Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Meninggalkan Rumah


__ADS_3

Di kamarnya, Butet sedang mengemasi pakaiannya. Sesekali ia mengusap air matanya yang berlinang begitu saja tanpa mampu ia tahan. Rasa di khianati membuat Butet ingin minggat dari rumah tersebut. Ia tidak ingin satu rumah lagi dengan Moan yang telah tega menodai janji pernikahan mereka berdua. Apalagi penghianatan yang Moan lakukan bukan karena Moan jatuh cinta dengan seorang wanita, melainkan Moan bermain-main dengan wanita malam yang menurut Butet sangat beresiko akan membawa penyakit pada Moan maupun dirinya.


"Tega kau ya bang, apa kurang ku? Dari gaya jajar genjang, segitiga siku-siku, sampek limas segi lima pun aku bisa. Tapi kenapa kau carik perempuan kek gitu lagi?" Sesal Butet, sambil memasukkan pakaiannya ke dalam koper.


"Dek, dengar dulu penjelasan abang dek. Abang bisa jelaskan ini semua. Gadak nya abang maen di luar. Sumpah dek! Demi Tuhan!" Moan yang baru saja masuk ke dalam kamar, memohon kepada Butet untuk diberikan kesempatan baginya menjelaskan asal muasal aplikasi pembawa petaka itu.


"Apalagi yang mau kau jelaskan bang! Jelas-jelas aplikasi itu ada di hape mu. Satu lagi ya bang, ID nya pakek namamu. Cewek itu juga telepon, bilang kalau dia janjian samamu. Disitu juga tertulis kalau kau takot di telepon binikmu, teros kau di suruh pulang. Untung aku telepon kau ya bang, kalok gak, mantap-mantap kau di luar sanan!"


Moan menghela nafas panjang, ia tidak mampu menampik bila semua tuduhan itu memang mengarah kepada dirinya. Pasalnya ponsel itu miliknya, di situ juga tertulis bila ID pada aplikasi tersebut memakai namanya. Moan benar-benar merasa stress karena ia tidak tahu lagi akan berkata apa kepada Butet yang berniat meninggalkan dirinya.


"Dek...." Panggil Moan dengan wajah dan suara yang memelas.


"Diam kau bang! Pokoknya kita cere!" Jerit Butet.


"Dek, sumpah dek. Ini kerjaan si Choky, kawan abang. dia tadi pinjam hape abang. Rupanya dia install aplikasi ini di hape abang." Terang Moan.


"Hah? kau pikir aku percaya ya bang? Paok kali rupanya aku? Orang gilak pun gak mungkin percaya apa cakapmu," Ucap Butet, seraya bertolak pinggang.


"Ya Tuhan dekkk... Ajab kali bah! Sumpah lah dek, kalok adek gak percaya sama abang, ayok kita temui si Choky, kawan abang itu."


"Aku percaya sama kawanmu? Apa gak paok namanya? Tau lah aku, laki-laki itu udah kompak dia nutupin aib kawannya!"


"Dekk... Ya Tuhan.... Tolong Tuhannn.." Keluh Moan.


"Gosah kau bawak-bawak Tuhan ya bang! Tuhan pun gak ikhlas namanya kau bawak-bawak! Manusia berdosa nya kau!"


"Makjanggg...! Kau salah paham dek!" Moan mulai terpancing emosinya, karena ia merasa tidak bersalah sama sekali.


"Mulai naek sasak kau bang! Tinggi nada suaramu ku dengar!" Protes Butet.

__ADS_1


"Jadi cemana aku? Aku udah cakap jujur, kau pun gak percaya. Stress kali bah!" Moan mengacak-acak rambutnya dan terduduk di tepi ranjang.


"Mamak sama bapak ngapain? Recok kali pun malam-malam."


Moan dan Butet menoleh ke arah pintu kamar mereka. Tanpa mereka sadari, Moana, putri semata wayang mereka sudah berdiri di ambang pintu kamar tersebut .


"Kok gak kau tutop pintunya?" Tanya Butet seraya mendelik kan matanya kepada Moan.


"Panik aku liat kau mau pergi!" Ucap Moan.


"Hehehe, boruku, kenapa kau bangun nak? Balek kau lagi ke kamar ya sayang." Pinta Butet kepada Moana yang masih berdiri mematung di ambang pintu kamarnya.


"Ck! Kek mana lah aku bisa tidor, mamak sama bapak recok kali dari tadi. Mulai di ruang tamu sampek ke kamar. Gak bisanya di tunda sampek besok?"


Moan dan Butet saling bertatapan, saat mendengar protes dari putri mereka.


