
"Papa pulang..." Ucap pengasuh, yang sedang bermain dengan Kimberly di ruang keluarga.
Kimberly yang sedang duduk di atas karpet, menoleh ke arah yang di tunjuk oleh pengasuhnya tersebut.
"Papa! Papa!" Seru Kimberly, seraya mengangkat kedua tangannya dan memasang wajah yang begitu antusias.
Dewa tersenyum dan beranjak mendekati Kimberly. Lalu ia berjongkok, seraya terus menatap balita tersebut.
"Pak," Sapa pengasuh itu, seraya tersenyum kepada Dewa.
Dewa menatap pengasuh itu dan membalas senyumannya dengan ramah. Lalu ia kembali menatap Kimberly yang kini beranjak berdiri dan memeluk Dewa. Entah mengapa, hati Dewa terasa begitu perih, kala kedua tangan mungil itu melingkar di lehernya.
"Papa! Papa! Ndong, ndong!" Seru Kimberly, seraya mengguncang tubuh Dewa.
Dewa menaruh tas nya di atas lantai, ia meraih tubuh mungil itu dan merengkuhnya, lalu ia berdiri menggendong Kimberly.
"Yeah.., indu papa," Ucap Kimberly.
"Papa juga rindu," Sahut Dewa, seraya menahan rasa sesak di dadanya.
Kimberly, balita yang sejak lahir hanya tahu Dewa lah papa nya. Sedangkan Dewa, meskipun awalnya dirinya ragu dengan Kimberly, namun setelah sekian lama bersama, Dewa juga jatuh hati dengan sosok anak perempuan tersebut.
Siapa yang tidak jatuh hati dengan balita cerdas yang begitu cantik. Kimberly memiliki kulit yang begitu putih, senyum yang begitu cantik, rambut lurus dan bermata bulat berwarna agak kecoklatan. Tubuh Kimberly juga begitu padat berisi, layaknya balita sehat pada umumnya.
"Ibu mana?" Tanya Dewa, pada pengasuh Kimberly.
"Ng... i-ibu sedang keluar, pak," Jawab pengasuh itu.
"Keluar?" Dewa agak terkejut mendengar Grazia keluar tanpa membawa buah hatinya dan juga pengasuh tersebut. Tidak seperti biasanya, namun begitulah yang Dewa ketahui saat ini.
"Kemana?" Tanya Dewa lagi.
"Ng-, saya tidak tahu, pak." Jawab pengasuh itu lagi.
Dewa menghela napas panjang dan kembali menatap Kimberly.
"Apa aku bawa saja Kimberly untuk test DNA sekarang? Bukankah darah lebih baik daripada rambut?" Batin Dewa.
Dewa mulai melihat ke sekelilingnya. Lalu ia kembali menatap pengasuh Kimberly yang masih setia berdiri di hadapannya.
"Kamu belum istirahat?" Tanya Dewa, berbasa basi kepada pengasuh tersebut.
Pengasuh itu tampak canggung dan tersenyum ragu. Lalu ia menggelengkan kepalanya dengan perlahan.
"Ya sudah, Kimberly biar sama saya saja. Kamu istirahat saja."
Pengasuh itu menatap Dewa dengan tatapan tak percaya.
"Saya? istirahat pak?" Tanya pengasuh itu untuk memastikan kembali ucapan Dewa.
"Ya," Sahut Dewa.
Pengasuh itu tampak berpikir sejenak, lalu ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah pak. Bapak kan baru pulang, jadi biar Kimberly sama saya saja," Ucap pengasuh itu.
"Tidak apa-apa. Kamu istirahat saja dan saya mau bermain dengan Kimberly." Tegas Dewa.
Pengasuh itu masih tampak ragu. Bukan karena ia tidak butuh istirahat, melainkan ia sudah di pesankan oleh Grazia, bila ia harus tetap di sisi Kimberly, apa pun yang terjadi. Termasuk saat Dewa dan Grazia ada di dekat Kimberly.
"Sa-saya tidak berani, pak. Nanti ibu marah," Ucap pengasuh itu lagi.
