
Ting!
Tong!
Ting!
Tong!
Bunyi bell bertubi-tubi terdengar di depan pagar rumah Sri. Satpam rumah Sri yang sedang tertidur, pun terbangun dan menoleh ke arah pagar rumah tersebut.
"Siapa sih! Tidak sabar sekali," Gumam lelaki paruh baya tersebut.
Satpam itu pun beranjak mendekati pagar rumah tersebut dan membuka sedikit pagar untuk dapat melihat siapa yang sedang menekan tombol bell rumah itu.
"Cari siapa ya bu?" Tanya lelaki bernama Asep tersebut.
"Saya mau bertemu sama yang punya rumah!" Ucap Grazia dengan nada suara yang terdengar tak sabar.
"Ibu sama bapak sedang pergi," Ucap Asep dengan polosnya.
"Pergi? Kemana?"
"Katanya liburan bu. Sama den Ardi juga," Jawab Asep masih dengan polosnya.
Deg!
Rasa sakit pun menghantam hati Grazia. Kini napasnya mulai memburu, menahan rasa emosi.
"Kamu bohong! Kamu di suruh sama nyonya kamu kan!" Cecar Grazia, yang sedang menggendong Kimberly.
"Bo-bohong? Ya tidak lah bu," Jawab Asep, seraya menatap Grazia dengan tatapan bingung.
"Saya mau masuk!" Ucap Grazia, seraya berusaha menerobos masuk.
"Bu, Bu, kalau boleh tahu, ibu siapa ya? Ada hubungan apa sama keluarga pak Dewa? Maaf sebelumnya, saya hanya bekerja dan di pesankan untuk tidak sembarangan menerima tamu, bu," Ucap Asep yang mulai terlihat panik.
"Minggir! Saya mau masuk!"
"Gak bisa dong bu. Tolong mengerti," Ucap Asep, seraya merentangkan kedua tangannya untuk mencegah Grazia yang sedang berusaha untuk menerobos masuk.
"Minggir! Saya ini istrinya pak Dewa! Kamu. mau di pecat!"
Deg!
Asep terdiam dengan raut wajah yang tampak begitu terkejut.
"I-istri? Istri pak Dewa kan ibu Sri," Gumam Asep.
"Saya juga istrinya! Kamu tidak percaya?" Tanya Grazia, seraya meraih ponselnya dari dalam tas tangannya. Lalu ia menunjukkan foto dirinya dengan Dewa dan juga Kimberly.
"Sekarang kamu percaya? Hah!" Bentak Grazia.
Asep membulatkan kedua matanya dan terdiam membeku.
"Astaghfirullah! Pak Dewa." Batin Asep.
"Saya mau masuk! Minggir kamu," Ucap Grazia seraya menerobos masuk memanfaatkan Asep yang sedang terdiam membeku.
"Massss..! Massss! Mas Dewa!" Panggil Kimberly, seraya beranjak menuju ke depan pintu rumah Dewa dan Sri.
"Bu! Bu! Bu!" Asep yang baru menyadari bila Grazia berhasil menerobos, pun mulai mengejar Grazia yang kini sedang mengetuk-ngetuk pintu rumah tersebut.
__ADS_1
"Mas Dewa!" Panggil Grazia.
"Aduhhhh..! Mati aing!" Seru Asep yang kini terlihat panik.
Cklek!
Pintu rumah pun terbuka. Terlihat wanita paruh baya, yang manjadi asisten rumah tangga Dewa dan Sri, serta pengasuh Ardi berdiri di ambang pintu dan menatap Grazia dengan seksama.
"Ibu siapa ya?" Tanya Si mbok, asisten rumah tangga di rumah tersebut.
"Mana Sri! Mana mas Dewa!" Tanya Grazia yang terlihat begitu emosi.
"Loh.. saya bertanya, sampeyan sopo, bu?" Tanya si mbok lagi.
"Saya istrinya mas Dewa!" Seru Grazia.
Asep yang panik, kini mulai tampak ketakutan. Sedangkan si mbok dan pengasuh Ardi, terlihat begitu terkejut mendengar pengakuan Grazia.
"Ki wong gendeng, po piye nduk?" Tanya si mbok, kepada pengasuh Ardi.
Pengasuh Ardi hanya dapat mengangkat kedua bahunya, serata terus menatap Grazia dengan tatapan menyelidik.
"Kamu mang! Kenapa kamu biarkan ada orang masuk begitu saja!" Ucap si mbok, seraya melotot menatap Asep.
"Sa-saya.. Aduhh..." Asep tidak mampu melanjutkan ucapannya. Lalu ia beranjak mendekati Grazia.
"Bu, ayo keluar bu. Saya sudah bilang, tuan dan nyonya saya sedang tidak ada di rumah. Mereka sedang liburan," Ucap Asep, seraya hendak menuntun Grazia untuk kembali ke luar pagar.
"Apa sih! Berani kamu pegang-pegang saya! Saya laporkan ke polisi kamu nanti ya! Saya laporkan ke pak Dewa!," Ancam Grazia.
Asep pun mengurungkan niat nya untuk menuntun Grazia, karena takut mendengar ancaman wanita tersebut.
"Mang! Tunggu apa lagi! Bawa keluar!" Perintag si mbok.
"Ya Allah, mamang!" Si mbok terlihat gemas dengan sikap Asep.
"Tapi ibunya punya bukti kok, kalau beliau memang istrinya pak Dewa," Ucap Asep lagi.
"Bukti?" Tanya si mbok, seraya mengerutkan dahinya.
"Iya, ada fotonya." Pungkas Asep.
