
"Terima kasih ya mas," Ucap Sri, sesaat setelah mobil Dewa berhenti tepat di depan rumahnya.
Dewa terdiam saat mendengar ucapan 'terima kasih' dari Sri. Ekspektasi Dewa terlalu tinggi. Ia mengira Sri akan meminta dirinya untuk menginap di rumah, namun nyatanya Sri tidak menawarkan hal itu kepada dirinya.
"Aku turun dulu ya. Hati-hati di jalan," Sambung Sri, seraya melepaskan sabuk pengamanannya dan menatap Dewa yang masih mematung menatap dirinya.
"Mas?" Panggil Sri.
"Ah, iya," Dewa mengerjapkan kedua matanya dan mencoba tersenyum kepada Sri.
"Apa ada yang salah?" Tanya Sri, seraya membalas tatapan Dewa dengan seksama.
Dewa mulai salah tingkah. Entah bagaimana caranya ia menyampaikan kepada Sri, bila malam ini ia tidak memiliki tempat untuk pulang.
"Mas?" Panggil Sri lagi.
"Sri.."
"Ya?"
"Ng..." Dewa menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan memperlihatkan gelagat yang begitu canggung.
"Ada apa mas?" Tanya Sri.
"Bagaimana ya.. hmmm... Aku.. Hmmm.."
"Mas kenapa?" Tanya Sri yang mulai terlihat penasaran dengan gelagat Dewa.
"A-aku kan.. hmmmm... aku.. aku.."
"Kamu kenapa mas?" Desak Sri.
"Aku boleh bermalam di sini?" Tanya Dewa.
Sri terdiam, ia baru menyadari bila Dewa tidak mungkin pulang ke rumah Grazia. Sepanjang perjalanan pulang tadi, Dewa bercerita bila ia bertengkar dengan Grazia dan berniat tidak pulang pada malam ini dan mungkin Dewa tidak akan pulang lagi ke rumah Grazia, sebelum hasil test DNA itu keluar.
Sri terdiam membisu. Namun sejurus kemudian ia menghela napas panjang dan mencoba tersenyum kepada Dewa.
"Ini kan rumahmu. Mengapa kamu bertingkah seolah ini bukan rumahmu?" Tanya Sri.
Dewa tersenyum lega. Ia menatap Sri dengan seksama dan menunjukan betapa dirinya merasa sangat bahagia bila Sri menerima dirinya.
__ADS_1
"Terima kasih ya, Sri," Ucap Dewa dengan bersemangat.
"Ya sudah. Aku bukakan pagar dulu ya,"
"Tidak usah, biar aku saja. Kamu masuk saja ke dalam," Cegah Dewa. Lalu ia pun beranjak keluar dari mobilnya dan bergegas untuk membuka pagar rumah, agar mobilnya dapat di parkir di carport rumah tersebut. Sedangkan Sri beranjak keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam halaman rumahnya.
Penjaga rumah pun terbangun. Lalu beranjak menghampiri Dewa yang sedang berjalan kembali ke arah mobilnya.
"Maaf pak, saya ketiduran. Bapak pulang?" Tanya penjaga rumah, seraya menatap Dewa yang hendak memasuki mobilnya.
"Kamu itu ya, tidur terus. Kalau rumah kemalingan bagaimana?" Keluh Dewa, seraya menatap penjaga rumah tersebut.
"Hehehe, maaf pak,"
Dewa menggelengkan kepalanya dan menutup pintu mobilnya.
Sri yang sedang membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang ia miliki, hanya tersenyum melihat Dewa yang sedang protes dengan penjaga rumah mereka.
Dewa memarkirkan mobilnya di carport, sedangkan Sri melangkah masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamarnya. Ia berniat untuk membersihkan make-up dan mengganti pakaiannya.
Sesampainya di kamar, Sri melepaskan seluruh asesoris yang ia pakai. Seperti jam, gelang, kalung dan anting-anting yang melengkapi penampilannya saat jalan bersama dengan Dewa. Setelah melepas dan menyimpan seluruh asesoris nya, Sri pun meraih selembar kapas untuk membersihkan make-up nya. Saat itu juga Dewa masuk ke dalam kamar dan menatap Sri yang hendak membersihkan make-up nya.
"Jangan..!" Cegah Dewa, seraya menghampiri Sri.
"Jangan ya. Please..., malam ini saja." Pinta Dewa.
