Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Kesan tadi malam dan pagi ini


__ADS_3

Hari ini Moan terlihat begitu bersemangat. Pasalnya dirinya dan Butet sudah kembali akur dan menjalani hari seperti biasanya, sebelum adanya masalah di antara keduanya. Tidak hanya semangat Moan yang menjadi perhatian para pegawainya di cafe, namun pakaian dan juga gaya Moan terlihat lebih rapi dan terurus, di bandingkan dengan beberapa bulan terakhir.


"Semangat banget bos?"


Moan menatap pegawainya dan tersenyum lebar.


"Iya lah. Ganteng kan aku hari ini? Tengok lah mukak ku, bersih kan? baju ku di gosok sekarang. Ha.. rambot ku pun siap di pangkas," Ucap Moan, seraya mengusap rambutnya dengan pose yang ia anggap keren.


"Mantap bos!" Ucap pegawai tersebut.


"Makanya kau carik binik, biar di urus kau sama binik mu," Celetuk Moan.


"Tapi kalau ribut sama binik, sengsara bos, gak doyan makan, baju gak di setrika, rambut gak di pangkas," Sindir pegawai tersebut.


Sadar dirinya di sindir, Moan pun membulatkan ledua matanya.


"Banyak cakap mu! Kerja kau sana! Ganggu orang aja!" Ucap Moan, seraya beranjak duduk di bangku dan membuka laptopnya.


Moan kembali tersenyum di depan laptopnya. Ia teringat perlakuan romantis dari Butet yang sudah lama ia rindukan pada pagi ini. Pagi-pagi sekali, Butet sudah menyiapkan pakaian dan sarapan untuk Moan. Tidak lupa Butet juga membantu Moan mencukur janggut dan kumisnya. Butet juga tersenyum manis kepada Moan, saat Moan hendak berangkat ke cafe untuk bekerja.


"Alamakkk," Batin Moan, seraya memejamkan kedua matanya.


Tidak hanya sampai di situ, Moan juga teringat, betapa indahnya kejadian tadi malam, sebelum. mereka berdua tertidur karena kelelahan, setelah mereka melewati malam yang begitu panas. Bagaimana tidak, Butet sengaja tampil di depan Moan dengan 'baju dinas' yang membuat Moan merasa kelepek-klepek. Baju dinas dengan warna merah mencolok tersebut begitu cantik membungkus tubuh indah Butet. Butet sengaja mengedipkan matanya dan berpose nakal, di depan Moan. Yang membuat Moan merasakan ada gerakan dari ucok yang siap untuk bertempur.


"Sempurna kali idopku," Gumam Moan, seraya tersenyum sendiri.


Enggan untuk memikirkan hal yang sama, hingga membuat pekerjaannya berantakan, Moan pun berusaha untuk kembali mendata segala yang di butuhkan oleh cafenya.


Pun dengan Butet di rumah. Ia tampak sangat bersemangat dan terus tersenyum sendiri. Ia mengingat betapa garangnya Moan tadi malam. Tidak dapat ia pungkiri, ia masih sangat memuja suaminya tersebut. Untuk menebus rasa bersalah atas kesalah pahaman yang membuat rumah tangganya hampir saja berantakan, kemarin, Butet sengaja membeli beberapa baju dinas untuk ia pamerkan dan menyenangkan mata Moan. Tentu saja hal itu membuat hati Moan sangat bahagia. Dan di tambah dengan upaya Butet untuk lebih baik lagi dalam melayani Moan, agar Moan lebih betah di rumah.


"Teringat aku, bang Moan pingin kali makan Arsik ikan mas haritu ya." Batin Butet yang sedang asik menyirami tanaman yang hampir layu, karena sudah lama tidak di urus olehnya.


"Apa belanja aja aku ya ke pajak? Terus aku buatkan dia Arsik dan aku antarkan ke cafe. Biar senang kali dia kan.. makan siang sama Arsik ikan mas," Batin Butet lagi.


