
"Ish! Cantek kali anak mamak ya!" Puji Butet, saat melihat Moana mencoba baju seragam sekolah dasar nya.
"Betol nya?"
"Iya lah. Anak mamak cantek kali! Senang kali mamak nengok kau nang. Ya Tuhan! anak ku mau masok SD dia!" Butet tampak sangat bersemangat.
"Tapi nantik hari senen, bapak ikot antarkan aku kam mak?" Tanya Moana.
Butet terdiam mendengar pertanyaan polos putrinya tersebut.
"Mamak gak tau." Jawab Butet.
Moana tertunduk lesu. Lalu ia menghela napas panjang dan mulai membuka seragam sekolah yang baru saja ia coba.
"Eh, jangan kau sedih nak ku. Masih ada mamak loh." Butet berusaha menghibur putrinya itu.
"Mamak dulu masok SD, opung mu gak ada yang antar. Mamak sendiri yang jalan ke sekolah." Sambung Butet.
Moana masih terdiam seraya melipat seragam sekolahnya.
"Jadi, kapan bapak mau pulang?" Tanya Moana.
Butet terdiam dan menghela napas panjang.
"Sabar kau ya nang. Pasti pulang nya itu bapak mu."
Moana mengerutkan dagunya, lalu ia mengambil semua seragam sekolah nya dan beranjak dari hadapan Butet.
"Eh, mau kemana kau nang?"
"Tidor!" Sahut Moana, dengan tak acuh.
Butet menghembuskan napas kasar, lalu ia menyandarkan punggung nya di sandaran sofa.
Krukkk!
Krukkk!
Butet terhenyak saat mendengar bunyi perutnya yang terasa lapar.
"Eh, udah makan aku sebaskom, kok masih lapar aja rasanya." Batin Butet.
Krukkk!
Krukkk!
"Ohmakjangg.. ngisap rasanya!" Ujar Butet seraya beranjak ke dapur.
Di dapur, Butet membuka kulkas. Ia hanya melihat-lihat bahan baku makanan di sana, tanpa mampu berpikir mau memasak apa. Akhirnya dengan putus asa, Butet kembali menutup kulkasnya.
"Lapar kali, makan apa ya aku? Hmmm.."
Butet pun mulai membuka aplikasi pesan antar makanan di ponselnya.
"Hmmm, gak ada yang menarik ku tengok." Batin Butet.
Tiba-tiba saja, ia teringat gurihnya Nachos, makanan mexico yang di jual di cafe milik Moan.
"Ish kok pen kali aku Nachos ya?" Batin Butet.
Detik demi detik, menit demi menit, akhirnya Butet tidak kuasa menahan keinginannya. Butet pun melirik ke arah jam yang terletak di dinding Ruang keluarga. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, lewat lima belas menit.
"Alah..! Ke sana lah aku! Masih ada waktu ku dua jam empat puluh lima menit sebelom tutop cafenya." Gumam Butet, seraya meraih kunci mobilnya.
.
"Lapar kali bah!" Keluh Moan, seraya memeluk gulingnya.
Krukkk!
Krukkk!
"Mak, makin melilit usus ku. Tapi mau makan apa ya?" Gumam moan.
"Ahaaa..!" Tiba-tiba saja Moan beranjak duduk dan terlihat bersemangat.
"Makan Nachos enak kek nya!" Gumam Moan. Lalu ia menatap jam di dinding dengan seksama.
"Masih ada waktu lah. Kalok gak mau si apa itu masakin aku, ku pecat dia." Gumam Moan seraya tersenyum.
Lalu Moan bersiap untuk berangkat ke cafenya.
Tiga puluh menit pun berlalu. Moan memarkirkan mobilnya di parkiran cafe miliknya. Lalu sambil bersiul, ia pun beranjak turun dan memasuki cafe nya.
"Boss! Baru keliatan," Ucap salah satu pegawai Moan.
Moan hanya mengangkat kedua alisnya dan tersenyum pada pegawainya itu.
"Eh apa, buat kan aku apa dulu," Ucap Moan, seraya duduk di bangku pelanggan.
"Buatkan apa pak boss?"
"Buatkan apa itu dulu. Apa lah namanya susah kali pon!"
