Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Kita adalah IBU untuk orang tua kita


__ADS_3

"Uni, ibunya sudah boleh pulang ya," Ucap suster yang sedang mengecek keadaan bundo Halimah.


"Alhamdulillah..! bun, bundo alah buliah pulang bun..!" Seru Siti yang merasa sangat bahagia mendengar ibunya sudah boleh berkumpul dengan keluarga di rumah.


Namun ekspresi wajah bundo Halimah tidaklah segembira Siti. ia tampak menanggapi Siti dengan datar.


"Kini, kita siap-siap pulang nah," Ucap Siti seraya memasukan pakaian kotor milik bundo Halimah ke dalam tas.


"Ka kama den ka pulang?" Tanya bundo Halimah.


Siti yang tadinya gembira, kini terlihat down. Lalu Siti beranjak duduk di atas ranjang, tepat di samping bundo Halimah.


"Bun, kito pulang ke kontrakan Siti dulu nah," Ucap Siti dengan suara yang terdengar lembut dan merayu.


"Hah! ka rumah kau dan laki kau itu? Sempit!" Protes bundo Halimah.


"Bun, kalau indak ka sinan? ka kama lai?" Tanya Siti.


"Aden ka karumah abang kau, si Fadli!" Tegas bindo Halimah.


"Astaghfirullahalazim, bun... Bundo belum sembuh betul. Pakai apa bundo ka kasinan?" Tanya Siti.


"Aden minta di jampuik jo si Fadli."


Kesabaran Siti benar-benar di uji oleh ibu kandung nya sendiri. Kini bundo Halimah tak lebih seperti seorang anak kecil yang sangat sulit di atur.


"Bun.."


"Aden nio tingga jo si Fadli!" Teriak bundo Halimah.


"Bun, sadar bun! Uda Fadli se indak amuah menampuang bundo! Apo lagi bini nyo, bundo ka jadi apo di sinan? Bundo kenapa sih selalu begini? bundo kecewa jo ambo? bundo kecewa karena ambo indak menikah jo urang kayo rayo? hah!" Siti pu meluapkan segala emosi yang selama ini terpendam.


Bundo Halimah menatap Siti dengan tajam.


"Iyo! laki kau itu pamaleh! indak amuah karajo! beban keluarga! miskin dan indak bisa manga-manga!" Tegas bundo Halimah.


"Innalillahi... bundo!" Siti tidak dapat lagi membendung emosinya. Hingga suaranya pun ia tinggikan dan mulai menarik perhatian orang yang berada di ruangan tersebut.


"Laki ambo memang bukan urang kayo rayo! Tapi cubo bundo pikiaan, sia nan mambiayai rumah sakik iko? apo uda Fadli? bukan bun! yang mambaia rumah sakik ko uda Batra!"


Halimah terdiam membisu.


"Apo nan di harokan dari ambo? ambo indak karajo doh bun! sadonyo pitih dari uda Batra! inyo nan tunggak tunggik mancari pitih! tau di bundo!"


Halimah melemparkan pandangannya ke segala arah.


"Laki ambo memang bukan urang kayo rayo, seperti nan bundo idam-idamkan. Tapi, tulusnyo inyo, lai afo di laki-laki lain? Andaikan Siti menikah jo urang lain, Siti bisa pastikan bila dak do nan seperti uda Batra yang tulus menerima Siti fan terutama BUNDO!" Tegas Siti.


"Uni.. saba ni.. ibunyo baru sajo sembuh." Suster mencoba menenangkan Siti.


"Suster bisa diam indak!" Bentak Siti yang sudah mulai kesetanan, karena ibunya yang sangat keras kepala dan angkuh.


"Bundo ka kama? Ka uda Fadli kan? Ambo antaan hari ko juo!" Ucap Siti seraya memanggul tas pakaian bundo Halimah.


Bundo Halimah hanya terdiam membisu, tanpa sepatah katapun.


