Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Gelisah


__ADS_3

"Bu..." Si mbok tergopoh menghampiri Sri yang baru saja turun dari mobilnya.


"Mbok.." Sri tersenyum dan menyambut si mbok dengan menerima pelukan hangat dari wanita paruh baya yang sudah lama bekerja untuk dirinya itu.


"Gimana kabarnya bu? Duh den Ardi, den Ardi sehat kan?" Tanya si mbok, seraya beralih dan memeluk Ardi yang juga tersenyum kepada si mbok.


"Alhamdulillah, kita semua sehat mbok." Jawab Sri.


Si mbok mengangguk dan menghela napas panjang, lalu tatapannya beralih kepada Dewa yang sedang menuruni barang-barang bawaan mereka selama berlibur di Labuan Bajo. Si mbok tidak menyapa Dewa, ia hanya menatap Dewa dengan tatapan penuh arti.


"Apa iya, bapak tega mengkhianati ibu? Masa diam-diam si bapak memang memiliki istri yang lain. Kok rasanya aku yang sakit yo? Pasalnya si ibu menurutku wanita yang sempurna. Sudah cantik, berpendidikan, sikapnya baik dan ucapannya santun. Mosok iyo sih, si bapak masih tega selingkuh!" Batin si mbok.


"Mbok, minta tolong barang barangnya di masukkan ya."


Ucapan Dewa sukses membuat si mbok terperanjat dari lamunannya. Lalu dengan cepat si mbok pun mengangguk dan membawa barang barang majikannya ke dalam rumah.


Saat Sri hendak masuk ke dalam rumah, ia melihat bekas lecet di pintunya. Sudah dapat di pastikan, bekas lecet tersebut ulah dari Grazia yang menendang pintu dengan heels nya. Melihat hal itu, Sri hanya dapat menghela napas panjang dan mulai melangkah masuk ke dalam rumahnya. Rupanya bekas lecet tersebut pun di lihat oleh Dewa, yang sudah tahu bila Grazia berusaha menerobos masuk ke dalam rumahnya. Dewa hanya dapat menggelengkan kepalanya dan menyusul Sri yang sudah lebih dahulu masuk ke dalam rumah.


Di kamar, Dewa mulai menyalakan ponselnya yang selama beberapa hari tidak ia aktifkan. Ratusan notifikasi pesan pun bermunculan di layar ponsel Dewa. Ratusan pesan itu tidak hanya dari kerabat ataupun relasi kantornya, melainkan terdapat juga pesan pesan dari Grazia yang terus mencari dirinya selama ia dan Sri berlibur ke Labuan Bajo.


Sri melirik Dewa yang terlihat sedang membaca pesan pesan yang baru ia terima. Alih-alih kesal, Sri malah berekspresi seakan tidak peduli dan langsung berjalan ke kamar kecil untuk mandi. Sri sudah tidak ingin membahas apapun tentang Dewa dan Grazia. Karena Sri sudah berjanji pada Dewa, untuk tidak lagi membahas apapun sebelum hasil tes DNA Kimberly keluar.


Namun namanya seorang istri, di dalam kamar kecil Sri menghela napas panjang. Ada perasaan tidak rela dan rasa terluka yang sangat sulit ia lukiskan. Pertanyaan pertanyaan tentang 'Bagaimana bila Kimberly memang anak biologis Dewa', terus menghantui dirinya. Tidak hanya sampai di situ saja, Sri juga hanya wanita biasa yang memiliki batas kesabaran. Sri pun kerap membayangkan kedekatan Dewa dan Grazia yang mungkin saja sengaja tidak Dewa ceritakan kepada dirinya.


"Hufffff, mau gimana lagi? Pulang ke Jakarta, berarti sudah siap untuk di ganggu sama perempuan itu," Batin Sri.


.


"Huaaaaaaa..!" Tangisan Kimberly memekakkan telinga Grazia.


Grazia yang sedang membalas pesan dari seseorang melirik Kimberly yang terlihat tidak nyaman.


"Ck! Nangis terus!" Batin Grazia, seraya mendengus kesal.


Tiba-tiba saja suster yang merawat Kimberly pun datang dan segera menggendong Kimberly yang terus menangis.

__ADS_1


"Maaf ya bu, saya kelamaan di kamar mandi. Soalnya perut saya mules sekali," Ucap wanita itu.


Grazia tidak menanggapi permintaan maaf dari suster tersebut dan kembali menatap ponselnya.


"Bu! Adek badannya panas bu!" Tiba-tiba saja sang suster terlihat panik dan menghampiri Grazia.


Grazia menaruh ponselnya dan mengerutkan keningnya.


"Masa?" Tanya Grazia.


"Iya bu. Ini bu.." Suster itu pun mendekatkan Kimberly ke Grazia.


Grazia menempelkan punggung tangannya ke dahi Kimberly. Benar saja, tubuh batita itu terasa panas dan wajahnya mulai memerah.


"Astaga!" Grazia terlihat panik dan langsung beranjak dari duduknya.


"Sus, siapkan baju Kimberly, kita ke rumah sakit sekarang!" Perintah Grazia.


"Baik bu."


