
"Gimana Tet?" Tanya Sri, saat Butet baru saja keluar dari ruangan dokter psikiater.
"Tet, wajahmu kok ngunu..? koe nangis Tet?" Tanya Sri lagi.
Butet menghela napas panjang dan menatap Sri dengan seksama.
"Aku gak apa lo." Jawab Butet.
"Tadi gimana di dalam?" Tanay Sri, seraya mengimbangi langkah kaki Butet.
Butet menghentikan langkah kakinya, lalu ia menatap Sri dengan seksama.
"Sri, aku banyak terima kasih sama mu ya."
"Loh, ada apa Tet?" Sri tampak tidak mengerti dan semakin penasaran.
"Aku lega setelah bercerita semua masalahku sama dokter. Aku juga tadi di akupuntur dan di hipnoterapi juga." Terang Butet.
"Syukur lah.." Sri menghela napas lega.
"Kamu di kasih obat gak?" Tanya Sri.
"Syukur nya sih enggak, cuma butuh kontrol bertahap aja nanti."
"Alhamdulillah.." Sri tersenyum puas dan memeluk Butet dengan erat.
"Eh Sri,"
"Ya?"
"Makan yok, lapar kali aku." Keluh Butet.
"Iya sama. Enake mangan opo yo Tet?" Tanya Sri dengan wajah polosnya.
"Gak tau aku loh. Rasanya kok bingung kali. Apa yang kau rasa cocok?" Tanya Butet.
Mereka berdua pun tampak berpikir di lorong rumah sakit tersebut.
"Hmmm.. gado-gado! gimana?" Tanya Sri.
"Ish, bentuk nya kek gitu, udah mual aku bayangin bau kacang nya."
Sri menghela napas dan mencoba berpikir makanan yang lain.
"Nasi padang?"
Butet menarik kedua bola matanya ke atas.
"Santan-santan gitu. Tiap hari santan ke santan aja aku, banyak lemak ku nanti."
"Terus opo toh Tet?"
Mereka berdua tampak putus asa. Lalu mereka memilih untuk duduk di bangku yang berada di lorong tersebut.
"Kayaknya masakan si Cempaka enak ya Sri."
Sri menoleh dan menatap Butet dengan seksama.
"Loh, kok podo? Aku baru aja berpikir mau minta makan sama Cempaka."
Seketika wajah Butet pun terlihat bersemangat.
"Alih-alih mau silaturahmi ya, terus kita abeskan nasi nya satu dandang!"
"Setuju!" Sri terkekeh dan mereka berdua pun beranjak meninggalkan rumah sakit tersebut.
.
Ting!
__ADS_1
Tong!
Ting!
Tong!
Seorang wanita paruh baya tergopoh menuju ke ruangan depan rumah majikannya. Lalu dengan cepat ia membuka pintu rumah tersebut. Butet dan Sri sempat tertegun melihat sosok yang tidak mereka harapkan muncul di depan mereka. Lalu mereka berdua saling bertatapan.
"Apa rumah nya udah di jual yo Tet?" Gumam Sri.
"Hus!"
"Siapa mbok?" Terdengar suara Cempaka yang sedang berada di dalam.
"Nah, itu Cempaka!" Seru Butet.
Tak lama kemudian, muncul lah Cempaka dari ruang tengah ke ruang depan. Butet dan Sri pun tertegun saat melihat Cempaka sahabat mereka. Belum genap dua bulan lamanya mereka tidak bertemu, namun Cempaka tampak begitu berbeda di mata mereka berdua.
"Ya Allah.. Tet, Sri. Ayo masuk," Ucap Cempaka, seraya menghampiri dan memeluk Butet dan Sri.
Butet dan Sri masih terheran-heran melihat sosok Cempaka saat ini. Di mata mereka berdua, Cempaka itu adalah sosok ibu pada umumnya. Pakaian dinasnya adalah daster, tataan rambut favoritnya adalah di cepol. Tidak lupa gendongan kain batik yang selalu terlilit di dada Cempaka. Namun hal itu tidak terlihat pada Cempaka saat ini. Penampilan Cempaka sangat segar, cantik, rapi dan sangat menarik. Bila saja Cempaka berjalan seorang diri di pusat perbelanjaan, mungkin saja orang-orang akan nengira dirinya . asih gadis atau single.
Butet dan Sri masih terus bertatapan, lalu sesekali mereka melemparkan pandangan mereka pada Cempaka yang terlihat begitu bahagia atas kedatangan mereka berdua.
"Kalian teh mau minum apa?" Tanya Cempaka.
Butet dan Sri masih fokus ppada penampilan Cempaka yang kini terlihat begitu modis. Rambut Cempaka terurai dan terlihat habis di blow. Yang paling menyita perhatian Sri dan Butet adalah, lipstik berwarna Chery mewarnai bibir tipis sahabatnya tersebut.
"Kalian teh kenapa? Kok diam saja?" Tanya Cempaka seraya mengerutkan keningnya.
"Ini kau Cem?" Akhirnya Butet tidak sabar untuk mempertanyakan perubahan drastis dari sahabatnya itu.
"Iya atuh ih. Kamu pikir saya teh siapa? Jurig?" Tanya Cempaka.
"Beda kali kau... Ya kan Sri?" Butet menyenggol lengan Sri yang masih terpukau dengan penampilan Cempaka.
