Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Kok Bisa?


__ADS_3

Singkong rebus, kacang rebus, serta ubi rebus yang tertata di atas meja, tampak masih mengeluarkan uap panasnya. Dari arah dapur rumah kost, tampak Sri datang membawa teko berisi teh panas, lengkap dengan beberapa gelas bersih yang ia bawa dengan baki. Sedangkan Butet tampak duduk di atas sofa dengan raut wajah yang semrawut. Anak-anak Butet, Sri dan Cempaka tampak sedang main di atas lantai yang beralaskan karpet, tak jauh dari sofa, di mana Butet sedang duduk.


"Teh nya sudah siapppp..." Ucap Sri, seraya menaruh baki yang ia bawa ke atas meja.


"Mana si Cempaka? Lama kali dia pon!" Keluh Butet.


"Tenangno atimu Tet, bojone Cempaka baru mulih kerjo toh!" Ucap Sri, seraya beranjak duduk di samping Butet.


"Iya iya! Eh, si Siti mana dia?" Tanya Butet lagi.


"Mbuh, mungkin lagi di jalan." Sahut Sri, seraya meraih sepotong singkong untuk ia makan.


"Tau aku kek gini, gak kawen aku sama si Moan itu lah." Keluh Butet lagi.


Sri menatap Butet seraya menggelengkan kepalanya.


"Ojok ngeluh terus toh Tet... Tet... urip iku di jalani, bukan di keluhkan toh."


"Alah, kau cuma bisa cakap aja nya. Cobak si Dewa itu kek si Moan, pasti naek nya sasak kau!" Ucap Butet, seraya bersungut kesal.


"Astaghfirullah Tet... Tet..., kowe ngumpahi aku?"


"Bukan kek gitu, kan aku bilang cobak si Dewa kek lakik ku, gitu. Pasti kau pun berubah jadi nenek lampir!" Terang Butet.


"Amit-amit, makan nasi pake garam!" Sri menepuk dahinya, lalu ia mengetuk meja berulang kali.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!"


Butet dan Sri, sontak menoleh ke arah pintu rumah kost tersebut.


"Siti!" Seru mereka secara bersamaan.


"Sriiiii...! Butet...!" Seru Siti, seraya menghampiri kedua sahabatnya itu.


"Onde mande tusdey, wednesdey, fridey, saturdey!" Ucap Siti, seraya memeluk dan mencium kedua sahabatnya itu.


"Ish gilak anak ini ya, gadak nya kau berubah Siti!" Celetuk Butet, seraya tertawa mendengar ocehan khas Siti.


"Mau berubah mode apo ambo Tet? Cat women? Poweranggers? Atau siren? Takuik pulu kau jo ambo!" Ucap Siti, seraya tergelak melihat ekspresi Butet.


"Tah lah, sakit otak kau ku rasa!"

__ADS_1


"Hahahaha, manga kau Tet? Kecek si Sri, rapek kita. Apo tu nan di rapekan?" Tanya Siti penasaran.


"Tah, si Sri. Heboh kali pun dia," Keluh Butet.


"Bukan begitu Tet, masalah kowe, yo masalah kami juga toh Tet. Jenenge sahabat, yo mosok di jarno wae."


"Eh, ado apo sabatua nyo? Manga kau Tet? Carito capek jo ambo," Ucap Siti, seraya mengerutkan keningnya.


"Nantilah, tunggu dulu si Cempaka datang," Ucap Butet, seraya meraih beberapa kacang rebus di hadapannya.


"Eh, anakmu mana toh Ti?" Tanya Sri, seraya melihat ke luar, setelah menyadari Siti tidak membawa anak-anaknya.


"Samo da Batra lah. Manga pulo ambo bawo." Sahut Siti.


"Ish, mau menggadis kau ya Ti?" Tanya Butet, seraya tertawa geli.


"Bukan mode tu Butet, tapi... da Batra ado di rumah bang Rozy." Terang Siti.


"Owalahhh.. ku pikir kamu sendirian Ti. Ternyata ke sini barengan toh?"


"Iyo, hehehehe." Siti mengangguk dan meraih sepotong ubi rebus di hadapannya.


"Iko siapo nan buat?" Tanya Siti, seraya melahap ubi rebus di tangannya.


"Rajin bana kau yo Sri."


"Hehehe, daripada gak ada makanan. Kebetulan ada tukang sayur lewat tadi." Terang Sri.


"Iyolah, mantap bana Sri." Puji Siti.


*


"Tumben kalian kumpul-kumpul. Sudah lama banget gak kumpul. itu si Butet, tumben juga datang. Kok gak sama si Moan dia?" Tanya Rozy, saat melihat Cempaka sedang bersiap-siap untuk bergabung dengan Butet, Sri dan Siti.


"Anu a', si Butet teh sedang ada masalah sama si Moan." Terang Cempaka.


