Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Kenyataan


__ADS_3

"Bunda, kok bengong?"


Sri tersentak dari lamunannya, saat Ardi menyenggol tangannya. Lalu ia menoleh dan menatap Ardi dengan seksama.


"Ah, bunda sepertinya mengantuk. Jadi, kita harus cepat sampai di rumah yo le.. Bunda juga lelah sekali," Ucap Sri seraya kembali melajukan mobilnya.


Tepat satu jam kemudian, akhirnya Sri dan Ardi sampai di rumah. Ardi langsung berlari masuk ke dalam rumah, sedangkan Sri terlihat menurunkan barang-barang bawaannya dan di bantu oleh seorang asisten rumah tangganya.


"Saya pikir, ibu tidak menginap. Ternyata menginap," Ucap mbok Han, yang sudah bekerja untuk Sri selama tiga tahun belakangan ini.


"Iya mbok, saya terpaksa menginap sebenarnya. Habisnya teman-teman saya meminta saya untuk menginap." Terang Sri, seraya tersenyum kepada mbok Han.


"Oh iya mbok, apa bapak sudah pulang?" Tanya Sri.


Mbok Han tersenyum getir dan menggelengkan kepalanya. Sedangkan Sri hanya terdiam dan mengikuti langkah kaki mbok Han yang membawa masuk barang-barang bawaan Sri.


Sri langsung menuju ke kamarnya. Kamar yang biasanya penuh dengan warna dan ekspresi cinta dari ia dan suaminya itu, terasa begitu sepi. Sudah lima malam Dewa tidak pulang ke rumah. Beberapa hari yang lalu, Dewa meminta izin untuk pergi ke Makassar untuk menangani proyek di sana. Namun sebenarnya Sri tahu, bila Dewa sedang tidak di Makassar.


Kembali ke ingatan Sri saat Dewa berpamitan untuk ke luar Kota, beberapa bulan yang lalu. Karena merasa bosan, Sri dan Ardi pun menghabiskan akhir pekan mereka berdua saja dengan cara berjalan-jalan di tempat wisata yang tak jauh dari Kota Jakarta. Walaupun merasa ada yang kurang, karena tidak adanya Dewa bersama dengan mereka, Tetapi Sri dan Ardi mencoba menikmati pemandangan dan juga liburan mereka.


"Bunda, aku lapar," Ucap Ardi, seraya memegangi perutnya yang terus berbunyi.


"Astaga! maafkan bunda ya nak. Ayo kita cari makanan." Ajak Sri, seraya menuntun Ardi ke arah sebuah restoran yang berada di lokasi tempat wisata tersebut.


Karena akhir pekan, tempat wisata itu sangatlah ramai. Sri berusaha menerobos kerumunan orang bersama dengan Ardi. Tiba-tiba saja matanya menatap punggung seorang lelaki yang sedang menggendong seorang anak perempuan dan juga menggandeng mesra seorang wanita muda dengan penampilan yang sangat berkelas.


Sri mengerutkan keningnya. Ia seperti mengenal sosok lelaki tersebut. Tidak hanya itu, Sri juga mengenal pakaian yang di pakai oleh lelaki itu. Walaupun Sri memiliki asisten rumah tangga, namun ia terus mempersiapkan pakaian untuk Dewa. Sudah dapat di pastikan bila ia sangat-sangat mengenal semua pakaian milik suaminya.


"Mas Dewa," Gumamnya.


Sri mencoba menerobos kerumunan, untuk menghampiri lelaki yang ia yakini sebagai Dewa. Namun tanpa sengaja, Ardi terjatuh dan menangis, karena tersandung kaki pengunjung lainnya. Fokus Sri pun terpecah. Antara ia ingin mengejar lelaki itu, atau ia membantu anaknya yang nyaris saja terinjak orang ramai. Akhirnya Sri meluluhkan egonya. Ia pun bergegas membantu Ardi untuk bangkit dan mengamankan anaknya tersebut. Namun setelah ia kembali melihat ke arah lelaki yang ia yakini sebagai Dewa, tetapi lelaki tersebut sudah hilang di telan keramaian.


Jiwa penasaran Sri pun memberontak, memaksa dirinya untuk mencari tahu. Seakan kecurigaannya terbukti, Sri menerobos semua pengunjung sambil menggendong Ardi. Namun bagaikan di telan bumi, lelaki yang ia yakini sebagai Dewa itu sudah menghilang entah kemana. Merasa pikirannya terganggu dan perasaannya tidak enak, setelah makan siang, akhirnya Sri memutuskan untuk kembali ke kediamannya dengan Ardi.


Di kediamannya, Sri termenung mengingat sosok lelaki yang sempat ia lihat di tempat wisata. Dia begitu yakin bila itu adalah Dewa. Istri mana yang tidak dapat mengenali suaminya sendiri? Hati Sri pun begitu percaya bila matanya tidak salah melihat bila lelaki itu adalah Dewa. Namun siapa wanita yang berada di samping Dewa? Dan siapa anak batita yang sedang Dewa gendong tersebut? Bila itu anak Dewa dari hasil perselingkuhannya, jelas sekali bila Dewa sudah mengkhianati Sri lebih dari satu tahun. Pasalnya anak perempuan yang di Gendong oleh Dewa, berumur sekitar empat sampai dengan enam bulan.

__ADS_1


Hati Sri terbakar cemburu, kesal, sedih dan segala yang di rasakan oleh seorang wanita atas sebuah pengkhianatan. Hati istri mana yang tidak hancur berkeping-keping kala melihat sang suami memiliki keluarga baru, tepat di depan matanya sendiri. Malam itu juga, Sri memutuskan untuk menyelidiki sendiri apa yang terjadi sebenarnya.