Suster tersebut pun membawa Kimberly ke kamarnya dan menaruh batita itu di atas ranjang. Lalu ia menyiapkan pakaian Kimberly yang akan di bawa ke rumah sakit. Sedangkan Grazia meraih ponselnya dan juga kunci mobilnya. Lalu ia beranjak ke kamar untuk berganti pakaian. Tak lama kemudian, mereka pun berangkat ke rumah sakit.


.


Ponsel Dewa terus berdering.


Sri melirik ponsel Dewa dan mendapati nama Grazia di layar ponsel suaminya itu. Sri menelan salivanya dan lalu menghela napas panjang. Lalu Sri melirik ke arah pintu kamar kecil yang tertutup rapat. Terdengar gemericik air dari dalam kamar kecil tersebut. Ya, Dewa sedang mandi, sedangkan Sri sedang menunggu suaminya itu di atas ranjang mereka.


Sri mulai terlihat gelisah. Pasalnya ia merasa takut bila Dewa di minta kembali lagi ke rumah Grazia dengan berbagai macam alasan. Liburan kemarin membuat Sri kembali dekat dengan Dewa. Percikan api asmara yang hampir padam, kini kembali membara di antara mereka berdua. Jadi wajar saja bila saat ini perasaan takut kehilangan atau berbagi di hati Sri, semakin kuat.


"Siapa yang telepon?"


Tiba-tiba saja, Sri terperanjat dengan pertanyaan Dewa yang baru saja keluar dari kamar kecil. Sri menatap Dewa dengan gugup, lalu ia menahan napasnya beberapa detik dan menghembuskan nya dengan kasar. Melihat ekspresi Sri yang tak biasa, Dewa pun segera menghampiri ponselnya dan meraih ponsel tersebut.


17 panggilan tak terjawab.

__ADS_1


Dewa mengerutkan dahinya dan mulai mencari tahu siapa yang mencoba menghubungi dirinya seolah ada yang begitu penting untuk di sampaikan kepada dirinya. Namun belum sempat Dewa membuka notifikasi tersebut, panggilan dari Grazia pun kembali masuk.


Dreeettt..!


Dreeettt..!


Wajah Dewa mulai terlihat kesal. Kini ia paham, mengapa ekspresi wajah Sri terlihat tidak nyaman saat ia bertanya siapa yang telah menghubungi dirinya.


Dewa kembali meletakkan ponselnya setelah mengubahnya menjadi mode hening. Lalu ia beranjak duduk di samping Sri dan mulai meraih tubuh Sri serta menjatuhkan tubuh wanita yang ia cintai itu ke dalam pelukan nya.


"Aku tidak akan mengangkat panggilannya. Aku juga tidak akan pergi. Kamu tidak usah khawatir. Seperti kesepakatan kita kemarin, aku akan selalu di samping kamu hingga hasil tes tersebut membuktikan kebenarannya," Ucap Dewa, seraya mengusap rambut Sri dengan lembut.


Sri menghela napas panjang dan mencoba untuk mengusir rasa cemburunya. Lalu ia menatap Dewa yang kini sedang menatap dirinya.


"Bila dia ke sini lagi, bagaimana?" Tanya Sri.


"Aku akan mengusirnya." Tegas Dewa.


"Kalau dia pakai alasan Kimberly, bagaimana?" Tanya Sri lagi.


Dewa terdiam. Lalu ia menghela napas panjang dan membuang pandangannya ke sudut kamar tersebut.


Sri melepaskan pelukan Dewa dan kembali duduk dengan tegak, seraya menatap Dewa dengan seksama.


"Kamu sayang banget ya sama Kimberly?"


Pertanyaan Sri, sukses membuat Dewa terlihat salah tingkah.


"Mas,"


"Kita sudah sepakat untuk tidak membahas ini," Ucap Dewa, seraya beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke lemari pakaiannya.


Sri terdiam. Ia dapat merasakan kasih sayang Dewa kepada Kimberly yang begitu tulus. Namun sikap Dewa yang seperti itu membuat Sri mulai berkecil hati. Sri bukan tidak paham atas apa yang tengah di rasakan oleh Dewa. Tentu saja antara Dewa dan Kimberly sudah terjalin kasih sayang di antara keduanya. Karena saat Kimberly di dalam kandungan, hingga anak itu lahir, Dewa lah yang ikut serta merawat Kimberly. Tidak hanya sampai di situ, karena hasil test DNA pertama yang menyatakan bila Dewa adalah ayah biologis Kimberly, membuat Dewa pasrah dan mulai membagi cintanya untuk Kimberly.


Melihat Sri yang termenung di atas ranjang, Dewa pun kembali menghampiri Sri dan mengusap lembut puncak kepala Sri.

__ADS_1


"Aku tidak akan pergi. Percayalah..." Ucap Dewa.


Lalu Dewa mengecup kedua pipi Sri dan setelah itu ia melangkah keluar dengan raut wajah gelisah. Sedangkan Sri, ia hanya mampu menangkap kegelisahan Dewa dan menatap punggung Dewa yang tengah berjalan meninggalkan kamar mereka.


__ADS_2