
"Kemana aja abang? Kok baru pulang?" Tanya Nella kepada Choky yang baru saja melepas jaketnya.
"Ada urusan tadi." Sahut Choky.
"Akhir-akhir ini, abang banyak banget urusan. Memang urusan apa sih bang? Aku lihat-lihat, sepertinya semenjak abang masuk ke club motor itu deh, abang jadi sibuk sekali." Protes Nella.
Choky mendengus kesal, lalu ia beranjak duduk di tepi ranjang.
"Ada, urusan kawanku. Dia mau cere sama binik nya. Awalnya salah paham aja nya, eh... rupanya..."
"Rupanya apa bang?" Tanya Nella, seraya beranjak duduk di samping Choky.
"Rupanya di balas binik nya dia. Maen binik nya ke diskotik. Ckckckckck.. Kau jangan kek gitu y." Choky mencoba memperingatkan Nella.
Nella terdiam, lalu ia tersenyum kecut dan salah tingkah.
"Aku gak salah pilih binik memang. Gak ada aku di rumah, di rumah aja kerjanya. Gak palak kemana-mana. Beda memang binik ku dengan binik orang." Choky tersenyum kepada Nella. Nella pun tersipu mendengar pujian Choky.
"Aku pun beruntung loh bang, dapat abang. Selain ganteng, banyak uang nya, abang juga setia. Gak pernah abang macam-macam di luar kan?"
"Ish! Abang ya dek, kerja aja abang yang betol. Men maen pun, abang sama laki-laki semua, club motor abang itu. Cok lah kau tanyak sama kawan-kawan abang. Lurus-lurus aja kami loh.."
Nella tersenyum puas mendengar jawaban suaminya itu.
"Bang,"
"Oi.." Sahut Choky.
"Udah lama kita enggak bang.." Nella tersenyum manja kepada Choky.
"Eh.. bukan abang gak mau ya dek. Tapi jujur, capek kali abang," Ucap Choky.
"Ish! Capek capek aja abang!" Protes Nella.
"Kau kusok aku dulu ya. Capek aku..."
Nella cemberut dan mendengus kesal.
"Ya udah lah! Tiduran cepat!"
"Iya. Ha.. kek mana aku bisa selingkuh, kek gini binik ku di rumah. Lakik capek, di kusuknya. Lakik pulang lambat, gak pernah di marahkan nya. Surga kali dapat binik kek si Nella ini lah." Puji Choky.
Walaupun merasa kesal, Nella tersenyum mendengar pujian Choky.
"Tidor lah aku. Capek kali aku tadi. Gara-gara si Hanny, mantap kali goyangannya. Sampek tiga kali aku.. gak berdaya lagi aku." Batin Choky.
"Capeeeekkk terus. Kayak begini gimana aku bisa tahan? Memang si Rio gak ada tandingannya. Si Surya juga. Apa lagi si Jordi.. Ughhh... luar biasa. Hmmmm, jadi kangen sama mereka." Batin Nella.
......................
Butet terjaga dari tidurnya. Walaupun kedua matanya masih terasa mengantuk, namun ia memaksakan dirinya untuk beranjak dari ranjangnya. Butet menguap dan meregangkan tubuhnya. Lalu ia beranjak menuju ke jendela dan membuka tirai yang menutupi jendela kaca tersebut. Setelah itu, Butet pun beranjak keluar dari kamarnya.
Saat ia melintas di ruang keluarga, ia melihat Moan yang sedang duduk termenung di sana. Sempat merasa terkejut, namun ia berusaha untuk biasa saja dan berlalu begitu saja di depan Moan.
__ADS_1
"Gak balek nya dia ke kost? Kek nya gak tidor juga dia?" Gumam Butet, seraya meraih gelas dari dalam rak dan menuangkan gelas tersebut dengan air putih.
Setelah air putih yang baru saja ia tuangkan tersebut, Butet minum, kini ia pun berniat ke kamar Moana, untuk membangunkan putrinya itu. Menuju ke kamar Moana, berarti Butet harus melintas di ruang keluarga. Mau tidak mau, ia akan kembali berjumpa dengan Moan. Namun tidak ada pilihan lain, Butet akhirnya tetap melangkah menuju ke kamar Moana.
"Tet," Panggil Moan, saat Butet melintas di depannya.
Butet menoleh dan menghentikan langkah kakinya.
"Bisa bicara sebentar?" Tanya Moan.
Butet menghela napas panjang dan melempar pandangannya ke segala arah.
"Aku mohon," Ucap Moan dengan wajah yang memelas.
"Mau bicara apa?" Tanya Butet seraya beranjak duduk di depan Moan.
"Bisa kita bicaranya di kamar aja? Soalnya gak enak di sini. nantik di dengar sama si bibik," Ucap Moan.
Butet terlihat bimbang. Namun beberapa saat kemudian, ia pun menyetujui ajakan Moan.
Mereka berdua pun beranjak ke kamar dan berbincang di tepi ranjang.
Keduanya tampak kikuk saat berdua saja di dalam kamar. Sudah dua bulan lebih mereka tidak lagi berbincang berdua seperti saat ini. Butet yang duduk di sebelah Moan, hanya diam membisu, menunggu apa yang hendak Moan katakan kepada dirinya. Pun dengan Moan. Ia terlihat salah tingkah dan sesekali mengusap peluhnya yang mulai membanjiri dahinya.
"Mau cakap apa kau bang? Lama kali.. cepatlah..! Aku mau bangunkan si Moana. Dia mau ke sekolah hari ni. Mau ambel ijasah TK nya loh.." Akhirnya Butet mendesak Moan untuk cepat mengungkapkan apa yang hendak Moan sampaikan kepada dirinya.
