
"Aaaaaaa...! Pigi kau!"
Gubrakkkkk...!
"Adooohhh..!" Keluh Moan yang baru saja terjatuh dari atas ranjang.
"C*bul memang kau ya Moan! Pande kali kau carik kesempatan!" Ucap Butet, seraya beranjak dari atas ranjang dan memunguti pakaiannya yang berserakan di atas lantai.
"Kenapa nya anak ini. Tadi mau, udah selese, di campakkan nya aku!" Keluh Moan, seraya mengusap kepalanya yang sempat terbentur sudut ranjang.
"Memang kurang ajar kau Moan! Sesukak hati kau aja sama aku! Kau kira may kali aku sama mu? Enggak Moan, enggak! Paham kau?" Ucap Butet, seraya mengikat rambutnya yang tampak berantakan.
"Tadi kau enjoy aja ku tengok, sekarang kok marah kau?" Tanya Moan, seraya memunguti pakaiannya.
"Tapi kau maksa! Gak bisa bergerak aku kau buat!"
"Apa pulak! Goyang nya kau tadi ku tengok.."
"Kau!" Butet melotot dan mulai mengepalkan tangannya.
"Mak! Pak!" Panggil Moana, seraya mengetuk-ngetuk pintu kamar tersebut.
"Mamposs lah, bangun anak nya!" Keluh Butet, yang terlihat panik.
"Cepat pakek baju kau bang!" Perintah Butet, saat melihat Moan yang masih terpaku tanpa memakai sehelai benang pun.
Tok!
Tok!
Tok!
"Mak! Pak! Ribit kali, ngapain mamak sama bapak? Berantam lagi?" Tanya Moana, dari balik pintu.
"Ng, nggak nang.. Mamak sama bapak lagi berburu tikus ini," Sahut Butet yang kini membantu Moan memakai pakaiannya.
"Ku bukak pintunya ya.." Ucap Moana. Lalu terdengar derit pintu yang sedang di buka oleh Moana.
Dengan cepat, Butet menarik tangan Moan dan mengajak nya tiarap di atas lantai.
"Ribot kali." Keluh Moana.
"Itu dia bang tikus nya!" Butet pura-pura menunjuk ke arah kolong ranjang.
"Mana? Gak nengok aku," Ucap Moan.
"Itu loh. Ih takot aku bang. Pigi dulu lah aku sama Moana," Ucap Butet, seraya beranjak dari atas lantai dan bergegas menghampiri Moana.
"Balek ke kamar kita yuk nang, besar kali tikus nya. Besar tapi gak ada tenaganya. Ngeri lah," Ucap Butet, seraya menuntun Moana kembali ke kamarnya.
Moan mengerutkan keningnya dan menoleh ke arah pintu.
"Besar, tapi gak ada tenaganya? Apa pulak maksudnya? Nyindir aku dia?" Batin Moan, seraya menghela napas panjang.
Moan beranjak dari atas lantai dan duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Gak puas rupanya si Butet. Ck! Udah tau udah lama aku enggak kek gitu. Wajarlah aku cepat kali dan gak bertenaga. Dia pun aneh kali, kek gak tau laki-laki aja." Keluh Moan lagi.
"Patut lah di campakkan nya aku dari tilam tadi. Gak memuaskan rupanya aku. Banyak kali cakapnya.. cok puas kau Butet, nempel kau seharian sama ku kek yang udah-udah." Batin Moan, seraya mengepalkan kedua tangannya.
.
"Ku piker mamak sama bapak tadi ribot lagi," Ucap Moana dengan polosnya, seraya menatap Butet yang terlihat sedang mengatur napasnya.
Butet menatap Moana sejenak, lalu ia mencoba untuk tersenyum.
"Mana ada mamak ribot sama bapakmu. Baek-baek aja nya kami. Tadi tiba-tiba ada tikus, besar kali. Masok dia ke kamar, jadi di buru sama bapakmu. Mamak bantu lah," Butet mencoba berbohong.
"Oh, kek gitu. Syukur lah mak, kalok memang gak ribot. Tadi aku dengar kek ada barang jatoh. Terus mamak teriak-teriak. Tebangun aku mak. Aku udah takot aja kalok mamak sama bapak ribot lagi. Padahal, aku udah senang kali liat mamak sama bapak bekawan lagi," Ucap Moana, seraya menatap Butet dengan kedua matanya yang tampak begitu polos.
Butet terpaku. Lalu ia mencoba tersenyum dan mengusap pipi Moana dengan lembut.
"Gak kok nang. Sekarang kau balek tidor ya. Masik malam ini. Besok pagi kita pigi ke kebun teh."
"Betol ya mak!" Seru Moana, dengan raut wajah yang semringah.
"Iya nak ku," Sahut Butet.
"Ya udah. Mamak tidor di mana?" Tanya Moana.
"Mamak tidor di sini, sama mu. Gak apa kan?"
"Bapak kek mana?" Tanya Moana lagi.
"Gak papa, biar dia sendiri. Dia suka tidor sama tikus." Seloroh Butet.
