Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Satu kosong


__ADS_3

Dreett..!


Dreett..!


Dreett..!


Sri yang baru saja sampai di resort, mendengar ponselnya berbunyi. Sri meraih ponselnya dari dalam tas tangannya dan menatap layar ponsel tersebut.


"Si mbok? Tumben," Gumam Sri.


Sri melirik Dewa yang sedang proses check-in, lalu ia memandang Ardi yang tengah berdiri di samping Dewa di depan meja resepsionis resort tersebut. Sri kembali menatap layar ponselnya dan mulai menerima panggilan tersebut.


"Assalamu'alaikum," Sapa Sri.


"Waalaikumsalam, bu," Sahut si mbok dari ujung sana.


"Ada apa mbok?" Tanya Sri, seraya sesekali melirik Dewa dan Ardi yang masih di depan meja resepsionis.


"Anu bu, saya minta maaf sebelumnya."


"Kenapa mbok?" Sri mulai merasa ada sesuatu yang terjadi, sehingga si mbok terdengar ragu untuk berbicara. Lagi pula, si mbok tidak pernah menghubungi Sri, kecuali ada masalah yang begitu penting.


"Anu.. ng... gimana yo saya bilangnya," Si mbok masih ragu untuk mengatakan kejadian yang baru saja terjadi di rumah majikannya itu.


"Katakan saja mbok. Ndak apa. Ada apa? Kok si mbok kayaknya ragu-ragu begitu? Apa ada yang habis di rumah? Bisa kok saya pesankan dari sini," Ucap Sri.


"Bukan bu.. tetapi..."


"Apa sih mbok? Jangan buat aku penasaran. Katakan saja mbok," Desak Sri.


"Anu, takutnya merusak liburan ibu," Ucap si mbok.


"Lah, kok bisa? Katakan saja, biar saya juga tahu keadaan di rumah." Tegas Sri.


"Anu, ibu jangan marah sama bapak ngeh," Pinta si mbok.


Deg!


Sri mulai merasa ada yang aneh dengan ucapan si mbok. Pasalnya si mbok tidak pernah mengatakan hal ini sebelumnya.

__ADS_1


"Kenapa saya harus marah sama bapak, mbok? Memangnya ada apa?" Tanya Sri.


"Anu, itu, hmmm, ada perempuan bu, bawa anak masih kecil, datang ke sini mencari bapak."


Sri terdiam beberapa saat, lalu ia kembali melirik Dewa yang baru saja menerima kunci kamar yang akan mereka tempati.


"Terus?" Tanya Sri, dengan setengah berbisik.


"Jerit-jerit bu, memanggil bapak. Sampai-sampai orangnya menerobos masuk ke dalam halaman rumah ibu. Saat dia mau menerobos masuk ke dalam rumah, kami cegah bertiga bu." Terang si mbok.


"Terus? dia bilang apa?" Tanya Sri lagi.


"Sayang, sudah dapat kuncinya. Ayo kita ke kamar," Ucap Dewa, yang masih berdiri di depan meja resepsionis.


"Ayo bun!" Seru Ardi yang tidak sabar untuk segera melihat kamar mereka.


"Hmmmm, kalian ke kamar dulu saja ya. Nanti bunda menyusul. Bunda terima telepon dulu, ada yang penting," Sahut Sri.


Dewa beranjak mendekati Sri dan menatap Sri yang masih menempelkan ponselnya di telinga.


"Telepon dari siapa?" Tanya Dewa.


"Ng, anu mas, pekerjaan," Sahut Sri, seraya menutup bagian mic ponsel, agar tidak terdengar oleh orang yang sedang menghubungi dirinya. Hal itu Sri lakukan agar membuat Dewa percaya, bila ia sedang menerima panggilan telepon dari kantor tempat Sri bekerja.


"Baik mas," Sri membalas senyuman Dewa, dan kembali fokus dengan ponselnya. Sedangkan Dewa dan Ardi, beranjak mengikuti seorang pria yang bertugas mengantarkan ke kamar mereka.


"Ya mbok, sampai mana tadi?" Tanya Sri, seraya menatap Dewa dan Ardi yang sudah berjalan menuju ke kamar mereka.


"Anu bu, dia bilang... dia... hmm.. bagaimana ya saya bilangnya," Ucap si mbok, ragu-ragu.


"Katakan saja." Pinta Sri.


"Nanti ibu sama bapak bertengkar. Duh, maaf bu, saya lancang. Tapi perempuan itu.."


