
"Hati-hati ya kau Sri. Tarimokasih alah mengantarkan kita sadonyo," Ucap Siti, seraya memeluk dan mengecup pipi sahabatnya, Sri.
"Yo. Yo wes aku muleh." Sri tersenyum dan kembali masuk ke dalam mobilnya.
Siti, Batra dan juga anak-anak mereka pun melambaikan tangan kepada Sri dan juga anak Sri. Sri dan putranya pun membalas lambaian tangan Siti dan keluarganya. Perlahan mobil yang di kendarai Sri pun meninggalkan pekarangan rumah kontrakan milik sahabatnya itu.
"Bunda, ayah kapan pulang?" Tanya Ardi, anak satu-satunya Sri.
Sri yang sedang menyetir pun melirik putranya tersebut. Lalu ia mencoba tersenyum untuk memenangkan Ardi yang terlihat murung.
"Ayah akan pulang secepatnya le..." Ucap Sri. Lalu ia kembali fokus dengan jalanan Ibukota yang terlihat padat merayap.
"Aku kangen sama ayah, bun."
Sri terdiam, lalu ia menghela nafas panjang dan menahan rasa sedihnya seorang diri.
Empat tahun pertama, rumah tangga Sri sangat harmonis. Dewa adalah lelaki yang sangat penyayang dan sangat mencintai Sri. Namun menjelang tahun ke lima, sikap Dewa mulai membuat Sri bertanya-tanya. Pasalnya Dewa terlalu sering ke luar Kota. Bila Sri bertanya, Dewa hanya mengatakan karena urusan pekerjaan.
Sri adalah tipe istri yang begitu penurut, tidak mau banyak bertanya dan tidak juga terlalu mengekspresikan apa yang tengah ia rasakan. Pun walaupun sikap Dewa sangat mencurigakan, Sri juga tidak mau banyak bertanya pada suaminya itu.
Lagipula selama ini hubungan mereka pun harmonis, bila ada perubahan dari Dewa, Sri hanya mencoba untuk berfikir positif saja.
Suatu ketika, Sri menerima tagihan kartu kredit di rumahnya. Biasanya Sri tidak pernah membuka isi dari tagihan kartu kredit, bila ia menerimanya. Namun kali ini entah mengapa ia ingin sekali membuka isi dari tagihan tersebut. Maka Sri pun bertekad untuk membaca isi dari surat tagihan tersebut. Dengan berhati-hati, ia pun membuka lem dari amplop surat tagihan tersebut, tanpa merobeknya. Akhirnya amplop itu pun terbuka dan dengan segera, Sri mengambil isi dari amplop tersebut dan mulai membacanya.
Sri terdiam sejenak, saat melihat deretan tagihan yang membuat kepalanya pusing. Pasalnya ada banyak tagihan yang harus Dewa bayar, namun Sri tidak pernah tahu menahu tentang barang dan segala hal yang tertera di surat tagihan tersebut.
__ADS_1
"Astaghfirullah, mas Dewa. Buat siapa mas Dewa beli barang-barang ini?" Batin Sri.
Firasat Sri mulai tidak enak dengan segala kenyataan yang baru saja ia ketahui. Meskipun begitu, ia mencoba untuk tenang dan kembali meletakkan surat tagihan itu ke dalam amplopnya lagi. lalu kemudian ia lem kembali dengan rapi dan menaruhnya di atas meja nakas di kamarnya dan Dewa.
Setelah itu Sri termenung di ruang keluarga dan mencoba memikirkan apa yang terjadi dengan kepala dingin.
"Apa mas Dewa selingkuh?" Gumamnya.
Lalu Sri mencoba menatap jam di dinding ruang keluarga, jarum jam menunjukkan pukul setengah sebelas siang, yang di mana Sri sedang sendirian di rumah. Sedangkan anaknya sedang di sekolah dan Dewa sedang di kantor.
Entah mengapa Sri ingin sekali mencari tahu tentang semuanya. Tetapi ia harus menjemput anaknya dulu dari sekolah. Maka Sri bersiap-siap untuk menjemput buah hatinya. Setelah itu ia pun pergi meninggalkan rumah dan menuju ke sekolah Ardi.
Sri bukanlah pengangguran, ia bekerja dari rumah untuk perusahaan di luar Negeri. Gajinya perbulan pun cukup memuaskan, sedangkan ia pun mendapatkan nafkah dari Dewa setiap bulan dengan jumlah yang sangat cukup. Setelah Butet, Sri termasuk hidup yang mapan di antara Cempaka maupun Siti.
Pada pukul dua belas siang, Sri sudah bergerak meninggalkan sekolah Ardi. Hari ini adalah hari jumat, maka sekolah Ardi pulang lebih awal. Sri mengajak anaknya ke rumah salah satu kerabat Sri dan berniat untuk menitipkan Ardi di sana.
