
"Sayang, aku ada surprise," Ucap Batra, saat ia baru saja sampai di rumah.
"Apo itu uda?" Tanya Siti, seraya menatap Batra dengan antusias.
"Saya akan pergi diklat. Saya dapat promosi untuk naik jabatan. Jadi perusahaan mengadakan diklat," Ucap Batra.
"Alhamdulillah... Ya Allah.. Doa siti di kabulkan da!" Siti tampak begitu senang dan terharu mendengar kabar Batra akan di promosikan naik jabatan.
"Kapan uda pergi?" Tanya Siti lagi.
"Insyaallah besok. Doakan ya," Ucap Batra, seraya tersenyum dan mengusap pipi Siti dengan lembut.
"Alhamdulillah, Alhamdulillah.. semoga karir uda semakin rancak, sukses, naik jabatan. Aamiin..."
"Saya selalu percaya itu. Karena saya memiliki istri yang luar biasa," Ucap Batra, seraya memeluk Siti dengan erat.
Dreeett..!
Dreeett..!
Dreeett..!
Tiba-tiba saja ponsel siti berdering. Batra pun melepaskan pelukannya dan menatap layar ponsel siti yang terletak di atas ranjang.
"Bundo menelepon kamu, Ti," Ucap Batra, seraya menatap Siti dengan seksama.
"Biarkan saja, da. Aku capek bila terus ribut sama bundo," Ucap Siti, dengan wajah yang murung.
"Jangan begitu, bagaimanapun itu tetap orang tua kamu." Batra mencoba mengingatkan Siti.
Dreeett..!
Dreeett..!
Dreeett..!
Panggilan kembali masuk. Namun Siti tetap mencoba mengabaikan nya.
Batra menghela napas panjang dan menatap Siti dengan seksama.
"Ti, kamu memang sekarang milik ku sepenuhnya. Namun orang tua tetaplah orang tua. Bagaimanapun, coba kita tetap menghargai adanya orang tua," Ucap Batra.
Siti terdiam. Sebenarnya ia sudah sangat malas sekali berbicara dengan ibunya. Namun apa daya, Batra tidak ingin Siti putus komunikasi dengan ibunya. Batra memang suami yang benar-benar baik, bahkan saat ia fi caci maki dan di hina pun, Batra tetap menganggap bundo Halimah tetap sebagai orang tuanya. Bukan sekedar mertua atau ibu dari istrinya.
__ADS_1
Dengan malas, Siti pun meraih ponselnya dan mencoba mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Halo, Assalamu'alaikum," Sapa Siti.
Namun bukan jawaban salam yang Siti dapatkan, melainkan suara isak tangis yang ia dengar.
"Bundo," Panggil Siti.
Lagi-lagi tidak ada kata-kata yang keluar. Hanya suara isak tangis dan suara latar yang begitu ramai di ujung sana.
"Bundo, ado apo?" Tanya Siti yang mulai terlihat khawatir. Sedangkan Batra terlihat bingung saat melihat wajah khawatir Siti.
"Ti," Panggil bundo Halimah.
"Ado apo bundo? Manga bundo manangih?" Tanya Siti yang mulai terlihat panik.
"Ti, rumah kita tabaka. Apak kau..."
"Tabaka?! Kenapo apak bun?" Tanya Siti yang kini semakin panik.
"Apak kau... apak kau.. hiks hiks hiks.."
"Jan manangih juo bun, ado apo apak bun?" Desak Siti.
"Apak kau. Apak kau maningga, Ti." Dan tangis pun semakin memecah di ujung sana.
Seketika ponsel yang ada di genggaman Siti pun terjatuh. Di susul dengan Siti yang terduduk dan termenung di pinggir ranjang.
"Ya Allah, Siti! Kamu kenapa?" Tanya Batra, seraya mencoba menopang tubuh Siti yang hampir terjatuh.
Perlahan Siti mulai menatap Batra dengan kedua mata yang di banjiri air mata.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Batra yang terlihat sangat khawatir.
"Uda.. apak da.."
"Kenapa bapak?" Tanya Batra yang mulai panik.
"Apak.. apak maningga!" Seketika tangis Siti pun pecah. Dengan cepat Batra langsung memeluk tubuh istrinya itu dengan erat.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun..." Ucap Batra dengan suara yang bergetar.
"Meninggal kenapa, Ti? Bapak sakit?" Tanya Batra.
__ADS_1
"Rumah tabaka, da. Apak... Apak di dalam!"
"Ya Allah." Batra tidak dapat berkata-kata. Ia tampak begitu terpukul mendengar kabar duka ini. Bagaimanapun, diam-diam Batra cukup dekat dengan mertua laki-laki nya. Saat Batra tinggal di kampung Siti, Batra cukup banyak bertukar pikiran dengan bapak Dahlan. Itulah mengapa, ia turut merasakan kehilangan yang begitu dalam.
