
"Bunda pergi dulu ya," Ucap Sri pada Ardi, saat melihat mobil Butet berhenti di depan pagar rumahnya. Lalu Sri mengecup pipi kanan dan kiri putranya dan tidak lupa memeluk Ardi dengan erat.
"Iya bun," Sahut Ardi, seraya membalas senyuman Sri.
"Ayah jadi pulang kan?"
"Iya, nah itu mobil ayah!" Seru Ardi, seraya menunjuk mobil sedan mewah berwarna hitam milik Dewa.
"Nah, selamat bersenang-senang ya sama ayah," Ucap Sri, seraya mengacak-acak rambut Ardi.
"Heheheh, iya bun.." Ardi tersenyum dan merapikan rambutnta kembali.
"Bang," Sapa Butet, saat Dewa baru saja turun dari mobilnya.
"Gak mampir Tet?" Tanya Dewa berbasa basi.
"Langsung pigi aja kami bang." Jawab Butet.
"Memangnga mau kemana?"
"Kami mau pergi sebentar ya mas. Ada keperluan sebentar saja." Tiba-tiba Sri menjawab pertanyaan Dewa pada Butet.
"Oh begitu. Ya sudah, hati-hati ya.." Dewa tersenyum dan melingkarkan lengannya di perut Sri. Tak lupa juga Dewa mengecup lembut kening Sri.
"Uhukkk..!" Butet berpura-pura batuk, saat melihat pemandangan romantis di depannya itu.
"Apa sih kamu Tet," Ucap Sri, dengan wajah yang tampak memerah menahan malu.
"Alah.. masih sah nya.. gak papa lah itu!" Seloroh Butet.
"Ok, kami pergi dulu ya mas. Titip Ardi sebentar," Ucap Sri, seraya mengecup punggung tangan suaminya.
"Iya. Lama juga tidak apa. Take your time."
"Oh! So sweet nya ya Tuhan! terasa ngontrak aku bah!" Ledek Butet.
"Apaan sih! Ayo pergi!" Sri menjadi malu sekali. Lalu ia beranjak masuk ke dalam mobil milik Butet.
"Huh!" Seketika Sri menutup hidungnya dengan rapat.
"Kenapa?" Tanya Butet dengan wajah polosnya.
"Mambu opo iki?" Tanya Sri.
"Mambu opo?" Butet bertanya kembali, seraya mengendus-endus udara yang ada di mobilnya.
"Aku kok mual yo, nyium mambu mobil mu Tet."
"Ah... ada aja kau! Sok sensitif kali rupanya lobang idong kau!"
"Kamu pakai merk apa sih tet, pengharum nya?" Tanya Sri, seraya terus menutup hidungnya.
"Yang biasa kok. Mana pernah aku ganti!"
__ADS_1
"Tapi kok gak enak to Tet! Kek mambu angkot!" Protes Sri lagi.
"Ah! Banyak kali cengkunek kau pon! Udahlah.. kau hirop aja baunya!" Ucap Butet, seraya melajukan mobilnya.
"Hoek!"
Sri terlihat akan memuntahkan isi perutnya karena tidak tahan dengan aroma mobil Butet. Dengan cepat, Butet pun menghentikan laju mobilnya dan menatap Sri dengan tatapan tak percaya.
"Lebay kali kau Sri!"
"Sumpah aku Tet. Gak kuasa aku sama mambu mobil mu," Ucap Sri, seraya mengangkat dua jarinya.
"Ya udah, aku baung pengharum mobilnya!" Ucap Butet, seraya melepaskan pengharum mobilnya dan beranjak keluar untuk membuang pengharum mobil tersebut.
'Hoek!" Sti tampaknya masih tak sanggup dengan jejak pengharum yang terkurung di dalam mobil tersebut.
"Kau kenapa?" Tanya Butet, penasaran.
"Masuk angin kayaknya. Kita buka saja ya jendelannya."
"Jadi gak pake ac? panas lah!" Seru Butet.
"Ah aku ada ide!" Ucap Sri, dengan mata yang berbinar-binar.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua sudah berada di halaman parkir sebuah mini market. Sri pun turun untuk membeli pengharum mobil, agar kaca jendela mobil dapat di tutup dan nyaman. Sedangkan Butet lebih memilih menunggu Sri di dalam mobil.
"Aneh pulak ku tengok princess dari Jawa itu lah. Banyak kali cengkunek nya." Keluh Butet.
Tak lama kemudian, Sri pun muncul dengan membawa satu kantong plastik berwarna putih. Dengan senyuman yang tampak begitu bersemangat, Sri pun beranjak masuk ke dalam mobil Butet.
"Alamak! Mana pengharumnya?" Tanya Butet.
"Sabar toh. Ini dia!" Sri memamerkan pengharum tersebut tepat di depan wajah Butet.
