
"Bagaimana kabar Kimberly mas?" Tanya Sri, saat Ardi baru saja meninggalkan Sri dan Dewa di ruang keluarga.
Dewa menghela napas panjang dan menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Sebelumnya aku minta maaf, karena kejadian ini, kamu jadi menungguku."
"Tidak apa mas," Jawab Sri seraya menguap karena mulai merasa mengantuk.
"Jangan bilang kalau semalam kamu tidak tidur," Ucap Dewa, seraya memperhatikan Sri yang mulai mengedip ngedipkan matanya yang terasa perih.
"Tidur kok mas, hanya saja cuma sebentar," Ucap Sri, berkilah.
"Maaf ya. Begitu aku sampai, kondisi Kimberly sangat gawat. Dia demam tinggi dan.."
"Dan apa?" Desak Sri.
"Dan aku harus menghadapi dia dulu." Sambung Dewa.
Sri langsung paham dengan kata-kata Dewa. Sudah pasti Grazia akan mengamuk, saat bertemu dengan Dewa yang menghilang selama satu minggu.
"Lalu, Kimberly sakit apa?" Tanya Sri lagi.
"Dia terkena RSV," Ucap Dewa.
Seketika kantuk Sri pun menghilang. Ia tampak terkejut dengan penyakit yang di derita oleh Kimberly.
"Kok bisa?" Tanya Sri yang tampak begitu khawatir.
Dewa menatap Sri yang terlihat memang peduli pada Kimberly, tanpa di buat-buat. Lalu ia menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak tahu dari mana Kimberly mendapatkan virus tersebut.
"Semoga Kimberly cepat sembuh ya mas.." Ucap Sri dengan nada suara yang terdengar begitu khawatir.
Dewa menatap Sri begitu lama, hingga akhirnya sebuah pertanyaan keluar dari mulutnya.
"Kenapa kamu begitu peduli pada Kimberly?" Tanya Dewa.
Sri terdiam beberapa saat, lalu ia tersenyum tipis dan membalas tatapan Dewa dengan seksama.
"Aku wanita dewasa mas, tidak ada alasan ku untuk membenci seorang bayi." Pungkas Sri.
Dewa terlihat begitu malu dengan jawaban cerdas dari Sri. Belum sempat ia mengajukan pertanyaan lainnya, Sri pun sudah beranjak dari duduknya.
"Aku tidur dulu mas, aku sangat mengantuk. Kalau kamu mau kembali ke rumah sakit, kembalilah. Kimberly sangat membutuhkan kamu," Ucap Sri, seraya tersenyum dan beranjak menuju ke kamarnya.
Dewa terperangah, ia mematung saat mendengar ucapan Sri. Di mana ia bisa mendapatkan wanita dengan hati yang luas seperti itu lagi? Mungkin walaupun ia mencari di seluruh dunia pun, ia tidak akan pernah mampu menggantikan sosok wanita seperti Sri.
Perasaan menyesal kembali menyerang pikirannya. Andaikan ia tidak pernah datang ke acara ulang tahun Grazia, mungkin tidak akan pernah terjadi hal seperti ini. Ia tidak akan pernah mengecewakan sosok wanita selembut dan sebaik bidadari itu. Dewa termenung, sesekali ia menghela napas panjang dan mengusap wajahnya dengan gusar. Lalu ia pun beranjak dari duduknya dan menyusul Sri yang tengah berbaring di atas ranjang. Tanpa kata, Dewa ikut berbaring di samping Sri yang tampak sudah memejamkan kedua matanya. Lalu Dewa memeluk erat Sri dari belakang. Sri yang tampak sedang tertidur itu pun perlahan membuka kedua matanya. Ia termenung beberapa saat, saat ia di peluk erat oleh Dewa. Lalu perlahan ia kembali memejamkan kedua matanya dan merasakan kenyamanan dari pelukan yang di berikan oleh Dewa. Tak lama kemudian, ia pun terlelap dalam pelukan sang suami.
.
__ADS_1
Butet tampak termenung di tepi ranjangnya. Perasaan nya saat ini terasa begitu enteng. Pasalnya semua masalah yang terendap di sudut hatinya, akhirnya mampu ia ceritakan pada seseorang, yaitu Sri. Telah lama kenangan pahit itu ia simpan rapat-rapat seorang diri. Ia tidak pernah membicarakan nya pada siapapun, termasuk Moan.