"Uni.. ingek uni, iko urabg gaek," Ucap suster tersebut.


Beberapa orang yang berada di ruangan itu pun mulai berbisik-bisik. Sebagian dari mereka hanya melihat sisi dari permukaan nya saja, maka tak bisa di hindari, bila mereka mengecap Siti adalah anak durhaka.

__ADS_1


"Ayo! kalau amuah ka rumah uda Fadli. Ambo balian tiket hari ko juo! biar bundo marasoan tingga jo uda Fadli dan bininyo!" Ucap Siti lagi.


"Eh kau! Jan mode tu jo urang gaek!" Ucap seorang wanita berumur sekitar tiga puluh tahun seraya mencoba untuk merekam Siti di ponselnya.


"Eh kau! jan ikuik campua kau ya! Iko amak den, iko urusan den!" Ucap Siti, seraya menunjuk wanita tersebut.


"Begini ini ges.. anak durhaka, dari tadi dia bentak-bentak ibunya yang baru aja sembuh dari stroke!" Ucap wanita itu seraya terus merekam Siti dan wajah Halimah.


"Kalera waang! Matian hape ang tu! indak sopan ang! Ang indak tau rasonyo jadi aden!" Maki Siti.


"Kau nan indak sopan! Den piral kan ang beko!"


"Muncuang ang lae!" Siti semakin emosi karena ada yang mencoba ikut campur dengan urusannya.


"Iya, memang anak durhaka ko! Amak nyo surang di bentak-bentak nyo," Ucap bundo Halimah seraya menunjuk Siti.


"Allahu Akbar!" Siti merasa benar-benar putus asa dengan sikap ibunya.


"Tuh kan, amak nyo surang mangecekan inyo durhaka ges," Ucap wanita itu seraya tertawa meledek.


Siti sudah tak sanggup lagi. Ia menaruh tas milik bundo Halimah dan menatap bundo Halimah dengan seksama.


"Sekarang giko bun, kalau bagi bundo ambo adalah anak durhako, apo bundo indak tahu, ado juo amak durhako di dunia ko?" Tanya Siti.


Bundo Halimah memalingkan wajahnya dan tersenyum sinis.


"Entah apo salah ambo dan uda Batra. Kini ko bundo lah sembuh. Kok bundo memang nio tingga jo uda Fadli, pai lah. Siti indak ka malarang doh," Ucap Siti dengan wajah yang terlihat sangat putus asa. Namun bundo Halimah tidak sekalipun menjawab. Ia terus tersenyum sinis dan membuang muka.


Siti sudah tidak tahan lagi, terutama terdengar bisik-bisik orang yang ada di ruangan itu yang mengatakan bila dirinya adalah anak durhaka. Lalu Soti mengeluarkan beberapa lembar uang tunai dan memberikannya kepada bundo Halimah.


"Ini pitih untuk bundo pai ka rumah da Fadli. Kapanpun bundo ka pulang, Siti tunggu bundo di kontrakan Siti. Bundo Niar lai tau di ma kontrakan Siti," Ucap Siti. Lalu ia menaruh uang tunai tersebut di atas meja.


"Huuuu...! Anak durhaka kau!" Sorak semua orang, saat Siti meninggalkan ruangan tersebut.


Tiada hari tanpa air mata, selama Siti menjaga bundo Halimah di rumah sakit. Dan kini pun saat bundo Halimah sembuh, wanita yang telah melahirkan dirinya itu pun ikut mempermalukan dirinya di depan orang ramai. Hati Siti mulai membatu, ada rasa kesal, menyesal dan juga sedikit mengutuk ibunya yang tidak pernah sekalipun memberikan dirinya apresiasi. Apapun yang ia lakukan selalu saja salah. meskipun ia adalah seorang anak perempuan, yang di dalam adat Minangkabau, ia adalah penerus marga dan di sebut anak yang menjadi penerus rumah Gadang.