Moan menatap Butet dengan seksama. Terlihat sepasang mata dengan lingkar hitam dan lelah itu, mulai berembun. Melihat hal itu, Butet mulai merasa salah tingkah, saat di tatap oleh Moan.
"Tet, benarnya kau udah mantap kali mau cere dari aku?" Tanya Moan.
"Gak ada kesempatan untuk aku lagi?" Sambung Moan lagi.
Butet masih diam membisu.
"Kalok kau gak mau jawab, gak apa lah, Tet. Tapi, boleh aku nanya samamu? Tapi kau jawab jujur."
"Apa?" Tanya Butet.
"Semalam ngapain kau ke diskotek itu?" Tanya Moan, dengan nada suara yang lembut, tanpa emosi sama sekali.
Butet kembali terdiam. Lalu ia menghela napas panjang dan menundukkan pandangannya.
"Apa kau ada yang baru, Tet?" Tanya Moan lagi.
"Jangan nudoh kau bang!" Ucap Butet yang merasa tertuduh.
"Enggak, aku cuma nanyak." Jawab Moan dengan nada suara yang masih lembut.
Butet kembali terdiam, karena kali ini ia merasa Moan tidak lagi terpancing emosi menghadapi dirinya.
"Aku gak gilak bang. Aku belom sah cere darimu. Mana lah mungkin aku carik yang laen. Memangnya aku kek kau bang," Ucap Butet.
Moan menghela napas lega, lalu ia menatap Butet yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Teros, ngapain kau di situ?" Tanya Moan lagi.
"Bang, aku bantu si Sri. ini sikit lagi tebukak semua masalah orang tu." Jelas Butet.
"Masalah kita kek mana, Tet?" Tanya Moan.
Deg!
Butet pun terdiam.
"Tet, aku berani bersumpah, apa yang kau tudoh kan samaku, itu gak betol. Ini semua perbuatan si Choky. Sumpah di bawah Alkitab pun aku berani, Tet. Mati aku hari ini pun aku berani, hanya untuk pembuktian kalok aku betol, aku gak nipu, Tet."
Butet membalas tatapan Moan yang berusah untuk menjelaskan duduk perkara masalah mereka.
"Aku paham, kau gak akan percaya kek gitu aja. Tapi sumpah demi apapun, aku cinta samamu. Aku cinta semua kelebihan dan kekuranganmu. Sejak aku memutuskan untuk menikah samamu, di situ aku bersumpah, hanya kau yang pertama, kau juga yang terakhir."
Butet masih bergeming.
"Kau mau aku bersumpah demi nama Tuhan dan nama inang ku?" Tanya Moan.
"Apanya kau bang!" Butet terlihat risih dengan ucapan Moan.
"Kalau kau mintak, berani nya aku, Tet. Asal kau percaya aja sama aku," Ucap Moan.
"Aku capek, Tet. Aku pen kita kek dulu lagi. Gak kasian kau sama Moana?"
Butet kembali terdiam membisu.
"Cok kau tatap mataku dulu." Pinta Moan, seraya berjongkok di hadapan Butet.
Mau tidak mau, Butet pun menatap sepasang mata lelah milik Moan.
"Tet, apa gadak rasa cintamu lagi samaku? Aku gak pernah buat kesalahan, Tet. Ini hanya salah paham aja. Tapi aku gak menyalahkan kau gak percaya samaku. Semua bukti memang kek aku yang salah memang. Tapi, aku hanya minta samamu, jawab pertanyaan aku, apa gadak lagi rasa cintamu samaku?" Tanya Moan dengan air mata yang mulai meleleh di pipinya.
"Apanya kau bang," Butet berusaha untuk menghindari pertanyaan Moan.
"Kek gini aja lah. Kau boleh benci sama aku, Tet. Aku minta maaf atas semua kesalahanku, termasuk kesalahan aku semalam. Aku pasrah udah sekarang. Tapi, aku berjanji dan aku pun minta samamu, kita bersikap baik-baik aja mulai sekarang, kalau kita lagi di depan Moana. Aku berjanji, aku menekan dan belajar mengendalikan emosiku. Aku berjanji lebih mengerti kau, Tet. Tapi, jangan ada kata cere diantara kita ya. Aku mohon.... Aku juga terus berusaha untuk membuktikan kalok aku gak salah sama sekali."
Butet menghela napas panjang dan kembali menatap Moan dengan seksama.
"Ayo kita lakukan ini semua demi Moana. Demi anak kita. Ya Tet.. ya.." Moan terlihat begitu memohon.
"Ya udahlah bang. Sukak sukak kau lah." Jawab Butet.
"Yang ikhlas lah, cakap nya," Ucap Moan.
"Iya.., tapi bukan berarti kita baekan sekarang. Kalok memang kau bisa buktikan kau gak men cewek di luar sanan. Baru aku maapkan kau dengan tulus. Tapi kalok kau gak bisa buktikan, maap maap aja lah ya bang. Hubungan kita hanya sebatas anak aja," Ucap Butet.
"Aku pasti bisa! Aku sanggupkan apa yang kau bilang. Aku laki-laki, Tet. Aku buktikan semuanya. Tapi ingat, kalok udah terbukti aku gak salah, balek kita lagi," Ucap Moan.
"Gak hanya balek bang, mintak maap aku samamu. Aku layani kau lebih baek lagi. Aku sayang-sayang kau. Tapi ingat ya, buktinya harus masok akal sama hotak ku ya! Kalok gak, jan sedih kau, gak bisa aku terima nantik."
"Ok! Kau pegang ya ucapan kau itu!" Ucap Moan yang merasa tertantang.
__ADS_1
"Ok!" Sahut Butet.
Mereka pun saling bersalaman, tanda menyepakati perjanjian mereka.