
"Mantap kali ini, akhirnya aku bisa liburan sama bapak dan mamak. Horeeeee...!" Seru Moana yang duduk di kursi belakang mobil yang sedang di kendarai oleh Moan.
Moan menatap Moana dari sepion tengah mobil, lalu ia tersenyum melihat senyuman bahagia putrinya itu. Sedangkan Butet, menoleh ke belakang dan tersenyum kepada Moana.
Hari ini mereka liburan ke Puncak dan berencana menginap di sana. Moan juga sudah menyewa sebuah vila secara online untuk mereka semua bermalam selama dua hari lamanya.
"Nantik kita berenang ya pak, mak..." Pinta Moana, yang mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Ish.. apa gak dingin?" Tanya Moan.
"Ish, bapak pun.." Ucap Moana yang terlihat kecewa.
"Bilang aja iya, kenapa rupanya?" Ucap Butet.
"Iya.. iya..," Moan melirik Butet yang tampak cantik dengan setelan casual nya.
"Cantek kali kau dek. Jadi ingat aku, masa masa kau kuliah dulu. Kau dulu sukak kali pakek celana li, sama kaos ketat kek gini."
Mendengar pujian Moan, Butet pun tersipu malu.
"Gombal aja kau bang," Ucap Butet yang berusaha untuk tetap terlihat tenang, walaupun ia ingin sekali mencubit Moan dengan cubitan manjanya, seperti dulu.
"Sumpah aku, Tet. Dulu di kost nyak Tatik, di mata aku cuma kau yang cantek. Itulah kenapa aku gak mau lepaskan kau dulu."
"Jadi cuma karena aku cantek aja?" Tanya Butet, seraya mendelikkan kedua matanya.
"Iyah... bu-bu-bukan kek gitu. Kau itu memang cantek, tapi setelah aku berusaha mendekati kau, kau itu gak mudah. Teros berubah jadi penasaran. Siap penasaran, aku cobak mempelajari kau. Eh, ternyata memanglah mamak si Moana ini luar biasa kali sifatnya. Itulah kenapa aku yakin kali untuk kawen samamu." Terang Moan.
Mendengar ucapan Moan, hati Butet mendadak berbunga-bunga. Namun ia tetap berusaha bersikap biasa saja.
"Cieeee, nastalgia bapak ya.." Goda Moana yang dari tadi mendengarkan curahan hati bapaknya.
"Gak papa lah.. Biar kau tau juga nang, mamak mu ini perempuan hebat. Susah kali dekatinnya. Ish, amper aja bapak putus asa dulu. Tapi bapak terima kasih kali sama Tuhan, di jodohkan Nya bapak sama mamakmu," Ucap Moan dengan bangga.
"Iya lah pak.. semoga jodoh sampe maut memisahkan. Senang kali nengok udah tua masih sama-sama kek opung doli sama opung boru."
Degg..!
Jantung Moan dan Butet berdegup kencang, saat mendengar ucapan Moana. Lalu mereka berdua saling bertatapan sesaat dan kemudian mulai salah tingkah.
"Ish..! Pintar kali anak bapak cakapnya sekarang ya.." Puji Moan, yang berusaha mencairkan suasana canggung antara dirinya dan Butet.
Satu jam berlalu, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan mereka. Yaitu sebuah vila yang berada di kawasan Puncak, Bogor. Kawasan di mana rata-rata orang Jakarta menghabiskan waktu liburan mereka dengan keluarganya di sana.
Vila Keluarga, nama vila tersebut. Vila dengan design 80's itu masih tampak berdiri kokoh dan terawat. Meskipun hanya memiliki satu lantai saja, namun vila tersebut memiliki empat kamar tidur, sebuah kolam renang yang terdapat di sisi kirinya dan halaman yang begitu luas, yang di tumbuhi berbagai macam tanaman dengan jenis bunga yang berbeda-beda. Udara yang dingin, serta kesan yang asri, membuat pikiran siapapun yang menyewa vila tersebut, akan kembali fresh, setelah kembali ke Kota asalnya.
__ADS_1
Moan dan keluarganya pun beranjak turun. Seorang lelaki tua, yang bisa di sebut sebagai penjaga vila tersebut pun menghampiri Moan dan keluarganya, dengan senyuman yang ramah.
"Selamat siang bapak, ibu dan adik yang cantik. Perkenalkan, nama saya bapak Asep. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya lelaki tua itu.
"Siang pak, nama saya Halomoan. Saya sudah memesan vila ini dengan cara online, untuk dua malam." Terang Moan.
"Oh... bapak Halomoan yang dari Jakarta?" Tanya bapak penjaga vila itu lagi.
"Iya, betul pak." Jawab Moan.
"Ah, silahkan.. Vila nya sudah saya siapkan. Jadi, hari ini dan checkout lusa ya pak."
"Betul pak. Dua malam."
"Baik pak. Silahkan," Bapak penjaga vila itu pun mengantarkan mereka sekeluarga ke vila tersebut.
