
"Tet, tangi Tet.."
Butet mengernyitkan dahinya dan membuka kedua matanya.
"Apaaaaaa Srii.." Butet menggeliat dan kembali menutup kedua matanya.
"Ish, Tet.., tangiii.." Ucap Sri lagu, seraya mengguncang bahu Butet.
Butet kembali membuka kedua matanya dan menatap Sri dengan tatapan yang terlihat kesal.
"Ish! Ganggu aja pun kau!" Keluh Butet.
"Iki masalah mas Dewa, Tet. Aku wis ngomong sama mas Dewa."
Mendengar ucapan Sri, Butet pun beranjak duduk dan menatap Sri dengan tatapan tak percaya.
"Iya nya?" Tanya Butet.
"Iyo. Mas Dewa mau tahu. Ayo kita ngobrol yuk di depan. Kamu bangunin si Moan ya, Tet. Soalnya aku gak enak sama bang Moan. Dia masih tidur di sofa," Ucap Sri lagi.
"Ayok!" Sahut Butet dengan bersemangat. Lalu ia beranjak turun dari ranjang dan bergegas untuk keluar kamar. Namun tatapan Sri membuat Butet menghentikan langkahnya dan membalas tatapan polos sahabatnya itu.
"Kau kenapa?" Tanya Butet.
"Gak, gak popo." Sri terlihat canggung dan beranjak dari duduknya.
"Aneh kali ku tengok kau, Sri."
Sri tertawa kecil dan melangkah mendekati Butet.
"Koe, kalau masalah gosip aja, langsung tangi! The real tukang gosip koe, Tettt.. Tettt.." Sri menggelengkan kepalanya dan beranjak dari hadapan Butet begitu saja.
Butet menatap punggung Sri dan menghela napasnya. Lalu ia mengikuti Sri dari belakang. Setibanya mereka di ruang keluarga, terlihat Moan masih tertidur dengan nyenyak di atas sofa.
"Untung sofa mu dari kulit, Sri," Ucap Butet, seraya terus menatap Moan.
"Kenopo toh?" Tanya Sri dengan polosnya.
"Ya, gampang di lap. Kalok dari bahan kain, abessss lah sofa mu. Gak akan mau kau pakek lagi," Ucap Butet lagi.
"Maksud ne opo toh, Tet?" Sri masih belum mengerti dengan ucapan Butet.
Butet menatap Sri seraya mengerutkan dahinya.
"Kau tau iler? Ngences tau kau?" Tanya Butet.
Dengan ragu, Sri menganggukkan kepalanya.
"Ha, ya itu. Buat peta si Moan. Gak percaya kau? Kau tengok ini ya.." Ucap Butet, seraya beranjak mendekati Moan. Sedangkan Sri, terus menatap Butet dengan ekspresi wajah yang bingung.
"Bang, oooo.. bang.. Bangun kau bang. Udah numpang tidor kau, nyenyak pulak di sofa orang." Butet mencoba membangunkan Moan.
"Hmmm.." Moan menggumam dan menggeser tubuhnya ke kanan.
"Eeee... makin nyenyak dia! Bangun kau bang!" Ucap Butet lagi, seraya mengguncang pelan bahu Moan.
"Aaahhh.. masik ngantok aku loh.." Ucap Moan, seraya memasukkan tangannya ke dalam celana. Lalu menggaruk sesuka hatinya. Sedangkan Sri, langsung memalingkan wajahnya seraya tersenyum geli.
"Ish! Gak malu kau bang! Ini rumah orang loh! Di liat kau sama si Sri lagi garok-garok ucok kau itu!"
Mendengar ucapan Butet, Moan langsung membuka kedua matanya. Ia tersentak dan menatap ke sekelilingnya. Lalu kedua matanya menatap Sri yang masih memalingkan wajahnya.
"Opppp!" Moan langsung mengeluarkan tangannya dari dalam celananya.
__ADS_1
"Pagi bang Moan..." Sapa Sri, seraya tersenyum.
"Eh.. sampek lupa awak. Pagi, Sri.. Aku ketiduran rupanya di rumah mu, Sri. Si Dewa pon gak mau bangunin aku. Kapan kelen pulang?" Tanya Moan.
"Dari tadi malam kok bang. Kami gak enak mau bangunin kalian." Sahut Sri.
"Udah, bangun kau bang. Lap iler kau yang bercucuran di sofa tu ha!" Ucap Butet, seraya menunjuk ke genangan air liur yang berada tepat di atas sofa.
