
Setelah hampir setengah jam Butet mencari Moana di Mall yang super besar tersebut, akhirnya Butet melihat Grazia dan Moana yang sedang menangis di dekat arena bermain anak-anak. Terlihat sekali wajah panik Grazia yang terus di tempel oleh Moana.
"Aku sama tante aja ya. Mamak ku ilang," Ucap Moana, seraya menangis sesenggukan.
"Bu, ini kan anak ibu yang tadi di toko," Ucap pengasuh putrinya Grazia.
"Iya, saya tahu. Tapi mana ibunya ya?" Grazia terlihat semakin panik dan celingukan melihat ke sana dan ke mari.
"Moanaaaa...!" Butet berlari menghampiri Moana yang sedang menangis, seraya memegangi tangan Grazia.
"Nah, itu mamanya.." Ucap Grazia, seraya menunjuk Butet.
Moana menoleh dan berlari menghampiri Butet.
"Mamak!"
Butet dan Moana pun berpelukan, di saksikan banyak pasang mata di sana.
"Ya ampun. Maaf ya mbak. Anak ku maen lari aja dia. Mungkin dia kira mbak itu mamaknya. Agak laen memang anakku ini, mbak," Ucap Butet kepada Grazia yang terlihat terhanyut dalam drama yang di buat oleh Moana.
"Aku piker kita gak jumpa lagi lah mak. Jadi anak tante cantek itu aku kan mak. Jadi anak orang kaya aku mak," Ucap Moana kepada Butet yang tiba-tiba saja langsung merasa tidak enak hati dengan Grazia.
"Apanya cakapmu!" Ucap Butet kepada Moana, seraya tersenyum canggung kepada Grazia.
"Sudah kak, tidak usah di marahi. Tadinya mau saya antarkan ke resepsionis. Tapi anaknya tidak mau dan terus menangis." Terang Grazia.
"Iyanya? Laen kali jangan kau men lari lari aja ya Moana. Pening mamak carik kau."
"Iya mak..." Sahut Moana, seraya menghapus air matanya.
"Nekat kali lah memang kau Moana. Memang betol lah kau anakku." Batin Butet.
"Hmmm, mbak. Saya Terima kasih kali lah sama mbak nya. Ngomong-ngomong, nama saya Arinauli. Mbaknya bisa memanggil saya Uli saja. Nama mbak siapa?" Tanya Butet, seraya. menyodorkan tangan kanannya.
"Ah, iya. Nama saya Grazia. Senang berkenalan dengan kak Uli," Ucap Grazia, seraya menyambut tangan Butet.
"Ish, jijik kali aku salaman samamu sebetolnya. Tapi, apa boleh buat lah. Taiiik kambeng bulat bulat!" Batin Butet.
"Sebagai rasa terima kasihku sama mbak Grazia, aku boleh mintak nomor teleponnya? Kapan-kapan aku mau ajak mbak makan malam. Kebetulan, aku gak punyak banyak kawan loh mbak. Aku baru di Jakarta ini. Baru aja sebulan loh. Biasa aku tinggal di Toba sanan," Ucap Butet beralasan.
__ADS_1
Grazia menatap Butet dengan seksama, lalu ia pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Bisa kak. Catat ya nomor ponselku," Ucap Grazia, seraya menyebutkan nomor ponselnya.
"Ish, baek kali mbaknya ya. Syukurlah, aku jadi ada kawan di sini. Susah nyarik kawan sekarang mbak," Ucap Butet, seraya mencatat nomor ponsel Grazia.
Grazia hanya tersenyum menanggapi ucapan Butet.
"Sekarang mbaknya mau ke mana?" Tanya Butet.
"Saya tidak kemana-mana kok kak, mau di sini saja. Ini mau ngajak anak main di arena bermain itu," Ucap Grazia, seraya menunjuk arena khusus bermain anak-anak di Mall itu.
"Aaaa.. ya udah. Di sini aja kita dudok ya. Biarlah anak-anak men maen di sanan." Butet benar-benar sok akrab dengan Grazia. Tetapi tampaknya, Grazia mencoba untuk memahami Butet yang mengaku bila dirinya tidak punya teman di Kota Jakarta ini.
"Ok," Sahut Grazia, seraya tersenyum.
