Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Pasangan terhebat


__ADS_3

Dreeett..! Dreeett..!


Rozy yang baru saja hendak merebahkan tubuhnya di atas ranjang, pun mengurungkan niat nya. Ia meraih ponselnya yang baru saja berdering, yang terletak di atas nakas. Rozy menatap layar ponselnya dan mendapati nama Batra di sana. Rozy mengerutkan keningnya dan terdiam sejenak. Tidak seperti biasanya, Batra tidak pernah menghubungi dirinya semalam ini.


"Siapa a'?" Tanya Cempaka yang melihat ekspresi Rozy yang tampak berbeda saat melihat ponselnya.


"Si Batra. Tumben banget dia telepon malem-malem begini," Ucap Rozy.


"Ya di angkat atuh," Ucap Cempaka lagi.


Akhirnya Rozy menerima panggilan telepon tersebut.


"Assalamu'alaikum," Sapa Rozy.


"Waalaikumsalam, bang," Sahut Batra.


"Ade ape lu malem-malem telepon gue? Tumben amat?" Tanya Rozy, dengan logat Betawi nya yang kental.


"Bang.." Terdengar Batra yang mulai terisak.


"Lah, nape lu, Tra?" Tanya Rozy yang mulai memasang wajah yang panik. Pasalnya, adik nya itu terkenal tidak cengeng. Namun tidak kali ini, Batra menghubungi dirinya dengan tangis.


"Bang, mertua gue meninggal dunia bang."


"Hah! Innalillahi! Siape, Tra?" Tanya Rozy yang mulai ikut panik.


"Bapak nya Siti." Ucap Batra lagi.


"Ya Allah, meninggal sakit ape gimane?" Tanya Rozy.


"Rumahnya kebakaran bang. Jadi si bapak ada di dalam."


"Innalillahi wainnailaihi rojiun," Ucap Rozy dengan suara yang bergetar. Pasalnya Rozy juga mengenal orang tua Siti. Selain Siti afalah adik iparnya, Rozy juga lah orang yang berjasa untuk meyakinkan kedua orang tua Siti untuk Batra dapat menikahi pujaan hatinya tersebut.


"Terus? Gimane?" Tanya Rozy.


"A', siapa yang meninggal a'?" Tanya Cempaka, yang kini beranjak duduk di atas ranjang.


"Bentar ya.." Sahut Rozy, seraya kembali fokus dengan ponselnya.

__ADS_1


"Bang, lu punya uang simpenan kaga? Gue ada, tapi hanya beberapa juta bang. Soalnye, kalau pulang kampung ke sono, butuh biaya gede. Bang, gue mohon bang, pinjemin gue berape aje, seikhlas lu aje bang. Nanti gue ganti. Gue, bini gue dan anak-anak kudu pulang ke Padang bang," Ucap Batra, seraya terisak.


Rozy menghela napas panjang. Ia paham sekali hukum bersaudara. Bila tidak dengan dirinya, pada siapa lagi Batra akan mengadu. Sedangkan dengan Anca, adik mereka yang paling kecil, itu tidak mungkin. Karena Anca juga baru beberapa tahun berumah tangga. Pastilah Anca juga sedang membutuhkan uang untuk membangun rumah tangganya. Satu-satunya orang yang hidup lumayan, hanyalah dirinya. Di tambah saat ini Batra lebih memilih tinggal mengontrak, daripada tinggal di rumah peninggalan orang tua mereka. Justru hidup Rozy lah yang paling beruntung. Rozy memiliki pekerjaan dan usaha yang begitu baik. Semua rumah peninggalan dirinya lah yang merawat dan mengelola. Sudah pasti, dirinya lah orang yang paling bertanggung jawab, saat ada adiknya yang butuh bantuan.


"Lu butuh berape?" Tanya Rozy.


"Lima belas juta aje bang. Lu ada?"


"Ada. Gue transfer sekarang. Lu baek-baek di sono. Gue titip salam sama emak nye si Siti dan Siti juga. Gue turut berdukacita," Ucap Rozy.


"Iye bang, makasih ye," Ucap Batra.


"Same-same. Gue turut berdukacita yak."


"Iya bang. Ya udeh bang. Sekalian gue mau pamit, besok pagi gue langsung ke Padang."


"Iya. Hati-hati, Tra."


"Makasih bang.." Sahut Batra.


Dan panggilan telepon itu pun berakhir.


Rozy pun langsung bergegas untuk mentransfer sejumlah uang yang di pinta oleh Batra.


"Nanti bundo tinggal di mana ya da?" Tanya Siti, di sela isak tangis nya.


