
"Hahahaha..! Ngeriii.. Ngeriii.." Ucap Moan, saat ia sedang berjalan ke arah di parkiran bersama dengan Butet.
Butet menatap Moan dan ikut tertawa geli, mengingat semua kejadian di ruang keamanan klub malam.
Tiba-tiba saja, Moan menghentikan langkah kakinya dan menatap Butet dengan seksama.
"Tet, sekarang udah tau kan kau, aku gak pernah nokoh sama mu," Ucap Moan, seraya meraih kedua tangan Butet.
Butet terdiam beberapa saat, lalu ia tersenyum manis dan membalas tatapan Moan dengan tatapan merasa bersalah.
"Iya bang. A-aku.. aku minta maaf kali ya bang," Ucap Butet, seraya menundukkan wajahnya.
"Gak apa, Tet. Wajar kalau kau cemburu. Tandanya kau cinta kali sama aku," Ucap Moan.
"Ish! Pede kali memang kau bang!" Ucap Butet, seraya tertawa dan menepuk pipi Moan dengan lembut.
"Alamakjanggg..! Kek gini lah Butet yang aku rindukan!" Ucap Moan, seraya melompat-lompat kegirangan. Sedangkan Butet, hanya dapat tertawa melihat tingkah konyol suaminya tersebut.
"Jadi, akur kita lagi, Tet," Ucap Moan, seraya memasang wajah imut dan memohon. Butet hanya tersenyum dan kembali melangkahkan kakinya menuju ke parkiran mobilnya.
"Tet..." Desak Moan, saat ia belum juga mendapatkan jawaban dari Butet.
"Mau kau kek mana bang?" Tanya Butet.
"Balek lah!" Sahut Moan, seraya mengejar Butet yang sudah semakin jauh berjalan di depannya.
"Jadi kek mana?" Desak Moan, yang kini sudah menyamakan langkah kaki Butet, seraya menyenggol lengan istrinya itu dengan lembut.
"Damai ya, dek. Sekarang udah tau kau yang sebenarnya. Aku gak lah sepicik itu jadi laki-laki. Pikiran ku panjang, dek. Aku punya anak perempuan. Aku gak mau melukai ibu dari anak ku. Karena aku yakin, hukum karma itu pasti ada," Ucap Moan, seraya menahan langkah kaki Butet.
Butet terdiam, ia menatap Moan dengan seksama. Lalu ia tersenyum dan meraih kedua tangan Moan.
"Aku percaya sama mu sekarang bang. Tapi bolehnya aku mintak satu aja permintaan sama mu?"
"Apa itu dek?" Tanya Moan, dengan bersemangat.
__ADS_1
Butet menghela napas panjang, lalu ia menatap kedua manik mata Moan yang terlihat begitu indah.
"Luangkan waktu untuk kami bang. Satu lagi, berhentilah dari genk motor mu itu. Aku juga di rumah seharian juga butuh kau. Jangan kau egois, bang. Kau bisa healing kemana-mana tanpa aku, tanpa kau pikiran, healing kami adalah bisa ketawa sama mu. Bisa jalan-jalan sama mu. Healing kami adalah kehadiran kau bang," Ucap Butet.
Moan menghela napas panjang. Lalu ia tertunduk lesu.
"Bang, berumah tangga itu bukan tentang diri kita lagi. Tapi tentang kebersamaan. Istri tergantung suami. Aku dan Moana butuh kau." Tegas Butet.
Moan menatap wajah Butet dan tersenyum tipis. Rasa bersalah terlihat jelas di wajah Moan. Lalu ia meraih tubuh Butet dan memeluknya dengan erat.
"Aku minta maaf, dek. Aku salah..." Ucap Moan.
Butet tersenyum di dalam pelukan hangat Moan. Lalu ia membalas pelukan Moan dengan erat.
"Gak papa bang. Kita berdua sama-sama belajar. Kita sama-sama belum pengalaman dalam berumah tangga. Jadi, kita harus sama-sama belajar. Belajar juga harus seumur hidup. Hubungan kuta bisa terus bersama, kalau memang masing-masing dari kita mau terus belajar." Pungkas Butet.
Mendengar kata-kata bijak dari istrinya, Moan pun melepaskan pelukannya dan menatap Butet dengan seksama.
"Terima kasih, istriku," Ucap Moan, seraya tersenyum bahagia.
"Iya dek. Hati-hati ya kau bawa mobilnya. Ini udah malam."
"Kau juga bang, hati-hati bawak honda nya," Balas Butet.
"Aku nantik jalan di belakangmu. Gak usah kau khawatir."
Butet tersenyum mendengar ucapan Moan. Lalu ia melangkah menuju parkiran mobilnya, sedangkan Moan berjalan menuju parkiran motornya.