__ADS_1
Dewa menghela napas panjang dan menatap pengasuh itu dengan tatapan yang tegas.
"Ibu tidak ada di rumah. Lagipula, Kimberly aman dengan saya. Saya ini bapaknya." Tegas Dewa.
Pengasuh itu menundukkan pandangannya dan mulai mengangguk dengan ragu.
"Ba-baik pak." Sahut pengasuh itu.
Tanpa berbasa basi, Dewa pun membawa Kimberly ke kamar balita itu dan lalu menutup pintu dengan rapat.
Akhirnya mau tidak mau, pengasuh itu pun beranjak meninggalkan ruang keluarga, menuju ke kamarnya.
Di dalam kamar Kimberly, Dewa menarih Kimberly ke dalam box bayi. Lalu ia pun bergerak cepat, mengambil tas bayi dan memasukkan popok serta baju ganti untuk Kimberly. Tidak lupa Dewa juga mempersiapkan susu untuk Kimberly dan menaruhnya ke dalam tas.
Merasa sudah siap semuanya, Dewa pun menatap Kimberly dengan seksama. Balita mungil itu pun membalas tatapan Dewa dan tersenyum kepada lelaki yang ia kenal sebagai bapaknya tersebut.
"Papa, papa!" Seru Kimberly, seolah ia begitu paham, bila ia akan di ajak pergi oleh Dewa.
Dewa tersenyum dan membelai rambut Kimberly yang sedang merentangkan kedua tangannya.
"Ayo kita jalan-jalan," Ucap Dewa, seraya merengkuh tubuh mungil Kimberly ke dalam pelukan nya.
Dewa membuka sedikit pintu kamar Kimberly, saat ia ingin keluar dari kamar tersebut. Di luar, terlihat situasi yang begitu sepi. Merasa aman, Dewa pun memutuskan untuk melangkah keluar dengan membawa Kimberly dan juga tas bayi yang sedang ia sandang. Dewa melangkah dengan terburu-buru, lalu ia pun berhasil melewati ruang demi ruang dengan aman.
Kini, Dewa sudah berada di pintu depan bagian dalam rumah milik istri keduanya itu. Lalu ia mengintip ke luar rumah dan mendapati satpam yang sedang berjalan ke arah pos jaga. Merasa aman, ia pun berlari ke arah mobilnya yang terparkir tepat di depan rumah tersebut. Lalu dengan cepat, Dewa membuka pintu mobilnya dan merebahkan jok penumpang. Lalu ia menaruh Kimberly di sana dan memasangkan safety belt dengan baik. Merasa Kimberly sudah aman, Dewa pun membuka pintu belakang mobilnya dan menaruh tas Kimberly di sana dan lalu ia pun kembali menutup pintu belakang mobilnya dan lantas bergegas berjalan menuju ke balik kemudinya.
Terlihat satpam yang sedang berjaga rumah itu, menatap Dewa dari dalam pos nya. Satpam itu terlihat heran dengan Dewa yang baru saja datang, namun kini hendak pergi lagi. Setelah mobil Dewa mulai bergerak, ia pun berinisiatif untuk membukakan pagar rumah tersebut, agar Dewa dapat mengeluarkan mobilnya.
Saat melintasi pagar, Dewa membuka kaca mobilnya yang sebelah kiri, hanya setengah saja dan melambaikan tangan kepada satpam yang berdiri seraya memegangi pagar tersebut.
"Pergi lagi pak?" Tanya satpam tersebut, berbasa basi. Tampaknya satpam itu tidak menyadari bila Dewa sedang membawa Kimberly keluar dari rumah tersebut.
Kini Dewa berhasil mengeluarkan Kimberly, tanpa pendamping. Ia melirik Kimberly yang sedang tiduran di bangku penumpang. Lalu ia tersenyum kepada Kimberly yang tampak bingung.
"Apapun yang terjadi, berbahagialah nak." Batin Dewa.
..
Ringg...
Ringg...
Ringg...
