Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Luluhnya Singa betina!


__ADS_3

Suara jangkrik, serta suara binatang malam lain nya bersahutan dan memecah keheningan malam. Udara dingin pun menusuk di tulang. Moan yang sedang duduk di beranda vila pun beranjak masuk dan berjalan ke arah kamar yang di tempati oleh Moana.


Sesampainya di depan kamar, Moan membuka pintu kamar dengan perlahan dan mendapati Butet yang sedang membetulkan letak selimut yang membungkus tubuh mungil Moana. Sadar bila ada yang membuka pintu kamar, Butet pun menoleh dan menatap Moan yang kini berdiri di ambang pintu. Tidak ingin bila Moana terbangun, Butet pun beranjak dan menghampiri Moan.


"Belum tidur kau bang?" Tanya Butet, seraya melangkah keluar.


Moan menggelengkan kepalanya. Lalu dengan berhati-hati, ia menutup pintu kamar tersebut dan menyusul Butet yang sedang berjalan ke arah dapur.


"Mau teh kau bang? Atau kopi?" Tanya Butet lagi.


"Aku udah buat tadi." Sahut Moan, yang kini duduk di kursi meja makan yang masih berada di area dapur.


"Oh, kapan kau buat?"


"Udah dari tadi, waktu kau ngeloni si Moana." Jawab Moan.


"Udah dingin nya itu. Bikin apa kau tadi bang?"


"Kopi," Jawab Moan.


"Mau kau teh? Biar sekalian aku buat nya. Jangan sampek udah dudok aku, kau suruh pulak buat teh. Atau kau mintak pulak teh ku," Ucap Butet, seraya menoleh menatap Moan yang terus menatap dirinya.


"Ya udahlah. Mintak tolong aku ya, kau buatkan teh satu untuk ku dek." Pinta Moan.


"Ck! Tadi gak mau, sekarang kau mintak! Cemana nya kau bang!" Keluh Butet, seraya meraih satu gelas kosong yang berada di atas rak piring.


"Ck! Tadi nawarin aku. Sekarang giliran aku mau, di marahinnya aku." Batin Moan, seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Oh iya dek, jadi cemana si Moana? Di mana dia masuk SD nantik?" Tanya Moan.


Butet yang baru saja selesai menyeduh teh, pun membawa dua gelas teh tersebut dan menaruhnya di atas meja makan. Lalu ia pun beranjak duduk di sebelah Moan.


"Aku mau masok kan dia ke SD Kristen bang. SD swasta yang dekat sama rumah kita itu. Itu bagos SD nya." Terang Butet.


"Oh.. bagos lah. Ku kira mau kau masok kan dia dekat kost kita dulu."


Butet menatap Moan dengan tatapan yang datar. Lalu ia menghela napas panjang dan memperlihatkan bila ia merasa kesal dengan Moan.


"Maaf ya dek. Wajarlah aku takot. Ku kira kau mau selamanya tinggal di sana." Ujar Moan.


Butet kembali menghela napas panjang dan meraih gelas teh nya. Lalu ia menyeruput teh tersebut dengan perlahan. Pun dengan Moan, ia mulai menyeruput teh buatan Butet yang masih mengepulkan uap panasnya.


"Dek," Panggil Moan, setelah ia menaruh gelas teh nya kembali ke atas meja.


"Hmmm," Sahut Butet, yang kini mulai asik dengan ponselnya.


"Tarok lah dulu hape mu. Mau bicara aku sama mu." Pinta Moan.


Dengan malas, Butet melirik Moan dan kemudian ia menaruh ponselnya di atas meja.


"Mau bicara apa?" Tanya Butet.


"Ha... gitu kan enak. Jadi pas cakap tu, saling tatap mata. Jangan yang satu cakap, yang satu liat hape," Ucap Moan.


"Jadi bicara gak kau bang!"

__ADS_1


"Jadi lah," Sahut Moan, yang mulai terlihat gugup.


"Mau bicara apa? Cepat lah!"


"I-iya..., sabar lah.." Moan menggeser kursinya, agar ia bisa duduk berhadapan dengan Butet.