"Ya Tuhan ku... Kau belik ini Sri?"
Dengan polosnya, Sri mengangguk dan tersenyum lebar pada Butet.
"Ini?" Butet menunjuk pengharum tersebut, seraya terus mencoba meyakinkan Sri dengan apa yang ia beli.
"Iyooo.. Nah.. kita taruh di sini. Hmmmm.. harum banget Tet.. aku jadi nyaman," Ucap Sri, seraya menggantungkan pengharum tersebut tepat di bawah spion tengah mobil Butet.
"Kau tau ini apa?" Tanya Butet yang masih belum percaya dengan apa yang di beli oleh Sri.
"Tau, pengharum kan?"
"Omakjangg.. Sri! Woi! Ini pengharum toilet! Kau kira mobil ku WC iya?" Butet terlihat tidak percaya dengan tingkah temannya itu.
"Aku wes ngerti toh Tet. Tapi aku suka sama wanginya. Seger, fresh.. dan menenangkan.." Ucap Sri, seraya menutup kedua matanya, mencoba merasakan ketenangan yang perlahan datang menghinggapi dirinya.
"Saket ku rasa kau ya Sri!" Butet menempelkan punggung tangannya di atas dahi Sri.
"Coba kamu endus itu wanginya. Pasti kamu tenang. Wanginya gak aneh-aneh kayak pengharum mobil yang bikin enek. Coba gih!"
__ADS_1
Butet mencebik kan bibirnya dan lalu mencoba untuk menpelkan hidungnya ke pewangi toilet tersebut.
"Tarik napas, buang perlahan," Ucap Sri.
Butet pun menuruti apa kata teman nya itu.
"Yak bagus.., tarik napas lagi... dan rasakan kalau kamu sedang nongkrong di toilet yang nyaaaaamaaaannn banget.." Sri mencoba terus memberikan instruksi.
Butet pun melakukannya dan tak lama kemudian..
"Prooottt..!"
"Ih!" Sri memukul lengan Butet, seraya menutup lubang hidungnya.
"Mulas pulak aku jadinya kan!"
"Kamu kentut!" Keluh Sri.
"Lagian kau! Sugesti kau kenapa toilet! Salah kau lah," Ucap Butet seraya melajukan mobilnya dengan perlahan.
"Buteeeeeettt...! Ish..! Koe yo!" Sri terlihat begitu kesal pada Butet, sedangkan Butet hanya tertawa geli melihat ekspresi sahabatnya yang terlihat begitu kesal pada dirinya.
Empat puluh menit berlalu, kini kedua sahabat karib itu sudah berada di sebuah rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya, Butet dan Sri pun berdiri sejenak, seraya memandangi gedung rumah sakit tersebut. Butet menghela napas panjang, lalu ia melirik Sri yang kini menatap dirinya.
"Kamu siap to?" Tanya Sri.
Butet terdiam, lalu menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Tet, demi kesehatan jiwamu. Keluargamu, dan juga dirimu sendiri. Koe pasti bisa Tet! Aku mendukungmu! Ayo semangat!!!!" Seru Sri, seraya mengepalkan lengan kanan nya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
Butet tersenyum, lalu ia menghela napas dalam-dalam dan menghembuskan nya secara perlahan.
"Tet.." Sri beranjak mendekati Butet dan merangkul sahabatnya itu.
"Buang pemikiran kalau orang yang menemuu psikiater itu adalah orang gila. Orang gila tidak akan mau berusaha sembuh atau mau menemui psikiater. Selama kamu mau menemui psikiater, tandanya kamu belum gila. Kamu hanta berusaha untuk bangkit dan menyembuhkan diri dari trauma masa lalu."
Butet terdiam, lalu ia menatap Sri dengan lekat.
"Tet, aku percaya, kalau kamu bisa. Aku percaya, setelah ini kamu akan baik-baik saja dan jauh lebih baik. Tet.. lakukan ini untuk Moana, Moan, dirimu sendiri dan orang-orang yang kamu sayangi. Ok?"
Butet kembali mengehela napas panjang. Lalu perlahan ia mengangguk dan tersenyum kepada Sri.
"Ayo kita ke atas," Ucap Butet, seraya merangkul Sri, sahabat yang paling mengerti dirinya.
"Bismillah Tet, semoga trauma mu hilang," Ucap Sri.
"Harus ya aku ngucap Bismillah?" Tanya Butet.
"Astaga...! Sri terkekeh dan Butet pun tertawa terpingkal.
"Yang harus periksa aturan nya kau Sri!" Seloroh Butet.
"Hahahaha.. maaf yo Tet..."
__ADS_1
"Hahahahahaha..!" Mereka pun tertawa geli saat memasuki gedung rumah sakit tersebut.