"Mamak jugak, ngapain malam-malam masok kan baju kedalam koper? Mau pigi rupanya mamak?" Tanya Moana lagi, seraya beranjak mendekati dan melihat koper milik Butet.


"Gadak cerita! Moana ikot sama aku. siap ni, aku bawak baju Moana sekalian!" Ucap Butet seraya mengancingkan kopernya.


"Eh, kok kek gitu dek! Jadi abang sama siapa? Kok pigi semua kelen? Kok di tinggal abang dek?" Moan pun semakin panik.


"Kau patut di tinggal Moan! Biar bisa senang-senang kau sama cewek-cewek macan macan malammu itu!" Ucap Butet seraya beranjak ke kamar Moana.


Kini di dalam kamar tersebut tinggallah Moan dan putrinya Moana. Mereka saling bertatapan dengan wajah yang terlihat putus asa.


"Jangan kau dengar cakap mamakmu ya boruku. Gadak nya bapak kek gitu di luar sana." Terang Moan.


"Macan macan malam itu apa pak?" Tanya Moana dengan polosnya.

__ADS_1


Moan memijat pelipisnya yang terasa pusing, lalu ia kembali menatap Moana dengan raut wajah yang sedih.


"Jangan kau ikot mamakmu ya nak. Nantik bapak sama siapa? Lagi pulak, mamakmu belom tau mau kemana dia." Hasut Moan.


"Kalok aku tinggal di sini, apa bapak ada di rumah teros? Kan bapak sering kali ke luar ke luar, aku sama mamak pun sering kali bapak tinggal."


Seketika Moan terdiam membisu. Ia mulai menyadari bila ikut menjadi member club motor untuk melampiaskan hobi dan rasa stress setelah menghadapi segudang kesibukannya, adalah keputusan yang salah.


Segudang kesibukan memang membuat seorang tulang punggung keluarga, khususnya seorang ayah menjadi stress dan jenuh. Namun tanpa mereka sadari, rasa stress dan jenuh tersebut juga hinggap pada anak dan istri mereka yang seharian di rumah.


Kebanyakan dari para istri atau anak-anak mereka enggan untuk menyampaikan betapa mereka menginginkan kehadiran seorang ayah atau suami, walaupun hanya satu atau dua jam saja. Dan mereka lebih memilih untuk pasrah, karena mereka mencoba memahami bila seorang ayah atau suami juga butuh refreshing.


Namun bagaimana cara refreshing laki-laki? kebanyakan dari laki-laki, lebih memilih menghibur dirinya sendiri di luar sana dan menjadikannya suatu keharusan. Hingga tanpa mereka sadari, perlahan keutuhan rumah tangga mereka pun retak, menjauh dan hancur.


Memang tidak ada salahnya lelaki menghibur dirinya sendiri di luar sana, mencari hiburan dengan versinya sendiri. Tetapi kembali lagi pada statusnya, apakah dia seorang suami? Apakah dia seorang ayah? Atau dia belum menikah? Semua ada porsinya masing-masing. Bila memang itu sesekali, mungkin bisa di maklumi. Tetapi bila itu menjadi keharusan setiap ada waktu luang yang seharusnya di persembahkan untuk keluarga, bukankah lebih baik waktu yang sempit itu di persembahkan saja untuk keluarga?


Moan pun tercenung, batinnya mulai bergelut dengan perasaan penyesalan yang tak mungkin bisa lagi di tarik kembali.


"Moana! Ayok ikot mamak!" Ucap Butet yang baru saja masuk ke dalam kamar, seraya meraih tangan Moana dan mengambil kopernya.


"Dek..." Tak ada kata lain yang terucap dari bibir Moan. Yang terlihat hanya tatapan memohon di kedua matanya, agar Butet dan Moana tidak pergi meninggalkan dirinya.


"Kita cere bang! Perbuatanmu itu gak termaafkan bagiku!" Ucap Butet.


"Dek, Moana..." Moan meraih kedua tangan anak istrinya tersebut.


"Lepas bang, jan sampek koper ini melayang ke mukak mu." Ancam Butet.


Moan tertunduk lesu. Perlahan ia melepaskan tangannya dari tangan anak dan istrinya. Di susul dengan beranjaknya Butet dan Moana keluar dari kamar tersebut.

__ADS_1


"Dek, liat nanti ya dek. Abang bisa buktikan kalok abang gak salah sama sekali. Demi apapun, abang bisa bersumpah dek! Gadak abang khianati cinta abang padamu walaupun seujung kukupun."


Namun, apapun itu, tidak akan merubah kenyataan. Bila Butet dan Moana kini pergi meninggalkan Moan sendirian di rumah yang telah mereka bangun dengan penuh cinta dan kasih itu.


__ADS_2