
"Mas, bisa tidak gak usah pulang?" Grazia melipat tangannya di dada dan memasang wajah cemberut.
Dewa menghela nafas dan menaruh kembali kopernya.
"Mas, kalau gak ada mas Dewa, Kimberly sering rewel dan menangis. Masa mas tega sih..." Keluh Grazia lagi.
"Grazia, kamu kan tahu aku sudah memiliki istri. Bagaimana anak dan istriku di rumah. Mereka juga sangat merindukan aku. Aku sudah satu minggu loh di sini," Ucap Dewa, dengan wajah yang panik.
"Tapi mas...."
"Grazia, aku tidak bisa seperti ini terus. Beruntung istriku mau terima dengan semua yang terjadi. Berbaik hati lah kepada dia dan anakku."
Grazia mendengus kesal, lalu ia menghentakkan kakinya di lantai dan berlalu begitu saja dari hadapan Dewa.
Perlakuan Grazia dengan Dewa, sangat berbeda dengan perlakuan Sri pada Dewa. Grazia yang lebih muda dan juga anak orang kaya itu tampak tidak bisa menghargai Dewa sebagai suami. Dewa pun terdiam dan hanya mampu memandang punggung istri mudanya yang sedang berjalan menuju ke kamarnya. Tak lama kemudian terdengar bantingan keras dari pintu kamar Grazia, di susul menghilangnya Grazia di balik pintu kamar tersebut.
Dewa menghela nafas panjang dan beranjak meninggalkan rumah itu. Hatinya sudah tertimbun rindu pada Sri dan juga putranya, Ardi. Dengan cepat, Dewa mengemudikan mobilnya menuju rumah yang selalu ia rindukan. Yaitu rumahnya bersama dengan Sri.
Tiga puluh menit kemudian, Dewa sudah sampai di depan gerbang rumahnya. Seorang Satpam pun menyapa Dewa dan membukakan gerbang tersebut, agar majikannya itu dapat masuk dan segera beristirahat.
Setelah memarkirkan mobilnya dengan sempurna, Dewa pun melangkah masuk ke dalam rumahnya. Mbok Han yang membukakan pintu rumah pun dengan sigap mengambil koper Dewa dari tangan Dewa. Setelah mengucapkan terimakasih, Dewa pun melangkah menuju ke kamar Ardi.
Seperti biasa, Dewa tahu di mana keberadaan Sri pada pukul sembilan malam ini. Sudah dipastikan Sri sedang berada di kamar Ardi, untuk membacakan buku cerita untuk putranya itu sebelum tidur. Dewa melipat lengan kemejanya sebelum ia membuka pintu kamar putranya dan mempersiapkan dirinya atas tatapan Sri yang tak bersahabat padanya dan juga serbuan rindu yang akan Ardi ekspresikan kepada dirinya.
Di dalam kamar itu, Sri sedang berbaring di samping Ardi yang terlihat begitu bersemangat mendengar cerita yang di bacakan ibundanya. Mereka berdua pun menoleh ke arah pintu kamar, saat melihat pintu kamar tersebut terbuka.
"Ayah!" Seru Ardi, seraya beranjak dari ranjangnya dan berlari untuk memeluk Dewa.
"Ah.. jagoan ayah!" Seru Dewa, seraya menyambut tubuh Ardi dan membalas pelukan putranya itu. Sedangkan Sri langsung merapikan rambutnya yang sedang tergerai dan mengikatnya dengan rapi.
"Ayah kok lama sekali sih?" Tanya Ardi, seraya menatap Dewa dengan seksama.
"Ayah banyak kerjaan. Tapi sekarang ayah sudah pulang. Ayah bawakan mainan yang banyak untuk Ardi," Ucap Dewa, seraya menuntun putranya itu ke arah ruang keluarga.
"Beneran yah!"
"Tentu dong," Ucap Dewa, seraya tersenyum semringah.
Sri terdiam sendiri di kamar Ardi. Lalu dengan malas, ia pun beranjak dan menyusul ke ruang keluarga. Di ruang keluarga, Sri hanya berdiri di pembatas ruangan, seraya terus menatap ayah dan anak tersebut yang sedang melepas rindu. Sesekali Dewa melirik Sri yang tampak cantik dengan piyama berwarna putih yang melekat di tubuh istrinya tersebut.
