Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Ular tangga


__ADS_3

Dewa datang dengan membawa dua gelas kopi di tangannya dan menaruhnya di atas meja. Lalu dengan tersenyum dirinya menawarkan Moan untuk segera mencicipi kopi buatannya dan juga beberapa snack yang sudah ia sediakan di atas meja.


"Coba lah kopi buatan ku, Moan. Walaupun aku tahu, kamu punya cafe dan ahli membuat kopi yang tentunya lebih enak daripada buatanku."


Moan tersenyum dan meraih gelas kopi nya. Lalu ia menyeruput kopi buatan Dewa dengan perlahan.


"Ih, udah mantap kali loh ini. Udah bisa kek nya jadi sainganku," Ucap Moan, sambil tersenyum menggoda Dewa.


"Ah, kamu bisa saja." Dewa tertawa dan ikut meraih gelas kopi nya dan mencoba menyeruput kopi buatannya sendiri.


"Jadi cemana? Apa cerita sekarang?" Tanya Moan, yang mencoba untuk mencairkan suasana.


"Cerita apa itu?" Tanya Dewa kembali, seraya tersenyum dan meletakkan gelas kopinya kembali ke atas meja.


"Ah gadak, aku kan cuma mo nanyak aja sama kau, Wa. Apa ceritamu, kek mana kerjaanmu, kek mana keluargamu sekarang. Soalnya kan kita udah lama kali gak jumpa ya kan?" Ucap Moan, yang mencoba memancing Dewa untuk bercerita apa saja kepada dirinya.


Dewa tersenyum tipis dan mulai menghela napas panjang. Selama ini apapun tentangnya, ia tidak pernah bercerita dengan siapa pun, termasuk keluarganya. Bukan karena ia tidak mau bercerita, tetapi ia hanya ingin ada seseorang yang mampu membaca situasi dan suasana hatinya saat ini. Apa yang telah ia lewati dan apa yang ada di pikirannya saat ini.


"Eh, kok diam kau, Wa?"


Pertanyaan Moan, membuat Dewa tersadar dari lamunannya. Lalu sekali lagi ia melemparkan senyumannya kepada Moan.


"Nampak banyak pikiran kau, Wa. Kenapa rupanya? Ada masalah kau di kantormu?" Tanya Moan lagi.


Dewa hanya menggelengkan kepalanya dan kembali menghela napas panjang.


"Teros?" Tanya Moan lagi.


"Gak ada. Cuma... Aku bingung mau ceritanya, Moan," Ucap Dewa.


"Omak, serius kek nya ini. Ada apa? Cok kau cerita samaku." Moan terus memancing Dewa.


"Masa Butet gak ada cerita sama kamu, Moan?" Tanya Dewa.


"Ish, cerita apa ini? Aku gak ada di kasi tau apa-apa sama si Butet," Ucap Moan, yang berpura-pura tidak tahu menahu tentang masalah rumah tangga Sri dan Dewa.


Dewa mencoba menatap Moan dengan seksama, untuk memastikan bila suami dari sahabat istrinya itu benar-benar tidak tahu menahu tentang permasalahan rumah tangganya. setelah itu, barulah Dewa tersenyum tipis dan mencoba mencari bahasa yang tepat untuk memulai sesi curhat nya dengan Moan.


"Kenapa? Kenapa? Berat kali kek nya masalahmu. Sini cerita sama aku." Moan kembali meyakinkan Dewa.


"Begini Moan,"


"Ya, apa?" Moan terlihat tidak sabar menunggu cerita dari Dewa.


"Aku sama Sri sedang ada masalah."


"Omakjang! Serius kau?" Moan berpura-pura terkejut mendengar berita yang di sampaikan oleh Dewa.


"Teros? Masalah apa rupanya?" Tanya Moan lagi.

__ADS_1


Dengan perlahan, Dewa mencoba menceritakan awal mula tentang keretakan rumah tangganya dengan Sri. Hingga menceritakan kisahnya dengan Grazia yang kini berstatus sebagai istri keduanya.


Moan tampak serius mendengarkan cerita Dewa. Tak lupa ia menyelipkan ekspresi ekspresi yang seolah dirinya baru saja mengetahui segala yang sebenarnya ia pun sudah mengetahuinya dari Butet.


"Jadi begitu lah," Ucap Dewa, seraya tersenyum masam.


"Ckckckckck, serius nya kau, Wa?"


"Iya, masa enggak. Memangnya kamu tidak melihat wajahku yang tertekan ini?" Tanya Dewa kembali.


Moan menggelengkan kepalanya, tanda ia berpura-pura tak percaya dengan apa yang telah terjadi.


"Tapi kau seriusnya? Gadak kau merasa pernah sama binik keduamu itu?" Tanya Moan.


Dewa menghela napas panjang dan menundukkan pandangannya.


"Gimana ya aku kalau mau menjabarkan nya. Sejujurnya, aku seperti meminum minuman yang ada obatnya. Lalu aku tidak sadarkan diri dan tiba-tiba saja dia ada di sampingku dengan posisi polos tanpa busana." Terang Dewa.


"Ish, kok enak?" Gumam Moan.


"Apa?"


"Ah, gadak. Lanjot lah kau cerita." Moan kembali mempersilahkan Dewa untuk melanjutkan ceritanya.


"Ya, aku gak tau ya Moan. apa pengarih dari minuman itu. Dan mungkin saja adek kecil ku gak kompak saat aku tidur."


"Tapi, yakin nya kau itu anakmu?" Tanya Moan lagi.