Butet mulai menepuk-nepuk punggung Moana dengan lembut, agar putrinya itu cepat terlelap. Namun raut wajah dan pikiran Butet sangat kacau. Butet tidak dapat melupakan kejadian yang baru saja terjadi antara dirinya dan Moan. Meskipun Moan masih sah sebagai suaminya, namun ada perasaan jengkel dan tidak rela di hati Butet.
"Bodoh kali lah kau Butet! Kenapa kau mau aja tadi!" Keluh Butet di dalam hatinya.
"Tapi tadi aku udah nolak loh.." Protes salah satu sisi batin Butet.
"Tapi kau masih marah sama dia. Belom tau kan kau, dia jujur apa enggak. Gak takot kau kenak penyakit nantik? Dia kek gitu di luar loh!" Ucap salah satu nya lagi.
"Tapi aku percaya Moan gak kek gitu sebenarnya. Buktinya tadi dia cepat kali maen nya. Itu tandanya memang gak macam-macam dia di luar!" Protes sisi batin Butet yang satu.
"Apa pulak! Moan itu udah bertambah umur. Mana tau udah mulai gak kuat dia, udah gak kek dulu!"
"Iya jugak ya!"
"Ah! Gak ada nya itu, kau salah sangka Tet! Gadak si Moan kek gitu!"
Butet memejamkan kedua matanya dan menepuk-nepuk dahinya berulang kali.
"Recok kali kelen!" Ucap Butet, yang sedang betperang dengan batinnya sendiri.
"Mak! Mamak kenapa?" Tanya Moana yang ternyata belum tertidur.
Dengan cepat, Butet menoleh dan menatap Moana dengan seksama.
"Ah, gak apa nang. Kek nya besok mamak mau jumpa ustadz."
__ADS_1
"Hah!" Moana terkejut mendengar ucapan Butet.
"Kenapa rupanya? Mau pakek jilbab mamak?" Tanya Moana.
"Bukan! Mau rukiyah aku! Dah lah, kau pun ikut recok! Tidor cepat kau!" Perintah Butet yang mulai terlihat kesal.
Moana kembali menatap Butet dengan tatapan yang kesal. Lalu ia memunggungi Butet dan mencoba untuk tidur.
"Iiiihh..! Gak terima kali aku rasanya! Awas kau ya Moan!" Batin Butet.
.
"Malam yang dingin, kepala atas dan bawah sudah damai. Sekarang saatnya aku tidor!" Ujar Moan, seraya menepuk-nepuk bantal dan lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Oh iya, selimutan dulu kita, biar makin nyenyak tidor malam ini," Ucap Moan, seraya kembali duduk di atas ranjang dan meraih selimut yang terletak di kaki ranjang. Setelah itu, ia pun mulai menyelimuti tubuhnya dan kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Kek gini kan enak. Gencatan senjata dulu kita, Tet. Gak war aja kita." Gumam Moan, seraya mulai memejamkan kedua matanya.
Brakkk!
Tiba-tiba saja Moan terkejut saat mendengar pintu kamar tersebut di buka dengan kasar. Ia pun membuka kedua matanya dan menatap Butet yang berjalan menghampiri dirinya dengan tergesa-gesa.
"Memang lah kurang ajar kau Moan! Kau nodai aku! Aku gak terima Moan!!!!!!!" Ucap Butet, seraya menjambak rambut Moan.
"Aduhhhh..! Sakett, Tet!" Keluh Moan.
"Udah jambak kau, baru agak tenang aku! Dari tadi aku gak bisa tidor!" Ucap Butet seraya kembali menjambak rambut Moan.
"Edehhh edehhh... sakeeett!" Keluh Moan.
Butet tidak mempedulikan Moan yang berteriak kesakitan. Setelah puas, ia pun melepaskan tangannya yang menjambak rambut Moan dan beranjak dari hadapan Moan begitu saja.
"Gak puas kau, Tet! Naek sasak kau? Kalo gak puas ulang balek kita!" Seru Moan.
Tanpa di duga, Butet kembali masuk ke dalam kamar tersebut dan siap untuk menjambak Moan kembali.
"Eit... nantang kau ya!" Seru Moan yang mulai bersiap untuk menangkap Butet.
"Eh! Memang c*bul kau!"
"Kurang kau?"
"Apa kau bilang! Butuh kali aku sama mu?" Ucap Butet, Seraya terus berusaha untuk menjambak Moan.
"Ku tangkap kau ya! Jangan kau salahkan aku kalau ku buat balek!" Ancam Moan.
Butet menghentikan aksinya dan mulai mendengus kesal.
"Benci aku sama mu, Moan!"
"Benar-benar cinta kau kan?"
"Babami!" Maki Butet, seraya meninggalkan kamar tersebut dan kembali ke kamar Moana.
Moan tersenyum sendiri melihat betapa emosinya Butet kepada dirinya.
__ADS_1
"Gaya nya lagiiii... ckckckckck, memanglah perempuan!" Batin Moan, yang kembali merebahkan tubuhnya seraya mulai tertawa geli.