
Sri tertegun. Bahkan saat Dewa melepaskan pelukannya dan melangkah menuju ke mobilnya.
"Ayah! Hati-hati!" Seru Ardi, seraya melambaikan tangannya.
"Terima kasih sayangku. Ayah pergi dulu ya..." Sahut Dewa.
Sore ini terasa begitu berbeda bagi Dewa. Karena sore ini ia di lepas dengan senyuman tulus dari Sri dan lambaian tangan dari Ardi.
"Bismillah, kebenaran tetaplah kebenaran. Aku berani menghadapi apa pun itu, selama itu sebuah kebenaran." Batin Dewa, saat ia meninggalkan rumah impian yang sengaja ia bangun untuk membahagiakan anak dan istri sah nya.
__ADS_1