Sri yang sedang termenung di sofa ruang keluarga pun di kejutkan oleh bunyi ponselnya sendiri. Lalu ia meraih ponselnya yang terletak di atas meja, tepat di depannya.
"Mas Dewa?" Batin Sri.
"Ayah bun? Ayah sudah sampai mana?" Tanya Ardi dengan bersemangat.
Sri menatap Ardi, lalu ia tersenyum kepada putra semata wayangnya itu.
"Sebentar ya.. Mungkin ada yang tertinggal, sehingga ayah menghubungi bunda," Ucap Sri. Lalu ia beranjak meninggalkan ruang keluarga, seraya membawa ponselnya.
"Ya mas?" Sapa Sri dengan lembut. Lalu Sri tampak mendengarkan ucapan Dewa dengan seksama. Namun sejurus kemudian, ia pun membulatkan kedua matanya dan tampak tidak dapat mengatakan sepatah katapun.
"Sri.., Sri.." Panggil Dewa.
"I-iya mas?" Sahut Sri.
"Bagaimana?" Tanya Dewa lagi.
__ADS_1
"Gak bahaya toh mas?" Tanya Sri.
"Gak. Sudah, kamu menyusul ya."
Sri terdiam membisu.
"Sri, please..." Terdengar suara Dewa yang begitu memohon kepada dirinya.
Sri menghela napas panjang dan tampak bimbang.
"Kok jadi begini toh mas?" Sesal Sri.
"Aku ingin benar-benar pasti, Sri. Aku ingin darah Kimberly." Terang Dewa.
"Sebenernya podo wae toh mas," Ucap Sri lagi.
"Aku mohon..."
Sri terdiam membisu. Ini kali pertama ia akan bertemu dengan balita yang di duga anak kandung suaminya. Perasaannya begitu berat, untuk menyetujui permintaan Dewa yang membutuhkan bantuannya. Tetapi apa boleh buat, akhirnya Sri menyetujui permintaan Dewa yang membantu untuk mendampingi dirinya dan Kimberly, saat menjalani test DNA.
"Yo wes mas, aku tak menyusul," Ucap Sri.
"Terima kasih Sri."
"Sama-sama, mas." Sahut Sri.
Lalu panggilan itu pun berakhir. Sri terdiam di ruang tamunya dan terduduk lemas di atas sofa.
"Permintaan tergila ini. Masa aku harus mendampingi mereka dan memenangkan anak itu saat menangis nanti. Gila sekali...., namun ya sudahlah. Sing penting rasa penasaran ku dan mas Dewa terbayar." Batin Sri.
Lalu ia pun bergegas untuk bersiap-siap menemui Dewa dan Kimberly di sebuah rumah sakit.
"Ardi.. nak.." Panggil Sri.
"Ya bun?" Sahut Ardi.
"Bunda pergi dulu ya."
"Bunda mau kemana?" Tanya Ardi.
"Ng..."
"Ada yang ketinggalan barang-barang ayah ya bun?" Tanya Ardi lagi.
"Ng..., i-iya," Sahut Sri, seraya tersenyum canggung.
"Ardi gak di ajak?" Ardi memasang wajah cemberut dan mata yang memohon.
"Hmmm," Sri tampak bingung untuk menjelaskannya kepada Ardi.
"Bun, Ardi ikut ya..." Pinta Ardi.
Tubuh Sri seakan membeku, saat mendengar permohonan Ardi. Sri sangat takut, bila Ardi mengetahui Dewa memiliki anak yang lainnya, selain dari ibunya.
"Ar, bunda secepatnya kembali. Selain bunda mengantarkan barang ayah yang tertinggal, bunda juga ada meeting dengan klien bunda. Jadi, kamu di rumah saja sama si mbok ya." Terang Sri.
Ardi menekuk wajahnya dalam-dalam, hingga akhirnya anak laki-laki itu pun mengangguk setuju.
"Iya bun..," Sahut Ardi.
Sri tersenyum lega, lalu ia mengecup puncak kepala putranya tersebut, sebelum ia meninggalkan rumah dan menyusul Dewa di rumah sakit yang telah Dewa tentukan.
__ADS_1