Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Doa Moan


__ADS_3

Melihat perseteruan kedua orangtuanya, Moana terpaku di sudut ruangan. Kedua matanya mulai basah karena air mata. Sedangkan Moan dan Butet belum juga menyadari bila ada hati kecil yang terluka. Semua terdiam, yang terdengar hanya nafas yang mendengus dari Moan dan Butet.


Cempaka yang menyadari kesedihan Moana, lantas beranjak dari duduknya dan memeluk gadis kecil yang sedang menutup kedua telinganya dengan tangannya. Sontak saja semua yang ada di ruangan itu baru menyadari bila Moana telah menyaksikan semua yang terjadi. Rasa penyesalan pun menghampiri semua orang yang berada di ruangan tersebut.


"Moana..." Suara Butet terdengar bergetar kala memanggil nama putrinya itu.


Sedangkan Moan terus menatap Moana dengan tatapan penuh penyesalan.


Moana menepis tangan Cempaka dan berlari keluar rumah. Gadis kecil itu pun menuju ke rumah kost dan langsung mengurung dirinya di kamar. Hal yang sama terjadi di rumah kost. Para anak-anak yang sedang berkumpul di sana, terperanjat tanpa tahu apa yang terjadi pada Moana.


"Kenape tuh si Moana?" Tanya Satya, anak dari Sri.


Romi hanya mengangkat kedua bahunya dan terdiam membisu. Romi yang lebih tua dari yang lain nya pun sudah memahami apa yang terjadi pada Moana. Meskipun ia tidak melihat langsung apa yang telah terjadi. Sudah dapat di pastikan, Moana seperti itu karena pertengkaran kedua orang tuanya di rumah Romi. Pasalnya, Romi sempat melihat kedatangan Moan saat ia bermain dengan Moana di halaman rumah.


"Bang, ke kamar Moana yuk," Ajak Satya yang merasa penasaran apa yang telah terjadi pada Moana.


"Biarin aje dulu." Sahut Romi.


Sedangkan di rumah Rozy, Moan dan Butet terduduk lemas.


"Moana ke rumah kost kok," Ucap Cempaka yang baru saja kembali dari melihat Moana, kepada semua yang berada di sana.


Semua orang pun dapat bernafas lega. Lalu Butet dan Moan kembali saling bertatapan dengan sorot mata yang terlihat saling membenci.


"Kau tadi tanyak kan, apa mauku. Aku mau kita cere!" Tegas Butet sekali lagi.

__ADS_1


Moan terlihat meremas rambutnya, kala mendengar permintaan yang sama keluar dari bibit Butet.


"Sumpah demi Tuhan, aku gak salah." Pungkas Moan.


Namun Butet mengabaikannya dan beranjak dari duduknya, lalu meninggalkan rumah Rozy dengan air mata yang berlinang.


Semua kembali terdiam, seakan tidak ada solusi dari pertemuan ini, mereka semua pun mulai merasa gagal dan putus asa. Tidak ada satupun orang di ruangan itu yang menginginkan Butet dan Moan berpisah. Tetapi apa mau dikata, pertemuan itu benar-benar tidak ada efek apapun bagi Butet yang hatinya sedang terbakar cemburu dan kecewa.


"Pulang lah aku dulu bang," Ucap Moan, seraya beranjak dari duduknya.


"Eh Moan, rencana kita gimane? Jadi lu ngekost di rumah nyak Komariah?" Tanya Batra.


"Aku pikir-pikir balek lah ya Tra." Sahut Moan, seraya menyambar helm miliknya.


Semua pun terdiam, mereka hanya dapat menatap Moan yang berjalan menuju pintu utama rumah itu dengan langkah yang gontai.


"Eh, kau mau pulang apa enggak?" Tanya Moan pada Choky yang masih terdiam di kursinya. Lelaki itu adalah orang yang paling merasa bersalah di ruangan itu. Pasalnya gara-gara dirinya, rumah tangga teman baiknya kini sudah nyaris berakhir.


"Iya," Sahut Choky, seraya beranjak dari duduknya.


"Bang, dan semuanya, aku pulang dulu ya," Ucap Choky kepada semua yang ada di ruangan tersebut.


"Iye, hati-hati yak." Sahut Rozy.


"Terima kasih banyak bang, kak," Sahut Choky, seraya menyusul Moan yang sudah menunggu dirinya di atas sepeda motor.