"Uda!"


Baru saja siti turun dari ojek yang ia tumpangi, ia pun memanggil Batra yang sedang memandori tukang yang sedang membangun rumah orang tuanya.


Batra menoleh, lalu ia menatap Siti yang berlari ke arahnya sambil sesekali mengusap air mata. Batra sudah paham apa yang terjadi, walaupun Siti belum menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi.


Brukkk..!


Siti menjatuhkan tubuhnya di pelukan Batra, lalu ia memeluk suaminya itu dengan erat sambil sesekali terisak dan meluapkan emosi dan kesediaanya.


Batra menghela napas panjang, lalu ia membalas pelukan Siti dengan erat.


"Sabar.." Hanya itu yang terucap dari bibir Batra.


"Huhuhuhuhuhuhu aa-aku sssu-sudah ti-tidak tahu la-lagi da," Ucap Siti, terbata.


"Kenapa?" Tanya Batra, seraya mencoba untuk menatap wajah istrinya.


"Bundo.. hu hu hu hu hu." Kali ini Siti benar-benar menangis meraung layaknya anak kecil. Tentu saja melihat Siti yang seperti itu, mengundang rasa penasaran orang-orang di sekitarnya.


"Kenapa bundo? Bukanya katanya bundo sudah boleh pulang? Apa sesuatu terjadi sama bundo?" Tanya Batra dengan mimik wajah yang tampak khawatir.


Melihat orang-orang yang mulai berdatangan untuk mencari tahu, Batra pun paham, bila nanti masalah keluarganya akan menjadi sasaran empuk para penggosip ulung. Batra sangat menjaga kehormatan nama keluarga istrinya. Lalu dengan cepat, Batra pun mengajak Siti untuk menepi dan menenangkan Siti, agar Siti dapat bercerita tentang apa yang terjadi.

__ADS_1


Seorang tukang membawakan segelas air putih tanpa di minta sebelumnya. Batra pun tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepada tukang tersebut. Setelah Siti meminum air itu, Batra pun segera mencoba menenangkan Siti dengan mengusap lembut punggung istrinya tersebut.


Perlahan Siti mulai menceritakan apa yang baru saja ia alami, kepada sang suami. Batra hanya mampu mendengarkan cerita Siti dengan seksama, tanpa sedikitpun memotong keluh kesah istrinya tersebut.


"Siti durhaka ya da? Siti salah ya da, karena Siti membiarkan bundo pergi begitu saja?" Tanya Siti, di sela isak tangisnya.


Batra tersenyum dan mengusap lembut pipi Siti, seraya menatap istrinya itu dengan penuh kasih sayang.


"Kamu kasih uang kan?" Tanya Batra.


Siti pun mengangguk dengan perlahan.


"Ya gak durhaka dong. Yang durhaka itu, sudah membentak, membiarkan dan tidak peduli. Kalau kamu masih memberikan uang, tandanya kamu belum durhaka," Ucap Batra seraya mengisap rambut Siti yang menutupi keningnya yang berpeluh.


"Habisnya keterlaluan da! Sudah jelas uda Fadli sama istrinya begitu. Dia gak ingat apa dia stroke gara-gara uda Fadli? Apa dia mau mati di rumah uda Fadli? Melihat uda Fadli yang begitu dan istrinya yang super cerewet!" Ucap Siti dengan berapi-api.


"Hust.. istighfar sayang. Meninggal, bukan mati."


"I-iya, maksudnya itu!" Ucap Siti, seraya mengerutkan dagunya.


"Apa sih yang kamu takutkan? Kalau memang itu yang menjadi pilihan bundo, ya biarkan saja."


"Kok gitu da?" Siti mengerutkan keningnya dan menatap Batra dengan seksama.