Pegawai Moan hanya dapan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, seraya menunggu perintah dari Moan.
"Cerocos! Eh.. cos cos itu lah, yang ada toping mozarella nya. Lapar kali aku bah!"
"Nachos?" Tanya pegawai tersebut.
__ADS_1
"Nah! Pintar kau ya! Mantap kali memang pegawai ku yang satu ini." Puji Moan.
"Ok siap boss." Sahut pegawainya seraya beranjak ke dapur, untuk memberitahukan koki untuk membuatkan pesanan tersebut.
Moan menyapukan pandangan nya ke sekeliling. Lalu ia terlihat puas dengan ramainya pengunjung pada malam ini.
"Mantap, mantap!" Batin Moan..
"Eh, Rani..!" Panggil Moan pada seorang waiter yang sedang berjalan melewatinya.
"Ya pak?"
"Lupa aku pesan minum tadi. Makan gak minum, mati pulak aku nantik!" Ucap Moan.
Rani pun tertawa geli melihat tingkah kocak boss nya itu.
"Boss mau minum apa?"
"Anu, buat kan aku itu dulu. Hmmmm, juice mangga!"
"Ok siap boss," Ucap Rani, lalu gadis itu pun beranjak menuju ke dapur.
Moan tersenyum lega, lalu ia memasang headset di telinganya dan mulai asik bermain game.
.
Butet yang baru saja tiba di cafe Moan pun menghentikan laju mobilnya, saat ia melihat mobil Moan terparkir di cafe itu. Butet tampak enggan untuk singgah, namun rasa ingin makan nachos membuat ia merasa bimbang untuk melanjutkan perjalanannya.
"Pekek ada pulak dia di situ!" akeluh Butet.
Prittt! Prittt!
"Bu, mau parkir?" Tanya pemuda yang biasa menjadi tukang parkir di cafe milik Moan tersebut.
"Enggak! Nengok-nengok aja nya aku!" Sahut Butet.
"Ada bapak noh di dalem," Ucap pemuda itu lagi.
"Iya tau nya aku! Kau kira buta aku?"
"Hehehe..! Barang kali mau berantam lagi kayak kemaren," Ucap pemuda itu seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Eeeee... kambeng kau!"
"Hehehe.. kalau mau parkir sebelah sana aja bu." Pemuda itu pun menunjuk lahan parkir yang masih tersedia.
Butet pun mengacuhkan pemuda itu, lalu ia menutup jendela mobilnya.
"Dapat nachos, tapi jumpa si Moan. Atu cari nachos di tempat lain, tapi rasanya gak seenak buatan si anu. Yang mana yang enak ya?" Gumam Butet.
Butet terdiam cukup lama. Lalu ia memilih untuk melajukan mobilnya dan meninggalkan cafe tersebut.
Namun saat ia terpaksa berhenti di lampu merah, Butet pun kembali berpikir tentang nachos yang bertaburkan keju mozarella, buatan koki cafe milik Moan.
"Ah..! Kimbek lah! Masalah perot gak bisa kompromi!" Batin Butet. Lalu ia memberikan sen kanan untuk memutar balik.
Pemuda tukang parkir terperangah saat melihat mobil Butet memasuki lahan parkir yang tadi ia sebutkan pada Butet. Padahal sebelumnya, Butet berlalu begitu saja tanpa berniat untuk singgah. Pemuda itu pun tersenyum jahil saat melihat Butet turun dari mobilnya.
"Akhirnya bu boss balik lagi," Seloroh pemuda tersebut.
"Diam kau! Ku telan kau nantik!" Ucap Butet.
Pemuda itu pun terdiam dan mengunci mulutnya rapat-rapat.
Ting!
Bunyi bell saat pintu terbuka pun mengalihkan pandangan para pegawai cafe tersebut ke arah pintu masuk. Mereka semua tampak terkejut saat melihat kehadiran Butet di cafe tersebut. Pasalnya, terakhir kali Butet ke cafe itu, Butet bertengkar dengan boss mereka, yaitu Moan.
"Malam bu," Sapa Rani dengan ramah.
"Malam. Rani buatkan aku nachos dulu lah. Tapi yang toping mozarella ya." Pinta Butet.