Esok harinya, Sri bertekad menghubungi kantor Dewa dan mempertanyakan ke hadiran Dewa di kantor pada hari Senin itu. Benar saja, ternyata Dewa tidak sedang bertugas di Makassar. Dewa hadir di kantor pada hari itu. Sri yang merasa di bohongi pun berniat untuk kembali membuntuti Dewa mulai dari kantornya.


Tepat pukul lima sore, seperti biasa, Dewa sudah berada di depan kantornya dan bergegas untuk ke parkiran mobil. Lelaki itu tidak menyadari ada sepasang mata yang sedang mengintai dirinya. Maka dengan tenang, ia pun menjalankan mobilnya menuju komplek perumahan mewah kemarin, saat Sri membuntuti dirinya pada malam hari.


Seperti biasa juga, Dewa dapat masuk tanpa di tanya sebelumya. Yang membuat Sri yakin, bila Dewa adalah salah satu penghuni di perumahan mewah tersebut. Namun yang membuat Sri bingung adalah, darimana Dewa memiliki uang untuk mengontrak atau membeli rumah di perumahan sekelas itu.


Setelah menimbang banyak akibat yang ia terima, akhirnya Sri memberanikan diri untuk memasuki komplek perumahan itu.


"Selamat malam ibu. Mau kemana?" Tanya petugas keamanan yang mencegat dirinya di pintu masuk komplek tersebut.


"Selamat malam, saya tamu undangan bapak Dewa. Tadi dia bareng dengan saya. Tetapi karena macet, akhirnya saya tertinggal jauh," Ucap Sri, jantungnya pun berdegup dengan kencang, karena ia sedang berbohong.


"Oh, bapak Dewa yang baru saja masuk?" Tanya petugas keamanan itu lagi.


"Betul pak." Sahut Sri.


"Bisa di telepon saja?" Pinta petugas keamanan itu.


"Sebentar ya bu." Petugas itu pun tampak berdiskusi dengan petugas yang lainnya. Lalu tak lama kemudian palang pintu otomatis dari gerbang tersebut pun terbuka.


"Silahkan ibu," Petugas itu pun akhirnya mengizinkan Sri untuk memasuki komplek tersebut.


Karena sempat kehilangan jejak Dewa, Sri pun terpaksa mencari mobil Dewa dari rumah ke rumah. Agak sulit bagi Sri, karena memang pagar rumah di komplek tersebut begitu tinggi dan tertutup. Sempat merasa putus asa, akhirnya Sri melintas di sebuah rumah mewah, dengan pagar yang sangat tinggi. Kebetulan sekali ada seseorang yang keluar dari rumah tersebut dan membuka gerbang rumah itu. Terlihat jelas sebuah mobil mewah berwarna hitam terparkir di dalamnya. Sri langsung dapat mengenali bila itu adalah mobil milik Dewa.


Karena ia sudah pasti tidak dapat masuk, Sri pun bertekad mencegat seseorang yang baru saja keluar dari rumah tersebut seraya mengendarai sebuah sepeda motor. Wanita pengendara sepeda motor itu pun terkejut kala Sri mencegatnya. Sempat ingin mengomel, wanita itu pun mengurungkan niatnya, kala melihat Sri tersenyum kepada dirinya.


"Maaf mbak, mbak dari rumah itu ya?" Tanya Sri, seraya menunjuk rumah yang baru saja di tinggalkan wanita pengendara sepeda motor tersebut.


"Betul bu. Ibu siapa ya?" Tanya wanita itu.


"Ah, kebetulan saya mau mencari rumah saudara saya. Namun handphone saya mati. Jadi, saya tidak dapat menghubungi saudara saya. Saya sudah lama sekali tidak ke rumahnya, jadi saya lupa-lupa ingat. Saya mau tanya boleh?"


Wanita pengendara motor tersebut mengerutkan keningnya dan menatap Sri dengan seksama.

__ADS_1


"Boleh bu." Sahutnya.


"Pemilik rumah itu siapa ya?" Tanya Sri tanpa banyak berpikir lagi.


"Oh, pemilik rumah itu non Grazia." Jawab wanita itu.


"Mbak siapanya ya?" Tanya Sri lagi.


"Oh, saya hanya pembantu bu, di rumah itu." Jawab wanita itu lagi.


"Owalah.. begitu ya mbak. Kalau boleh tahu, siapa namanya tadi? Grazia?"


"Betul bu."


"Apa dia sudah punya suami? Soalnya saudara saya yang laki-lakinya. Saya belum mengenal istri dari saudara saya. Maklumlah ya mbak, saya lama di luar Negeri." Sri terus mencoba meyakinkan wanita itu.


"Sudah bu. Baru kok menikahnya, belum ada dua tahun."


Degggg...!


Jantung Sri terus berdegup kencang. Ini adalah momen-momen di mana ia harus siap menerima kenyataan pahit, bila memang ternyata suami Grazia adalah Dewa.


"Kalau boleh tahu, nama suaminya siapa ya?" Tanya Sri lagi.


"Suami non Grazia?"


"Ya iya lah mbak, masa suami mbak nya." Celetuk Sri.


Wanita itu pun tersipu malu, hingga tertawa kecil.


"Suaminya non Grazia, namanya Mas Dewa."


Jegeeeeeeeeeeerrrrrrr...!


Langit seakan runtuh menimpa Sri yang mendadak merasa mati.

__ADS_1


__ADS_2