"Hah! Masalah apa?" Tanya Rozy lagi.


"Ini teh masalah serius atuh a'. Sampai-sampai si Butet teh minta cerai."


"Hah!" Rozy tampak tak percaya mendengar penjelasan istrinya. Pasalnya selama ini dirinya melihat Butet dan Moan sangat akur dan bahagia.

__ADS_1


"Kok bisa?" Tanya Rozy, seraya melipat sarung dan sajadah nya, yang baru saja ia pakai untuk melaksanakan sholat isya.


"Entahlah a'. Kata Butet teh, si Moan teh main cewek," Ucap Cempaka, seraya menaruh sisir yang baru saja ia pakai, kembali ke tempatnya.


"Astaghfirullahalazim, serius?" Rozy tampak tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Ya saya teh gak tau yang mana yang benar atuh a'. Bisa saja si Butet teh salah paham, atau memang benar si Moan teh main cewek."


Rozy duduk di tepi ranjang, seraya membayangkan sosok Moan yang terlihat begitu baik di matanya.


"Saya rasa, Moan gak mungkin seperti itu, Cem," Ucap Rozy.


"Kenapa atuh?" Cempaka beranjak dari duduknya dan duduk di samping Rozy.


"Saya ini laki-laki. Saya tahu si Moan itu tipe laki-laki setia. Dia memang sedikit urakan. Tetapi, saya bisa melihat kalau dia punya tatapan tulus sama anak dan istrinya." Terang Rozy.


"Oh... begitu ya a'," Cempaka mengangguk paham.


"Terus, ini kalian ngapain?" Tanya Rozy yang penasaran dengan kegiatan istrinya dan para sahabat istrinya.


"Ya membahas ini atuh a'. Masa tumpengan." Celetuk Cempaka dengan ekspresi wajah yang tampak polos.


Rozy tertawa kecil, lalu ia menoleh menatap istrinya yang cantik itu.


"Ngomong-ngomong, a'a teh jangan kayak si Moan ya a'. Awas kalau a'a seperti itu." Ancam Cempaka, seraya mengepalkan tinjunya.


Rozy kembali tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana bisa saya main-main di luar, Cem? Sedangkan saya punya istri yang cantiknya seperti bidadari. Mengurus rumah dengan baik, masakannya enak luar biasa. Lembut, serta sayang dengan anak dan suami. Tidak mungkin saya mau mengecewakan istri yang seperti itu. Mau ke ujung dunia pun saya mencari yang seperti kamu, tidak akan mungkin saya dapatkan. Jadi, untuk apa saya main-main? Saya sudah sangat bersyukur, kamu mau bertahan dengan saya sampai detik ini," Ucap Rozy, seraya mengusap pipi Cempaka dengan lembut.


Cempaka pun tersenyum dan tertunduk malu, saat mendengar pujian dari sang suami.


"Cem,"


"Iya a'," Sahut Cempaka, seraya menatap kedua manik mata sang suami.


"Terima kasih ya. Sudah menjadi istri dan ibu yang sangat luar biasa. Aku tahu, ini tidak mudah untukmu, saat kamu memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Tetapi ketahuilah, pengorbananmu yang luar biasa ini, sangat mulia di mata Allah. Kamu mengorbankan gelar sarjanamu, kamu mengorbankan impianmu hanya untuk aku dan anak-anak. Terima kasih ya istri hebat ku," Ucap Rozy, seraya mengecup kening Cempaka dan memeluk istrinya itu dengan erat.


Seperti yang kita ketahui, (-Baca novel kost putri sebelumnya) Rozy dan Cempaka menikah karena di grebek warga. Walaupun mereka tidak melakukan hal yang di luar norma, namun mereka terpaksa menikah, walaupun saat itu Cempaka masih berkuliah.


Cempaka sempat tidak menerima kenyataan, terutama saat ia hamil anak pertamanya. Namun karena sosok Rozy yang dewasa, sabar dan pengertian kepadanya, lambat laun Cempaka mulai luluh dan mau menerima kenyataan bila dirinya adalah seorang istri dan juga seorang ibu. Akhirnya pun Cempaka rela melakukan apa saja demi kebahagiaan dan keutuhan rumah tangganya bersama dengan Rozy. Dan Cempaka tidak pernah merasa menyesalinya. Terutama melihat Rozy yang dari hari ke hari terus menjadi imam yang baik untuknya. Kini mereka berdua hidup dengan bahagia dan rezeki yang bercukupan.

__ADS_1


-Suami memiliki peran penting dalam keutuhan rumah tangga. Kedewasaan suami, sikap sabar, pengertian, memanjakan dan membuat rumah dan seisinya terasa nyaman adalah tanggung jawab suami. Istri hanya refleksi suami, bagaimana anda sebagai suami, begitu juga istri anda.- De'rini-


__ADS_2