Sri mengerutkan keningnya dan menoleh dan menatap Dewa yang kini berdiri tepat di belakangnya.
"Kenapa mas?" Tanya Sri lagi.
"Malam ini kamu cantik sekali. Rasanya sayang sekali bila kamu menghapus make-up kamu," Ucap Dewa, seraya tersenyum kepada Sri.
"Oh, jadi aku tuh cuma cantik kalau pas pakai make-up?" Tanya Sri, seraya mengerutkan dagunya.
"Bu-bukan itu. Tapi, kamu tuh semakin cantik kalau pakai make-up. Kayak bidadari. Kalau gak pakai juga cantik natural. Tapi, malam ini, pakai make-up ya. Soalnya aku senang sekali," Ucap Dewa, dengan raut wajah yang tampak memohon.
"Ih, apa sih mas. Aku tuh sudah tiga puluh lebih. Jadi, kalau mau tidur, harus pakai skincare, agar kulitnya bagus." Sri kembali mencoba menghapus make-up nya.
"Ih jangan atuh," Dewa kembali mencegah Sri, yang hampir saja menghapus make-up nya.
"Apa sih mas," Sri kembali mencoba menghapus make-up nya.
__ADS_1
"Ih, di bilangin. Aku tuh kepengen lihat kamu begini saja. Cantik..." Protes Dewa.
"Aku mau pakai skincare mas.." Sri tetap berusaha menghapus make-up nya.
"Bandel ih." Merasa tak sabar, Dewa pun mengangkat tubuh Sri yang sedang duduk di kursi meja rias.
"Ahhh.. mas!" Pekik Sri, yang kini berada di gendongan Dewa.
Dewa tertawa lebar dan membawa Sri ke arah ranjang. Lalu Dewa menjatuhkan tubuh Sri di atas ranjang.
"Sudah ku bilang, aku sedang ingin melihat kamu seperti ini," Ucap Dewa seraya menatap kedua mata Sri.
Sri membalas tatapan Dewa, lalu mereka berdua pun saling bertatapan. Senyum Dewa perlahan sirna. Mereka terdiam cukup lama dan hanya saling bertatapan dalam posisi tangan Dewa yang masih melingkar di pundak Sri.
Suasana canggung pun tercipta. Hingga akhirnya Dewa memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang ada di hatinya saat ini.
"I miss you. I miss you so bad," Ucap Dewa, seraya terus menatap kedua mata Sri.
Sri terdiam membisu. bibirnya seakan terkunci rapat. Tubuhnya mematung, matanya terus menatap kedua bola mata Dewa yang terlihat begitu jujur.
"I love you, Sri. Sampai mati pun, hanya kamu wanita yang aku inginkan. Hanya kamu, cuma kamu."
Tubuh Sri gemetar saat mendengar ucapan tulus yang di sertai tatapan yang begitu jujur dari Dewa.
"Ng.. mas.. aku.."
"Ssstttt...," Dewa menempelkan telunjuknya di bibir Sri.
"I love you." Tegas Dewa sekali lagi.
Wajah Sri mulai memerah. Rasanya seperti saat ia pertama kali sekamar dengan Dewa, bertahun-tahun yang lalu.
Perlahan, Dewa pun mendekati bibir Sri dan lalu mengecupnya dengan lembut.
Alih-alih ingin menolak, Sri malah terpaku dan merasakan gelora yang sudah lama ia rindukan dari sosok suaminya itu.
Perlahan, tangan Dewa pun mulai mengusap pipi Sri dengan lembut. Lalu tangannya kini jatuh ke leher Sri dan membelainya dengan tak kalah lembut. Sri pun bergidik menahan geli, hingga ia meremas kemeja Dewa.
"Mas.." Sri berusaha untuk menghianati keinginannya. Namun berapa keras ia mencoba, Dewa tidak akan memberikannya celah untuk menghindar. Hingga Sri akhirnya terbuai oleh sentuhan-sentuhan hangat yang ia rindukan dari sosok Dewa.
"Kamu masih milik ku, sampai kapanpun, kamu milik ku." Ucap Dewa, seraya menancapkan miliknya ke dalam tubuh Sri.
__ADS_1
"Semoga Butet tidak mengetahui hal ini," Batin Sri, saat ia terbuai dalam gerakan Dewa yang semakin lama terasa semakin bringas.