Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
High Value Woman


__ADS_3

"Siap?"


"Siap!" Sahut Ardi, yang duduk di bangku penumpang, di dalam mobil yang hendak Dewa kemudikan.


"Let's gooooo..!" Seru Dewa. Lalu Dewa menjalankan mobilnya.


Seperti janji Dewa, ia akan mengajak Ardi dan Sri untuk liburan keluarga, setelah sekian lama Dewa absen dalam mengajak anak dan istrinya untuk berlibur. Di samping Dewa, terlihat Sri sedang duduk dan terus menoleh ke belakang. Sri menatap Ardi yang terlihat begitu bahagia. Sedangkan Dewa, lelaki itu terus melirik ekspresi bahagia dari anak dan istrinya.


Hampir dua tahun lamanya, Dewa absen mengajak Sri dan Ardi untuk berlibur. Semua itu sejak pernikahan dirinya dengan Grazia. Grazia terus merengek untuk di temani, saat wanita itu tengah mengandung Kimberly. Bukan tidak pernah Dewa meminta izin untuk berlibur dengan Sri dan juga Ardi. Namun Grazia selalu ada saja alasan agar Dewa tidak keluar Kota bersama dengan keluarganya.


"Aku lagi hamil loh mas.."


"Aku sedang hamil tua loh mas.."


"Aku sebentar lagi lahiran loh mas, nanti waktu kamu keluar Kota, aku kontraksi, bagaimana?"


"Aku baru melahirkan loh mas.."


"Anak kita masih bayi loh mas. Kamu tahu sendiri, Kimberly ini gak bisa tidur kalau gak ada kamu."


Selalu seperti itu alasan yang di lontarkan oleh Grazia. Yang membuat Dewa menjadi tidak tega untuk meninggalkan keluarga barunya demi Sri dan Ardi. Tanpa Dewa sadari, Sri dan Ardi pun berhak atas diri Dewa.


Poligami, hal yang paling di takuti oleh istri manapun. Kecuali atas ridho sang istri sendiri atau keikhlasan yang memang muncul dari batin sang istri. Namun poligami yang di lakukan Dewa berbeda dengan poligami yang sebenarnya. Dewa menikah diam-diam yang melukai hati sang istri sah, yaitu Sri. Ditambah dengan ketimpangan porsi dari segi waktu dan lain sebagainya, yang membuat Dewa terkesan tidak adil dalam berbagi waktu dan kasih sayang. Hal itu tentu saja menimbulkan banyaknya konflik antara Dewa dan Sri.


Korban dari ketidak adilan itu juga menimpa Ardi. Karena waktu Dewa yang tujuh puluh persen di kantor, sisanya terpaksa harus di rebut oleh Grazia dan Kimberly. Tanpa sang anak tahu, bila ayahnya bukan di sibukkan oleh pekerjaan. Melainkan sang ayah memiliki keluarga baru yang harus di perhatikan. Tentu saja hal itu merebut hak Ardi, yang juga merupakan anak kandung Dewa.


Sesungguhnya tidak ada manusia manapun yang mampu berlaku adil saat memiliki dua keluarga, atau lebih. Mulai dari segi perasaan, perhatian, keuangan dan lain sebagainya. Yang membuat semua terasa berjalan baik-baik saja, sebenarnya ada hati yang begitu ikhlas dan mengalah dalam segala hal. Yaitu istri pertama.


Mobil yang di kendarai Dewa berhenti di halaman parkir Bandar Udara Soekarno-Hatta, di Cengkareng. Ya, mereka akan melakukan perjalanan ke luar Kota. Yaitu ke Labuhan Bajo. Dewa sengaja memilih Labuhan Bajo menjadi destinasi wisata keluarga kecilnya. Selain Ardi yang sangat suka dengan petualangan, Dewa juga pernah berjanji kepada Sri, untuk mengajak pujaan hatinya itu ke Labuhan Bajo. Meskipun janji itu sudah sangat lama, namun tidak ada kata terlambat untuk mewujudkannya.


"Kita sudah sampai bandara," Ucap Dewa dengan ekpresi wajah yang terlihat begitu bersemangat.


"Yeay!" Seru Ardi.

__ADS_1


Mereka pun beranjak turun dan mengeluarkan koper yang berisi barang bawaan mereka. Lalu setelah itu, mereka pun melangkah menuju ke gedung keberangkatan dengan tujuan penerbangan domestik.


"Ayah.." Panggil Ardi, saat mereka sudah berada di dalam ruang tunggu penerbangan tujuan mereka.


"Ya?" Sahut Dewa, seraya menatap putra semata wayangnya itu.


