Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Nasi dan kuah


__ADS_3

"Maaf ya mbak, jadi nunggu lama. Ada insiden tadi di depan," Ucap Butet, yang kini sudah duduk di depan Grazia yang menunggu dirinya di ruang keluarga.


"Gak apa kak. Oh iya, ada apa tadi?" Tanya Grazia.


Butet terdiam sejenak, mencoba mencari jawaban yang tepat untuk Grazia.


"Kak?" Panggil Grazia.


"Ah, iya.. itu, orang nanya alamat. Dia kira ini rumah kawannya." Pungkas Butet.


"Oh..." Grazia pun mengangguk paham.


"Ngomong-ngomong, Moana nya mana kak?" Tanya Grazia lagi.


"Moana sudah tidur. Hari ini memang dia keliatan capek kali." Jawab Butet.


Lagi-lagi Grazia mengangguk paham. Lalu ia melihat ke sekeliling ruang keluarga rumah Butet tersebut.


"Poto mantan masih di pajang, kak?"


Butet menoleh ke arah di mana terpajang foto dirinya, Moan dan Moana.


"Mampooos aku. Lagipulak, perempuan ini kok usil kali." Batin Butet.


"Ah, itu.. karena si Moana pingin poto kami masih di pajang. Jadi ya udahlah ya.. demi anak," Jawab Butet.


"Ya.. ya.." Lagi-lagi Grazia mengangguk paham.


"Gantian lah aku yang sibuk, nanyak-nanyak." Batin Butet lagi.


"Kok datang sendiri mbak? Anaknya sama suami kok gak diajak?" Tanya Butet.


"Ah, suami saya masih di luar Kota. Kalau anak saya, sama pengasuhnya." Jawab Grazia.


"Oh, masih di luar Kota. Gak takot apa mbak, di tinggal sendirian teros?" Tanya Butet.


"Takut kenapa ya, kak?" Tanya Grazia.


"Ya.. Takotnya, suami ada maen gilak dia sama perempuan laen."


Grazia terdiam mendengar celetukan Butet. Memang apa yang di katakan Butet adalah ke khawatiran Grazia selama ini. Bukan karena Grazia takut, bila Dewa bermain gila di luar sana. Tetapi Grazia lebih merasa khawatir bila Dewa dekat dengan Sri.


Angan Grazia kembali ke beberapa bulan yang lalu, saat ia protes kepada Dewa, waktu Dewa hendak kembali ke rumah Sri.


"Mas, bisa tidak kamu tinggalkan saja istrimu itu?" Tanya Grazia yang mulai kesal, karena Dewa masih saja menyambangi rumah Sri.

__ADS_1


"Apa? Apa aku tidak salah dengar?" Tanya Dewa.


"Tidak! Mas, mas harus tegas dong. Pilih dia atau aku!"


Dewa menatap Grazia dengan seksama, lalu Dewa tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya. Tanda ia tidak percaya dengan apa yang baru saja Grazia ucapkan kepada dirinya.


"Grazia, kalau itu maumu, aku akan memilih istriku. Karena bagaimanapun, aku sangat mencintai dia."


Grazia terdiam, namun tubuhnya terlihat gemetar menahan emosi, karena mendengar jawaban Dewa yang di luar ekspektasinya.


"Kamu kok begitu!" Bentak Grazia.


"Aku sudah pernah bilang padamu, aku terpaksa menikahi mu. Kalau bukan karena Kimberly, aku tidak akan pernah mau menginjak rumah ini. Grazia, kalau kamu sudah tidak tahan, silahkan gugat cerai aku. Aku tidak akan pernah merasa keberatan." Tegas Dewa. Lalu Dewa beranjak begitu saja dari hadapan Grazia.


Grazia hanya mampu mengepalkan kedua tangannya dan mendengus kesal.


Sudah hampir dua tahun berlalu, namun rasa cinta Dewa padanya belum juga tumbuh. Padahal Grazia merasa tidak ada satupun kekurangan pada dirinya. Ia cantik, berpendidikan dan kaya. Di bandingkan Sri, yang Grazia sudah tahu wajahnya melalui poto yang pernah Dewa tunjukkan pada dirinya, Grazia masih jauh lebih cantik daripada Sri, yang menurut Grazia lebih terlihat wajah 'ndeso'. Sedangkan wajah Grazia lebih terlihat 'Kota'. Namun entah dimana letak kelebihan Sri di mata Dewa, hingga membuat Grazia merasa begitu gemas dan sakit hati kepada cinta Dewa dengan Sri.


"Mbak? Duh, maap lah ya, kalok aku menyinggung mbak," Ucap Butet.


"Memang niat ku mau nyinggung kau kok!" Batin Butet .


"Ah tidak apa, kak. Ya, menjawab pertanyaan kakak tadi, saya sebenarnya juga berpikiran yang sama," Ucap Grazia.


"Hah? Bukannya kau sadar kalau lakikmu itu udah bebinik? Jangan sok jadi korban kau! Ku pijak nantik mukakmu!" Batin Butet.