"Mbok, jangan-jangan ini pelakor. Wong pak Dewa kan suaminya bu Sri. Lagipula Ardi lebih tua daripada anak yang di gendong dia," Bisik pengasuh Ardi.
Mendengar ucapan sang pengasuh, si mbok pun membulatkan kedua matanya.
"Pelakor?" Tanya si mbok, yang pernah memiliki trauma dengan wanita yang suka merebut suami orang.
"Ngeh. Koyok e ngunu, mbok!" Sang pengasuh berusaha untuk membakar situasi.
"Mas Dewaaaaaa..!" Panggil Grazia lagi.
"Mas Dewa, mas Dewa! Gak ada pak Dewa di rumah ini! Pak Dewa sedang honeymoon dengan istri sah!" Bentak si mbok.
"Saya tidak percaya! Mas Dewa harus tanggung jawab dengan anaknya! Mas Dewa harus segera pulang!" Grazia tak patah semangat. Ia terus mencoba untuk menerobos masuk, meskipun si mbok dan sang pengasuh mencoba untuk menghalangi dirinya.
"E... E.. E... E... E..., jangan sembarangan masuk ke rumah orang!" Bentak sang pengasuh.
"Kamu mau di pecat! Saya juga nyonya di rumah ini!" Bentak Grazia, dengan raut wajah yang tak kalah garang.
"Monggo di pecat! Saya tidak takut! Kami team istri sah!" Ucap si mbok, seraya melotot dan mendorong bahu Grazia.
__ADS_1
"Kurang ajar! Pembantu saja kurang ajar! Saya laporkan kamu pada mas Dewa!" Grazia menatap si mbok dengan tatapan yang penuh emosi.
"Monggo! Laporkan!" Tantang si mbok.
"Mas Dewa!" Panggil Grazia lagi.
"Oh tidak bisa anda masuk sesuka hati. Di sini tempat suci! Bukan tempat pelakor!" Celetuk pengasuh Ardi.
"Kurang ajar!" Seru Grazia.
"Bu, bu, bu, bu, bu, tahan emosi. Nanti anaknya terjatuh bu!" Asep mencoba menengahi perseteruan antara Grazia dan dua orang rekannya.
"Diam kamu! Kamu juga akan saya laporkan pada mas Dewa!" Ancam Grazia.
"Lhooo.. di kasih tahu kok nyolot!" Asep terlihat mulai emosi.
"Hajar wae lah!" Seru sang pengasuh.
"Pembantu saja kurang ajar! Kalian tidak di didik dengan baik sama nyonya kalian!" Ucap Grazia.
Mendengar ucapan tersebut, ketiganya semakin terpancing emosi.
"Jarno ae aku pembantu! Tapi aku duduk merebuk bojone uwong!" Seru si mbok.
"Masok!" Sahut sang pengasuh dan mang Asep.
"Daripada koe! Cantik-cantik kok merebut bojo ne uwong! Opo koe cuma ngaku-ngaku wae, untuk merusak rumah tangga wong liyo! Pak Dewa dan bu Sri kui saling cinta! Jangan di ganggu! Mohon tahu diri!" Ucap sang pengasuh.
Grazia terdiam mendengar kata-kata tajam tersebut.
"Wes! Usir wae mang!" Perintah si Mbok.
"Ayok! kembali ke luar!" Pinta Asep.
Grazia mendengus kesal. Tanpa kata, ia kembali berusaha untuk menerobos masuk ke dalam rumah tersebut.
"E... E...E... E..., selain pelakor, sampeyan juga gak tau sopan santun yo!" Hardik si mbok.
Kini wajah Grazia tampak memerah. Ia tak lagi mampu untuk menahan malu dan emosinya.
"Jadi dia benar-benar gak ada di rumah?" Tanya Grazia.
"Dari tadi loh cocot ku wes bilang! Gak onokkkkkk..!" Seru si mbok.
Grazia kembali mendengus kesal. Lalu kedua matanya mencoba mencari keberadaan mobil milik Dewa, yang ternyata memang tidak terlihat di garasi dan halaman rumah tersebut.
"Dia kemana? Liburan kemana?" Tanya Grazia seraya. mencoba untuk menekan rasa cemburunya.
"Mbuh! Ke bulan mungkin! Sana susul ke bulan!" Ucap sang pengasuh.
Grazia kembali terdiam, dengan nafas yang terlihat sesak.
"Mang! Selesaikan! Kui tugasmu!" Ucap si mbok, seraya menarik tangan sang pengasuh, untuk kembali masuk ke dalam rumah dan lalu pintu rumah tersebut pun di tutup dengan cara di banting oleh si mbok.
Grazia terkejut saat mendengar suara pintu yang terbanting dengan keras. Pun dengan Kimberly yang mulai menangis saat bunyi pintu tersebut mengejutkan dirinya.
"Ng.. huaaaaaa..!" Kimberly pun meronta dan menangis dengan keras.
Grazia yang tidak biasa mengasuh anak seorang diri, pun mulai terlihat panik. Ia pun berusaha untuk menenangkan Kimberly. Namun tangisan Kimberly semakin kencang, hingga memekakkan telinganya.
"Sok, mangga, lebih baik ibu nya keluar dari sini. Selesaikan masalahnya sama pak Dewa, kalau nanti orang nya sudah pulang," Ucap Asep.
__ADS_1
Grazia menatap Asep dengan tatapan tajam, lalu ia kembali mendengus kesal dan menghentakkan kakinya di atas lantai.
"Sial!" Maki Grazia. Lalu ia pun beranjak meninggalkan rumah Dewa dan Sri.