Dengan cepat, Butet pun mematikan keran air dan beranjak masuk ke dalam rumahnya.


"Ligat kali jalannya mak? Kenapa rupanya?" Tanya Moana.


"Eh, mo ikot gak kau?" Tanya Butet, sesaat setelah ia menyadari adanya Moana yang sedang asik bermain game di sofa ruang tamu.


"Mo kemana rupanya?" Tanya Moana lagi.


"Ke pajak loh. Mamak mau buat Arsik buat bapak mu. Ikot kau?" Tanya Butet lagi.

__ADS_1


"Ah kepajak. Malas lah aku, ke mol lah," Celetuk Moana.


"Banyak kali cing cong mu itu ya Moana! Kalok malas kau, di rumah aja kau! Lagi pulak kalok bawak kau, banyak kali mintak mu itu!" Butet mengomel seraya beranjak menuju ke kamarnya.


Moana hanya mencebik kan bibirnya dan kembali fokus pada game yang sedang ia mainkan.


Sesaat kemudian, terlihat Butet sudah berganti pakaian saat ia keluar dari kamarnya. Tidak lupa sebuah dompet ia selipkan di ketiaknya dan beranjak ke dapur untuk mengambil keranjang belanja yang biasa ia bawa saat ke pasar tradisional.


"Ibu mau kemana bu?" Tanya bibik yang terlihat bingung sata Butet menjinjing keranjang belanja yang terbuat dari anyaman plastik. Pasalnya baru saja tadi pagi bibik belanja kebutuhan dapur di pasar. Namun pagi menjelang siang ini Butet terlihat ingin berbelanja kembali.


"Ke pajak lah, masak iya aku mau holiday kek gini," Celetuk Butet.


"Memang ibu mau belanja apa? Kan tadi pagi-pagi sekali, saya sudah belanja,"


"Mau belik ikan mas aku, bik. Buat bapak," Ucap Butet seraya tersenyum semringah.


Bibik pun ikut tersenyum. Kini ia mengerti, mengapa Butet ingin sekali berbelanja. Bibik menjadi saksi, betapa romantisnya Butet dan Moan saat mereka kembali bersama. Tidak ingin merusak kebahagiaan majikannya, bibik pun membiarkan Butet pergi untuk berbelanja.


.


11.30 WIB waktu di mana semua orang mulai memenuhi cafe dan restoran untuk makan siang. Cafe Moan pun terlihat begitu ramai oleh pengunjung. Tidak hanya pegawainya, Moan pun tampak sibuk membantu melayani tamu tamu yang datang silih berganti.


"Rom! itu meja dua puloh udah jadi minomnya?" Tanya Moan kepada pegawainya.


"Hai Moan,"


Terdengar suara seorang wanita, tengah menyapa Moan dari arah belakang Moan.


Moan mengerutkan keningnya dan langsung menoleh ke belakang. Moan tampak begitu terkejut, saat melihat seorang wanita cantik sedang tersenyum dan berdiri tepat di depannya saat ini.


"Apa kabar kamu?" Tanya wanita itu seraya mengulurkan tangan kanannya.


Moan melirik tangan wanita tersebut dengan ragu, lalu ia mencoba membalas senyuman wanita tersebut.


"Ri-ri-risma?"


Wanita itu tersenyum semringah, saat Moan menyebut namanya.


"Lama tidak bertemu ya Moan. Kamu apa kabar?"


"Ba-baik," Sahut Moan, seraya menjabat tangan Risma.


Risma adalah mantan kekasih Moan saat di awal ia masuk kuliah. Namun hubungan keduanya bubar begitu saja karena merasa masing-masing tidak ada kecocokan lagi. Dulu, Risma juga pernah mendatangi Moan di cafe yang sama. Saat itu Butet juga bekerja di cafe itu untuk membantu Moan. Butet pernah bertemu dengan Risma dan Butet sangat cemburu kepada Risma. (-Dapat di baca di novel saya sebelumnya, Kost Putri-)

__ADS_1


"Wah, cafe kamu sangat maju ya sekarang. Hebat kamu Moan," Ucap Risma, seraya melihat ke sekeliling cafe milik Moan yang terlihat jauh lebih baik, dari pada saat awal dirinya merintis cafe tersebut.


