
"Ck, macam orang teler ku tengok mamak-mamak ini semua lah." Batin Moana, saat melihat para ibu-ibu yang sedang reunian tertawa terbahak-bahak saat mereka menceritakan kisah masa kuliah mereka di rumah kost ini.
"Mak! lapar aku.." Ucap Moana, saat Butet sedang asik berbincang dengan ketiga Sahabatnya.
"Nah, kau makan dulu ubi ini." Ujar Butet, seraya menunjuk sisa ubi rebus yang tinggal beberapa biji saja di atas piring.
"Udah ku makan nya dari tadi. Kenyang enggak, tekentut-kentut pun iya aku." Keluh Moana.
"Ck! kau ya Moana, mamaknya lagi asik jugak. Sibuk aja pun kau!" Butet tidak mau kalah dengan Moana.
"Ish si Butet teh jangan begitu atuh..." Tegur Cempaka.
"Iya, recok kali dia. Awak lagi asik pun." Keluh Butet.
"Tapi teh anak kamu laper atuh Tet."
"Gadak makanan. Cuma ubi ini aja lah."
"Ya kau pesan lah Tet, kan ado aplikasi online tu mah." Tegur Siti.
"Ck!" Butet meraih handphone nya untuk mencari makanan untuk Moana.
"Kek gini lah mamak, kalok asik dia cakap, apalagi di hape, lupa dia waktu. Jangankan awak, bapak awak pun kek gak nampak sama mamak." Celetuk Moana.
Butet dan ketiga temannya terdiam dan menatap Moana yang berbicara terlalu jujur di depan butet dan semuanya.
"Eh, kok cakap kek gitu kau nak?" Tanya Butet seraya tersenyum canggung dan melotot kepada Moana.
"Memang kek gitu mamak kok. Bapak jugak pernah cakap samaku. Katanya mamak sibuk kali. Makanya bapak carik sibuk jugak di luar. Ikot sama club motor itu jadinyakan?" Ujar Moana lagi.
Suasana mendadak hening. Butet merasa terpukul dengan ucapan Moana yang membuat dirinya tersadar, ternyata Moan pernah menyampaikan unek-unek nya kepada Moana.
"Eh, hmmm, kapan rupanya bapak cakap kek gitu nak?" Tanya Butet, seraya beranjak menghampiri Moana.
"Udah lama, sebelom dia masuk ke club nya itu. Dah lah, gak lapar lagi aku. Makan ubi aja aku." Moana beranjak dari duduknya dan mengambil dua potong ubi rebus. Lalu ia berjalan menuju ke kamar.
Butet terdiam, ia kembali duduk di sofa dan tertunduk malu. Tak ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Sejurus kemudian, terlihat Romi berjalan menyusul Moana ke kamar.
"Tet," Panggil Siti.
Buset menoleh dan tersenyum masam, lalu ia menghela nafas panjang dan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.
"Yang di bilang Moana ada benarnya wee," Ucap Butet, memecahkan keheningan diantara mereka semua.
"Maksudnya Tet?" Tanya Cempaka.
__ADS_1
"Terkadang aku juga sibuk sama diriku sendiri. Cemana lah ya wee, hari-hariku cuma jadi ibu rumah tangga. Kadang, aku bantu di cafe. Tapi gak lah sering kali. Tapi Moan, dia tiap hari keluar rumah. mutar dari cafe ke cafe-cafe cabang kami. Aku sadar, kehidupan kami tergantung sama cafe itu. Makanya Moan bersikeras untuk menghandlenya sendiri. Tapi kan dia boss, kan dia bisa punya waktu untuk kami. Kadang dia pulang udah capek. Aku bingung mau ngapain kan? Aku sibuk jugalah, kadang telepon-teleponan sama bekas kawan kampusku atau ibu-ibu wali murid di TK si Moana. Jujur, stress aku."
Semua terdiam dan menghela nafas panjang secara bersamaan.
"Jujur, saya teh sama." Celetuk Cempaka.
Semua menoleh kepada Cempaka yang kini terlihat murung.
"Saya teh kadang capek ngurus anak di rumah saja. Rasanya teh, gelar sarjana pun gak bisa membuat saya bangga. Kalian teh mengerti sendiri, saya teh sama a' Rozy paling pertama menikah. Terus punya anak. Terkadang saya teh capek, ngurus anak terus. Saya teh kepingin seperti ibu-ibu bekerja lainnya. Sedangkan a' Rozy teh enak, tiap hari kerja, ketemu orang-orang, teman-teman kerjanya. Jadi dia teh tidak stress stress sekali lah. Tapi saya teh rasanya terpuruk. Sedih saya..." Keluh Cempaka.