__ADS_1
"Ardi, karena sudah ada ayah, jadi, bunda istirahat duluan ya. Nanti Ardi tidur sama ayah saja ya. Bunda pusing soalnya," Ucap Sri.
Ardi menoleh dan tersenyum di sertai anggukan.
"Ok kalau begitu, bunda tidur ya..." Ucap Sri, seraya melangkah menuju ke kamarnya.
"Bunda di sini saja, kita bareng-bareng di sini." Pinta Dewa.
Sri menghentikan langkahnya, lalu ia menoleh ke arah Dewa yang sedang menatap dirinya.
"Aku pusing mas, aku istirahat dulu ya," Ujar Sri, seraya berlalu ke kamarnya begitu saja.
Dewa terdiam. Sudah berbulan-bulan, sejak dirinya ketahuan sudah menikah lagi, sikap Sri kepada Dewa tidak sehangat dulu. Tidak ada lagi sambutan hangat dan senyuman manis Sri kepada dirinya. Tidak ada lagi teh hangat dan juga air hangat yang Sri sediakan untuk dirinya saat pulang bekerja. Kini sikap Sri sangat dingin dan membuat Dewa merasa begitu menyesal dengan apa yang telah ia lakukan di belakang Sri, sehingga membuat sikap istrinya itu menjadi berubah kepada dirinya.
Angan Dewa kembali ke masa dimana dirinya baru saja mengenal Grazia. Gadis itu adalah gadis yang tidak sengaja bertemu dengannya dalam kondisi mabuk. Grazia tidak sengaja menyerempet mobil Dewa, saat gadis itu mengemudi dalam keadaan mabuk berat. Saat itu, ingin sekali Dewa langsung mempermasalahkan kondisi mobilnya kepada Grazia. Namun setelah ia menyadari bila Grazia tidak dapat berkomunikasi dengan baik saat itu, akhirnya Dewa memutuskan untuk mengamankan Grazia ke kantor polisi, dengan membawa mobilnya serta membiarkan Grazia untuk ikut menumpang di mobilnya.
Namun setelah sampai di depan kantor polisi, tiba-tiba saja Grazia memuntahkan isi perutnya dan mengotori celana serta kemeja Dewa. Dewa terlihat begitu kesal, namun ia tidak tega untuk memarahi gadis yang terlihat begitu glamor tersebut.
"Mbak, gimana sih!" Sesal Dewa, seraya mengambil beberapa lembar tisu dari atas dasbor mobilnya.
"Maaf.. maaf." Hanya itu yang mampu Grazia ucapkan kepada dirinya.
Sambil membersihkan kemeja dan celananya dari muntahan Grazia, Dewa pun kembali mempertimbangkan niatnya untuk mempermasalahkan hal ini di kantor polisi. Ia pun mulai berpikir untuk mengantarkan gadis itu ke rumahnya saja, serta menemui orang tua dari gadis tersebut untuk meminta pertanggungjawaban mobilnya yang lecet karena ulah putri mereka. Berkali-kali Dewa mempertanyakan tentang alamat gadis itu, namun gadis tersebut tidak mampu untuk menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang di lontarkan Dewa dengan jelas. Gadis itu terus mengoceh hal-hal yang tidak Dewa mengerti.
"Grazia Amanda Winawarman." Batin Dewa, yang sedang membaca nama Grazia yang tertera di tanda pengenalnya. Lalu ia membaca alamat yang tertera di kartu tanda pengenal itu dan memutuskan untuk mengantarkan Grazia ke alamat rumah tersebut.
Setibanya di rumah Grazia, seorang Satpam membukakan gerbang untuk Dewa, setelah mengetahui Dewa membawa pulang anak majikan mereka. Setelah itu, sang Satpam pun ikut membantu Dewa memapah Grazia ke kamar gadis tersebut.
Setelah memastikan bila Grazia aman di kamarnya, Dewa pun menumpang ke ruangan cuci untuk mencuci bajunya yang kotor. Karena ia takut sekali bila Sri akan salah paham kepadanya bila melihat bajunya yang kotor karena muntahan seseorang. Dewa pun di antarkan ke ruangan cuci dan di pinjamkan setelan baju milik pak Satpam. Sementara asisten rumah tangga mencuci baju milik Dewa dan juga menyetrikanya.
