Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Cerita dari informan


__ADS_3

Di salah satu cafe, Butet dan Sri sedang duduk dengan gelisah, menunggu kedatangan Bartender yang sudah berjanji pada Butet untuk menyusulnya ke cafe tersebut. Sudah pukul sembilan malam, namun Bartender tersebut belum juga datang, yang membuat Butet dan Sri semakin gelisah. empat buah gelas kosong terlihat di atas meja mereka. Kini Butet dan Sri hanya dapat saling bertatapan dengan raut wajah harap-harap cemas.


"Gimana sih, Tet. Katamu dia mau datang. Kok jam segini belum juga datang toh!" Sri mulai mengeluh karena dirinya yang mulai merasa tak sabar.


"Sabar kau, sikit lagi kita tunggu," Butet berusaha menenangkan Sri.


Sri pun mendengus kesal, lalu ia melipat tangannya di dada dan menatap ke sembarang arah. Melihat ekspresi Sri yang seperti itu, Butet pun mulai merasa tak nyaman dan mulai terlihat kesal pada Bartender yang belum juga datang.


"Mana lah anak itu!" Gumam Butet.


Tiba-tiba saja, terlihat seorang pemuda dengan tubuh yang atletis memasuki ruang cafe tersebut. Sri yang sedang menatap ke arah pintu pun langsung mencolek tangan Butet dan menunjuk dengan bibirnya ke arah pemuda tersebut.


"Lanangan kui bukan, Tet?" Tanya Sri.


Butet pun menoleh dan menatap lelaki tersebut. Lalu ia membulatkan kedua matanya dan menggerakkan giginya.


"Ha! datang juga si kutukupret ini!" Ucap Butet, seraya beranjak dari duduknya.


"Halo kak, maaf saya terlambat," Ucap pemuda itu, seraya mengulurkan tangannya kepada Butet.


"Gosah kau basa basi! Gak propesional kali kau! Betambah ubanku empat bijik gara-gara nunggu kau aja! Besolek dulu kau rupanya!" Ucap Butet, meluapkan kekesalannya pada pemuda itu.


Pemuda itu pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu tersenyum salah tingkah.


"Maaf ya kak. Jalanan macet sekali," Ucap pemuda itu, mencari alasan.


"Alah! banyak kali cengkunek kau! Dudok kau, apa cerita!" Ucap Butet yang masih terlihat kesal.


Pemuda itu pun meraih kursi yang berada di depan Butet, lalu ia melirik Sri yang duduk tepat di samping Butet.


"Heheheh, siapa ini kak? Cantik.." Ucap pemuda itu, seraya tersenyum kepada Sri.


Sri pun mengerutkan keningnya dan menatap Butet dengan tatapan bingung.


"Eh! Getek kali kau! Kawan ku ini, udah punyak lakik dia!"


"Oh.. hehehe, saya kira masih gadis." Pemuda itu terlihat malu dan menundukkan tatapannya.


"Itulah kau! Mentang-mentang gampang kali dapat cewek di diskotek itu, kau samakan aja kawan aku sama cewek di sanan! Udah jan banyak kali cingcongmu. Apa cerita? Cepat lah..! Udah nunggu kau kek nunggu betina besolek, buang-buang waktuku aja kau pun!"


"Iya kak, maaf. Btw cerita apa kak?"


Butet mendelikkan kedua matanya kepada pemuda itu dan mengepalkan kedua tangannya.


"Kau kesini kan kita janjian mau cerita tentang si Grazia! Udah lupa ingatan kau? Dimensia rupanya penyakimu?"


"Oh iya... hehehehe.." Pemuda itu kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Sri mulai merasa ragu dengan lelaki yang duduk di hadapannya. Pasalnya lelaki itu terlihat tidak meyakinkan baginya.

__ADS_1


"Darimana ya saya mau cerita. Coba di pancing dulu kak." Pinta pemuda itu.


"Mujaer rupanya kau?" Butet mendengus kesal seraya menggaruk pelipisnya.


"Saya bingung, kak." Sahut pemuda itu.


"Ealaaaahh.." Sri menggumam kesal.


"Masalah si Ronald sama si Grazia. Cepat kau cerita apa yang kau tau!" Desak Butet.


Pemuda itu pun mengangguk paham dan membetulkan letak kursinya. Lalu ia menatap Butet dan Sri secara bergantian.


"Tapi, kalau boleh saya minta, apapun yang terjadi, jangan bawa-bawa saya ya, kak."


"Iya, udah! Tenang aja kau!" Butet mencoba untuk meyakinkan pemuda itu.


"Ok baiklah. Saya mulai ceritanya ya kak. Ini hanya sepengetahuan saya saja," Ucap pemuda itu.


"Iya, cepatlah! Lelet kali kau!' Butet benar-benar terlihat tidak sabar.


" Jadi begini, sekitar tiga tahun yang lalu, Grazia mulai muncul di diskotik kami. Kebetulan dia di bawa Ronald, yang memang langganan kami sejak lima tahun yang lalu. Ronald ini memang playboy, kak." Pemuda itu mulai bercerita tentang Ronald dan Grazia.