Semua kembali terdiam. Siti melirik Sri yang juga sedang melirik kepadanya.
"Apo? kau ka curhat juo Sry?" Tanya Siti.
Sri mengerutkan keningnya dan menggelengkan kepalanya.
"Problem kau apa Sri?" Tanya Butet.
"Kok aku toh? urip ku loh sante, ora ono masalah." Sahut Sri.
"Nokoh kau kan?" Cecar Butet.
"Tenaaaannn..!"
"Surga kali idop kau rupanya?" Butet masih tak percaya dengan pengakuan Sri.
"Apo pulo..." Siti mencoba menghindari tudingan dari Sri.
"Wes ceritakno Ti, rasah isin." Cecar Sri lagi.
Siti menghela nafas panjang dan menatap Sri dengan tatapan yang tampak sebal dengan sahabatnya itu.
"Kalau ambo, dak do masalah jo uda Batra. Tapi, kalian lah tau surang, kalau awalnyo keluarga ambo indak setuju jo da Batra. Ambo pikir setelah ambo menikah jo uda Batra, urang tuo ambo alah setuju jo uda Batra. Ternyata...." Siti menghentikan ucapannya dan tertunduk lesu.
"Ternyata apa atuh Ti?" Tanya Cempaka yang merupakan kakak ipar dari Siti.
"Seperti yang kau tau Cem, udah Batra alah mencoba tinggal di Padang, demi permintaan urang tuo ambo. Tapi kau tahu surang lah Cem, di Padang agak susah bana mencari kerja. indak bantuak di Ibukota doh." Terang Siti lagi.
"Lah, di mana letak masalahnya?" Tanya Butet.
"Ya kalau susah cari kerja, kau tau surang lah Tet. Jadi pengangguran lah pasti. Terus, masa iya uda Batra jadi petani? Walaupun uda Batra pernah karajo di Padang, tapi gaji di sana..." Siti menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan raut wajah yang terlihat penuh beban.
"Cepat lah kau cakap, setengah-setengah aja pon. kek sinetron seribu episode ku tengok masalahmu ini!" Desak Butet.
"Sek to Tet," Sri mengibaskan tangannya di depan wajah Butet.
__ADS_1
"Ya, intinyo uda ko serba salah di mato ka duo urang tuo ambo." Tegas Siti.
Semua kembali menghela nafas panjang dan menyenderkan punggungnya di senderan sofa.
"Sekarang kau!" Butet menunjuk Sri dengan tiba-tiba, membuat Sri terperanjat karena terkejut.
"Opo sih?" Sri menatap ketiga sahabatnya dengan bergantian.
"Urip ku loh selow, tenan loh iki," Ucap Sri.
*
Romi menatap Moana yang duduk diatas ranjang seraya melahap ubi rebus yang ia ambil di atas meja tadi. Lalu ia melangkah mendekati Moana dan duduk di tepi ranjang.
"Moana," Panggil Romi.
"Apa?" Sahut Moana dengan sikapnya yang tak acuh.
"Mamak bapakmu mau bercerai ya?" Tanya Romi.
Moana berhenti mengunyah, lalu ia mengerutkan dagunya dan tertunduk lesu.
"Gak tau aku."
"Sabar ya Moana." Romi mengusap rambut Moana dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Moana menatap Romi dengan mata yang mulai berkaca menahan tangis.
"Bang, aku gak mau mamak sama bapakku pisah. Aku rindu sama bapak bang," Ucap Moana dengan air mata yang mulai menetes di pipinya.
Romi menatap Moana dengan tatapan iba. Lalu ia tersenyum dan mengusap air mata Moana dengan jemarinya.
"Jangan nangis ya. Ada abang di sini."
Merasa di perhatikan, air mata Moana pun semakin deras. Ia memeluk Romi dengan erat, mencoba mencari perlindungan dari hatinya yang terasa hancur, dari seorang Romi yang sudah ia anggap sebagai saudara dan abang kandungnya sendiri.
"Jangan nangis... habis ini kita main lagi ya." Bujuk Romi.
"Iya bang."
"Ya udah, hapus air matanya. Nanti mamakmu tahu."
Moana melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya dengan tergesa-gesa. Lalu ia kembali memasang wajah yang ceria dan tersenyum kepada Romi.
"Nah gitu dong, kan cantik." Puji Romi.
__ADS_1
Moana tersenyum lebar, lalu ia kembali melahap ubi rebusnya yang masih tersisa satu potong lagi.