Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Calon informan


__ADS_3

Deg!


Jantung Sri berdegup kencang, saat ia menerima pesan bergambar dari Butet. Ia memperhatikan poto yang baru saja ia terima dan memastikan itu adalah grazia dengan lelaki lain. Lelaki yang duduk di hadapan Grazia, terlihat cukup muda. Kira-kira berusia maksimal dua puluh lima tahun. Dengan potongan rambut yang rapi, serta bulu-bulu halus di rahang dan dagunya.


Sri yang sedang duduk di ruang keluarga, pun melirik Dewa yang sedang asik bermain bersama Ardi. Terlihat raut wajah yang begitu bahagia dari Dewa dan putra semata wayangnya itu. Sri menghela napas panjang dan mulai membalas pesan Butet.


"Itu di mana, Tet?" Ketik Sri, lalu ia mengirimkan pesannya pada Butet.


Tak lama kemudian ponsel Sri berbunyi. Ia pun mendapatkan pesan balasan dari Butet.


"Di cafe lah. Masak iya di rumahku. Udah siap kami dari tadi. Ini aku lagi ikotin dia. Jumpa jantan dia di luar. Ish.. ngeri kali memang si Grazia ini. Ini aku masih di sekitar cafe itu. Belom pulang aku. Tadi aku mau ngupeng pembicaraan orang itu. Tapi gara-gara AbG pacaran itu, gak jadi aku dapat tempat dudok dekat si Grazia." Balas Butet.


Sri mengigit bibirnya sendiri, dengan kedua mata yang tampak bersemangat, ia pun beranjak dari duduknya. Sri pun berjalan menuju ke kamarnya dan memasuki kamar tersebut, lalu menguncinya dengan rapat.


Setelah ia merasa aman dari Dewa, Sri pun mulai menghubungi Butet.


Butet yang sedang berada di dalam mobilnya pun terkejut, saat mendengar nada dering ponselnya. Lalu ia meraih ponselnya yang baru saja ia taruh di atas dasbor mobil dan melihat layar ponsel tersebut. Tidak menunggu lama, Butet pun langsung menerima panggilan telepon dari Sri.


"Halo!" Sapa Butet.


"Tet..." Panggil Sri dengan setengah berbisik.


"Apa! Aku lagi fokus ini." Jawab Butet.


"Itu laki-laki siapa toh?" Tanya Sri.


"Mana lu tau! Kau pun lucu, masak nanyak sama aku. Aku aja baru liat dia hari ini." Jawab Butet.


"Gusssttiii... kok iso yo, Tet," Sri tidak habis pikir dengan tingkah Grazia di belakang Dewa.


"Kek nya memang perlu kita gep orang tu. Kalau orang tu jumpa lagi.. kau ajak Dewa ke cafe yang sama," Ucap Butet.


"Edan kowe, Tet!"


"Lah, teros mau kek mana? Dewa harus tau ini kelakuan biniknya!"


Sri terdiam saat Butet mengatakan Grazia adalah istri Dewa.


"Sri!" Panggil Butet.


"Ng.. iya."


"Kok diam kau?"


"Aku gak apa, Tet. Kita lihat nanti wae yo, Tet," Ucap Sri.


Butet mengerutkan keningnya dan merasa bingung dengan perubahan nada suara dari Sri.


"Udah dulu ya, Tet. Terima kasih loh," Ucap Sri.


"Eh, kau kenapa?" Tanya Butet.


Namun sambungan komunikasi itu pun terputus.


Sri menghela napas panjang dan terdiam di atas ranjangnya. Selang beberapa menit kemudian, terdengar ketukan dari luar kamar Sri dan di susul suara Dewa yang memanggil namanya.


"Sri.."


"Sri.. "


Sri pun menatap ke arah pintu kamarnya dan dengan malas, ia pun beranjak dari duduknya dan membukakan pintu kamar tersebut.


"Kamu kenapa?" Tanya Dewa, setelah pintu itu baru saja terbuka.


"Tidak apa-apa mas." Sahut Sri.


Dapat telepon dari siapa?"


Sri menatap wajah Dewa, yang terlihat begitu penasaran.


"Butet," Sahut Sri.


"Kok pakai menghindar dan masuk ke dalam kamar?" Cecar Dewa.


Sri kembali menatap Dewa dengan seksama. Lalu ia tersenyum tipis.


"Maksudmu apa mas?" Tanya Sri yang terlihat dalam suasana hati yang tidak baik.


"Aku hanya bertanya, Sri. Karena aku masih suamimu."

__ADS_1


Sri mengerutkan keningnya dan menatap Dewa dengan tajam.


"Suami? Suami yang menikah lagi? Memiliki wanita simpanan di luar sana? Oh, bukan wanita simpanan. Tapi istri simpanan."


