
Tok! Tok! Tok!
Terdengar ketukan dari luar kamar Butet. Butet yang sedang menangis, pun seketika mengusap air matanya. Lalu ia menatap wajahnya di cermin untuk memastikan wajahnya terlihat baik-baik saja, walaupun ia baru saja menangis.
Tok! Tok! Tok!
"Tet," Panggil Cempaka.
"Ya, sebentar." Sahut Butet, seraya beranjak untuk membukakan pintu kamarnya.
"Kamu teh lama sekali buka pintunya," Protes Cempaka, saat Butet baru saja membuka pintu kamarnya.
"Kenapa?" Tanya Butet.
"Eh, kamu teh menangis Tet?" Tanya Cempaka lagi, setelah memperhatikan kedua mata Butet yang terlihat sembab.
"Enggak, baru bangun tidur aku. Kenapa?" Ucap Butet, berbohong.
"Kamu teh jangan menipu saya atuh Tet. Saya teh tahu, mana yang baru bangun tidur, mana yang habis menangis. Suaramu juga berbeda atuh..." Ucap Cempaka.
Butet menundukkan pandangannya, lalu ia melangkah keluar kamar dan duduk di atas sofa ruang tamu.
Sri dan Siti yang berada di ruang tamu bersama dengan anak-anak mereka pun menoleh dan menatap Butet yang terlihat murung.
"Ado apo Cem?" Tanya Siti.
"Iya, ono opo tow?" Sambung Sri.
"Tidak ada apa-apa atuh. Si Butet teh di panggil a' Rozy." Terang Cempaka.
Sri dan Siti saling bertatapan. Mereka merasa bingung, mengapa Rozy memanggil Butet untuk menemuinya.
"Ado apo?" Siti terlihat semakin penasaran. Ia pun beranjak dari duduknya dan di susul dengan Sri yang juga beranjak duduk di samping Butet.
"Onok opo to Cem?"
"Sa-saya teh tidak tahu," Ucap Cempaka berbohong. Pasalnya dirinya sudah berjanji pada Rozy, bila ia tidak akan membocorkan bila ada Moan di rumah mereka.
"Ayo atuh, a' Rozy sudah menunggu kamu Tet." Ajak Cempaka.
"Penting kali rupanya? Ada apa rupanya?" Butet turut merasa penasaran.
"Saya teh tidak tahu. Ayo atuh..." Ajak Cempaka lagi.
"Kelen ikot?" Tanya Butet kepada Siti dan Sri.
Siti dan Sri pun saling bertatapan. Lalu tanpa aba-aba sebelumnya, mereka pun kompak menganggukkan kepala.
"Ya udah ayok." Ajak Butet.
"Kelen di sini aja ya," Ucap Butet kepada anak-anak siti dan Sri.
"Iya tante.." Sahut mereka.
Para ibu-ibu muda itu pun beranjak meninggalkan rumah kost dan berjalan menuju ke rumah utama. Butet, Siti dan Sri, berjalan di belakang Cempaka yang terlihat begitu gelisah, karena telah berbohong dan seakan menjebak Butet agar mau menemui Moan.
"Assalamu'alaikum," Ucap Cempaka, saat ia baru saja tiba di depan pintu rumahnya. Kedua mata Cempaka pun melirik ke arah sofa di ruang tamu tersebut. Lalu ia terlihat agak lega, karena ia tidak melihat Moan di sana. Di ruang tamu itu hanya ada Rozy, Batra dan Choky saja.
"Eh, anak aku mana tadi ya?" Tanya Butet, seraya menyapukan pandangannya ke halaman rumah tersebut. Lalu ia mencoba melihat ke dalam rumah Rozy dan Cempaka.
"Tet, sini dulu. Abang mau bicara ama elu." Panggil Rozy, setelah ia melihat Butet menampakkan wajahnya.
"Eh, bang Rozy. Ada apa bang?" Tanya Butet, seraya melangkah masuk dan duduk di sofa ruang tamu tersebut. Kedua mata Butet juga menatap Choky yang terus menundukkan pandangannya.
Butet dan Choky belum pernah bertemu sebelumnya. Pasalnya Moan baru saja bergabung beberapa bulan belakangan ini ke dalam Club motor yang di gawangi oleh Choky dan kawan-kawannya.
Sri dan Siti pun menyusul masuk ke dalam rumah tersebut dan ikut duduk di sofa ruang tamu tersebut.
__ADS_1
"Ada apa bang? Eh, ini siapa?" Tanya Butet seraya menunjuk Choky yang diam mematung.