__ADS_1


Kini di ruangan itu tinggallah Rozy, Cempaka, Batra, Siti dan Sri. Mereka tampak kecewa dangan hasil pertemuan Butet dan Moan. Mereka pun turut merasa bersalah, karena mereka tidak benar-benar memikirkan solusi yang terbaik. Awalnya mereka merasa pertemuan ini adalah solusi dan akan membawa Moan dan Butet kembali bersatu. Tetapi mereka salah, suasana hati Butet dan Moan bahkan lebih panas dari sebelumnya.


"Apa atuh yang harus kita lakukan setelah ini..?" Tanya Cempaka yang paling tetlihat khawatir dengan masalah Butet dan Moan.


"Ntar kita pikirkan bareng-bareng ya.." Sahut Rozy.


"Tapi, nanti kalau mereka batua bercarai, bagaimana?" Tanya Siti.


Mereka semua pun kembali terdiam.


*


Di jalan, Moan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Ia melepaskan rasa kesal dan kecewanya dengan membawa sepeda motornya di atas kecepatan maksimal. Sedangkan Choky yang duduk di boncengan sepeda motor Moan, pun tampak ketakutan. Saking takutnya, namun ia tidak dapat protes karena rasa bersalahnya pada Moan, membuat Choky hanya dapat diam dan berpegang erat di pinggang Moan.


Hanya membutuhkan beberapa menit saja, akhirnya Moan dan Choky sudah tiba di cafe milik Moan. Moan beranjak turun dari sepeda motornya setelah Choky terlebih dahulu turun. Dengan kasar, ia membuka helm nya dan mengacuhkan Choky begitu saja.


Moan beranjak masuk ke cafe itu tanpa mempedulikan sapaan dari para karyawannya. Ia pun beranjak naik ke lantai dua yang berfungsi sebagai gudang bahan makanan untuk cafenya. Moan mengunci dirinya di gudang tersebut lalu duduk di atas lantai dan mulai menangis.


Baru kali ini Moan menangis karena wanita. Hanya karena kesalah pahaman inilah yang membuat Moan merasa begitu rapuh. Apalagi mendengar kata-kata cerai yang terlihat begitu meyakinkan dari bibir Butet. Jauh di lubuk hati Moan, Butet adalah hidup baginya. Hanya Butet lah perempuan yang ia cintai, selain ibu dan anaknya, Moana. Tentu saja cinta dari masing-masing wanita di dalam hidupnya adalah cinta yanh berbeda-beda. Untuk ibunya, Moan rela memberikan apa saja demi senyuman sang ibu. Untuk Moana putrinya, Moan rela memberikan nyawanya bahkan rela melakukan apa saja demi masa depan dan kebahagiaan putrinya tersebut. Dan Butet, Moan tidak akan pernah bisa kehilangan ibu dari anaknya tersebut. Dengan Butet, ia melalui segala hal yang indah dan baru. Dengan Butet, ia merasakan cinta yang berbeda, dan hanya dengan Butet, Moan baru terpikir tentang masa depan dan hari tua. Bagaimana bisa ia harus melepaskan wanita hebat seperti Butet?


Moan menangis tersedu-sedu, tanpa ada seorang pun yang tahu. Ia benar-benar merasa lemah kali ini. Hidupnya tanpa Butet, sama dengan ia hidup dalam kegelapan. Sama seperti di gudang tersebut. Gelap, pengap dan dingin.


"Serius nya kau Tet, mau campakkan aku? Padahal sumpah loh aku, demi Tuhan, gak ada aku menduakanmu Butet. Aku berjanji di depan Tuhan saat kita berikrar dulu, sumpah aku Tet, itu dari hatiku yang paling dalam. Belom pernah aku sejujur itu di hadapan Tuhan. Baru kali itu aku benar-benar jujur, kalau aku terima kau saat miskin dan kaya, susah dan senang, sakit dan sehat." Moan terus meratapi kekecewaannya.


"Tuhan, bapa, atau apa pun sebutanmu, aku mohon kali uluran tanganmu. Udah gak bisa aku bepiker lagi. Jujur aku samamu Tuhan, aku benar-benar cinta sama makhlukmu yang satu itu. Ya, dia istriku. Orang yang Kau temukan aku dengannya. Orang yang Kau titipkan ruh kedalam rahimnya dan lahirlah boruku tercantik. Tuhan.. aku mohon kali.. Aku mohon keajaibanmu Tuhan."

__ADS_1


Doa Moan di gudang yang gelap itu.


__ADS_2