Batra terdiam membisu. Seperti yang sudah ia ketahui, rumah Siti di kampung sudah rata dengan tanah. Semua habis terbakar bersama jasad sang bapak. Batra tidak dapat berkata-kata, ia hanya memikirkan bagaimana dapat segera hadir di sana, sebelum pemakaman sang mertua di adakan.


"Siti tahu uda, bundo terlalu sering menyakitkan hati uda. Siti minta maaf atas segala kesalahan bundo. Tetapi, Siti mohon uda, uda jangan benci yo samo bundo Siti," Ucap Siti, seraya menoleh dengan tatapan memohon pada Batra.


Batra masih terdiam. Yang dapat ia lakukan hanya membalas tatapan Siti yang terlihat begitu terluka.


Batra pun beranjak menghampiri Siti, lalu ia memeluk Siti dengan erat.


"Orang tua mu, adalah orang tua ku. Aku paham kenapa bundo tidak menyukaiku."


"Kenapa da?" Tanya Siti, seraya menatap ke dalam manik mata Batra.


"Aku tidak bilang cara bundo itu salah. Tapi, yang aku tahu, dia begitu menyayangi kamu. Makanya dia tidak mau kamu sengsara dengan lelaki yang menikahi kamu." Terang Batra.

__ADS_1


Siti terdiam mendengar ucapan suaminya tersebut.


"Ti, saat anak kita dewasa, pasti kita tidak mau bila mereka menikahi orang yang tidak tepat. Pasti kita ingin mereka hidup dengan baik. Masa depan mereka terjamin. Itu semua karena kita sangat sayang pada mereka. Pun dengan bundo. Aku sadar dengan kekuranganku. Aku pun minta maaf, bila hingga saat ini belum juga membahagiakan kamu. Bahkan aku belum sempat membahagiakan orang tuaku sendiri, mertua dan anak-anak. Aku sangat menyesal," Ucap Batra, yang kini terisak di depan Siti.


Dengan genangan air mata, Siti terus menatap suaminya tersebut.


"Da.. Siti juga minta maaf atas kelakuan bundo," Ucap Siti, seraya memeluk Batra dengan erat.


Mereka pun menangis dalam pelukan, mengungkapkan segala kesedihan dan juga rasa.


"Da.." Ucap Siti, setelah mereka mulai tenang.


"Ya?"


"Apa gak sebaiknya uda tinggal di sini. Biar Siti sama anak-anak saja yang pulang. Besok kan uda mau diklat,"


Batra terdiam, kini ia di hadapkan oleh dua pilihan yang sangat berat. Satu sisi mertuanya meninggal dunia dan kehilangan rumah tinggal. Satu sisi adalah masa depan pekerjaannya dan juga masa depan anak istrinya.


"Uda tinggal saja ya. Biar Siti dan anak-anak saja yang pulang," Ucap Siti lagi.


Batra menghela napas panjang. Sungguh pilihan yang begitu sulit baginya. Ia pun baru terungat dan berpikir tentang pekerjaan, setelah ia dan Siti menerima berita duka tersebut.


"Ya da?"


Batra terdiam cukup lama. Hingga ia di kejutkan dengan bunyi ponselnya sendiri.


Ting!


Batra meraih ponselnya dan mendapatkan pesan dari Rozy.


'Abang sudah transfer dua puluh juta. Anggap saja lima juta abang membantumu. Pergilah, semoga kalian selamat sampai tujuan. Sampaikan salam duka abang untuk Siti dan keluarganya.'


Batra menahan tangisnya saat membaca pesan tersebut.


'Terima kasih banyak bang' Balas Batra.


Lalu Batra menatap Siti dengan seksama. Dengan penuh keyakinan, ia pun mengucapakan..


"Ayo kita berangkat. Orang tua tetap orang tua. Pekerjaan nomor dua. Saya tidak ingin menyesal seperti saya mengutamakan pekerjaan dan saya kehilangan orang tua saya, tanpa saya sempat melihatnya di saat-saat terakhir nyak masih bernafas. Hal itu tidak mau saya ulangi lagi. Biarlah, rezeki sudah ada yang mengatur. Saya akan dampingi kamu pulang kampung. Saya akan antarkan bapak sampai ke liang lahat. Saya akan bantu kamu urus bundo. Kedepannya, biar saya yang berjuang dan berusaha lebih keras lagi. Kamu percaya pada saya?"

__ADS_1


Siti menatap Batra dengan seksama. Air mata terus membasahi pipinya.


"Uda.." Siti memeluk Batra dengan erat. Sebagai ungkapan rasa terima kasih yang luar biasa pada suami yang sudah bersedia mempertaruhkan karir nya demi dirinya dan keluarganya yang tidak pernah menerima Batra sepenuhnya.


__ADS_2