"Oppp..." Moan merasa malu. Lalu dengan cepat ia menduduki bekas ilernya yang masih terpola sempurna di atas sofa.
"Gosah malu kau bang, buka rahasia umom nya itu," Ucap Butet, seraya tertawa geli. Sri pun tertawa dan beranjak duduk di depan Moan.
"Kau pun apa nya.." Ucap Moan, dengan ekspresi malu, kepada Butet.
"Apa.. udah tau nya anak kost putri semua. Eh bang, cobak kau ingat-ingat lagi. Ngences kau itu berjasa bang. Kalok gak gitu, gak kenal kita." Seloroh Butet.
Moan tersenyum canggung. Lalu ia mengulum senyumnya.
"Pagi, kok sudah bangun?" Tiba-tiba saja, Dewa muncul dari arah dapur, seraya membawa secangkir kopi.
"Kok satu sih mas. Kan orangnya ada empat," Ucap Sri seraya tersenyum kepada Dewa.
"Iiiiihhh.. senyum kau lagi Srii..." Goda Butet.
"Apa sih, Tet." Sri tersipu malu, karena Butet menggodanya.
"Oh iya. Sebentar. Aku bikin lagi ya," Ucap Dewa, seraya menaruh gelas kopinya di atas meja. Lalu ia kembali beranjak ke arah dapur.
"Kok satu sih masssss... iiihhh... manjanya lagiii.." Goda Butet lagi, saat Dewa sudah meninggalkan ruang keluarga.
"Opo sih..!" Sri terlihat kesal, namun bibirnya terus tersenyum.
Tak lama kemudian, Dewa muncul kembali ke ruang keluarga, seraya membawa baki berisi tiga gelas kopi yang baru saja ia bikin. Setelah itu, ia menaruh gelas gelas kopi tersebut di atas meja dan bergabung dengan Moan, Sri dan Butet.
"Apa cerita?" Tanya Butet, setelah Dewa sudah bergabung dengan mereka.
"Kok aku pulak?" Butet terlihat canggung dengan Dewa.
"Iya. Aku bingung mau mulai dari mana," Ucap Sri.
"Ckckckck, kau ini ya Sri." Butet menggeleng gelengkan kepalanya.
"Ayolah, Tet. Bingung aku. Kamu bantu yo." Pinta Sri.
Butet menghela napas panjang dan menatap ketiga orang yang ada di ruangan tersebut.
"Yodahlah.." Ucap Butet, seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Butet pun mulai menceritakan kronologi nya kepada Dewa. Tentang masalah dirinya dan Sri yang berusaha mencari tahu tentang Grazia. Dewa benar-benar terkejut saat mendengar cerita Butet, tentang keputusan Sri yang mencoba mencari tahu tentang istri keduanya itu. Bukan karena Grazia, melainkan Dewa merasa terkejut karena Sri masih peduli kepada dirinya.
Dewa menatap Sri dengan seksama, saat Butet menceritakan apa yang selama ini Sri dan Butet lakukan di belakangnya. Sri mulai merasa gelisah, karena Sri tidak tahu apa yang ada di pikiran Dewa saat ini.
"Apakah benar apa yang di ceritakan oleh Bartender itu?" Tanya Dewa, saat Butet selesai menceritakan semuanya.
"Dia berani bersumpah kok mas," Sahut Sri.
"Kami juga punya rekaman suaranya kok," Ucap Butet.
Dewa terdiam. Lalu ia kembali menatap Sri yang kini menundukkan pandangannya.
"Eh, keluarkan lah hape kau!" Butet mencolek Sri dan meminta Sri untuk mengeluarkan ponselnya dan memutar hasil pembicaraan mereka tadi malam dengan Bartender yang bekerja di diskotik langganan lelaki yang telah menghamili Grazia.
Sri tersentak dan terlihat gelagapan.
__ADS_1
"Kalian merekamnya juga?" Tanya Dewa.
"I-i-iya mas." Sahut Sri.
"Boleh aku mendengarkannya?" Tanya Dewa lagi.
"Bo-bo-boleh kok mas." Sri mengeluarkan ponselnya dan mencari rekaman tersebut. Setelah ia menemukan rekaman itu di foldernya. Ia pun segera memutar rekaman tersebut.
Tampak Dewa dan Moan memasang wajah serius saat mendengarkan hasil rekaman pembicaraan Butet dan Sri semalam di cafe.
