Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Pulang


__ADS_3

Hari minggu pun tiba. Sore ini Siti sedang bersiap-siap untuk kembali ke rumahnya. Karena esok hari, anak-anaknya sudah mulai bersekolah. Sedangkan Butet terlihat duduk di tepi ranjang kamar Siti dengan menatap sahabatnya yang sedang berkemas.


"Gak tinggal di sini aja kau Ti?" Tanya Butet dengan raut wajah yang cemberut.


Siti menghentikan kegiatannya yang sedang memasukkan barang-barang bawaannya ke dalam tas, dan menatap Butet dengan seksama.


"Macam mana lah Tet, besok anak-anak ku mau masuk sekolah. Da Batra pun lah masuak karajo." Terang Siti.


"Iya sih...." Ucap Butet dengan nada suara yang terdengar begitu sedih.


"Eh, ingatku si Sri gak di jemput dia sama bang Dewa?" Tanya Butet lagi.


"Mungkin laki nyo masih di lua Kota, Tet." Sahut Siti yang kembali memasukkan barang-barangnya kedalam tas.


"Oh iya ya..." Butet mengangguk paham. Lalu ia termenung mengingat betapa kurus nya badan Sri saat ini.


"Keluar Kota apa tempat binik barunya?" Celetuk Butet.


"Hust!" Siti mengibaskan tangannya di depan wajah Butet dan melotot kepada Butet.


"Kenapa kau? Kan bisa aja kan? Cok kau pikir dulu, kalok idop nya santai kek dia bilang, udah gemuk badannya sekarang. Ini kek orang kenak TBC ku tengok!"


Siti terdiam, lalu ia beranjak duduk di samping Butet.


"Kau tau, aku dua hari ni, turun berat badan ku langsung. Tiga kilo ada ku rasa." Sambung Butet.


Siti mengangguk paham, lalu ia kembali menatap Butet dengan seksama.


"Kalau lah batua nan kau kecekan tu Tet. Jahek bana mah bang Dewa." Ujar Siti.


"Bukan lagi. Sama aja laki-laki ni memang semuanya. Si Moan pun kek gitu!" Keluh Butet.


"Jan sadonyo kau pukul rato Tet! Laki ambo indak mah!" Protes Siti.


"Tah lah, Overthinking pulak kau nantik." Butet mencoba menyudahi pembahasan mereka.


"Bukan mode tu Tet. Namonyo manusia ko, mau itu laki-laki atau padusi, sadonyo samo. Ado nan jahek pikiran nyo, ado juo nan baik. Kita indak bisa mamukul rato sadonyo Tet!" Terang Siti.


"Iya iya, kok marah pulak kau! Gini ya Ti, kau itu belom merasakan apa yang aku rasakan Ti. Awalnya aku kek kau Ti, tapi sejak tau aku kelakuan si Moan di luar sanan, di situ aku kek gini Ti!" Butet mencoba berdebat.

__ADS_1


"Ahhh...! Ambo cukuik berdoa jo Allah. Kok laki ambo rasaki ambo, yo inyo akan setia. Kok indak, lah tu... Ambo tinggaan se lah!" Siti bersungut-sungut seraya menatap Butet dengan tatapan yang sebal.


"Ya, jadi gak salah aju kan, mau cere sama si Moan itu. Udah setia-setia aku jadi binik, banyak kali tingkahnya!" Ucap Butet.


Siti menghela nafas panjang dan kembali menatap Butet.


"Kau indak pikiaan dulu Tet. Baa anak kau, baa hiduik kau beko, cubo kau agiah bang Moan tu kesempatan sekali lai. Ma tau nyo berubah. Elok-elok lah lai Tet. Kini ko jadikan pelajaran. Untuak sementara indak baa kau tingga di siko, biar masing-masing dapek meredam emosi jo mengevaluasi ulang, apo nan kurang awak surang." Siti mencoba menasehati Butet.


Butet terdiam, jauh dilubuk hatinya yang terdalam, ia masih sangat mencintai Moan. Reaksi cemburu yang berlebihan, karena sebenarnya ia pun tidak mau kehilangan Moan dan merasa kecewa karena sebuah penghianatan. Reaksi alami yang di keluarkan seorang wanita, bila suaminya berselingkuh ataupun bermain nakal di luar sana dengan wanita yang seharusnya tidak sah bagi sang suami. Wanita mana yang ingin di duakan? Ataupun berbagi suami dengan wanita nakal di luar sana.


