Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Cinta dan Kasih


__ADS_3

"Inaaaanggg...!" Seru Butet, saat melihat pemandangan di depan matanya.


Sri pun langsung membekap mulut Butet dan membulatkan kedua matanya.


"Biar wae toh," Ucap Sri dengan berbisik.


Perlahan Sri! melepaskan tangannya dari bibir Butet, kini mereka berdua menatap Dewa dan Moan yang sedang terlelap di atas sofa.


"Tak sawang-sawang, mereka yo lucu yo Tet," Ucap Sri, seraya tersenyum menatap Dewa dan Moan.


Butet menghela napas panjang dan ikut menatap ledua lelaki yang tengah terlelap itu.


"Mereka sebenarnya baik. Tapi entah mengapa mereka gak bisa menjaga perasaan kita." Sambung Sri.


Butet menatap Sri yang masih menatap Dewa dan Moan.


"Dan.. entah yang mana harus kita percaya ya Sri."


Sri melirik Butet dan menghela napas panjang.


"Yo wes, melok aku yuk," Ucap Sri, seraya menarik tangan Butet dan berjalan menuju ke kamarnya.


"Jadi, ceritanya aku nginap di sini?" Tanya Butet.


"Sssstt... pagi sebentar lagi loh Tet, tanggung pulang malam. Mendingan pagi wae," Ucap Sri, seraya tersenyum penuh arti.


"Ish.. jadi terjebak lah aku di sini ya.. gara-gara si Moan tidor dia!"


"Ssstt, suara mu pelankan apa Tet, dari dulu gak pernah berubah." Sri mendengus kesal.


"Iya, iya." Sahut Butet, seraya beranjak duduk di atas ranjang Sri.


"Eh, ingat aku, kau ngajak aku tidor di sini, ada bekas-bekas jejak perkara gak ini?" Tanya Butet.


"Jejak perkara?" Sri terlihat bingung dengan pertanyaan Butet.


"Iya, jejak-jejak peta dunia," Ucap Butet, seraya memperhatikan seprai yang terbentang di atas ranjang tersebut.


"Maksudmu ki opo toh, Tet?" Tanya Sri, yang masih belum mengerti.


"Ish, tah paok tah apa kau. Kek gitu aja gak ngerti kau!" Ucap Butet, seraya menatap Sri dengan raut wajah yang terlihat kesal.


"Tenan loh Tet, aku gak ngerti," Ucap Sri, dengan wajah polosnya.

__ADS_1


"Ck! Itu loh, jejak kau sama si Dewa, habis ehem ehem.." Butet berusaha menerangkan dengan menyatukan kedua telapak tangannya.


Sri mengerutkan keningnya, ia tampak berpikir sejenak. Hingga akhirnya ia pun tersadar dengan maksud Butet.


"Ih, kamu ini, Tet! Ya gak lah... Aku loh wes suwe gak," Ucap Sri, seraya memasang wajah serius.


Melihat ekspresi sahabatnya yang begitu serius, akhirnya Butet pun tertawa terpingkal-pingkal.


"Hahahahhaha..! Kau ya.. penyakit paok kau gak sembuh-sembuh ku tengok. Becanda nya aku, Sri. Ngejek aja aku, gosah kau palak curhat pulak. Hahahahaha...!"


"Lagiannn... kamu sih.." Sri memasang wajah cemberut dan tak lama ia tersenyum sendiri.


"Jadi, udah lama kali ya, Sri?" Goda Butet, seraya menyenggol tangan Sri dengan sikunya.


"Opo sih, Tet," Ucap Sri, seraya tersipu malu.


"Halahhh, rindu nya kau sama suntikan maut si Dewa kan?" Goda Butet lagi.


"Opo sih! Koyok koe gak wae, Tet!" Sri balik menggoda Butet.


Kali ini Butet yang memasang wajah cemberut.


"Hahahahaha, rindu kan kamu Tet!" Goda Sri, seraya mencolek pinggang Butet.


"Apanya kau!" Butet terlihat kesal, namun ia berusaha untuk menahan tawanya.


Butet duduk bersila dan terdiam. Lalu ia menopang dagunya dengan tangan yang ia tumpu di atas pahanya.


"Namanya cinta, Srii.. Sriii.." Ucap Butet.


Sri menghela napas panjang dan menatap Butet dengan seksama.


"Kita kayak orang munafik ya, Tet." Sri ikut menopang dagunya.


"Iya. Tapi cemana lah, rasa saket hati ini belom tuntas. Enak kali dia, kalo kita yang mintak!" Ucap Butet dengan raut wajah yang berapi-api.