Sambil menunggu pakaiannya siap untuk di pakai lagi, Dewa pun memutuskan untuk menunggu di pos Satpam, sambil berbincang-bincang dengan Satpam tersebut.
"Dia tinggal sendiri?" Tanya Dewa, kepada pak Satpam tersebut.
"Dia?" Tanya Satpam itu seraya mengerutkan keningnya.
"Iya, siapa namanya? Gra..."
"Oh, non Grazia."
__ADS_1
"Iya.., apa dia tinggal sendiri?" Tanya Dewa lagi.
"Iya, non Grazia tinggal sendirian mas."
"Loh, orangtuanya mana?" Tanya Dewa yang merasa penasaran.
"Ya hidup masing-masing toh. Biasalah mas, kehidupan orang kaya," Ucap sang Satpam.
Dewa terdiam, ia mulai merasa prihatin dengan kehidupan gadis itu.
"Masnya siapa? Pacarnya non Grazia?" Tanya Satpam itu.
"Bukan, kalau pacar mah saya pasti tidak akan bertanya seperti itu pak." Dewa tertawa kecil, saat menjawab pertanyaan dari Satpam tersebut.
"Oh iya. Lah, terus kok bisa mengantarkan non Grazia?" Tanya Satpam itu lagi.
"Begini pak, saya itu tadi lagi di jalan. Tapi mobil saya di serempet sama Grazia. Saat saya mengecek, saya baru sadar, ternyata dia mabuk berat. Tadinya sudah saya bawa ke kantor polisi, tetapi tiba-tiba dia memuntahkan isi perutnya ke baju saya. Saya pun mengurungkan niat saya dan akhirnya saya memutuskan untuk mengantarkan dia pulang saja, untuk beristirahat. Rencana saya, besok saya akan berbicara padanya, untuk membahas mobil saya yang terserempet mobilnya." Terang Dewa.
"Alhamdulillah, mas nya baik. Tidak di polisikan. Kasihan bila di polisikan, non Grazia itu hidup sendiri. Orang tuanya saja tidak mau mengurusinya, atau datang ke sini."
Dewa terdiam sejenak. Lalu ia menghela nafas panjang.
"Dia sering pulang dalam keadaan mabuk pak?" Tanya Dewa lagi.
"Sering mas, wong hidupnya gak ada tujuan. Sayang sih, cantik-cantik begitu tidak ada tujuan hidup."
Dewa pun mulai merasa iba kepada Grazia.
"Mas... bajunya sudah kering. Sudah saya setrika juga." Tiba-tiba saja asisten rumah tangga Grazia, muncul di pos Satpam.
"Oh baik, terima kasih mbak," Ucap Dewa,
"Pak, saya siap-siap dulu ya. Setelah itu saya mau pulang. Orang rumah sudah menunggu," Ucap Dewa kepada Satpam itu, seraya beranjak mengikuti langkah kaki asisten rumah tangga, yang membawanya kembali ke ruang loundry.
"Iya mas," Sahut sang Satpam.
Setelah berpakaian, Dewa pun meminta asisten rumah tangga Grazia untuk mengambilkan secarik kertas dan sebuah ballpoint untuk dirinya. Setelah Dewa mendapatkannya, ia pun mulai menuliskan pesan yang akan ia tujukan kepada Grazia. Tidak lupa Dewa memberikan nomor ponselnya untuk mempermudah Grazia menghubungi dirinya, bila gadis tersebut beritikat baik kepadanya. Tanpa Dewa sadari, hal itu lah yang akan membawa dirinya ke jurang cinta segi tiga yang sangat sulit ia lepaskan.
"Mbak, besok pagi, setelah non Grazia bangun tidur. Saya minta tolong berikan kertas ini ya... dan jangan lupa, minta dia hubungi saya," Ucap Dewa, seraya menyerahkan kertas tersebut kepada asisten rumah tangga tersebut.
__ADS_1
"Oh, baik mas." Sahut asisten rumah tanga itu.
Dewa pun beranjak dari rumah tersebut tanpa ada kejadian apa pun antara dirinya dan Grazia.