"Ah iyo," Ucap Sri, saat Butet menyenggol lengannya.
"Ng..." Sri dan Butet tidak dapat berkata-kata. Mereka berdua hanya dapat tersenyum canggung.
"Ini teh berkat kamu Tet."
"Aku?" Tanya Butet dengan ekspresi bingung.
"Iya, ini teh karena kamu. Kalau saja kamu tidak memberikan aku gaun waktu itu, mungkin saja a' Rozi teh tidak peka." Terang Cempaka, seraya tersenyum malu-malu.
"Owalahhh.." Sri mulai paham dengan apa yang terjadi.
"Terus?" Tanya Butet.
"Sekarang teh, saya sudaah di perlakukan seperti princess," Sambung Cemana dengan ekspresi wajah yang malu-malu.
"Nah.... patutlah aku tekejot liat kau Cem. Ku kira anak gadis mana tadi, ya kan Sri." Butet pun menyenggol lengan Sri.
"Ah iyo. Aduhh.. saiki kamu ayu nemen loh Cem." Puji Sri.
"Terima kasih ya.." Ucap Cempaka seraya tersipu malu.
"Jadi, kau gak boleh masak lah ya sekarang?" Tanya. Butet tanpa berbasa-basi sebelumnya.
"Sebenarnya sih gak boleh. Tetapi, Kadang-kadang saya teh masak. Khusus untuk a' Rozi dan anak-anak saja." Terang Cempaka.
"Terus, sekarang koe masak apa enggak?" Tanya Sri.
Cempaka mengerutkan keningnya dan menatap kedua sahabatnya itu. Sedangkan Butet dan Sri tampak menunggu jawaban Cempaka dengan harap harap cemas.
"Enggak." Jawab Cempaka.
"Yah...!" Sri dan Butet tampak kecewa. Saking kecewanya, mereka menepuk dahi dan menyenderkan punggung mereka di senderan sofa.
__ADS_1
"Aya naon?" Cempaka terlihat bingung dengan ekspresi para sahabatnya itu.
"Tapi kau ada bahan makanan gak?" Tanya Butet.
Sri dan Butet kembali menatap Cempaka dengan tatapan penuh harapan.
"Kebetulan teh habis. Baru saja niat saya mau belanja nanti malam sama a' Rozi."
"Bah!" Butet dan Sri kembali menelan rasa kecewa.
"Ih kalian teh aneh. Kalian teh kenapa atuh?" Tanya Cempaka yang semakin tidak mengerti dengan tingkah dua sahabatnya itu.
"Kami kesini mau minta makan! Lapar tau!" Ucap Butet dengan penuh emosi.
Cempaka hanya mampu mengerutkan keningnya.
"Iya, kami lapar! Kami mau makan masakan kamu Cem!" Sambung Sri.
"Kalian teh kenapa? Harus saya gitu yang memasak untuk kalian?" Tanya Cempaka dengan polosnya.
"Iya!" Sahut Butet dan Sri secara bersamaan.
Cempaka terheran-heran, lalu ia menatap Butet fan Sri secara bergantian.
"Kalian teh ke sirep memedi di mana? Kok kalian begini?" Ucap Cempaka.
"Pokoknya kamu masak Cem! Cepat!" Ucap Sri.
"Gak ada yang mau di masak atuh!" Keluh Cempaka.
"Ayo cepat masak Cem!" Butet beranjak dari duduknya dan mulai memapah Cempaka menuju ke dapur.
"Ya Allah.. kalian teh kenapa!" Cempaka terlihat panik bukan kepalangan.
1 jam kemudian.
"Mantap, mantap," Ucap Butet, seraya menyuapkan udang bakar madu ke dalam mulutnya.
"Seger banget Cem!" Ucap Sri, seraya menambahkan karedok ke dalam piringnya.
Cempaka hanya mampu terdiam seraya terus menatap tingkah aneh kedua sahabatnya.
"Aku mau tambah ikan bakar lah wee," Ucap Butet.
Cempaka menghela napas panjang, lalu ia memanggil pelayan restoran untuk memesan ayam bakar.
"Ya teh?" Tanya pelayanan restoran tersebut.
"Tambah ayam bakar nya satu ya a',"
"Baik teh." Pelayan restoran itu pun bergegas untuk menyampaikan pesanan tersebut ke dapur.
Kini Cempaka kembali menatap kedua sahabatnya yang sedang makan dengan lahap.
"Mau masakan Sunda saja, pakai repot kalian tuh. Tinggal ke restoran nya saja atuh... hedeeehh..!"
"Maap ya princess nya a'a Rozi," Ucap Butet seraya tertawa geli.
"Hihihihi.. pokoknya kami ingatnya masakan koe Cem. Wes rasah protes! Pokoke, koe sing mbayar yo.."
"Lah, kenapa saya atuh?" Tanya Cempaka.
"Harus! Mau nya kamu yang bayar!"
Cempaka kembali merasa heran dengan sikap kedua temannya.
"Kalian teh habis main di semak-semak ya? Kayaknya setelah ini kalian harus ikut saya ke kyai. Mau ya di rukiyah?" Ucap Cempaka dengan polosnya.
Namun Butet dan Sri tampak tidak mempedulikan dirinya. Mereka berdua tampak sangat lahap menyantap hidangan yang tertata di atas meja.
__ADS_1
"Sudah pasti kesurupan si Butet teh sama si Sri." Batin Cempaka.