"Nanti abang kasih tahu siape die. Sekarang abang mau tanya ama elu. Lu ade masalah ape?" Tanya Rozy.
Butet terlihat enggan menjawab. Pasalnya ada orang asing yang berada di ruang tamu tersebut.
"Saya teh ke dalam dulu ya. Mau buatkan minum." Cempaka mencoba menghindar dari ruangan tersebut. Sedangkan Butet langsung melirik Cempaka dengan tatapan sadisnya.
Tanpa menunggu jawaban dari orang-orang yang berada di ruangan itu, Cempaka pun langsung beranjak ke dapur untuk membuatkan minuman untuk sahabat sahabatnya.
"Astaghfirullahalazim!" Cempaka terkejut saat melihat sosok Moan dan Moana yang sedang berada di dapur. Ia langsung mengusap dadanya dan menghela nafas panjang untuk menormalkan kembali detak jantungnya yang mendadak berdegup tak beraturan.
"Ssssttt..." Ucap Moan, seraya menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
Cempaka mengangguk paham dan berjalan menuju ke meja yang ada di dapur tersebut.
"Udah datang si Butet?" Tanya Moan.
"Sudah bang." Sahut Cempaka.
"Oh ya udah, abang tunggu di sini dulu gak apa ya Cem? Soalnya abang di suruh bang Rozy tunggu di sini sama si Moana." Terang Moan.
"Gak apa atuh bang," Cempaka tersenyum dan meraih beberapa gelas dari lemari piring dan lalu membuat teh yang akan ia sajikan untuk sahabat sahabatnya.
"Abang kan pasti udah dengar nya dari si Cempaka," Ucap Butet, saat menjawab pertanyaan dari Rozy.
"Iya, udeh. Tapi kan abang mau nanya langsung sama elu Tet."
Butet kembali menundukkan pandangannya.
"Bicara aje kalo Tet. Kita ini bukan orang laen bagi elu," Ucap Batra.
Butet melirik Batra dan mulai menghela nafas panjang.
"Iya, jujur aja Tet," Pinta Rozy.
"Bang, saya tinggal dulu ya," Ucap Cempaka yang baru saja selesai membuat tiga gelas teh untuk Butet, Sri dan Siti.
"Iya," Sahut Moan.
Cempaka pun meninggalkan dapur dan bergabung di ruang tamu. Sedangkan Moan dan Moana masih tinggal di dapur, menunggu waktu untuk mereka di panggil keluar oleh Rozy.
"Oh jadi begitu," Sahut Rozy, setelah Butet selesai mengungkapkan segala permasalahannya dengan Moan.
"Iya bang, udah jelas itu hape dia. Udah jelas itu nama dia di aplikasinya. Udah jelas kali pun sama aku kalok cewek itu telepon, nanyak lokasi sama Moan. Eh, dia gak mau ngaku bang. Dia bilang itu hape itu di pinjam kawannya yang namanya coki-coki itu." Terang Butet.
"Et dah coki-coki, lu kira cokelat!" Celetuk Batra.
"Ih, manga uda ko!" Siti memukul lengan Batra, karena menimpali cerita Butet dengan candaan.
Seketika Batra langsung menutup mulutnya dan tersenyum jahil.
"Kalo si Moan kaga bohong, gimane Tet?" Tanya Rozy.
Butet tersentak, mendengar pertanyaan dari Rozy.
"Kenapa abang cakap kek gitu?" Tanya Butet kembali.
"Lu mau tau gak yang sebenarnya?" Tanya Rozy lagi.
"Yang sebenarnya?" Butet terlihat mulai bingung dengan ucapan Rozy yang terkesan berteka-teki dengan dirinya.
"Gini aje dah... Chok, lu terangin dah!" Pinta Rozy pada Choky.
Choky mengangkat wajahnya dan menatap Butet yang terlihat terperangah tak percaya, bila orang yang duduk di seberangnya itu adalah Choky yang di maksud oleh Moan.
"Dia Choky?" Tanya Butet.
__ADS_1
"Iya kak, aku Choky." Sahut Choky.
"Hah! Kok tau kau rumah ini? Si Moan yang nyuruh kau datang ya! Kok tau dia aku ada di sini? Jangan-jangan ada si Moan di sini?" Butet terlihat panik dan mencoba mencari sosok Moan dengan melongo ke arah ruang keluarga rumah tersebut.
"Tenang Tet, lu dengerin dulu aje penjelasan dari ai Choky yak." Rozy mencoba menenangkan Butet.
