Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Aku mencintaimu


__ADS_3

"Mas Dewaaaaaa..!" Jerit Grazia, dengan wajah yang terlihat gemas.


Grazia terus berusaha menghubungi Dewa, namun ponsel Dewa tidak kunjung aktif. Rasa kesal, cemburu dan lain sebagainya pun semakin menggebu. Hingga Grazia terus mondar-mandir di dalam kamarnya, seraya mengepalkan tangannya.


"Awaaaaas kalau kamu pulang. Aku akan melabrak kamu di rumah si Sri! Kamu tidak ingat apa, kalau kamu pun punya aku dan Kimberly di sini. Kenapa kamu lebih memilih untuk pergi dengan dia!" Keluh Grazia.


Grazia terduduk di tepi ranjang. Dadanya terlihat naik turun dengan nafas yang memburu. Rasa kesal itu tak dapat Grazia bendung hingga ia ingin sekali menangis. Tiba-tiba saja, ponselnya berdering. Grazia pun langsung menatap layar ponselnya, berharap itu dari Dewa. Namun ternyata tidak, nomor tak di kenal lah yang sedang menghubungi dirinya.


Tampaknya Grazia bukan tidak mengenal nomor ponsel tersebut. Melainkan, Grazia tidak menyimpannya sebagai salah satu kenalannya dalam kontak ponselnya. Dengan ragu dan juga perasaan yang sedang tidak baik-baik saja, Grazia pun menerima panggilan telepon tersebut.


"Halo," Sapa Grazia.


"Halo. Di mana?" Terdengar suara seorang lelaki di ujung sana.


"Di rumah," Sahut Grazia.


"Bisa bertemu?" Tanya lelaki itu.


"Untuk apa?" Tanya Grazia.


"Aku ingin bertemu. Nanti malam di apartemen ku, pukul tujuh malam. Aku tunggu," Ucap lelaki itu.


Grazia tidak menjawabnya, ia hanya diam dan perlahan menurunkan ponselnya. Grazia kembali menatap layar ponselnya dan terlihat lelaki di ujung sana, sudah mengakhiri percakapan tersebut.


Grazia menghela napas panjang dan mencoba untuk tenang. Ada rasa takut dan kekhawatiran di wajahnya. Ingin sekali ia mengatakan tidak, pada lelaki itu. Namun seakan mulutnya terkunci rapat dan ia tidak bisa menolak ajakan lelaki tersebut.


Layaknya orang yang sedang berada di dalam tekanan dan ancaman, Grazia hanya dapat pasrah dan akan menemui lelaki itu, pada malam ini.


.


Sri melangkah masuk ke dalam kamar resort dengan tipe family room, yang sengaja Dewa sewa untuk liburan mereka. Kamar tersebut terdiri dari dua kamar, satu kamar utama yang akan di tempati oleh Dewa dan Sri. Dan yang satu lagi, untuk Ardi. Kamar tersebut juga memiliki satu buah ruang tamu dan juga mini bar. Sedangkan di sisi timur kamar tersebut, terdapat sebuah balkon yang langsung menghadap ke arah laut, yang menyuguhkan indahnya pemandangan Labuhan Bajo.


Sri yang langsung melihat-lihat suasana di kamar tersebut pun menghentikan langkah kakinya di balkon kamar tersebut dan memandangi indahnya alam. Tiba-tiba saja dari arah belakang, Dewa memeluk pinggang Sri dan mendekapnya ke dalam pelukannya. Sri sempat terkejut, lalu ia menoleh dan menatap Dewa yang sedang tersenyum seraya memandangi wajah Sri.


"Mas, Ardi mana?" Tanya Sri, yang merasa canggung.


"Dia sedang mandi. Kenapa dengan pekerjaan kamu?" Tanya Dewa, seraya melepaskan pelukannya dan beranjak berdiri di samping Sri, seraya ikut memandangi keindahan alam yang terlihat seperti sebuah lukisan di depan mereka.


"Oh, itu. Tidak apa-apa mas. Semua baik-baik saja. Aku hanya lupa untuk mengirim email ke boss ku," Terang Sri, yang tentunya semua itu adalah kebohongan.


Sri sengaja untuk menyembunyikan semuanya dari Dewa, karena tidak ingin suaminya itu terganggu dengan ulah Grazia yang sudah berani untuk mendatangi rumah mereka. Strategi Sri kali ini adalah, untuk mengalihkan perhatian dan juga membuat Dewa merasa nyaman menghabiskan waktu bersama dengannya.


"Oh, begitu."


"Iya mas," Sahut Sri, seraya tersenyum dengan manis.


Dewa menatap Sri dengan seksama, lalu ia membalas senyuman Sri dan merangkul istrinya tersebut.


"Cantik sekali sih," Ucap Dewa, seraya mengecup lembut kening Sri.


Sri tersipu malu saat mendengar pujian Dewa. Lalu ia membalas rangkulan Dewa, dengan melingkarkan tangannya di pinggang Dewa.

__ADS_1


"Terima kasih ya mas. Aku sangat bahagia sekali. Sejak awal kita menikah dulu, kita ingin sekali ke sini. Namun karena waktu, kita baru sempat ke sini, walaupun sudah tidak berdua. Tetapi, sekarang kita bertiga," Ucap Sri.


"Nanti kalau sudah berempat, kita mau kemana?" Tanya Dewa.


Wajah Sri tersipu malu, saat Dewa mengisyaratkan bila dirinya ingin sekali memiliki anak kedua dari Sri.


"Apa sih mas," Ucap Sri, seraya menepuk lengan Dewa dengan manja.