"Saya tidak akan bertengkar dengan pak Dewa. Kenapa perempuan itu?" Potong Sri.


"Ng, dia, ng, mengaku bila dia adalah, istri pak Dewa juga," Ucap si mbok.


Sri yang sudah paham dan tahu bila wanita yang di maksud adalah Grazia, pun tidak terkejut. Melainkan dirinya tidak habis pikir dengan Grazia. Wanita berpendidikan dan cantik seperti itu, mengapa harus merendahkan dirinya sendiri dengan mendatangi rumah Sri, yang notabene adalah istri sah dari Dewa.

__ADS_1


Hal itu cukup aneh bagi Sri. Seolah Sri adalah perebut suami orang, yang pantas untuk di labrak. Padahal Grazia lah yang pantas untuk Sri labrak dan datangi rumahnya untuk Sri mengamuk di sana. Karena Grazia telah lancang merebut apa yang seharusnya menjadi Sri.


"Bu," Panggil si mbok, dengan suara yang tampak khawatir.


Sri masih terdiam dan tenggelam dengan pikirannya.


"Bu, maafkan saya bu. Ibu sedang liburan, tapi saya merusaknya," Ucap si mbok, seraya mulai terisak di ujung sana.


"Tidak apa mbok. Santai saja. Terus apa lagi yang dia lakukan?" Tanya Sri dengan suara yang terdengar tetap tenang. Pasalnya ia sudah tahu, jauh sebelum siapapun tahu tentang Grazia. Maka ia bisa setenang ini saat menerima kabar, bila Grazia mendatangi rumahnya. Bila saja ia baru mengetahuinya saat ini dan dalam keadaan liburan keluarga seperti ini, tidak menutup kemungkinan bila Sri juga akan mengamuk dan bertengkar dengan Dewa.


"Ng, dia terus berteriak memanggil nama pak Dewa, dengan sebutan mas Dewa, bu. Namun kami berhasil mengusirnya. Hampir saja kami ingin mengeroyoknya bu. Dia lancang sekali, bertindak seolah dirinya nyonya di rumah ini, bu," Terang si mbok.


Sri mengangkat kedua alisnya saat mendengar cerita si mbok.


"Segitunya? Edan!" Batin Sri.


"Maafkan saya bu," Ucap si mbok dengan nada suara yang penuh penyesalan.


"Wes toh mbok, santai aja. Ya sudah, baik-baik di sana ya mbok. Saya titip pesan untuk mang Asep, lain kali, jangan di bukakakn gerbangnya ya. Bukan hanya untuk perempuan itu, tapi untuk siapa saja, kecuali teman-teman saya," Ucap Sri.


"Ngeh, bu. Baik," Sahut si mbok.


"Ya sudah, saya tutup dulu ya mbok."


"Ngeh bu. Assalamualaikum, dan selamat liburan bu. Saya mohon maaf bila saya memberikan kabar yang tidak baik dan merusak suasana liburan ibu. Tetapi saya benar-benar gemas dan hal ini tidak dapat saya bendung, bu."


"Tidak apa, nanti kita bahas di rumah. Waalaikumsalam, baik-baik di rumah ya mbok,"


"Ngeh bu," Sahut si mbok.


Dan panggilan telepon itu pun berakhir.


Sei kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas tangannya. Lalu ia tersenyum sendiri.


"Si Butet harus tahu ini!" Batin Sri.


Namun ia belum mau memberitahukan tentang ini semua kepada Butet, yang Sri tahu juga sedang liburan bersama dengan keluarga kecilnya. Lalu Sri pun berjalan menuju ke kamar nya seraya terus tersenyum penuh arti.


"Koe panas tow? Pasti si mbok bilang aku lagi liburan sama mas Dewa. Hmmmm, pasti panas lah... enak tow? Piye perasaan mu? Piye perasaan muuuuuuuuu... hahahahahhaa!" Seru Sri di dalam hatinya.

__ADS_1


"Ternyata begini rasanya jadi pelakor. Merasa di prioritaskan, merasa cantik dan merasa memiliki. Tapi sorry , aku bukan pelakor. Aku merebut suamiku kembali." Batin Sri lagi, dengan senyuman bangga yang menghiasi wajahnya.


"Kowe cari gara-gara kok sama aku. Wis cukup aku sabar selama ini. Selama ini aku pikir mas Dewa sing salah. Tapi kalau kenyataannya begini, aku gak bisa tinggal diam! War kita!" Sri tertawa sendiri dan berjalan dengan semangat, ke arah kamarnya.


__ADS_2