Selama ini Butet merasa malu, bila kisahnya ada yang mengetahui. Namun keputusannya untuk menyembunyikan masalah ini, ternyata berefek tidak baik pada kondisi emosinya. Andaikata Sri tidak membahasnya, mungkin Butet tidak akan membicarakan nya pada Sri. Mungkin selama ini orang mengira Butet tidak dewasa, pemarah dan juga sosok yang egois. Tanpa siapapun tahu, sebenarnya itu hanya sebagai pertahanan Butet atas perlakuan sekitarnya.
Kisah masa lalunya cukup membuat Butet merasa terhina, kecewa, sakit hati dan fisik, serta akrab dengan tangisan ibunya yang setiap malam, membuat Butet tidak ingin di sakiti oleh siapapun lagi. Ia hanya sedang melindungi dirinya sendiri, tanpa Butet peduli akan penilaian orang lain.
Memiliki teman seperti Sri adalah anugerah bagi setiap orang. Mungkin kita banyak sekali memiliki teman, namun tidak banyak yang bertanya tentang keadaan kita, mengkritik kita, memberitahu kita mana yang pantas dan tidak pantas, menegur kala kita berbuat salah, bertukar pikiran dan menenangkan. Butet adalah salah satu orang yang beruntung di dunia ini, setelah Cempaka dan juga Siti.
"Ngidam apa lah mamak si Sri dulu ya? Atau jangan-jangan, mamak si Sri dulu nyurik selendang bidadari. Teros si Sri itu di bedong pake selendang bidadari. Jadi kek gitu anaknya." Batin Butet.
Lalu Butet tertawa sendiri dan mulai meraih ponselnya, Butet pun mulai mencari nama Moan yang sudah 2x24 jam tidak menghubungi dirinya.
"Minta maaf lah dulu aku sama bang Moan ya? Teros suruh dia pulang." Batin Butet.
Baru saja Butet mulai mengetik permintaan maafnya melalui pesan untuk Moan, Butet pun kembali menghapusnya dan mengurungkan niatnya.
"Duh... kok gengsi kali aku rasanya ya Tuhaaaannn!" Keluh Butet.
Tiba-tiba saja ia teringat ucapan Sri yang mengusulkan Butet untuk menemui psikiater atau psikolog. Butuh waktu yang lama bagi Butet untuk berpikir dan mencoba mencari tahu praktek Psikiater atau psikolog terdekat dari rumahnya. Hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk membuang rasa malunya dan mulai menghubungi seorang psikiater yang membuka praktek tak jauh dari rumahnya. Setelah berkonsultasi sekitar beberapa menit, akhirnya Butet pun memutuskan untuk membuat janji temu dengan sang psikiater.
"Aku harus sembuh dari trauma!" Tekad Butet di dalam hati.
.
Jreng!
Jreng!
Jreng!
Tampak Rozy keluar dari rumahnya dan berdiri di beranda rumah seraya memegang segelas kopi. Ia menatap sosok lelaki yang berada di kegelapan beranda atas rumah kost nyak Komariah dengan seksama.
"Ada anak kost Batak lagi apa yak?" Batin Rozy.
Namun setelah ia kembali mencermati suara lelaki yang sedang bernyanyi itu dengan seksama, ia pun mulai menyadari bila sosok itu bukanlah anak kost baru, melainkan itu adalah sosok Moan.
"Woi! Moan!" Panggil Rozy.
Seketika, Moan berhenti bermain gitar dan bernyanyi. Moan menatap Rozy yang berdiri di branda rumahnya.
"Oh bener, ternyata elu. Ngapa lu sendirian aje di sono? Kaga pulang lu?" Tanya Rozy.
"Eh, bang Rozy. Enggak bang, aku kan masih anak kost di sini," Ucap Moan.
"Alahhh... banyak gaya lu Moan. Sini dah ngopi kite..." Rozy melambaikan tangannya untuk mengajak Moan duduk bersama dengan dirinya di beranda rumah peninggalan orang tuanya itu.