"Dek, masalah biaya Moana sekolah, nantik kau kasi tau aku aja ya. Biar langsung ku transfer ke rekeningmu."


"Ya. Teros?" Butet masih terlihat tak acuh pada Moan.


"Hmmm... masalah tempat tinggal. Boleh gak aku mintak, kalau kau tetap tinggal di rumah. Kalau kau gak suka aku, biar aku aja yang ngekost. Kek manapun, kalau Moana masuk SD, pasti dia lebih nyaman tinggal di rumah kita sendiri. Aku mohon sama mu dek."


Butet menatap Moan dengan seksama. Lalu ia kembali meraih gelas teh nya dan menyeruput teh tersebut dengan perlahan.


"Tapi, lebih bagos kalok kau ijinkan aku tinggal di sanan juga." Sambung Moan.


"Uhuk! Uhukk!" Butet pun tersedak, saat mendengar ucapan Moan.


"Pelan-pelan lah.." Ucap Moan, seraya meraih tisu dan memberikannya kepada Butet.


Butet pun menerima tisu pemberian Moan dan mulai mengusap mulutnya.


"Jadi, intinya kau ngajak satu rumah lagi?" Tanya Butet, seraya menatap Moan dengan tatapan yang kesal.


"Hehehehe.. Namanya aku berusaha."


"Gadak cerita ya bang! Enak kali kau! Aku baek sama mu sekarang, demi si Moana aja nya. Bukan mau balek lagi sama mu!" Ucap Butet yang kini mulai tampak semakin kesal dengan Moan.


"Ish, sabar lah.." Moan menekuk wajahnya dan terlihat begitu kecewa dengan penolakan dari Butet.


"Eh, tunggu dulu lah. Ada lagi yang mau aku bilang," Ucap Moan, seraya menahan tangan Butet.


"Apa!"


"Sabar dulu. Dudok kau dulu dek." Pinta Moan.


Masih dengan raut wajah yang terlihat kesal, Butet pun menuruti permintaan Moan.


"Apa?" Tanya Butet lagi.


"Gini Tet, jadi kan.. di pila ini dingin kali. Jadi, tidor sama kita ya Tet,"


"Hah?" Butet tampak tak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Moan.


"Cobak kau ulangin lagi bang," Ucap Butet yang berpura-pura tidak mendengar ucapan Moan sebelumnya.


"Tidor sama kita ya, Tet. Maksudnya satu kamar aja. gak ngapa-ngapain nya. Jan takot kau. Aku cuma mau sekamar aja sama mu," Ucap Moan, seraya tersenyum.


"Ish! Urusan kita belom selese ya Moan!" Tegas Butet.


"Iya memang belom nya. Tapi gencatan senjata kita yok! Perang aja ada masa istirahat nya. apalagi perang lakik binik."


Butet menatap Moan dengan tatapan tak percaya.


"Tet, rindu kali aku sama mu, Tet. Masalah kita memang belom selesai, sadar nya aku, Tet. Tapi sumpah demi Tuhan, gak ada aku maen di luar, Tet. Semua gara-gara si Choky p*k*mak itu aja." Moan masih berusaha untuk menjelaskan nya pada Butet.

__ADS_1


Butet menatap Moan dengan tatapan sadis nya, lalu ia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Moan.


"Gadak kau maen di luar, gara-gara udah ketahuan sama ku, iyalah!"


"Kalok memang niat aku maen di luar, ngapain aku pulang dulu. Bagos aku gak usah pulang! Ngapain aku narok hape ku sembarangan? Bagos ku matikan. Cok lah kau berpikir sikit, Tet!" Moan terlihat lelah, karena terus mendebatkan masalah yang itu-itu saja.


"Aku gak bodoh, Tet. Kalok nakal kali pun aku di luar, gak mungkin jugak aku nurut apa yang kau bilang. Kau suruh aku pulang, pulang nya aku. Kau suruh aku cepat-cepat, ngebut nya aku di jalan. Kau suruh mati pun aku mau!"