Dewa menatap Moan dengan seksama. Lalu ia kembali menghela nafas yang penuh dengan beban.


"Jujur, jauh di dasar lubuk hatiku, aku gak merasa kalau itu anakku. Tetapi hasil test DNA, menyatakan kalau itu anakku." Terang Dewa.


"Terus? Gak kau test ulang?"


"Bukan aku gak mau. Tapi jujur, sebenarnya aku lebih ke takut. Aku takut kalau hasilnya benar, maka seolah aku telah menyangsikan anak ku sendiri dan merasa suci. Tetapi, kalau ternyata hasilnya tidak, aku takut Moan..."


"Takot kenapa kau?" Tanya Moan yang langsung memasang ekspresi wajah yang tanpak serius.


"Anak itu terlanjur dekat sekali denganku. Dari waktu ke waktu, aku jadi merasa ada tanggung jawab padanya. Apalagi dia anak perempuan. Kadang aku berpikir, kalau ternyata aku bukan bapak kandungnya, bagaimana dia bila tidak ada aku." Terang Dewa.


Moan terdiam membisu. Bagaimanapun yang menjadi korban tetaplah orang-orang yang tidak bersalah, seperti Sri, putranya dan juga anak dari Grazia.


"Wa.." Panggil Moan, setelah mereka lama terdiam.


"Ya?" Sahut Moan.


"Terkadang, ada yang memang harus kita korbankan. Bukan karena kita tidak menyayanginya. Melainkan, untuk kebaikan dirinya sendiri, diri kita, atau pun keluarga kita. Sekarang kalau kau gak mau cobak test lagi, mau sampek kapan kau mengorbankan Sri dan anak kelen?"


Pertanyaan Moan, sukses membuat Dewa merenunginya. Ia terdiam tanpa kata.

__ADS_1


"Kalau kau cinta sama Sri, dan niatmu memang mau mempertahankan dia. Di tambah kau merasa itu bukan anakmu dan kau gak cinta sama perempuan itu, tapi kau gak ada aksinya, jadi buat apa kata cintamu itu buat si Sri? Mau dia percaya samamu? Makin niat buat bunuh kau, iya ku rasa."


Dewa masih terdiam membisu.


"Kek gini aja lah ya. Kau test di mana? Ada gak kemungkinan kalok dokternya itu kerabat binik keduamu? Gak tau kan kau? Mau sampek kapan kau jadi badutnya, Wa?"


Dewa menatap Moan dengan wajah yang terlihat merah padam.


"Maaf ya, Wa. Bukan aku mau nyinggung kau. Kau udah ku anggap sodaraku lah ya. Kenapa gak kelen sederhanakan aja masalah kelen?" Tanya Moan.


"Iya Moan, gak apa. Sederhana? Maksudnya?" Tanya Dewa.


Moan terlihat semakin bersemangat, ia merasa dirinya sukses menjadi orang yang mampu memberikan jalan keluar bagi Dewa.


"Kek gini. Kau kan sering sama anakmu yang perempuan,"


"Ya, terus?" Tanya Dewa yang mulai tampak penasaran.


"Ha, gini... cemana kalau kau curik aja rambot nya. Atau kau bawak dia ke mana. Purak-purak kau bawak maen, tapi mamak nya jan ikot. Nah, siap itu, kau ajak lah ke laboratorium rumah saket. Tapi ingat, jangan sampek mamaknya tau. Dan jangan jugak kau ke tempat yang waktu itu." Terang Moan.


Dewa terdiam, seraya mencoba memikirkan saran dari Moan.


"Kalau aku membawa anak itu, mamanya pasti mau ikut. Susah sekali membawa anak itu keluar berdua saja. Pasti mamanya dan suster akan ikut terus." Terang Dewa.


"Ya, kalok kek gitu, kau ambek aja rambot nya. Terus kau bawak ke rumah saket. Ha, kau periksakan lah itu. Daripada kau teros kek gini. Bukan apa-apa ya, Wa, gak kasian kau sama Sri?"


Dewa menatap Moan, lalu wajahnya pun mulai tampak malu.


"Ka-kalau itu memang benar anak ku, aku harus apa Moan?" Tanya Dewa.


"Ha, kalau memang itu anak kau. Baeknya kau lepaskan aja lah si Sri. Kasian dia. Tapi jan kau lupa tanggung jawabmu sama anak kelen. Biar Sri bisa melanjutkan idopnya dan kau pun percaya kalau binik keduamu memang jujur. Dan kau sayangilah anak kau dua-duanya tanpa ada perbedaan."


Dewa menghela napas panjang dan lalu tertunduk lesu.


"Ok, apapun itu, aku siap dengan konsekuensinya!" Seru Dewa, setelah beberapa menit ia mencoba berpikir tentang ucapan Moan.


"Ha, kek gitu lah. Jantan kau namanya!" Seru Moan.


"Makasih ya, Moan. Kalau tidak karenamu, aku benar-benar di jalan buntu. Semenjak kekacauan ini tercipta, di situ aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih," Ucap Dewa, seraya tersenyum haru menatap Moan.


"Sama-sama, Wa. Jadi, apa acara kita ini? Men kartu kita? Ato men catur?"


"Hahahahaha, aku punya permainan baru ini Moan."


"Apa itu?" Tanya Moan penasaran.


"Ular tangga!"


"Ehh... ckckckc.. janganlah, emosi aku kalo men itu!" Tolak Moan.

__ADS_1


__ADS_2