"Iya bang, aku turun ya," Ucap Moan, seraya beranjak dari duduknya.
"Gi dah!" Sahut Rozy.
__ADS_1
Dengan cepat, Moan beranjak turun dan bergegas menuju ke rumah Rozy.
"Mbokk.. minta tolong bikinkan kopi satu lagi ya!" Seru Rozy, seraya melongok dari pintu depan rumahnya.
"Iya pak.." Sahut wanita paruh baya yang Rozy pekerjakan untuk membantu sang istri di rumah.
"Weh.. udah punya asisten bang?" Tanya Moan berbasa basi.
"Iya.Hehehe.." Rozy tertawa kikuk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Gue baru sadar Moan, setelah bini lu beliin bini gue gaun."
Deg!
Moan tidak pernah tahu, bila Butet pernah membelikan Cempaka sebuah gaun.
"Gaun?" Tanya Moan.
"Iyak, udeh cukup lama sih. Selama ini gue berpikir kalau bini itu memang harus ngerjain semua sendiri. Tetapi, gara-gara gaun pemberian dari bini lu, semua berubah. Gue baru menyadari kalau bini gue itu ternyata lusuh banget. Gak pernah dandan dan selalu pake daster. Kadang, dasternya udeh sobek masih aja di pake."
Moan terdiam mendengar ucapan Rozy.
"Kadang, pas gue pulang kerja, bini gue sih dandan ala kadarnya. Tapi mukanya keliatan capek banget. Dulu gue berpikir, nyak gue bisa lakuin semuanya sendiri, pastinya bini gue juga bisa. Ternyata gue salah, walaupun bini bisa melakukan pekerjaan rumah sendiri, tapi kalau kita mampu, kenapa kita kaga kasih asisten? Kasihan juga."
"Nyesel banget gue waktu itu, waktu bini gue cobain gaun dari bini lu. Ada kata-katanya yang bikin gue kek ketampar gitu." Sambung Rozy.
"Apa bang?" Tanya Moan, yang tampak penasaran.
"Yah, pokoknya intinya dia bilang gini. 'Dia udah lama gak pernah punya gaun cakep lagi. Udah lama gak bisa dandan. Udah lama dia merasa kehilangan dirinya sendiri, sampe dia merasa rendah diri'. Di situ gue merasa hina banget jadi laki-laki." Terang Rozy.
"Ini pak, kopinya," Ucap asisten rumah tangga Rozy, seraya menghidangkan kopi itu di atas meja.
"Terima kasih ya mbok," Ucap Rozy.
"Sama-sama pak," Sahut asisten rumah tangga itu.
Rozy kembali menatap Moan dengan seksama. Lalu ia tersenyum kepada Moan.
"Moan, kalau lu pulang, tolong sampaikan salam gue buat Butet ye. Bilang sama die, kalau gue ngucapin banyak terima kasih untuk gaun yang die kasih ama bini gue. Terima kasih udah membuat gue sadar, betapa gue gak guna jadi lakik, sebelumnya."
Moan tersenyum canggung, lalu ia mengangguk dengan perlahan.
"Ya udeh, lu minum dah kopinye. Kita nyanyi-nyanyi lagi lah.. Gue suka kok lagu Batak," Ucap Rozy.
"Ah, yang bener bang?" Moan tampak begitu bersemangat.
"Iye.. lu kira lu doang yang hafal lagu Batak? Sombong amat lu!" Ucap Rozy.
Mpan tertawa geli dan bersiap untuk memainkan lagu Batak yang di request oleh Rozy. Namun sebelum ia mulai memetik gitarnya, ia mulai berpikir tentang ucapan Rozy dan pesan Rozy untuk Butet. Sebenarnya Butet adalah wanita yang baik, wanita yang selalu peduli dengan sekitarnya. Butet banyak memahami tentang teman-temannya, namun mengapa Butet sangat sulit untuk memahami dirinya? Pertanyaan itu terus berputar di otak Moan.
__ADS_1
"Apa kurangku? Kenapa dia lebih bisa memahami orang lain, di bandingkan aku? Apa aku termasuk suami yang buruk? Apa aku yang kurang memahami Butet?" Batin Moan.