Dewa terkejut mendengar jawaban Sri yang tampak tersirat emosi di wajah istrinya tersebut.


Tampaknya perubahan suasana hati Sri, menjadi buruk, saat Butet menyebut Grazia adalah istri Dewa. Walaupun memang itu benar faktanya, namun perasaan kesal itu ia tumpahkan kepada Dewa.


"Kamu kenapa? Kita kan sudah bahas masalah ini," Ucap Dewa.


Sri terdiam, lalu ia terduduk lesu di tepi ranjangnya.


"Maaf mas, aku cuma... Ah, entahlah.." Sri meletakkan ponselnya dan memijat pelipisnya yang berdenyut pusing.


"Sri..."


"Mas, aku mohon tinggalkan aku sendiri!" Pinta Sri.


Dewa terkejut melihat sikap Sri, lalu ia pun menghela napas panjang, untuk mengelola emosinya.


"Ya sudah. Kalau kamu butuh apa-apa, kasih tahu aku ya," Ucap Dewa.


Sri diam membisu, sedangkan Dewa pun beranjak meninggalkan kamar tersebut.


......................


Tepat pukul sebelas malam, terlihat Grazia melangkah keluar dari cafe tersebut. Namun lelaki yang bersama dengannya tidak terlihat keluar bersama dengan Grazia. Grazia meninggalkan cafe tersebut tampak dengan emosi yang tidak baik. Grazia memasuki mobilnya dengan wajah yang terlihat kesal, serta melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi.


Butet yang memperhatikan dari mobilnya pun mengerutkan keningnya dan memasang wajah yang tampak penuh tanda tanya.


"Kenapa kuntilanak merah itu ya?" Batin Butet.


Tak lama kemudian, Butet melihat lelaki itu keluar dari cafe tersebut. Lelaki itu beranjak masuk ke dalam mobil berwarna merah yang terparkir tepat di depan cafe itu. Tidak mau membuang waktu, Butet langsung menyalakan mesin mobilnya dan mengikuti mobil laki-laki tersebut.


Mobil mewah berwarna merah itu meluncur di jalan Ibukota dengan kecepatan sedang. Butet terus memperhatikan kemana arah mobil tersebut, hingga akhirnya mobil itu berhenti di sebuah club malam. Butet semakin bingung, ia pun tidak habis pikir, siapa sosok laki-laki tersebut. Saking penasarannya, Butet pun mengikuti lelaki itu hingga masuk ke dalam club malam tersebut.


Dari jarak beberapa meter saja, Butet melihat lelaki itu duduk di depan meja bartender dan memesan segelas minuman keras. Lelaki itu tampak berdiam diri, sambil menikmati suasana di dalam club malam itu. Beberapa menit kemudian, gelas lelaki itu pun terlihat sudah kosong. Lalu ia meminta bartender untuk menyediakan minuman lagi untuknya. Lelaki itu dan bartender yang sedang melayani dirinya, tampak begitu akrab. Butet pun merasa mereka sudah lama saling mengenal. Karena antara lelaki itu dan bartender tersebut tampak saling bercanda dan terkadang berbincang dengan serius.


Tak lama kemudian, setelah gelas kedua lelaki tersebut kembali kosong. Lelaki itu pun membayar minumannya dan beranjak ke dance floor. Lelaki itu tampak berbaur dengan tamu club malam tersebut tanpa merasa ragu. Tampaknya pengaruh alkohol sudah bereaksi di tubuh lelaki itu.


Butet pun beranjak mendekati meja bartender dan berpura-pura memesan sebuah juice jeruk. Lalu ia mulai bertanya-tanya kepada bartender tersebut.


"Ya mbak?" Sahut bartender itu, seraya meracik minuman yang di pesan Butet.


"Tau nama laki-laki yang duduk di sini tadi?" Tanya Butet.


Bartender tersebut menatap Butet dengan seksama. Lalu ia tersenyum kepada Butet.


"Yang mana ya mbak?" Tanya Bartender itu.


"Yang itu. Yang baru aja duduk disini," Ucap Butet, sambil menunjuk ke arah lelaki yang ia maksud.


"Oh, itu namanya Ronald."


"Siapa?" Tanya Butet yang tidak dapat mendengar dengan jelas, karena suara musik yang begitu hingar bingar.


"Ronald, mbak. Kenapa? Mbaknya naksir ya?" Tanya bartender itu.


"Oh, Ronald namanya." Batin Butet.


"Mbaknya naksir? Dia itu pelanggan lama disini," Ucap Bartender tersebut.


"Oh.." Butet mengangguk paham.


"Mbak baru saya lihat di sini. Mbak pelanggan baru ya?" Tanya bartender tersebut.


"Eh, iya.." Sahut Butet, seraya tersenyum canggung.