Butet terdiam mendengar ucapan Moan dan ekspresi suaminya yang terlihat begitu serius.


"Jujur, capek kali aku sama masalah ini. Orang yang berulah, awak yang kenak. Kalok mau pun aku maen, belik hape untuk maen-maen aja aku. Ngapain aku bodoh kali pakek hape yang kau sendiri tau berapa nomor sandinya. Kalok aku mau maen-maen, kau cobak cek rekening ku pun kau bisa."


Kali ini Butet terdiam membisu.


"Tet, aku mintak sama mu. Percaya aku aja kali ini," Ucap Moan dengan wajah yang memelas.


"Tapi malam pas aku pigi, kau maen nya ke tempat hiburan malam. Ada ini fotonya!" Butet meraih ponselnya dan memperlihatkan foto Moan yang sedang di peluk oleh wanita penghibur.


"Itu lagi... itu lagi. Kalok boleh aku tau, siapa yang ngirim poto itu sama mu?" Tanya Moan.


"Adalah! Orang yang bisa aku percaya!" Ucap Butet.


"Kau mau aku jujur?" Tanya Moan.


"Apa!"


"Saat kau pigi dari rumah, aku bingung apa yang mau aku buat. Satu-satunya yang ada di otak ku, cuma mau nyarik si Choky biang kerok ini lah. Aku mau nyeret dia ke depanmu, buat jadi saksi. Tapi ternyata dia ada di sanan, sama kawan-kawan yang laennya. Terpaksa lah aku nyusul ke sanan. Ternyata pas aku keluar, di hadang aku sama cewek itu. Nah, sekarang siapa biang kerok kedua ini? Kok bisa dia dapat gambar aku? Cok sekarang kau yang jujur samaku."


Butet mengerutkan dagunya dan menatap Moan dengan tajam.


"Ish, menderita kali aku kek gini dek. Sumpah...!" Moan menggaruk kepalanya dengan gusar.


"Namanya Nella. Kawan aku pas di kampus dulu." Akhirnya Butet mengatakan pada Moan, siapa yang mengirimkan foto tersebut kepadanya.


"Nella? Nella mana?"


"Adalah, gak kenal nya kau!" Ucap Butet, seraya beranjak dari duduknya dan hendak meninggalkan Moan begitu saja.


"Tunggu dulu dek, kita belom selese bicara," Ucap Moan, seraya menarik tangan Butet dengan panik.


Tanpa sengaja, Butet nyaris terjatuh dan dengan sigap Moan langsung menahan tubuh Butet, hingga Butet terjatuh di pelukan Moan. Mereka pun saling bertatapan. Masih terlihat jelas percikan api cinta dan rindu yang masih bersarang di hati dan mata mereka.


"Rindu kali aku samamu, dek," Ucap Moan, seraya menatap wajah cantik Butet.


Seketika wajah Butet pun memerah. Udara semakin dingin dan hening, membuat keduanya mulai terlarut oleh suasana tersebut.


"Terus, kalok kau rindu, kau mau apa?" Tanya Butet, yang masih berada di pelukan Moan.


Tanpa basa basi, Moan langsung mengecup bibir Butet. Rasa hangat dari bibir Moan pun menjalar ke seluruh tubuh Butet yang dingin. Hingga ia tak mampu untuk memberontak, atau menghentikan perlakuan Moan kepada dirinya. Moan semakin liar dalam mengekspresikan rasa rindunya. Tangannya pun mulai menyentuh dan membelai setiap inci dari tubuh istrinya tersebut.


Tubuh Butet pun bergetar, darahnya pun berdesir kencang. Tak dapat ia pungkiri, bila ia pun merindukan sentuhan dan ekspresi cinta dari Moan.


"Gak! Ini gak bisa di biarkan! Aku lagi marah sama dia!" Batin Butet.


Namun Otaknya berkata lain. Dalam buayan cinta dari Moan, Butet terus berperang. Hingga akhirnya, singa betina pun luluh oleh sang raja rimba.

__ADS_1


__ADS_2