Sesampainya di vila, bapak itu membuka pintu vila dengan kunci yang berada di genggamannya. Lalu setelah pintu itu dapat di buka, ia pun mempersilahkan Moan dan keluarganya untuk masuk ke dalam vila tersebut.
"Maaf pak. Kalau tidak salah, bapak juga memesan makanan untuk sarapan, makan siang dan juga makan malam ya?" Bapak tua penjaga vila itu mencoba memastikan, agar tidak ada yang terlewatkan dari pekerjaannya.
"Betul pak." Jawab Moan.
"Baik pak. Makan siang sudah kami siapkan. Nanti ada yang mengantarkan ke sini. Kalau bapak butuh apa-apa, saya tinggal di paviliun belakang pak." Terang bapak tua tersebut.
"Oh.., iya.. baik pak." Sahut Moan.
"Terima kasih pak."
"Sama-sama." Bapak tua penjaga vila itu pun beranjak meninggalkan Moan dan keluarganya di vila tersebut.
Moan menatap Butet yang tampak senang dengan furnitur dan suasana di vila tersebut. Saking senangnya, Butet terlihat tersenyum sendiri, seraya melihat-lihat sekitarnya.
"Eh, Moana tadi mana dia?" Tanya Moan, yang menyadari bila tidak ada Moana di sekitar mereka.
"Hah! mana dia?" Tanya Butet kembali.
"Moana! Moana!" Moan terlihat begitu panik.
"Apaaaa..?" Terdengar suara Moana dari dalam sebuah kamar.
Butet dan Moan pun berlari menuju ke kamar tersebut dan mendapati Moana yang sudah menata barang-barangnya di dalam lemari.
"Opp.. udah ambel kamar dia bah!" Seru Moan, seraya beranjak masuk ke kamar tersebut dan duduk di atas ranjang.
"Iya lah.. enak kali di sini. Aku mau kamar ini, makanya aku tempati cepat. Takotnya di ambel mamak sama bapak pulak."
__ADS_1
Moan dan Butet saling bertatapan. Tidak terpikirkan oleh mereka bila Moana berpikir mereka akan tidur bersama, selama di vila tersebut.
"Ya udah. Kalok mau kamar ini, ambek lah.." Ucap Moan.
"Nantik mamak sama bapak, tidor di mana?" Tanya Moana.
Moan dan Butet kembali bertatapan. Rona merah terlihat jelas di pipi Butet.
"Ng... nantik lah itu. Di sini kan ada empat kamar. Satu kamar udah Moana ambel. Masik ada tiga kamar lagi. Nantik bapak sama mamak cobak semua kamarnya," Ucap Moan dengan raut wajah yang terlihat begitu bersemangat.
"Apa nya abang ni!" Butet mencoba protes, namun rona di pipinya tidak dapat menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya.
"Mantap! Mantap!" Seru Moana.
Tok!
Tok!
Tok!
Tiba-tiba saja terdengar ketukan dari pintu depan vila.
"Siapa itu bang? Tengok lah.." Pinta Butet.
Moan pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke ruangan depan. Ternyata bapak penjaga vila, beserta istri dan anaknya, datang membawa makan siang untuk Moan dan keluarganya.
"Wah, sudah datang. Silahkan masuk pak," Ucap Moan dengan bersemangat.
"Permisi ya pak. Makanannya saya taruh di ruang makan ya pak," Ucap bapak penjaga vila tersebut.
"Iya pak, silahkan," Ucap Moan.
Sementara bapak penjaga vila dan keluarganya menata makanan di meja makan, Moan pun beranjak ke kamar Moana, untuk memberitahukan anak dan istrinya, bila makan siang mereka sudah siap.
"We, makan dulu kita yok!" Ucap Moan, saat ia baru saja sampai di depan kamar Moana.
"Apa menu pak?" Tanya Moana.
"Banyak itu. Tadi bapak liat ada ikan bakar, ikan goreng, sayur-sayuran, lalap-lalapan kek gitu. Ada cabe nya juga. Mantap pokoknya," Ucap Moan dengan sorot mata yang berbinar.
"Ish, mantap kali. Makan kita yok mak!" Ajak Moana, seraya menarik tangan Butet yang sedang duduk di atas ranjang.
Sekilas Butet kembali menatap Moan. Lalu ia tersenyum kepada Moana.
"Ayok lah. Makan kita," Ucap Butet, seraya beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Siang ini, bagaikan mimpi bagi Moana. Meskipun masalah Butet dan Moan belum menemui titik temu, namun setidaknya Moana kembali merasakan hangatnya keluarga, yang beberapa bulan ini tidak lagi ia rasakan.
"Seorang anak, sebenarnya tidak mau tahu dan tidak tahu menahu tentang masalah orang tuanya. Yang mereka tahu adalah, hak mereka untuk bahagia sebagai seorang anak yang memiliki bapak dan ibu." -De'rini-