"Iyo," Sahut Sri.


"Eh, ingat aku. Hasil tadi kita kasikan sama si Dewa sama si Moan gak?" Tanya Butet.


Sri terdiam, ia tampak berpikir sejenak.


"Ngg..."

__ADS_1


"Ah, lama kali kau miker. Kasikan aja lah ya, Sri. Kan enak kalau si Dewa tau. Jadi bisa kerja sama sama dia kita. Sekarang kek gini lah ya, kek mana aku bisa ambel sempel anak si betina itu? Masak iya aku cabot rambot anak nya depan mamaknya. Nanges-nanges lah dia. Apalagi anaknya di kawanin suster teros."


Sri semakin berpikir, setelah mendengar ucapan Butet.


"Sri, kalau Dewa yang maju, aman pasti Sri. Soalnya, nanges pun anaknya, kan gak ada pikiran apa-apa orang tu. Kalok sama aku anaknya nanges, nantik di kiranya pulak aku jambak anaknya!. Bisa-bisa kalok dia nudoh-nudoh aku, emosi pulak aku nantik sama dia. Tau kan kau, kesabaran aku setipis rambot, itupun udah kek jembatan Shiratal Mustaqim, di belah tujoh pulak," Ucap Butet lagi.


Sri tersenyum geli dan menjambak rambut Butet.


"Tau-tauan kamu, Tet!"


"Apa?" Tanya Butet.


"Jembatan Shiratal Mustaqim!" Ucap Sri, seraya tertawa geli.


"Iya, ada nya aku dengar-dengar dulu pas esde." Celetuk Butet.


Sri pun semakin geli dan tertawa keras.


"Apanya anak ini! Gilak kau! Jujor aku loh!" Ucap Butet, dengan serius.


"Iya Tet, Iya..." Sri terus tertawa terpingkal-pingkal.


"Jangan kau kira aku mau login pulak ya..!" Ucap Butet, seraya tertawa geli.


"Hahahaha! Tet... Tet.. aku gak ngerti lagi, kalau dunia ku gak ada kamu, Tet. Pasti makin stress aku. Tapi dengan adanya kamu, aku masih bisa tertawa, Tet," Ucap Sri. Namun tawanya berangsur memudar dan berganti dengan sorot mata yang berkaca-kaca.


"Ish, kenapa pulak kau," Ucap Butet, seraya membalas tatapan Sri.


"Tet, terima kasih ya. Jangan pernah berubah ya, Tet. Jangan pernah hilang kabar kayak kemarin. Tet, aku rasa gak semua orang bisa memiliki persahabatan seperti ini, Tet. Aku termasuk orang yang beruntung, karena aku bertemu dengan kamu, Cempaka dan Siti."


"Ish! Kok jadi melow kau!" Ucap Butet, yang sedang berusaha menyembunyikan air matanya di balik tawanya.


"Aku serius, Tet. Gusti Allah begitu baik padaku, Tet. Aku sangat bersyukur. Alhamdulillah. Ternyata, perbedaan bukan batasan. Tapi adalah bumbu dalam hidup berdampingan. Mulai dari beda suku, bahasa, hingga kepercayaan. Itu tidak menjadi hambatan bagi kita berempat," Ucap Sri lagi.


Kini air mata Butet mengalir di pipinya. Ia menatap Sri dengan tatapan yang begitu dalam.


"Asal kau tau, Sri. Aku yang sebenarnya lebih takot kehilangan kelen. Di antara kelen semua, aku yang paling berbeda. Tapi kelen toleransinya, kasih sayang kelen, perhatian kelen semua sama aku, itu luar biasa, Sri. Aku yang harusnya berterima kasih sama kelen semua," Ucap Butet, dengan suara yang bergetar.


Sri tersenyum, lalu ia menggengam tangan Butet dengan erat.


"Tuhan maha baik, Tet. Dia menciptakan kita dengan segala perbedaan. Tapi Dia tidak lupa menciptakan hati untuk dapat berbagi cinta dan kasih sayang. Kita termasuk manusia yang beruntung, karena kita bisa berpikir dan menggunakan hati dengan baik. Aku selalu berdoa, semoga hati kita tidak ada yang berubah. Tetap seperti ini, sampai akhir hidup kita."


"Ah kau, Sri! Nanges aku kan jadinya!"

__ADS_1


"Sini berpelukan," Ucap Sri, seraya merentangkan kedua tangannya.


"Ish kau!" Butet pun menjatuhkan dirinya dalam pelukan hangat seorang sahabat yang mencintai dirinya tanpa perbedaan sedikitpun.


__ADS_2