"Iya lah, kan udah lama jugak, Ris. Masak kek gitu gitu aja," Ucap Moan, seraya tersenyum kikuk.


"Hmmmm, tadinya aku sempat berpikir kalok ini udah bukan cafe mu loh. Sempat ragu juga aku tadi mau singgah. Tapi aku pikir, aku mau makan siang, jadi sekalian lah. Eh, ternyata aku lihat kamu di sini," Terang Risma, panjang lebar.


"Oh, kek gitu. Dudok lah kalok kek gitu. Mau pesan apa kau Ris?" Tanya Moan.


"Ish.. kok kau kau sama aku Moan? Biasanya panggil aku kamu.." Goda Risma, seraya tersenyum manis pada Moan.


Moan terdiam sejenak. Lalu dengan ragu, ia membalas senyuman Risma dan memberikan Risma buku menu yang ada di tangannya.


"Kamu sibuk? Atau gimana? Kalau gak sibuk, duduk lah kita di sanan dulu ya," Ucap Risma, seraya menarik tangan Moan dengan lembut.


"Mampos aku!" Batin Moan.


"Ayok lah.." Ajak Risma lagi.


"Ngg... kau liat lah lagi rame kali ini loh Ris," Ucap Moan.


Risma melihat ke sekelilingnya sejenak, lalu ia kembali menatap Moan dengan seksama.


"Rame ya. Ya sudah, aku duduk dulu sambil pesan makanan. Nanti aku kalau sudah gak sibuk, kamu temani aku ya. Aku lagi butuh teman loh ini Moan. Ada yang mau aku ceritakan sama mu. Sebetulnya aku kesini memang mau cari kamu loh, Moan,"


Moan menelan salivanya. Lalu ia hanya tersenyum kepada Risma.


"Ya sudah, aku duduk dulu ya," Ucap Risma, seraya beranjak ke satu-satunya kursi yang masih kosong di cafe tersebut.


Moan menatap Risma dari belakang. Wanita itu tampak sangat cantik dengan rambut cokelatnya yang di blow, serta dress bodycon nya yang membuat lekuk tubuh Risma terlihat begitu jelas.


"Bos!" Tegur Romi.


Moan terperanjat, saat Romi menyapa dirinya.


"Kau! buat tekejot aja!" Ucap Moan dengan raut wajah yang terlihat kesal.


"Kalo liat yang bening bening tolong berkedip bos. Kering nanti matanya," Seloroh Romi.


"Banyak cakap mu! Cok kau tanyak dulu sanan, dia mau pesan apa," Ucap Moan, seraya beranjak ke dapur.


Di dapur, Moan menuangkan segelas air putih di gelas. Lalu dengan cepat ia meminum air putih tersebut hingga tak bersisa setetes pun di gelas tersebut.


"Ngapain dia muncol lagi ya? Kalok liat si Butet, mampos aku di buatnya. Untong nya lagi gak ada si Butet." Batin Moan.

__ADS_1


"Eh, tapi katanya dia sengaja pulak nyarik aku ke sini. Takot kali aku bah! Tepergok pulak sama si Butet nantik. Tapi kek serius kali si Risma tadi, ada apa ya? penasaran pulak aku jadinya. Tapi... ah, gak mungkin mau ke sini si Butet. Sejak lahir si Moana, kan malas si Butet ikot-ikot ke cafe. Ah.. temuin aja lah. Ada apa rupanya. Mau kawen apa kek mana dia? Barang kali tah dia mau kasi undangan tah dia mau kasi info apa kan.. mana tau aku." Batin Moan lagi.


__ADS_2