Di jalan, Moan terus tersenyum seraya menatap mobil Butet yang melaju tepat di depannya. Rasa lega karena masalahnya telah usai, rasa bahagia karena Butet kembali lembut kepada dirinya, rasa yang tak dapat di lukiskan, kini tengah Moan rasakan. Moan pun menyadari, setiap apa yang terjadi di dalam rumah tangganya, itu tidak terjadi begitu saja. Pastilah faktor dirinya juga yang membuat semua menjadi berantakan atau tidak berjalan sesuai dengan apa yang seharusnya. Moan mulai belajar banyak hal setelah kejadian kemarin. Dan kini, Moan seperti terlahir kembali, ia merasakan energi yang baru. Energi yang lebih positif dan Moan berjanji, akan jauh lebih baik setelah hari ini dan kedepannya.
"Terima kasih Tuhan!" Seru Moan.
.
Siti terdiam, saat melihat tumpukan uang tunai di depannya. Tangannya gemetar dan napasnya terasa sesak. Lalu ia menatap Batra yang sedang duduk di depannya, seraya menatap dirinya dengan seksama.
__ADS_1
"U-u-uang dari mana iko da?" Tanya Siti, dengan suara yang bergetar.
Batra terdiam, lalu ia menundukkan pandangannya.
"Da! Jawab da.." Pinta Siti.
Perlahan, Batra pun memberanikan untuk menatap Situ. Lalu ia tersenyum getir dan meraih ke dua tangan istrinya tersebut.
"Ini uang dari bang Rozy," Ucap Batra.
"Uang dari bang Rozy? Maksudnya apo da? Uda meminjam sama bang Rozy? Atau..."
"Ssssttt... uda akan jelaskan. Tapi kamu tenang ya.." Pinta Batra.
Siti yang terlihat gelisah, pun berusaha untuk tenang dan menatap Batra dengan seksama.
"Biar uda ceritakan, dari mana uang ini berasal," Ucap Batra.
Batra pun mulai menceritakan dari mana uang itu berasal. Tanpa berusaha menutupi sedikitpun dari Siti. Air mata siti terus menetes di pipinya, saat mendengar cerita dari Batra. Siti tidak menyangka bila suaminya itu dapat melakukan itu semua hanya untuk ibunya yang tidak pernah menyukai hadirnya Batra, sebagai pendamping hidupnya.
"Kenapa uda lakukan itu semua? Bukan kah itu warisan dari nyak?" Tanya Siti, yang kini merasa sangat bersalah dengan semua yang terjadi, setelah Batra menceritakan semuanya.
Batra terdiam. Sebenarnya dirinya juga tidak rela, melepaskan warisan dari kedua orang tuanya. Namun, Batra tahu hal itu harus ia lakukan demi Siti dan juga mertuanya. Batra juga sudah memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan mulai melanjutkan usaha dari almarhum bapak mertuanya. Di samping itu, Batra percaya dengan Rozy, yang meminjamkan uang tersebut dengan cara menerima gadaian warisan bagian nya untuk Rozy. Batra yakin, setiap ucapan Rozy akan dapat di percaya, bila suatu saat Batra tetap bisa menebus warisannya tanpa Rozy meminta bunga kepada dirinya.
"Aku sudah menjelaskannya kepadamu. Kita tidak perlu khawatir dengan bang Rozy. Dia itu abang kandungku. Aku tahu, dia tidaklah tamak. Apa lagi dia memiliki istri yang sebaik Cempaka. Pastilah bang Rozy akan menepati janjinya. Dan satu lagi, kami juga memakai perjanjian. Tidak hanya sekedar omongan saja. Aku tidak akan pernah benar-benar kehilangan warisan dari kedua orang tuaku. Karena aku yakin, setiap niat baik, akan baik juga hasilnya. Yang terpenting saat ini adalah. Kita, anak-anak dan bundo, punya tempat untuk berlindung di sini." Terang Batra.
Siti kembali meneteskan air mata. Ketulusan Batra, tidak akan pernah dapat ia temukan di lain insan. Bila saja ia tidak menikah dengan Batra, mungkin saja ia tidak menemukan lelaki yang setulus ini terhadap dirinya dan juga keluarganya.
"Uda.." Siti terisak, menahan rasa haru nya.
"Sudah, besok aku akan belanja di toko bangunan. Kita bangun lagi rumahmu. Biar semua tenang dan aku dapat melanjutkan tugas bapak," Ucap Batra, seraya memeluk erat tubuh istrinya tersebut.
"Ya Allah! Terima kasih engkau telah memberikan aku suami seperti uda Batra. Terima kasih ya Allah.. Terima kasih udaaa..." Tangisan Siti semakin kencang, lalu ia membalas pelukan Batra dengan erat.
"Selama aku hidup, aku pastikan kamu, anak-anak dan bundo, tidak akan pernah terlantar. Itu sumpah ku sebagai suamimu," Bisik Batra.
__ADS_1
Siti semakin mempererat pelukannya. Tubuhnya semakin bergetar, kala merasakan nikmat yang telah Tuhan berikan kepada dirinya, melalui seorang lelaki bernama 'Batra'.