"Terima kasih, ya ayah.." Ucap Ardi.


"Untuk?" Tanya Dewa lagi.


"Untuk ini semua. Ardi sangat bahagia, yah."


Deg!


Hati Dewa terasa terhantam sembilu, saat mendengar ucapan terima kasih dan juga ekpresi wajah polos, namun penuh dengan rasa syukur, dari putranya tersebut.


"Sama-sama nak," Ucap Dewa, dengan ujung suara yang tercekat.


"Ardi sebenarnya sudah lama ingin liburan sama ayah dan bunda lagi. Tapi, ayah sibuk. Sekarang Ardi benar-benar sangat bersyukur sekali. Karena ayah sudah punya waktu lagi untuk Ardi dan bunda."


"Maafkan ayah ya.." Ucap Dewa, seraya menahan tangisnya.


"Gak apa ayah. Ayah bekerja untuk Ardi dan bunda. Ardi bangga pada ayah," Ucap Ardi lagi.


Kini Dewa terdiam membisu. Ia hanya dapat mengusap puncak kepala putranya dengan hati yang terluka. Terluka karena kebodohannya sendiri.


Dreeett..!


Dreeett..!


Tiba-tiba saja ponsel milik Dewa berdering. Dewa pun meraih ponselnya yang berada di dalam tas. Lalu ia melihat ke layar ponselnya dan seketika raut wajahnya pun terlihat kesal saat mengetahui orang yang menghubungi tersebut adalah Grazia. Dengan cepat, Dewa mematikan ponselnya dan kembali menyimpan ponsel tersebut kedalam tasnya. Lalu Dewa kembali menatap Ardi dan Sri yang duduk di sampingnya. Ardi menatap wajah Dewa yang terlihat kesal, pun dengan Sri yang terlihat memasang wajah datar, kala Dewa menatapnya.


"Kenapa di matikan, yah?" Tanya Ardi.

__ADS_1


"Tidak apa. Itu dari boss ayah. Ayah kan sedang tidak bekerja," Pungkas DewaDewa, seraya tersenyum kepada Ardi.


Ardi mengangguk paham dan membalas senyuman ayahnya tersebut.


Lalu Dewa kembali melirik Sri yang kini sedang sibuk dengan ponselnya. Lalu dengan cepat, Dewa meraih tangan Sri dan menggenggamnya dengan erat. Sri pun melirik Dewa dengan seksama. Lalu ia hanya dapat pasrah dan membiarkan tangannya di genggam oleh sang suami. Sri pun menyimpan ponselnya dan menghela napas panjang.


"Ternyata begini rasanya jadi pelakor, yang di utamakan," Batin Sri, seraya tersenyum sendiri.


Dewa yang menyadari bila Sri sedang tersenyum sendiri, pun melirik Sri dan menatap istrinya tersebut dengan tatapan bingung.


"Kenapa?" Tanya Dewa, yang terlihat begitu penasaran.


"Tidak apa-apa mas," Sahut Sri, seraya terus tersenyum.


"Ih, kenapa?" Desak Dewa, yang semakin penasaran.


"Tidak apa-apa, ih!" Sri menatap Dewa, seraya terus tersenyum.


Dewa pun hanya dapat pasrah dengan jawaban yang tidak memuaskan dari Sri. Lalu ia kembali berinteraksi kepada Ardi yang kini mulai mengajaknya berbicara.


Sri kini tenggelam dalam pikirannya sendiri dengan senyuman yang terus menghiasi wajahnya yang cantik.


"Kamu merebut suamiku, akan aku rebut suamiku kembali. Kamu menyita waktu suamiku, akan ku sita kembali waktunya. Kamu bermain busuk, aku akan beri kamu paham, bagaimana cara bermain sesungguhnya. Tunggu masa mu Grazia. Kamu akan menangis di kaki ku." Batin Sri, seraya mengigit bibirnya dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu puas.


.


"Kemana sih dia! Apa dia lupa kalau dia memiliki istri dan anak juga di sini!" Grazia terlihat begitu emosi, saat Dewa menolak panggilan darinya.


"Tidak bisa di biarkan! Kamu tahu akibatnya bila kamu mempermainkan aku, mas?. Aku akan datangi rumahmu dan beritahu istri dan anak mu, bila ada aku yang juga berhak atas kamu!" Batin Grazia.


"Aku akan datangi rumahmu, mas!" Gumam Grazia, dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu emosi.


.

__ADS_1


"High value woman akan menyelesaikan masalahnya dengan baik. Mampu memilih strategi untuk membalas rasa kecewanya tanpa menjatuhkan harga dirinya sendiri." -De'rini-


__ADS_2