"Ih, serius," Ucap Dewa, seraya tersenyum nakal.


"Hmmm.. bukan aku tidak mau mas."


"Lalu?" Tanya Dewa, dengan raut wajah yang terlihat sedikit merasa kecewa.


"Aku ingin kita selesaikan semuanya masalah kita terlebih dahulu. Setelah itu, barulah kita memikirkan kedepannya, mas," Ucap Sri.


Dewa menelan salivanya. Hampir saja ia lupa, bila dirinya masih memiliki masalah yang mengganjal antara dirinya, Sri dan juga Grazia. Namun entah mengapa, saat sedang bersama dengan Sri, seolah ia tidak merasa bila saat ini ia sedang memiliki masalah atau istri yang lain, yaitu Grazia.


"Maafkan aku. Ya sudah, lupakan hal itu untuk sementara waktu," Ucap Dewa, dengan lesu.


Dan mereka berdua pun terdiam.


"Hmmm, mas, mau kopi?" Tanya Sri.


"Boleh. Tapi kamu nemenin kan?"


"Pasti," Sahut Sri, seraya tersenyum manja kepada Dewa.


Baru saja Sri berbalik badan, tiba-tiba saja Dewa bertingkah nakal kepada dirinya.


plokkkk!


Dewa baru saja menepuk bokong Sri, dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu gemas kepada istrinya itu.


"Duh!" Sri mengerutkan keningnya, lalu ia menoleh dan menatap Dewa dengan memasang wajah yang terlihat begitu imut di mata Dewa.


"Kenapa berhenti? Mau lagi?" Tanya Dewa, seraya tersenyum nakal kepada Sri.


"Ish..!" Sri pun melangkah dengan cepat dan meninggalkan Dewa begitu saja.


Dewa tertawa puas, lalu ia kembali membalikkan badannya dan menatap laut yang begitu indah.


Plooookk!


Tiba-tiba saja Sri membalas perbuatan Dewa, seraya tertawa geli dan langsung berlari menjauhi Dewa.


"Duh!" Dewa menoleh dan menatap Sri yang tampak sedang menjulurkan lidahnya kepada Dewa.


"Wekkss, memang gak pedes apa di tepok begitu!" Ucap Sri, dengan raut wajah yang terlihat begitu manja.


Dewa tertawa dan beranjak mendekati Sri. Namun Sri mencoba menghindarinya.

__ADS_1


"Sini.."


"Gak mau!" Balas Sri.


"Nantangin, kamu mah!" Seru Dewa.


"Kamu duluan kok!"


"Itu gara-gara kamu yang terlalu menarik di mataku. Jadi itu salahmu," Ucap Dewa.


"Loh kok aku?" Tanya Sri, seraya terus menghindari kejaran Dewa.


"Iya, gara-gara kamu. Aku jadi ingin menangkapmu!" Seru Dewa seraya menggapai tubuh Sri. Kini Sri terjatuh ke dekapannya dan langsung di peluk erat oleh Dewa.


Sri tertawa kencang, saat ia tertangkap oleh Dewa. Lalu ia mencoba menikmati hangatnya tubuh Dewa yang kini sedang memeluk dirinya.


"Sri,"


"Ya mas?" Sahut Sri.


"Aku menyayangi Kimberly. Tetapi aku tetap berharap bila dia bukan anak kandungku."


Sri menatap Dewa dengan seksama. Lalu ia mencoba tersenyum.


"Aku hanya ingin keluarga ini kembali seperti dulu. Hanya ada kamu, aku, Ardi dan..."


"Dan?" Sri mengerutkan keningnya.


"Dan anak ke dua kita!" Seru Dewa, seraya membopong tubuh Sri dan membawanya ke dalam kamar mereka.


"Mas, itu.. aku lagi memanaskan air!" Sri mencoba melepaskan diri dari Dewa.


"Alah, itu kan otomatis. Nanti juga kalau sudah mendidih, akan mati sendiri. Jangan banyak alasan!" Ucap Dewa, seraya menutup dan mengunci pintu kamar tersebut.


"Katanya mau ngopi..." Ucap Sri, yang kini sudah berada di atas ranjang.


"Ngopi afer minum susu!" Ucap Dewa, seraya tertawa dan menerkam Sri yang kini mulai menyilangkan tangan ke dadanya.


"Aaaaa...! Mas Dewaaaaa..!" Jerit Sri, di selingi dengan tawa manjanya.


Layaknya sepasang pengantin baru. Dewa dan Sri kini menikmati setiap detik dan mencetak kenangan indah yang akan mereka kenang hingga hari tua. Yang ada di pikiran Sri saat ini adalah, apa yang terjadi di depan, terjadilah. Karena Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan umatnya.


Sri percaya pada Dewa. Sri mencintai Dewa. Hanya sugesti itu yang membuat Sri merasa dirinya harus mencetak kenangan indah ini. Agar waktu tidak terbuang sia-sia dan di hiasi oleh pertengkaran, selama menunggu test DNA itu keluar.


Bagaimana bila memang Kimberly adalah anak Dewa?


Sri sudah siap, atas segala konsekuensinya. Ia siap melepaskan Dewa dan mulai menata hidupnya dengan baik dan menerima patah hatinya dengan ikhlas.


"Aku mencintaimu, mas," Ucap Sri, saat ia terbuai oleh indahnya irama cinta yang tengah Dewa berikan kepada dirinya.


"Aku sangat mencintaimu," Balas Dewa, seraya melenguh dan melepaskan benih cintanya di dalam tubuh Sri.

__ADS_1


__ADS_2