Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Dari hati ke hati


__ADS_3

"Tet, gimana?" Tanya Sri dengan setengah berbisik, melalui sambungan teleponnya bersama dengan Butet.


"Aman, betina itu udah masok perangkap aku, Sri!" Seru Butet.


"Luar biasa kamu yo, Tet." Sri tersenyum puas saat mendengar kabar baik dari Butet.


"Ooo.. jangan kau sedih. Kawan kau ini paling bisa kau andalkan, Sri."


Sri terkekeh mendengar ucapan Butet.


"Eh, aku udah dapat juga nomor hape nya dia. Teros, kami bekawan sekarang. Nanti besok malam, mau ku undang dia ke rumahku." Terang Butet.


"Hah!" Sri terkejut mendengar ucapan Butet.


"Kenapa kau rupanya?" Tanya Butet.


"Kok iso toh?" Sri tampak terheran-heran.


"Bisa lah.. Pokoknya kau santai aja. Eh, ngomong ngomong, cemana nya si Dewa?" Tanya Butet.


Sri terdiam dan lalu menghela napas panjang. Hari ini dirinya merasa begitu bahagia, karena melihat Dewa bermain bersama dengan Ardi. Dewa juga memasak untuk Sri dan juga begitu perhatian kepada dirinya.


"Eh, Sri! kok diam kau?" Tanya Butet dari ujung sana.


"Hehehehe, sek toh. Hmmmm, mas Dewa yo apik apik wae, Tet. Dia main bersama dengan Ardi, seharian ini." Jawab Sri.


"Oh.. sukurlah. Kalok sama kau, cemana dia?" Tanya Butet lagi.


"Hmmmm, dia perhatian, Tet." Jawab Sri.


"Oh ya? Berarti gak ada yang berubahnya dia samamu?" Tanya Butet lagi.


"Tet..,"


"Apa?" Sahut Butet.


"Ternyata perubahan dia selama ini, karena aku yang memang ndak memberikan dia kesempatan saja. Ternyata aku yang berubah, Tet."


Butet terdiam. mendengar penjelasan Sri.


"Setelah aku melunak sedikit saja, ternyata dia masih sama, Tet." Sambung Sri.


"Jadi benar nya dia masih cinta samamu itu, Sri."


Sri kembali menghela napas dan kedua matanya menerawang jauh ke luar jendela.


"Yo wes, cerita-ceritanya besok saja, Tet. Besok kita bertemu yo."

__ADS_1


"Eh, gak bisa aku. Lusa aja cemana? Besok mau makan malam tapi aku sama si betina itu."


"Oh iya." Sri menepuk dahinya.


"Yo wes, lusa yo, Tet. Kita cerita cerita pokmen!"


"Siap! Sekarang habiskan lah malam romantis mu sama si Dewa." Goda Butet.


"Apaan sih.." Seketika, pipi Sri bersemu merah.


"Hahahahahahaha.. apaan sih apaan sih.. tapi masih cinta..!" Goda Butet lagi.


Sri terkekeh dan menoleh ke belakang. Rupanya Dewa baru saja masuk ke dalam kamarnya.


"Eh, sudah dulu yo. Bye!" Dengan cepat, Sri mengakhiri sambungan telepon tersebut.


Dewa menatap Sri dengan seksama. Lalu dengan perlahan ia menghampiri Sri yang sedang berdiri di depan jendela kamar tersebut.


"Kamu habis telepon siapa?" Tanya Dewa, dengan raut wajah yang datar.


"Hmmm, Butet." Sahut Sri.


"Kalau Butet, kenapa langsung di matikan, saat aku datang?"


Sri mengerutkan keningnya dan menatap Dewa dengan seksama. Ia mulai merasa bila tatapan Dewa kali ini begitu agak berbeda.


"Ya, itu Butet atau siapa?" Dewa mencoba mempertegas maksudnya.


"Yo Butet mas. Terus kalau bukan Butet, siapa lagi toh?" Tanya Sri, seraya berlalu dari hadapan Dewa dan beranjak naik ke atas ranjangnya.


"Ya..., bisa saja siapa gitu." Celetuk Dewa. Lalu ia beranjak duduk di tepi ranjang dan menatap Sri dengan seksama.


"Loh! Loh! Loh! opo mas Dewa curiga yo, kalau aku punya lanangan anyar?" Batin Sri.


Sri menghela napas dan mencoba tak acuh kepada Dewa. Sedangkan Dewa terus menatap Sri dengan kedua mata yang mulai memerah, menahan rasa cemburu.


"Sri, coba jujur. Tadi yang bicara padamu itu siapa?" Tanya Dewa lagi.


Sri kembali menatap Dewa dan ia langsung menangkap sinyal kecemburuan dari Dewa.


"Tenan loh aku mas. Aku baru berbicara dengan Butet. Gak percoyo? Nih!" Sri langsung memamerkan log panggilan masuk yang ada di layar ponselnya.


Dewa menatap layar ponsel Sri dengan seksama. Lalu ia mulai menghela napas lega.


"Oh, syukurlah," Ucap Dewa.


"Syukur opo toh mas?"

__ADS_1


Dewa tersenyum malu dan menundukkan pandangannya.