"Omakjangg.. ngeri kali...!" Komentar Moan, setelah rekaman tersebut selesai di putar. Sedangkan Dewa hanya terdiam dengan raut wajah yang sangat sulit di artikan oleh mereka semua.
Seketika suasana pun menjadi hening, saat semua menyadari ekspresi wajah Dewa.
"Mas," Panggil Sri, setelah beberapa menit berlalu.
"Ya?" Sahut Dewa.
"Maafkan aku, karena aku lancang sekali. Aku sudah mengorek ini semua. Sebenarnya, aku lakukan ini semua demi Ardi," Ucap Sri.
Semua hening. Dewa menatap Sri dengan seksama. Lalu ia kembali menundukkan wajahnya.
"Mas jangan marah ya. Aku benar-benar minta maaf. Mas, sebenarnya aku tahu, setiap malam kamu datang ke sini, saat kamu menginap di rumahnya."
Dewa tersentak dan menatap Sri dengan seksama.
"Aku tahu penderitaan kamu. Maka dari itu, aku hanya berusaha untuk mencari fakta yang sebenarnya. Kalau mas yakin Kimberly itu anak mas, ya sudah... tidak apa-apa. Tidak perlu di cari tahu dan aku minta maaf. Bila mas tidak yakin, ada baiknya kita test DNA ulang. Tetapi aku mohon, mas bantu untuk mengambil rambut Kimberly." Terang Sri.
Dewa masih terdiam membisu. Ia mengusap wajahnya dengan gusar.
"Bila terbukti dengan DNA. Entah itu memang anakmu atau bukan, maka kita tahu apa yang harus kita lakukan ke depannya." Sambung Sri.
Dewa menatap Sri dengan tatapan yang begitu dalam.
"Jujur Sri, aku takut sekali. Bukan karena aku merasa telah melakukannya dengan dia. Tetapi, aku takut, aku takut sekali dengan Test DNA itu bila hasilnya sama. Tetapi, bila itu memang yang terbaik dan aku memang merasa tidak pernah melakukannya dengan dia, aku siap untuk melakukan test DNA. Semua ini akan aku lakukan atas nama cintaku padamu. Aku harus siap membuktikan ke jujuranku padamu, Sri," Ucap Dewa.
Sri tersenyum mendengar ucapan Dewa. Lalu ia menghela napas lega dan membalas tatapan Dewa.
"Mas, bila itu tidak terbukti, mempertahankan kamu adalah hak ku. Bila itu terbukti, kebebasan adalah milikmu," Ucap Sri.
Dewa tersenyum. Lalu ia beranjak dari duduknya dan menghampiri dan memeluk erat tubuh Sri.
"Terima kasih untuk kesempatannya, Sri," Ucap Dewa.
"Sama-sama mas. Tapi...."
Dewa yang tadinya tersenyum haru, mendadak memasang wajah serius. Lalu ia melepaskan pelukannya dari tubuh Sri dan menatap Sri dengan seksama.
"Aku cuma mau bilang. Butet dan bang Moan akan menjadi saksi."
"Saksi? untuk apa?" Tanya Dewa.
"Ya.. Kalau kamu memang bersedia untuk bercerai denganku, bila semua terbukti. Kita harus sama-sama ikhlas, demi kebaikan bersama. Mental ku, mental Ardi, mental Grazia dan juga Kimberly. Aku tidak akan membatasi kamu bertemu dengan Ardi. Dan mulailah hidup dengan baik bersama keluarga barumu. Aku ikhlas melepaskan kamu. Aku rasa, itulah yang terbaik."
Dewa terdiam mendengar ucapan Sri.
"Mas, aku harap kamu berjanji dengan permintaan aku tadi." Sambung Sri.
"Ayo lah, Wa. Demi kebaikan bersama," Ucap Moan.
Dewa menatap Moan. Lalu ia menghela napas panjang.
"Kau merasa tidak pernah dengan dia, jadi tidak ada yang harus kau takuti. Pertahankan apa yang memang seharusnya di pertahanankan," Ucap Moan lagi.
__ADS_1
Dewa mengangguk dengan pasti. Lalu ia kembali menatap Sri dengan seksama.
"Saya Dewa, bersedia untuk menceraikan kamu, bila saya terbukti bersalah. Bila tidak terbukti, kamu Sri, istriku. Sampai mati, saya akan tetap di sampingmu," Ucap Dewa dengan tegas.