Rumah kerabat Sri tidak jauh dari sekolah Ardi. Ia pun singgah dan berbasa basi terlebih dahulu sebelum ia mengutarakan bila ia berniat untuk menitipkan Ardi kepada kerabatnya tersebut. Setelah pukul tiga sore, Sri pun beranjak meninggalkan rumah kerabatnya seorang diri. Ia pun melajukan mobilnya menuju ke kantor Dewa.
Tepat pukul setengah empat, Sri sudah tiba di kantor Dewa dan memarkirkan kendaraan nya tak jauh dari mobil Dewa. Mata Sri terus menatap ke arah mobil Dewa. Cukup lama Sri menunggu Dewa, hingga akhirnya pada pukul lima sore, Dewa keluar dari kantor tersebut.
Sri terus mengawasi Dewa yang ternyata berjalan ke arah mobilnya seorang diri. Sempat merasa kecurigaan nya tidak beralasan, namun Sri tetap menunggu Dewa pergi meninggalkan kantor nya. Akhirnya Dewa meninggalkan parkiran kantor dengan mobil mewahnya. Sri pun ikut bergerak membuntuti mobil Dewa yang berjalan dengan kecepatan sedang.
Sri memperhatikan jalan yang di lalui oleh Dewa, namun semua terlihat wajar. Jalan itu memang akan menuju ke rumah mereka. Sri menghela nafas panjang, jantungnya terus berdegup tak beraturan. Rasa bersalah mulai menyerang otaknya yang terus menuduh Dewa sedang berselingkuh. Namun saat berada di lampu merah perempatan, Dewa yang seharusnya mengambil jalan lurus bila hendak pulang ke rumah mereka, namun justru Dewa berbelok ke arah kiri.
Nafas Sri pun mendadak sesak, namun ia mencoba terus berkonsentrasi, agar ia tidak kehilangan jejak Dewa yang mulai meningkatkan kecepatan mobilnya. Hingga beberapa menit kemudian, sampailah Sri di sebuah gerbang perumahan elite dengan sistem one gate dan pengamanan yang sangat ketat. Yang berarti Sri tidak bisa sembarangan masuk tanpa tujuan yang jelas.
__ADS_1
Sri sempat berusaha masuk dan meminta izin kepada petugas keamanan. Namun karena ia tidak dapat menyebutkan dirinya atas undangan atau rumah tujuannya, ia pun di paksa untuk memutar balik dan meninggalkan perumahan itu. Sri hanya dapat pasrah, saat melihat mobil Dewa dengan santai melenggang masuk tanpa adanya pertanyaan dari para petugas keamanan. Layaknya Dewa memang sudah biasa keluar masuk perumahan tersebut. Atau bahkan petugas keamanan di sana sudah sangat mengenal Dewa.
Sri sempat ingin mengatakan bila dirinya adalah tamu dari Dewa. Namun ia ragu, karena ia masih berpikir bila Dewa tidak mungkin memiliki rumah di komplek tersebut. Saat itu Sri masih berpikir bila Dewa hanya singgah ke rumah boss atau rekannya yang memiliki rumah di komplek itu. Akhirnya Sri memutuskan untuk menunggu Dewa saja dan memarkirkan mobilnya beberapa meter dari gerbang perumahan tersebut.
Cukup lama Sri berdiam di dalam mobilnya. Hingga ia pun memutuskan untuk menghubungi Dewa yang tak kunjung keluar dari perumahan tersebut.
"Halo mas," Sapa Sri.
"Ya?"
"Mas pulang jam berapa?" Tanya Sri tanpa berbasa basi.
"Aku lembur. Mungkin pukul sepuluh malam aku baru pulang dan sampai di rumah pukul sebelas malam." Terang Dewa.
Hati Sri bagaikan tersambar petir. Ia tahu Dewa berbohong dan ia jelas-jelas telah mengikuti mobil Dewa yang memasuki komplek perumahan di depannya tersebut.
"Oh begitu, baik mas. Nanti mas pulangnya hati-hati di jalan ya," Ucap Sri dengan suara yang bergetar menahan emosinya.
"Iya. Eh, suramu kok bergetar? kamu sakit?" Tanya Dewa yang tidak pernah kurang memberikan perhatian untuk Sri, sejak awal mereka menikah.
"Hmmm, agak tidak enak badan sedikit mas. Tapi ini sudah minum obat kok. Ya sudah, aku mau istirahat dulu ya mas."
"Oh ok, mas akan secepatnya pulang." Janji Dewa.
Sambungan telepon itu pun berakhir. Kini Sri hanya dapat termenung di dalam mobilnya, hingga ia merasa tidak kuat menunggu lama, akhirnya ia pun memutuskan untuk menjemput Ardi dan kembali pulang ke rumahnya.
__ADS_1