"Ish, di tanyain juga." Keluh Sri.


"Aku hanya curiga, dan itu ternyata tidak terbukti. Aku bersyukur atas itu semua." Terang Dewa.


"Curiga?"


"Ya. Sri, apakah aku masih pantas merasa curiga padamu. Sedangkan ternyata akulah penjahatnya. Aku hanya takut kehilangan kamu. Makanya aku curiga yang tak beralasan. Sekarang aku tahu rasanya. Membayangkan saja, sudah membuatku gila. Apalagi itu benar terjadi."


Sri terdiam dan menatap Dewa yang mulai meneteskan air matanya.


"Sri. Kamu wanita hebat. Bahkan sampai detik ini pun kamu bertahan untuk tetap menyandang status seorang istri dari lelaki seperti aku, walaupun itu semua demi Ardi." Sambung Dewa.


"Sri, aku minta maaf. Aku minta maaf, tulus dari hatiku yang paling terdalam. Sri, aku tahu, kamu tidak akan pernah percaya lagi dengan diriku. Tetapi, bolehkah aku mengatakan satu hal saja dan aku minta kamu percaya denganku?"


Sri mengerjapkan kedua matanya dan terdiam membisu.


"Sri, aku mohon." Dewa terlihat begitu memelas di depan Sri.


"Apa itu?" Tanya Sri.


"Aku mohon dengarkan aku dan percayalah padaku, kali ini saja. Apa kamu bisa?" Tanya Dewa.


Perlahan Sri mengangguk dan mencoba memberikan atensinya kepada Dewa.


"Sri, masalah aku dan Grazia. Aku tidak tahu mengapa Kimberly itu cocok dengan DNA ku. Memang, aku bisa saja salah dan tak sadar melakukan itu padanya. Aku tahu aku telah menyakiti hati kamu, aku minta maaf untuk yang kesekian kalinya. Aku tahu, ini tidak akan termaafkan. Walaupun aku tahu, hatimu itu sangat pemaaf. Namun satu yang harus kamu ketahui dan ini pengakuan sejujurnya dariku. Sumpah demi apapun, setelah pernikahan, aku tak sekalipun menyentuhnya. Aku tidak meminta kamu percaya padaku. Hanya saja, aku ingin mengatakan dan meyakinkan sekali lagi kepadamu, bila aku tidak sama sekali menyentuhnya. Kamu tahu kenapa alasan aku tidak menyentuhnya?"


Sri menggelengkan kepalanya, seraya menahan sesak di dadanya.


"Boleh aku kasih penjelasan sejujurnya kepadamu? Ini bukan karena aku ingin di akui baik, atau apa saja yang tidak ada pada seorang penjahat sepertiku."


"Ya, katakan saja, mas," Ucap Sri.


"Ok, sekali lagi aku tidak memintamu untuk mempercayai ucapanku. Tetapi, aku hanya ingin kamu tahu bila selama ini aku sudah berusaha jujur padamu," Ucap Dewa.


"Ya. Aku akan mendengarkan nya." Sahut Sri.


"Aku tidak menyentuhnya, karena setiap melihat dia, aku merasa bersalah kepadamu. Aku sangat paham kekecewaan mu atas diriku. Aku tidak akan menyalahkan kamu, karena memang akulah yang bersalah. Sri, aku mencintaimu. Terlepas aku banyak salah padamu. Tetapi jujur, bila kamu tanya 'apakah aku dapat menyentuhnya secara sadar', jawabannya adalah 'tidak dan tidak akan pernah'. Karena cintaku padamu benar-benar aku jaga. Selama aku mencintaimu, selama itu juga aku tidak akan mau melakukan itu pada wanita lain. Dan prihal cintaku padamu, aku tidak akan menyerah. Mungkin selama ini kamu melihatku berubah dan tidak lagi mempedulikan kamu dan Ardi. Tetapi, jujur dari dasar hatiku, Sri, Aku begitu mengharapkan hari ini datang padaku. Aku di beri kesempatan lagi, untuk duduk berdua dan berbincang kepadamu. Terima kasih ya Sri, kamu sudah memberikan aku kesempatan itu. Kamu telah mencari ku, kala kamu membutuhkan aku. Setidaknya, aku merasa masih di anggap."


Dewa kembali menangis hingga sesenggukan di hadapan Sri. Sedangkan Sri hanya terpaku di hadapan lelaki yang terlihat begitu berani mempertaruhkan ego dan harga diri di hadapannya.


"Sri, aku mencintaimu." Sambung Dewa lagi, di sela isak tangisnya.


Sri menatap Dewa dengan tatapan yang iba. Lalu, tanpa dirinya sadari, ego dan amarahnya pun luluh begitu saja. Hingga ia mulai merengkuh pundak Dewa dan menjatuhkan tubuh lelaki itu ke dalam pelukannya yang tentu saja sudah lama sekali Dewa rindukan.


"Berikan aku waktu, untuk dapat menerima kenyataan dan kembali mempercayaimu mas. Tetapi prihal 'Maaf', aku sudah lama memaafkan kamu," Ucap Sri, lirih.

__ADS_1


__ADS_2