Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Menginap Di Hotel


__ADS_3

"Mak, mau kemana kita mak?" Tanya Moana yang duduk di kursi penumpang, persis di samping Butet.


Butet yang sedang menyetir, hanya diam membisu. Ia juga sedang berpikir, hendak kemana dirinya akan membawa Moana malam-malam seperti ini.


"Mak, kenapa rupanya bapak?" Tanya Moana lagi.


Butet melirik Moana sekilas, lalu ia kembali fokus pada kemudinya.


"Mak, jawablah.." Desak Moana.


"Duh Moana... cerewet kali kau pun nak." Keluh Butet.


"Bukan aku yang cerewet mak. Tapi mamak yang gak mau jawab, jadi aku nanyak teros." Protes Moana.


Butet terdiam, lalu ia menghentikan laju mobilnya di tepi jalan. Dengan wajah yang frustasi, ia pun menatap putrinya dengan seksama.


"Kau dengar ya boru ku. Aku sama bapakmu itu sudah gak bisa sama-sama lagi. Sekarang, aku gak tau mau kemana. pening pulak aku..." Ucap Butet.


"Kalok pening, balek lah lagi ke rumah."


Butet menghela nafas panjang dan kembali menatap Moana dengan seksama.


"Gini mak, kalok gak jelas mau kemana. Ngapain kita kek gini. Jadi musafir pulak kita." Sambung Moana.


"Aaaarrrggghhh...!" Butet menjatuhkan dahinya di atas kemudi.


"Cerewet kali pun kau, persis pulak kau lama-lama kek bapakmu ku tengok." Batin Butet.


"Jangan stress sama ku ya mak. Aku memang mirip kali kek bapak yang sukak kali buat mamak stress," Ucap Moana.


Seketika Butet mengangkat wajahnya dan menatap Moana dengan kedua mata yang terbelalak.


"Mak! bisa kau dengar isi hatiku rupanya? Gak iya ini," Ucap Butet seraya kembali melajukan mobilnya.


Beberapa menit kemudian, sampailah mereka di sebuah hotel. Dengan daster yang masih melekat di tubuhnya, Butet pun beranjak turun dari mobilnya, setelah ia memarkirkan mobilnya di parkiran hotel tersebut. Butet mengeluarkan kopernya dan setelah itu membukakan pintu untuk Moana.


"Turun nak, kita tidur di sini malam ini," Ucap Butet.

__ADS_1


Moana melihat ke sekelilingnya, lalu ia pun beranjak turun. Ibu dan anak yang berpakaian tidur tersebut pun melangkah masuk kedalam lobby hotel itu.


"Selamat malam, ada yang bisa di bantu?" Tanya seorang resepsionis yang sedang berjaga pada malam ini, sambil memperhatikan busana ibu dan anak tersebut.


"Malam. Saya mau cek-inn." Sahut Butet.


"Sudah booking sebelumnya bu?"


"Belom." Sahut Butet yang mulai merasa risih, karena resepsionis tersebut terus memperhatikan dasternya.


"Baik bu, mau kamar yang tipe apa? ibu bisa melihat tipe nya di sini," Ujar resepsionis itu seraya menyodorkan kertas dengan gambar macam-macam tipe kamar yang di miliki hotel tersebut.


Butet meraih kertas tersebut dan memperhatikan rate harga dan tipe kamar yang tersedia.


"Yang Deluxe aja." Pinta Butet.


"Baik bu. Boleh pinjam KTP nya, dan tolong bantu isi data ibu di kertas ini." Pinta resepsionis itu.


Butet meraih kertas yang baru saja di berikan oleh resepsionis tersebut. Lalu ia mulai mengisi data dirinya di kertas tersebut setelah ia memberikan KTP nya.


"Baik bu, ini KTP nya saya kembalikan. Dan ini kuncinya. Kamar ibu ada di lantai tiga, nomor tiga dua kosong. Ibu bisa naik lift untuk ke lantai tiga. Lift nya sebelah sana." Resepsionis itu pun menunjuk ke arah lift yang terdapat di sisi sebelah utara lobby tersebut.


"Selamat beristirahat bu.." Sambung resepsionis tersebut.


"Ok. Terima kasih," Ucap Butet.


Seorang room boy berjalan mendekati Butet. Lalu dengan izin Butet, lelaki itu pun membawakan koper Butet hingga ke kamarnya.


Setelah sampai di kamar yang ia sewa untuk semalam, Butet pun meminta Moana untuk segera beristirahat. Sedangkan dirinya langsung memasak air di teko yang tersedia di kamar tersebut. Lalu ia membuat segelas kopi untuk menemani dirinya yang tengah merasa terpuruk.


Butet menatap Moana yang sudah tertidur lelap. Ia usap rambut Moana dengan penuh cinta dan kasih. Lalu ia mengecup kening putrinya itu.


"Maafkan mamak ya nak. Mamak terpaksa pisah dengan bapakmu. Kalok gak kek gitu kelakuan bapakmu, mana lah mamak mau ninggalin dia. Sebenarnya bapakmu itu baik. Tapi gak mamak duga juga dia main cewek di belakang mamak." Sesal Butet.