"Tapi bang! Ada di Moan kan? Mana dia? Berani dia datang? Hah!" Butet hendak beranjak dari duduknya untuk mencari Moan. Namun Sri dan Siti langsung berinisiatif menahan Butet.
"Kau duduak se dulu Tet! Tanangkan hati kau. Dangaan dulu apo kecek da Choky ko!" Ucap Siti.
"Iyo Tet, dadi wong kok ngamukan." Timpal Sri.
Butet mengerutkan dagunya, lalu ia kembali duduk dan mencoba menenangkan dirinya. Walaupun sebenarnya ia ingin sekali mencari Moan dan memukul suaminya itu bila terbukti ada di sana.
"Jadi gini kak, apa yang di bilang sama Moan itu betol semua kak. Itu aplikasi aku yang donlot kak. Jadi kakak jangan salah paham lagi ya kak. Swmua itu salahku kak..." Ucap Choky dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu merasa bersalah.
"Alaaaahhh.. ada maen kelen kan?" Protes Butet.
"Sumpah kak, gak ada kak. Apa yang di bilang Moan itu betol semua kak. Percaya lah kakak sama aku.." Ucap Choky lagi.
"Kek mana aku mau percaya? Namanya aja nama si Moan." Cecar Butet.
"Iya kak, aku yang salah. Aku minta maaf kali lah kak. Aku bingung mau kasih nama apa. Akhirnya aku pakek nama si Moan aja." Terang Choky lagi.
"Eh, kek gak tau aja aku cara maen kelen! Aku sama sahabat-sahabatku ini, pasti ku tutop lah busuknya orang ni!" Ucap Butet lagi.
Siti, Cempaka dan Sri serentak menatap Butet dengan kedua mata yang melotot.
"Nah, nah, punya rahasia apa kalian?" Tanya Batra.
"Dak do doh da..." Siti mulai terlihat gelisah.
Di susul dengan Cempaka yang langsung menatap Rozy dan menggelengkan kepalanya, mencoba menyangkal statemen spontan dari Butet.
"Sumpah kak, kek mana lagi aku mau jelaskan sama kakak." Choky mulai terlihat putus asa.
"Kongkalikong kelen kan?" Tuduh Butet.
"Enggak kak.." Ucap Choky dengan wajah yang memelas.
"Kau egois kali, udah di terangkan sama si Choky, gak percaya jugak kau!" Tiba-tiba saja Moan muncul di ruang tamu dengan wajah yang tampak emosi.
"Eh, kok ke sini lu! Lu belum gue panggil Moan!" Rozy mulai terlihat panik, saat melihat Moan muncul dengan wajah yang terlihat emosi.
"Biar aja bang, biar tau dia aku ada di sini. Tah cemana caranya biar dia percaya sama aku. Capek kali aku memang di buat sama dia!" Moan yang tadinya berjanji untuk tidak emosi, pun nyatanya tidak bisa menahan emosinya lagi.
"Alaaaahhh..." Batra menepuk dahinya dan menggelengkan kepalanya. Tanda dirinya mulai tidak tahu bagaimana menghadapi kekacauan ini.
"Jadi mau kau apa?" Tanya Butet, seraya beranjak dari duduknya dan berdiri menantang Moan.
"Mau aku kau balek! Ngapain kau di sini! Aku gak selingkuh! Itu udah di jelaskan sama si Choky. Kau pun bandal kali! Tah cemana caranya kasih tau kau!" Moan terlihat semakin emosi, hingga menunjuk wajah butet dengan jari telunjuknya.
"Ooooo... jadi sekarang berani kau nunjuk-nunjuk aku ya bang! Udah kasar cara maen mu!" Protes Butet.
"Ck, salah lagi aku di mata kau? Memanglah gak pernah betol aku di mata kau!" Ucap Moan, tak mau kalah.
"Woi! Udah. Moan! Kate lu mau di hadapin dengan kepala dingin!" Rozy mencoba melerai pertengkaran tersebut.
"Kek mana aku mau dingin bang! Dia kek lahar panasnya. Tepanceng jugak aku jadinya!" Moan mencoba membela diri.
"Kau emosi karena kau salah! Iya kan! Iya kan! Panas kau? Emosi? Cocok kau rasa? Enak kau di tinggal anak binik mu?" Butet terus menantang dan menguji kesabaran Moan.
"Mau kau apa!" Teriak Moan.
"Aku mau cere!" Jerit Butet, tak mau kalah.
Seketika ruangan itu pun hening.
__ADS_1