"Maksud saya tuh, kita lihat dia tahan berapa hari? Sehari? dua hari? atau dua hari setengah? Sudah gak usah khawatir. Pegang omongan uda, nanti bundo akan kembali dan ingin tinggal sama kita."


Siti tercenung, kedua matanya menghadap ke atas dan wajahnya terlihat sedang berpikir keras.


"Tuhan maha membolak balikan hati. Tuhan juga maha petunjuk. Mungkin saja tiba di sana nanti, bunda mendapatkan petunjuk dari uda Fadli dan istrinya. Yah, syukur-syukur mereka sudah bertaubat dan mau menerima bundo. Kalau tidak, bundo pasti balik ke sini kok, apa yang kamu ragukan? Mungkin selama ini bundo selalu menganggap apapun yang kamu lakukan itu salah dan tidak berkenan di hatinya. Tetapi kamu sadar gak dengan sesuatu?"


"Apa da?" Tanya Siti, seraya mengusap air matanya.


"Dengarkan aku baik-baik ya sayang... dan cam kan ini dalam hati dan pikiranmu."


"Iya apa? buruan da.." Siti mulai terlihat tak sabar.


"Orang tua itu seperti anak kecil. Dan kamu percaya gak, kalau anak kecil hanya bisa bertingkah pada orang yang sebenarnya sangat dekat dengannya. Dengan orang yang paling mengerti dirinya. Dengan orang yang mau memakluminya. Coba kamu ingat, apakah anak-anak kita mau rewel atau bertingkah dengan ibu orang lain? kan jawabannya enggak kan?"


Siti menggelengkan kepalanya dengan perlahan.


"Nah... saat ini, anggaplah kamu sebagai IBU untuk bundo. Maklumi dan turuti apa maunya saat ini. Dan kita berdua, fokus saja dengan pembangunan rumah ini. Nanti, saat bundo pulang, insya Allah dia akan senang melihat rumahnya sudah berdiri lagi."


Siti terdiam dan menatap Batra dengan begitu mengagumi sosok suaminya tersebut.


"Sayang, kamu sudah tahu seperti apa bundo. Ada baiknya kita tidak mengambil hati apapun yang di ucapkannya. Saat ini, kita sebagai anak dan juga orang tua bagi ibu atau bapak kita yang sepuh, bila kita masih memiliki bapak. Sabar saja, fokus dengan tujuan kita dan impian kita. Bila bundo datang kembali, anggaplah kehadirannya membawa rezeki untuk kita. karena menanggung orang tua, itu sama dengan mengundang rezeki. Kalu bukan kita, siapa lagi? Sudah jangan sedih, sini peluk."


Batra merentangkan tangannya lebar-lebar.


"Ya Allah uda kanduang! Kekasih hati, laki ambo, cinto ambo, segalanyo ambo!" Siti melompat ke pelukan Batra dan mendekapnya dengan erat.


"I love you too sayangku. Jangan pernah ada tangis lagi di wajahmu ya. Kamu itu ratu bagiku. Masa ratu menangis?" Ucap Batra seraya menatap Siti dan memegang kedua pipi Siti dengan talapak tangannya.


"Udaaaaa...! Siti gak tahu lagi kalau uda yang bukan jadi suami Siti. Kalau bukan uda, pasti udah lama Siti cerai sama suami Siti."


"Hus! Kamu tulang rusuk ku, titik! Gak ada kalau kalau!" Ucap Batra seraya mengerutkan dagunya.


"Indak uda. Hanya uda seorang. Pokoknya uda, gak boleh yang lain!" Tegas Siti.


Batra tertawa dan kembali memeluk Siti dengan erat. Namun walaupun bibirnya tersenyum, terlintas perasaan khawatir di benaknya.

__ADS_1


"Apakah bundo baik-baik saja? Apakah bundo hari ini jadi ke Batam? Ya Allah, berikanlah keselamatan pada mertua hamba." Pinta Batra jauh di sudut hatinya yang paling tulus.


__ADS_2