Sebenarnya inilah tujuan Butet mengundang Grazia. Ia ingin menjadi teman baik Grazia, agar ia selalu mendapatkan informasi dan suasana hati, serta kondisi rumah tangga Grazia dengan Dewa, saat ini.


"Tidak apa kak. Duh, kenapa saya jadi curhat ya?" Grazia tersipu malu. Lalu ia menundukkan wajahnya.


Sebenarnya Grazia juga cukup merasa menderita dengan pernikahannya dengan Dewa. Bagaimana tidak? Wanita mana yang tahan bila suaminya seperti tidak tertarik kepada dirinya? Wanita mana yang tahan, bila selalu mendapatkan sikap yang dingin dari suaminya? Dan wanita mana yang bisa terima, bila suaminya mengakui bila dirinya mencintai orang lain selain dirinya? Namun Grazia tidak dapat melakukan apa-apa, selain menerima itu semua. Jauh di lubuk hati Grazia, ia pun paham, bila dirinya hanyalah wanita kedua.


"Mbak, kita ini sama loh. Curhat aja sama aku. Aku jugak mau curhat sama mbak," Ucap Butet.


"Cepat kau cerita, keknya seru ini!" Batin Butet.


Grazia hanya tersenyum menanggapi ucapan Butet.


"Eh, tapi mbak udah lapar belom? Kita cerita-ceritanya nantik siap makan aja lah ya. Makan dulu kita kak. Ku buatkan masakan daerah asalku. Pasti enak ini.. Yok lah.." Ajak Butet.


Grazia pun mengangguk setuju. Lalu mereka berdua beranjak meninggalkan ruang keluarga menuju ke ruang makan.


Tiba di ruang makan, Grazia terperangah saat melihat hidangan menu yang beraneka ragam di atas meja. Semua terlihat begitu menggugah seleranya.


"Ini kakak yang masak semua?" Tanya Grazia.

__ADS_1


"Iya, di bantu sama bibik ku." Jawab Butet.


"Wah... maaf ya kak, saya merepotkan," Ucap Grazia.


"Gak apa loh... Namanya untuk sahabat baru. Gak ada yang harus ku tahan tahan lah." Jawab Butet.


Grazia menatap Butet dengan tatapan haru. Lalu ia pun beranjak duduk di kursi meja makan, setelah Butet persilahkan. Butet pun melayani dirinya dengan baik, sehingga sedikit demi sedikit, ia merasa nyaman dengan Butet dan mulai membuka diri kepada Butet yang sudah menganggap dirinya sebagai teman, bahkan Butet menyebut dirinya adalah seorang sahabat bagi Butet.


......................


"Sial kali aku bah!" Keluh Moan, yang sedang mencuci sepatunya yang kotor, di kamar mandi kost nya.


Sambil menyikat sepatunya, Moan pun perlahan tersenyum sendiri. Mengingat sikap manis dari Butet, saat istrinya itu memberikan makanan untuk dirinya.


"Nah, dimakan. Jangan sampek kau gak makan ya bang. Udah capek-capek aku bungkos itu," Ucap Butet, seraya menyerahkan bungkusan makanan di tangannya kepada Moan.


"Iya dek.." Sahut Moan, seraya menerima bungkusan tersebut.


"Jangan lupa kau mandi bang. Teros kau cuci itu sepatunya. Jan kau biarkan aja itu sepatu, busok nantik," Ucap Butet lagi.


"Iya dek." Sahut Moan lagi.


"Saket kaki kau, bang? Nantik kau kasi minyak kusok kakimu itu. Jangan sampek bengkak bang. Payah kau jalan nantik."


Moan menatap Butet dengan mata yang tampak berkaca-kaca.


"Ish, ternyata dia masik peduli nya sama aku? Ternyata kau gak pernah berubah, Tet. Kau masik perhatian sama aku, jadi terharu aku lah.." Batin Moan.


"Ya udahlah bang. Pulang kau sanan, aku mau urus betina itu dulu," Ucap Butet.


"I-iya dek." Sahut Moan, dengan air mata yang kini mulai meleleh di pipinya. Namun Butet tidak dapat melihat air mata haru itu, karena wajah Moan tertutupi helm.


"Terima kasih Butet." Gumam Moan, seraya tersenyum lebar.


Lalu ia membilas sepatunya dan menjemurnya di area jemur yang ada di kost nyak Komariah tersebut. Lalu Moan kembali ke kamarnya dan meraih bungkus makanan yang Butet bekalkan untuk dirinya.


"Makan dulu kita." Gumam Moan, seraya membuka bungkus makanan tersebut.


Seketika senyum Moan sirna dari wajahnya, setelah melihat isi di dalam bungkusan tersebut.


"Mana lah ikannya ini..? Eeeeeeeeeeee.... di Butet ini pelit kali!" Ucapnya, seraya mendengus kesal.


Lalu ia kembali menatap nasi yang hanya di sirami oleh kuah arsik ikan mas, sedikit sambal tuktuk, serta selembar daun singkong tersebut.


"Gak papa lah, yang penting ini masakanmu, Butet. Mau kau kasikan racun pun, pasti aku makan," Ucap Moan, seraya mulai menyantap nasi tersebut, seraya meringis menahan perih di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2