"Ini mbak, juice nya. Kenapa pesan juice? Alkohol lebih enak loh."


"Gak mas, masalahku aja udah buat aku pening. Kalok aku minum alkohol, apa gak makin pening aku," Seloroh Butet.


Bartender itu tertawa mendengar celetukan Butet.


"Ganteng ya dia, siapa tadi namanya?"


"Ronald, mbak." Sahut bartender itu.


"Gada cewek nya rupanya?" Tanya Butet lagi.

__ADS_1


"Banyak mbak. Tapi dulu ada ceweknya. Sering kesini kok sama ceweknya. Tapi sudah hampir dua tahun ini, gak pernah lagi. Putus kali. Nah, sekarang ya bawa cewek ganti-ganti aja. Mbak jangan sama Ronald deh, mending sama saya."


Butet mengerutkan keningnya dan menatap bartender itu dengan seksama.


"Gaya kau lagi." Batin Butet.


"Grazia bukan nama cewek nya dulu?" Tanya Butet.


Bartender itu pun mengerutkan keningnya dan menatap Butet dengan seksama.


"Kok mbak tau?" Tanya Bartender tersebut.


"Ini kan orangnya?" Butet menyodorkan ponselnya yang terdapat foto Grazia di layar ponselnya tersebut.


"Iya mbak. Kok mbak punya fotonya mbak Grazia?" Tanya bartender tersebut, seraya menatap Butet dengan tatapan curiga.


"Ah, enggak. Pantas aku kok kek kenal sama cowok itu. Rupanya dia mantan pacarnya sepupuku, si Grazia ini," Ucap Butet, berbohong.


"Oh, mbak sepupunya mbak Grazia ya. Mbak Grazia nya kemana sekarang? Pantas gak pernah kelihatan lagi," Ucap bartender tersebut.


"Udah kawen dia." Sahut Butet.


"Oh... begitu... jadi dia gugurkan kandungan dong mbak?"


Deggg..!


Jantung Butet berdegup kencang, kala bartender tersebut menyinggung soal kandungan Grazia.


"Maksudnya?" Tanya Butet.


"Ah enggak mbak." Bartender itu tersenyum dan terlihat menyesali ucapannya barusan.


"Eh, mas, serius, maksudnya apa ya?" Tanya Butet.


"Gak mbak.. saya salah bicara." Bartender tersebut pun terlihat canggung dan berusaha menghindari Butet.


"Mas!" Panggil Butet.


"Sebentar ya mbak, saya melayani yang lain dulu." Bartender itu pun berlalu dari hadapan Butet dan mencoba menyibukkan diri dengan pelanggan yang lainnya.


"O mak, maksudnya kek mana ini. Kek nya bartender ini tau banyak. Gak bisa aku biarkan!" Batin Butet.


Untuk dapat pelayanan lagi, Butet pun segera menghabiskan juice jeruknya dan kembali memanggil bartender tersebut.


"Mas! Aku pesan lagi!" Panggil Butet.


Mau tidak mau, bartender tersebut pun menghampiri Butet dan mencoba melayani Butet.


"Mau pesan apa lagi, mbak?" Tanya Bartender tersebut.


"Mau pesan kau aku, mas. Jam berapa kau pulang? Kau mau duet gak?" Ucap Butet berterus terang.


Bartender itu menatap Butet dengan seksama.


"Maksudnya, mbak?" Tanya Bartender tersebut.


"Aku kasi kau dua juta. Tapi kau cok cerita dulu masalah si Ronald sama si Grazia," Ucap Butet.


"Mbak, bukan dari kepolisian kan? Atau detektif.. atau.."


"Bukan! Mau duet gak kau?" Tanya Butet lagi.


Bartender itu terdiam sejenak.


"Jawablah!" Desak Butet.


"Apa yang mbak mau tahu?" Tanya Bartender tersebut.


Butet pun tersenyum puas. Lalu ia melakukan janji temu dengan bartender tersebut di lain hari.


"Ini kartu namaku. Jangan kau bocorkan rahasia kita sama si Ronald ya." Pinta Butet.


"Baik mbak." Sahut Bartender tersebut, seraya tersenyum puas.


"Ok, ini tip buat kau, mas. Jangan lupa kau datang kalok gak, ku tutop dikotek ini nantik!" Ancam Butet, seraya menyerahkan uang sebesar lima ratus ribu kepada bartender tersebut.


"Aman mbak. Siap!" Ucap Bartender itu, seraya meraih uang tersebut dari tangan Butet.


"Ingat, datang kau. kalok gak liat aja nantik!" Ancam Butet lagi.

__ADS_1


"Iya mbak. Santai..." Sahut bartender itu, seraya tersenyum puas.


__ADS_2