"Apaaaaakkkk!" Pekik Siti.
.
"Laki-laki kok indak karajo! Ikuik tingga di rumah mintuo!" Sindir ibu Halimah yang sedang berada di dapur. Saking kencangnya suara bundo Halimah, kata-kata yang tajam itu terdengar hingga ke telinga Batra dan bapak Dahlan yang sedang duduk di halaman belakang rumah Siti.
Batra terdiam, ia tertunduk menahan malu. Namun tiba-tiba saja, sebuah tangan yang lembut menepuk pundaknya. Batra menoleh dan menatap bapak Dahlan yang sedang tersenyum kepada dirinya.
"Maafkan bundo ya nak. Apak mohon, jangan kau ambil hati ucapannya," Ucap bapak Dahlan.
"Apa yang di ucapkan bundo memang betul, pak," Ucap Batra, seraya tersenyum kecut.
"Apak dapat melihat usahamu. Kau sudah melamar kemana-mana. Jadi, bukan kau yang mau menganggur. Tapi, memang rezeki mu belum ada," Pungkas bapak Dahlan.
Batra terdiam, ia terus menundukkan wajahnya. Meskipun menganggur, Batra tetap membantu di rumah tersebut. Mulai dari membereskan rumah, halaman, hingga ikut ke sawah. Hal itu membuat bapak Dahlan cukup merasa terbantu dengan kehadiran Batra. Sedangkan Fadlan, anak laki-laki tertuanya, tidak mau membantunya, baik dengan tenaga ataupun keuangan. Fadlan justru memilih untuk tinggal di kampung istrinya.
"Apak yakin. Suatu saat, kau yang mampu mempersatukan keluarga ini. Kau yang paling sukses. Karena apak melihat, kau bukan orang malas, namun saat ini kau sedang merintis," Ucap Bapak Dahlan, seraya kembali melemparkan senyumannya kepada Batra.
Kata-kata sederhana itu, membuat Batra terpaku dan juga merasa begitu haru. Ia tidak menyangka bila mertua laki-laki nya itu begitu mensupport dan menyayangi dirinya.
"Terima kasih pak. Terima kasih, bapak sudah percaya pada saya," Ucap Batra.
"Nak, seseorang itu hanya butuh di percaya. Bukan di remehkan. Apak tidak tahu kedepannya seperti apa. Yang jelas, apak percaya, kau lah yang akan menjadi malaikat di rumah ini. Suksesmu, sifatmu, mungkin akan mengangkat drajat Siti, cucu-cucuku, bahkan keluargaku," Ucap bapak Dahlan, seraya menatap Batra dengan tatapan penuh kasih sayang seorang bapak.
Mata Batra terlihat berkaca-kaca menahan tangis harunya. Semangat yang di hadiahkan pada dirinya melalui bapak mertuanya itu, terasa begitu memberikan dirinya power agar berusaha lebih keras lagi.
Benar saja, satu minggu setelahnya, Batra di terima bekerja di salah satu kantor swasta di Padang. Walaupun tidak bertahan lama, karena Batra di terima kerja di Ibukota, namun hal itu cukup membekas di hati Batra.
Teringat oleh Batra, saat ia di terima kerja di Padang. Ia pulang dengan wajah yang semringah dan di sambut oleh bapak Dahlan dengan wajah yang tak kalah bahagia.
"Alhamdulillah pak, saya di terima kerja!" Ucap Batra kala itu.
"Alhamdulillah!" Seru bapak Dahlan, seraya mengangkat kedua tangannya, mengungkapkan betapa ia merasakan syukur yang luar biasa.
Pun saat Batra di terima kerja di Ibukota. Saat itu, walaupun berat bagi bapak Dahlan, karena harus berpisah dari putri, menantu dan cucu-cucunya, ia tetap memperlihatkan rasa syukur dan dukungannya pada Batra.
"Aku titipkan putri ku di rantau padamu, Batra. Walaupun dia sudah sepenuhnya menjadi hak mu, namun aku tetap harus mengatakan ini; Tolong jaga putriku dan cucu-cucuku dengan baik. Tolong jangan sakiti dia, dia adalah anak ku yang paling aku cintai. Bertanggung jawablah, seperti aku bertanggung jawab padanya. Ajarkan dia kebaikan dan jalan menuju ridho NYA. Saya juga tidak akan pernah lupa berdoa untuk kalian semua." Pesan bapak Dahlan, saat melepas kepergian Batra dan keluarganya kembali ke Ibukota.
. .
__ADS_1
Kini Batra menangis. Sosok yang bijak dan juga salah satu yang menjadi panutannya kini sudah berpulang.
Janji tetaplah janji, Batra tetap akan memegang erat janji tersebut, walaupun orang yang ia kagumi tersebut sudah meninggalkan dunia ini.