"Kalok mamak ingat dulu, kek apa dia ngejar-ngejar cinta mamakmu ini nak. Ish payah lah usaha dia dekatin mamak. Tapi, setelah nikah kok kek gini pulak kelakuannya."


"Ingat sama mamak dulu, di tepi Danau Toba, dia berjanji mau setia, sehidop semati sama mamak." -Cerita sebelumnya ada di novel Kost Putri-

__ADS_1


Butet terus membatin seraya mengusap pipi Moana.


Air mata mengalir di pipi Butet. Rasa perih atas penghianatan yang Moan lakukan kepada dirinya begitu membekas di hati Butet. Baru kali ini ia merasakan patah hati yang sangat luar biasa.


Kenangan indah dengan Moan yang begitu penuh cinta, kini terputar lagi di otaknya. Namun tidak dengan senyuman di pipinya, melainkan air mata yang terus mengalir tanpa mampu ia bendung.


Mulai dari awal pertemuannya dengan Moan di Bus antar provinsi, yang berakhir pertengkaran diantara mereka berdua. Pertemuan kedua di Kost Putri nyak Tatik, yang berakhir sama seperti sebelumnya, yaitu pertengkaran dirinya dengan Moan. Pertemuan ketiga di kampus, yang juga berakhir dengan pertengkaran dengan lelaki yang kini jadi suaminya itu. Hingga pertemuan-pertemuan lainnya yang mulai terasa manis dan penuh bunga, layaknya bunga-bunga yang bermekaran di taman.


Siapa sangka, lelaki yang begitu manis padanya itu, kini sudah berani bermain api. Tidak tanggung-tanggung, Moan bermain dengan wanita yang dapat di pesan lewat aplikasi Men_Creet.


Pikiran buruk mulai bersarang di otak Butet.


"Sudah berapa lama dia bermain seperti itu? Apa aku nanti kena penyakit? Kok aku jijik jadinya." Batin Butet.


Hatinya semakin gelisah, lalu ia beranjak menuju ke jendela hotel tersebut seraya membawa gelas kopinya.


"Rasanya mau mati aku Moan! Tega kau ya!" Butet terus menyesali tingkah Moan yang menurutnya sudah berlebihan dan keterlaluan.


"Apa aku loncat aja dari jendela ini, biar puas kau Moan?"


"Eh, tapi enak kali dia, kawen pulak lagi dia nantik. Aku di kuburan gak bisa pulak mijak-mijak binik barunya. Kek mana bisa mijak, aku aja udah mati." Gumamnya lagi.


"Argahhhh..! Pening aku! Mau curhat pun sama siapa? Gadak yang bisa aku percaya lagi. Kalo sempat aku cerita sama orang-orang tu, (-Teman-teman kuliah Butet-Red) Takutnya heboh pulak orang tu menceritakan aku di belakang. Padahal baru aja tadi siang aku bilang, gak mungkin kali si Moan kek gitu sama aku." Keluhnya lagi.


Tiba-tiba saja Butet teringat akan Kost Putri, tempat pertama kali ia bertemu dengan Moan. Kost yang ia tempati selama hampir lima tahun lamanya. Kost yang penuh dengan kenangan indah bersama dengan teman-teman terkasihnya yang berasal dari berbagai daerah. Teman-teman yang rela menghadiri acara pernikahannya, jauh-jauh ke Toba.


"Ish rindu juga aku sama kelen." Gumam Butet.


"Sri, Cempaka, Siti, bang Rozi, bang Batra, nyak Tatik." Gumamnya lagi.


Sebenarnya hubungan antara Butet dengan teman-teman kost nya masih berjalan dengan baik, walaupun mereka sudah di sibukkan dengan urusan masing-masing. Mereka kerap bersilaturahmi lewat pesan. Dan terkadang juga mereka sering berjanjian untuk bertemu di luar, walaupun hanya sekedar makan siang atau malam. Namun, sudah setahun ini Butet kehilangan kontak mereka semua. Karena ponsel Butet terjatuh dan hilang. Sedangkan mau mampir ke rumah nyak Tatik, Butet belum ada waktu, karena ia baru saja membuka cabang cafe baru di pinggir Kota Jakarta. Hingga waktu beranjak begitu cepat, tanpa di sadari sudah satu tahun Butet menghilang dari teman-temannya.


"Kalau aku di hotel terus, bengkak nantik biayanya ini. Apa aku nyewa kost nyak Tatik aja ya?" Gumam Butet.


Tiba-tiba saja ia tersenyum dan membulatkan kedua matanya.


"Ah iya! Besok lah aku ke sana. Bayar lebih pun aku gak apa, biar bisa kost di sanan. Lagipula aku bisa curhat sama nyak Tatik, Cempaka dan Siti. Si Sri pun bisa datang juga kan. Soalnya dia kan kakak ipar si Cempaka. Hahahaha...! Mantap lah ini!" Batin Butet

__ADS_1


__ADS_2