Rani dan satu orang pegawai lainnya pun saling bertatapan.
"Kok bisa sama?" Bisik Rani. Teman nya pun hanya dapat mengangkat kedua bahunya dan tersenyum kikuk.
"Kenapa kelen nengok aku kek gitu? Abes rupanya nachos?" Tanya Butet.
"A-ada kok bu. Minum nya apa bu?"
"Juice mangga!"
Rani hampir saja tersedak saat mendengar permintaan Butet.
"Kok sama?" Gumam Rani.
"Sama? Sama sama siapa rupanya?" Tanya Butet.
Rani tersenyum kikuk, lalu ia menunjuk ke arah Moan yang sedang asik mabar game di ponselnya.
"Di situ rupanya dia!" Batin Butet.
Butet pun bergegas menghampiri Moan yang terlihat tidak peduli dengan sekitarnya. Lalu ia menarik bangku tepat di depan Moan. Kedua mata Moan masih fokus pada game. Hingga ia tidak sekalipun melirik Butet yang sudah duduk di depannya.
"Bang!" Panggil Butet.
"Wee.. tembak itu weee... di belakang itu dia..! Gasss..! Gas kan! Sikat satu squat! ledak kan dulu! lemparrrrr cepat! Ahhhh...! lambat kali kau memang! Kau yang bongak! Gak mantap kau jadi kawan squad!" Moan terus asik berkomunikasi dengan beberapa orang yang berada di game tersebut.
"Bang!" Panggil Butet lagi, seraya menarik tangan Moan.
__ADS_1
Shutttt...!
"Ah mati kan aku! Gara-gara kaaaaaaa... uuuuuu," Seketika Moan terkejut saat melihat Butet di depannya.
"Gara-gara aku? Hah?"
Moan mengunci bibirnya rapat-rapat. Lalu ia menaruh ponselnya di atas meja dan Moan pun mulai terlihat salah tingkah.
"Eh ada kau dek." Moan tersenyum kikuk. Lalu melemparkan pandangan nya ke segala arah.
"Kenapa kau gak pulang?" Tanya Butet.
Moan tak dappat berkata-kata. Ia hanya terdiam membisu.
"Permisi, Nachos nya sama juice mangga," Ucap Rani seraya menghidangkan menu tersebut di atas meja.
"Dengan cepat Butet meraih piring nachos tersebut dan mulai memakannya.
"Sekarang kek gitu caramu ya bang, ada masalah, gak mau kau pulang," Ucap Butet seraya mengunyah nachos dengan ekspresi orang yang sedang kelaparan.
"Itu dek.. tapi itu..."
"Itu itu itu! Banyak kali cengkunek kau bang! Sok keras kau sekarang bang! Si Moana sibuk nanyak kau, tapi kau gak pulang hanya gara-gara si Risma itu ku siram kuah Arsik!" Butet terus mengomel seraya mengunyah nachos.
"Tapi itu.."
"Apa lagi kau bang! Udah siap kali ku tengok kau untuk betol-betol pisah ya!" Protes Butet, seraya meraih juice mangga dan meminumnya hingga menyisakan setengah gelas.
"Bah! Enak kali!" Gumam Butet.
"Dek.. itu.."
"Apa alasan mu lagi? Aku bang, cukop sabar aku sebetol nya sama mu. Tapi nengok kau sama kuntilanak itu, Ooooo mendidih bahng jatong ku!"
"Dek.. itu.."
"Apa? Mau kau bilang lagi itu cuma salah paham? Saket hati ku bang! sakettt..!" Butet meneteskan air mata, seraya terus mengunyah nachos nya.
"Permisi, nachos dan juice mangganya yang punyaaaaa.. iiii bu.." Rani terlihat bingung saat Butet makan semua pesanan Moan.
"Hah!" Butet menatap Rani dengan tatapan tak percaya.
"Itu yang mau aku bilang tadi. Itu pesananku! Lama aku nunggu, kau baru datang maen makan makan aja! Gak pakek nanyak nanyak!" Ucap Moan yang terlihat kesal.
Butet menatap menu yang sama di atas meja. Sedangkan Rani segera beranjak dari hadapan mereka.
"Siapa suruh pesanan mu sama dengan pesananku!" Ucap Butet, agar dirinya tidak merasa malu.