"Teros?" Butet terlihat semakin serius mendengarkan cerita pemuda itu. Sedangkan Sri mencoba untuk tenang.


"Nah, tiga tahun yang lalu, Grazia mulai jadi langganan kami. Hampir tiap malam dia dan Ronald berada di diskotik kami. Jadi, dari sana lah, saya mengenal dia."


"Teros?"


"Bukan urusan aku, cepat kau cerita!" Desak Butet.


"Sabar lah kak. Ini lagi cerita.." Keluh penuda itu.


Butet mendengus kesal dan melipat tangannya di dada.


"Nah, sama Grazia ini agak bertahan lama. Tapi ya saya sering lihat dia mukul Grazia. Sebagai pelanggan VVIP di diskotik kami, kami tidak bisa menyalahkan Ronald. Paling kami hanya melerai saja."


"Tross?"


"Ya, suatu ketika, sekitar dua tahun yang lalu, Grazia tidak pernah kelihatan lagi di diskotik. Adalah sekitar satu bulan, dia tidak terlihat lagi. Itupun setelah Grazia di hajar habis-habisan di parkiran. Itu informasi dari security kak."


"Trossss?" Butet semakin bersemangat mendengar cerita pemuda itu.


"Ya, Ronald sudah ganti pasangan, kak. Setelah tidak dengan Grazia. Nah, tiba-tiba saja, Grazia datang lagi. Nah dari gosip OB dan Bodyguard kak, mereka bertengkar di lorong diskotik. Si Grazia minta pertanggung jawaban si Ronald. Tapi Ronald menolaknya kak. Itu ramai sekali, kak. Sampai hampir saja Grazia di dorong dan di pukuli. untung Bodyguard ada di lorong, kak."


"Aturannya gosah ada bodyguard di lorong ya, Sri. Biar bengap-bengap dia di hajar." Bisik Butet. Sri menoleh dan menatap Butet dengan tatapan tak percaya.


"Jiwamu mafia sekali, Tet... Tet.." Balas Sri.


Butet tertawa kecil dan kembali menatap pemuda itu.

__ADS_1


"Terossss?" Tanya Butet lagi.


"Setelah itu, ya si Grazia tidak pernah terlihat lagi kak. Makanya, waktu kakak menunjukkan foto Grazia, saya kaget. Apalagi kakak bilang, kalau kakak sepupunya dan dia sudah punya anak. Saya pikir Ronald dalam masalah kak, jadi saya sempat ragu untuk datang." Terang lelaki itu.


"Oooo.. begitu..." Sri mengangguk paham.


"Teringat sama aku, kejadiannya dia hamil itu bulan berapa? Ribot-ribot di diskotek itu?" Tanya Butet.


"Aduh kak, saya tidak ingat. Ya, paling sekitar kurang lebih dua tahun yang lalu lah."


Butet dan Sri, mulai saling bertatapan. Mereka mencoba menghitung waktu dan mencocokkan semuanya dengan usia Kimberly, pernikahan Dewa dan Grazia, serta yang lainnya.


"Si Kimbek itu berapa umor nya?" Tanya Butet.


"Kimbek?" Tanya Sri, yang terlihat bingung dengan pertanyaan Butet.


"Iya si Kimbek, tah siapa lah nama anak si betina itu," Ucap Butet.


"Owalah... Kimberly? Ya sekitar satu tahunan lah, Tet. Belum ada dua tahun, " Ucap Sri.


"Si Dewa ngaku nikah sama dia udah berapa lama?" Tanya Butet lagi.


"Ya sekitar hampir dua tahun yang lalu. Kan, aku sudah cerita toh?"


Butet mengangguk paham.


"Memang seharusnya kita test DNA, Sri!" Ucap Butet.


Lelaki yang ada di depan mereka, tampak berusaha menguping, dengan tatapan yang terlihat ingin tahu.


"Apa kau! Kepo kali kau!" Bentak Butet.


"Hehehe, maaf, kak. Saya juga ingin tahu. Sebenarnya ada apa?" Tanya pemuda itu.


"Nah, sisa uang kau. Diam aja kau. Atau cabot kau! Makasih ya," Ucap Butet, seraya menyerahkan sisa uang yang ia janjikan untuk pemuda itu.


Pemuda itu pun tersenyum dan meraih uang pemberian dari Butet.


"Sama-sama ya, kak," Ucap pemuda itu, seraya beranjak dari duduknya.


"Iya. Senang kau ya... dapat uang kau cuma cerita aja. Enak kali idop kau! Ati-ati kau di jalan ya..." Ucap Butet sambil tersenyum.


"Iya kak. saya pamit dulu." Pemuda itu pun menyalami Butet dan Sri. Lalu ia beranjak meninggalkan mereka berdua.


Setelah pemuda itu pergi, Butet menatap Sri dengan tatapan yang tampak bersemangat.


"Udah kau rekam kan?" Tanya Butet.


"Tenang..." Sri mengangkat ponselnya dan memperlihatkan hasil rekaman itu kepada Butet.

__ADS_1


"Memang paten kau, Sri..!" Butet memeluk Sri dengan erat, seraya tertawa lepas.


__ADS_2