Butet juga tidak yakin hidupnya akan baik-baik saja, setelah ia bercerai dengan Moan. Terutama Moana yang pastinya sangat terpukul. Namun rasa cemburu itu membuat mata dan hatinya menjadi gelap. Ia hanya ingin Moan paham, bila mendua atau apapun namanya, itu benar-benar finish bagi Butet.


"Dah lah, Ambo lah salasai. Ambo baliak dulu yo," Ucap Siti, seraya memeluk Butet dengan hangat.


"Iya Ti," Sahut Butet, seraya membalas pelukan Siti.


Lalu mereka berdua pun keluar dari kamar tersebut. Siti langsung memanggil anaknya untuk bersiap-siap. Sedangkan Butet memasuki kamar Sri.


Sri terlihat sedang memasuki pakaiannya ke dalam tas miliknya. Ia langsung menoleh dan tersenyum saat melihat kehadiran Butet di kamarnya.


"Kowe Tet," Ucap Sri.


"Iyo Tet. Gak di jemput aku Tet, aku kan naik mobil Tet. Aku bisa kok dewean."


"Oh kek gitu. Ya udah. Hati-hati kau ya Sri."


"Iyo tet, terima kasih." Sri tersenyum manis kepada Butet.


"Eh, ingatku, bang Dewa kerja apa sekarang? Kok ke luar Kota dia Sri?"


Sri terdiam, namun ia mencoba terlihat sibuk memasukan barangnya ke dalam tas.


"Sri..." Panggil Butet.


"Ya?" Butet menantap Butet dengan wajah yang terlihat mencoba untuk baik-baik saja.


"Kau dengar kan tadi pertanyaanku?" Tanya Butet.


"Ng... mas Dewa saiki kerja di kontraktor Tet. Ini lagi onok proyek nang luar Kota." Terang Sri.

__ADS_1


"Oh kek gitu.. Iya lah.." Butet mengangguk paham.


"Yo wes Tet, aku muleh sek," Ucap Sri, seraya beranjak berdiri dan menenteng tas nya.


Butet menatap Sri dengan seksama. Lalu ia tersenyum dan turut beranjak dari duduknya. Butet menghampiri Sri yang tersenyum kepada dirinya dan memeluk sahabatnya itu dengan erat.


"Sri, kau tau kan, kalok aku sayangggg kali sama kelen semuanya. Kalok jau ada masalah apaaaaa aja, aku mohon kau cerita sama kami. Kami adalah rumah kedua buat kau Sri. Jangan pernah kau pendam sendiri ya." Bisik Butet.


Sri terdiam di pelukan Butet. Hampir saja air matanya terjatuh, kala mendengarkan ucapan tulus dari sahabatnya itu.


"Gimana aku mau cerita sama kalian semua. Kalau ternyata kalian semua pun punya masalah masing-masing." Batin Sri.


"Kau ingat itu ya Sri." Tegas Butet, seraya melepaskan pelukannya.


"Tenang... tenang Tet.." Sri tersenyum lebar dan mengangkat satu jempolnya.


"Ok lah, baek-baek kau di jalan ya."


"Iyo Tet. Kamu juga Tet. Banyak berpikir, ojok ke susuw... Sing sabar, tenangno atimu dulu Tet.."


"Ok sippp." Butet tersenyum dan mengangguk dengan cepat.


"Yo wes..."


Mereka berdua pun beranjak keluar dari rumah kost tersebut. Di halaman rumah, terlihat Batra dan Siti sudah menunggu Sri yang berjanji akan mengantarkan mereka kembali pulang ke rumah.


Sri berjalan ke arah mobilnya dan membuka kunci mobil tersebut. Lalu memasukkan barang-barang bawaan nya dan setelah itu meminta Siti untuk memasukkan barang-barang bawaan Siti dan juga keluarganya. Lalu mereka pun berpamitan kepada Rozy, Cempaka dan juga Butet. Setelah semua sudah siap, mobil Sri pun mulai berjalan meninggalkan pekarangan rumah Rozy.


Suasana sepi pun mulai terasa Kini hanya tinggal Cempaka, Rozy dan Butet, serta anak-anak mereka. Tidak langsung kembali ke rumah kost, Butet menghampiri Rozy.


"Bang, boleh nya aku tinggal di sini dulu?" Tanya Butet.


Rozy tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Boleh lah Tet. Ini kan rumah lu juga," Ucap Rozy.


Butet tersenyum seraya menahan tangis harunya, lalu ia mengucapkan banyak terima kasih pada Rozy dan Cempaka.


"Rezeki itu tidak melulu tentang uang. Namun, sahabat yang baik dan tulus adalah salah satu bentuk rezeki yang luar biasa." -De'Rini-

__ADS_1


__ADS_2