"Awak yang nunggu dia yang ngabesin." Keluh Moan.
"Nah! Ambek lah sama kau semua!" Ucap Butet seraya mendorong piring nachos bekas nya yang tinggal remahan.
"Kau.. siket siket emosi. heran aku!" Ucap Moan, seraya. meraih nachos pesanan Butet, dan memakan nya dengan lahap.
"Kok bisa sama pulak pesanan ku sama pesanan dia. Buat malu aja pon!" Batin Butet.
"Ish.. kok bisa pulak sama yang di pesan?" Gumam Moan.
"Jadi kau mau kek mana bang? Mau masalah kita selese atau cemana?" Tantang Butet.
Moan yang sedang makan pun menatap Butet dengan seksama. Lalu ia tidak mempedulikan ucapan Butet dan melanjutkan makannya.
"Bang!"
"Dapat salam kau dari bang Rozi. Katanya makasih kali udah buat dia sadar. Biniknya jadi cantik sekarang." Moan berusaha mengalihkan percakapan.
"Aku cakap tentang kita loh.." Ucap Butet.
Moan tidak menghiraukan Butet. Ia terus memakan nachos nya hingga habis dan meminum juice mangganya sampai habis. Lalu ia bersendawa dan menatap Butet dengan seksama.
"Dek.. ada yang mau aku tanyak dulu."
"Apa?" Tanya Butet.
"Kau bisa baek kali sama orang. Tapi sama aku cepat kali naek emosimu. Sebenarnya kau cinta apa enggak sama aku? Kok kek nya aku cuma jadi pelampiasan emosi mu aja."
Butet terdiam saat mendengar ucapan Moan.
"Dek, kadang aku juga pen kali kau hargai. Kau manja, kau perlakukan aku kek kepala rumah tangga. Jujur dek, selama ini aku merasa kecil kali di matamu."
Butet tidak berkutik dengan apa yang di katakan oleh Moan.
"Aku sebenarnya mau balek. Tapi kek mana ya, sebenarnya kau kenapa? Aku gak paham loh. Kau gak pernah bisa dengar penjelasan aku. Kau langsung menghakimi aku. Kalau aku salah, pasti aku bilang aku salah dan minta maaf. Tapi kalau aku gak salah, tolong lah dengar dulu penjelasan aku. Jangan kau langsung naik pitam. Apa lagi sampe kau lemparkan rantang kek semalam tu. Harga diri ku lenyap langsong di depan karyawan ku. Kalau hanya di depan si Risma, persetannnn kali sama dia! Aku gak peduli pun sama dia." Terang Moan.
Butet semakin tidak berkutik. Rasa penyesalan pun menyerangnya membabi-buta. Ingin sekali ia meminta maaf pada Moan. Namun ia masih terselimuti gengsi yang menyatakan perempuan harus menerima maaf, bukan meminta maaf.
"Kok diam kau? Cakap lah." Desak Moan.
Air mata Butet pun mengalir deras di pipinya. Namun tidak seperti biasanya, biasanya Moan akan dengan sigap menghapus air mata Butet. Namun tidak kali ini.
"Sesekali ada sisi egoisku yang juga ingin kau mengerti. Bukan kau aja yang harus di mengerti. Kalau aku pernah buat salah fatal kali ok lah aku bisa terima dengan segala sikapmu. Tapi selama ini aku gak pernah loh dek, aneh-aneh. Apa lagi khianati kau. Aku udah jujur kali jadi lakik loh dek. Aku cuma cinta kau tapi sikapmu ngeri kali sama aku."
Butet tak tahan lagi. Ia pun beranjak dari duduknya dan menyambar kunci mobilnya dan pergi berlalu begitu saja dari hadapan Moan.
"Dek!" Panggil Moan.
Namun Butet tidak menghiraukan Moan, ia berlari ke arah mobilnya dan bergegas pergi meninggalkan cafe milik suaminya tersebut.
Kini Moan mulai di hinggapi rasa menyesal karena teralu mengintimidasi Butet. Moan hanya dapat terduduk lemas di kursinya dan mencoba meredam emosinya.
__ADS_1
"Apa aku salah lagi?" Gumam Moan.