"Biar aku yang belikkan tiket nya ya mbak. Mbak di sini aja. Ini sebagai ucapan terimakasih aku sama mbak." Butet mencegah Grazia yang hendak beranjak untuk membeli tiket.
"Ah, tidak usah.." Cegah Grazia.
"Gak papa lah. Biar aku yang belikkan. Jangan di tolak lah mbak. Nanti sedih mamak Moana ini," Ucap Butet, berbasa-basi.
Akhirnya Moana, Kimberly dan juga pengasuhnya pun memasuki arena bermain. Sedangkan Butet dan Grazia, duduk di luar arena seraya memandangi anak-anak mereka.
"Lucu kali anak mbak Grazia ya. Siapa namanya?" Butet mencoba membuka obrolan di antara dirinya dan Grazia.
"Nama anak saya Kimberly Putri Sadewa, kak." Jawab Grazia.
"Hah? pakek nama si Dewa pulak." Batin Butet.
"Cantek ya anaknya. Kek mamaknya. Bapaknya pasti ganteng jugak ni." Celetuk Butet.
Grazia hanya tersenyum menanggapi pujian dari Butet.
"Ish.. kalok gak ada maunya, malas kali aku basa basi busuk kek gini sama kuntilanak ini lah!" Batin Butet.
"Kok papanya gak ikot, mbak?" Tanya Butet lagi.
"Papanya sedang kerja, kak." Sahut Grazia.
__ADS_1
"Kalau papanya Moana, kok gak ikut?" Tanya Grazia berbasa-basi.
Butet terdiam sejenak, lalu ia mulai memasang wajah yang sedih.
"Itulah mbak, makanya aku pindah ke Jakarta ini. Jadi kan, di Toba sanan, papanya Moana ini selingkuh sama perempuan nakal. Ish... naik sasak ku kan mbak. Pisah kami. Makanya itulah aku cabot ke Jakarta, bawak anakku, Moana."
Grazia menatap Butet dengan tatapan yang iba. Lalu ia menghela napas panjang, tanda ia merasa prihatin dengan cerita Butet.
"Jangan sok iba kau ya kuntilanak! Kau pun pelakor!" Batin Butet.
"Sabar ya, kak," Ucap Grazia.
"Udah sabar kali lah aku ini mbak. Makanya sedih kali aku kan. Sebulan aku di Jakarta ini, gadak kawanku. Rasanya beruntong kali lah aku jumpa mbak cantek ini," Ucap Butet.
"Hoekkkk! Ish... pande kali aku sandiwara memang." Batin Butet.
Grazia meraih tangan Butet dengan tatapan yang prihatin. Lalu ia mencoba memberikan sinyal persahabatan dengan Butet.
"Sekarang kita kan berteman, kak. Kakak tenang saja ya. Kita bisa saling curhat dan bertemu bila kakak ada waktu. Jangan merasa sungkan. Saya tiap hari di rumah kok," Ucap Grazia.
"Ha! Kenak perangkap kau kan kuntilanak betinaaaaaaa!" Hati Butet bersorak merayakan kemenangan.
"Iya mbak, makasi kaliiii lah aku sama mbak. Udah cantek, baek hati pulak. Tuhan memang lah gak salah kasi orang untuk ku jumpai," Ucap Butet, dengan sorot mata yang berbinar saat menatap Grazia.
Grazia tersenyum dan menepuk pelan punggung tangan Butet.
"Jadi jangan risau ya kak." Sambung Grazia.
"Gak kok, sekarang aku gak risau lagi loh. Oh iya, besok malam kek mana kalok aku undang makan di rumahku?"
Grazia terdiam sejenak.
"Ayolah mbak, biar mbak tau rumahku. Suatu saat gantian kita. Aku yang maen ke rumah mbaknya," Sambung Butet.
"Boleh. Kebetulan saya juga tidak banyak teman setelah menikah. Teman-teman saya belum menikah. Jadi kurang nyambung kalau berbincang masalah anak. Terima kasih ya kak, sudah mau menjadi teman saya, " Ucap Grazia.
"Sama-sama loh.." Sahut Butet.
Lallu mereka tertawa bersama dan berbincang masalah tumbuh kembang anak-anak, hingga saatnya mereka berpisah dan berjanji akan bertemu besok malam.
__ADS_1