
Sri terbangun dari tidurnya karena mendengar nada dering dari ponsel Dewa yang terdengar berulang kali. Sri melihat Dewa yang berada di sampingnya, terlihat Dewa yang masih tertidur dengan nyenyak tanpa mendengar ponselnya yang sedang berdering. sri mulai menggoyangkan tubuh Dewa dengan perlahan, agar suaminya itu terbangun dan merespon panggilan tersebut. Dewa terbangun karena Sri mengguncang tubuhnya dengan sedikit kencang. Dengan nanar, ia menatap Sri tanpa menyadari bunyi ponselnya yang terus berdering.
"Sayang, kenapa?" Tanya Dewa, seraya mengucek kedua matanya.
"Ada telepon," Ucap Sri.
Dewa mulai menyadari bila ponselnya terus berdering Baru saja deringan tersebut berhenti, lalu panggilan kembali masuk, seolah sesuatu yang begitu penting atau sesuatu yang mendesak telah terjadi. Dewa pun meraih ponselnya dan mendapati nama Grazia di sana. Seketika raut wajah Dewa pun tampak malas, lalu ia menatap Sri dengan rasa yang tak enak hati.
"Siapa? Dia?" Tanya Sri.
Dewa hanya mengangguk dan mencoba mengabaikan panggilan telepon tersebut.
"Angkat lah," Pinta Sri.
"Malas," Sahut Dewa.
"Mungkin sesuatu terjadi pada Kimberly," Ucap Sri.
Dewa terdiam, lalu dengan ragu ia mulai mengangguk dan menerima panggilan telepon dari Grazia.
"Halo," sapa Dewa.
"Kamu kemana! Di mana! Kenapa lama angkat telepon nya! Kamu pasti lagi senang-senang sama dia kan! Kamu mikir gak sih, anak mu di sini sakit! Gantian jagainnya!"
Saking kerasnya, suara Grazia terdengar oleh Sri, walaupun Dewa tidak mengaktifkan speaker ponselnya.
"Bisa ngomong pelan gak sih!" Bentak Dewa.
"Lagian kamunya.."
"Aku pasti datang! Gak usah di ingatkan! Kamu pikir aku tidak ada pekerjaan? Tidak ada anak istri? Gila kamu!" Hardik Dewa.
__ADS_1
"Mas! kamu..."
"Alah! sudahlah! Gak usah telepon-telepon lagi!" Bentak Dewa. Lalu Dewa pun mengakhiri sambungan telepon tersebut dan di susul mematikan ponselnya agar tidak ada seorangpun yang dapat menghubungi dirinya.
Sri terkejut melihat sikap Dewa saat berbicara dengan Grazia. Seumur umur ia hidup dengan Dewa, tidak sekalipun Dewa pernah membentak dirinya dan berkata dengan nada yang keras seperti itu. Walaupun dalam hatinya begitu senang dan merasa menang, tetapi entah mengapa Sri tetap merasa prihatin kepada Grazia. Sri menyadari, tidak ada satu orang pun istri yang mau di perlakukan seperti itu. Terutama menyangkut masalah anak. Namun Sri mencoba untuk membenarkan rasa 'puasnya' atas sikap Dewa kepada Grazia, dengan ia berpikir bila Kimberly belum sah di sebut sebagai anak dari Dewa, sabelum test DNA itu keluar.
"Mas, mau ke sana?" Tanya Sri.
"Nanti." Sahut Dewa, singkat. Dewa masih terlihat kesal dengan Grazia yang mengganggu kesenangannya.
"Ya sudah. Kalau begitu, kita sholat Ashar dulu ya. Setelah itu kita bicara lagi," Ucap Sri, seraya tersenyum.
Dewa membalas senyuman Sri, lalu ia mengangguk setuju.
.
'Pokoknya kita harus bertemu! Bila tidak, awas saja kamu!'
Grazia menatap pesan yang berada di layar ponselnya. Wajahnya tampak putus asa dan terlihat cemas. Grazia menghela napas panjang dan beranjak dari duduknya.
Pengasuh yang tampak sedang terkantuk-kantuk itu pun seketika membuka kedua matanya lebar-lebar.
"Ya bu," Sahutnya, seraya beranjak dari duduknya.
"Saya mau pulang dulu. Tolong jaga Kimberly, sebentar lagi bapak datang dan bilang sama bapak, kalau saya pulang untuk beristirahat sebentar dan mandi."
"Baik bu," Ucap pengasuh tersebut seraya mengangguk paham.
Grazia pun bergegas menyambar tas tangannya dan juga kunci mobilnya. Lalu ia beranjak meninggalkan ruangan tersebut tanpa sempat mengecup atau melihat keadaan Kimberly sebelumnya. Seolah ia sangat tergesa-gesa sekali.
Di perjalanan, Grazia tampak semakin gelisah. Keringat terus mengalir di dahinya walaupun suhu AC di mobilnya terasa sejuk. Sesekali Grazia mengusap keringat nya seraya mencoba fokus saat menyetir mobil tersebut. Air mata mulai menetes di pipi Grazia, saat ini ia tampak begitu tertekan. Satu sisi Kimberly sedang sakit dan di rawat di rumah sakit, dan satu sisi lagi, sudah beberapa bulan ini ia terus mendapatkan ancaman tanpa ia mampu membungkam orang yang terus mengancam dirinya tersebut.
__ADS_1
Angan Grazia kembali ke beberapa bulan yang lalu. Di mana saat sebuah pesan misterius ia terima melalui nomor pribadinya.
'Zi, masih ingat aku? apa kabar? Aku mau bertemu.'
Begitulah awal mula bunyi pesan pertama yang ia terima. Saat membaca pesan itu wajah Grazia mendadak pucat. Grazia tahu betul pesan ity dari siapa, pasalnya satu-satunya orang yang memanggil dirinya 'Zi', adalah mantan kekasihnya yang bernama Ronald. Ya, mantan kekasih yang kerap melakukan kekerasan fisik kepada dirinya dulu.
Saat itu Grazia langsung memblokir nomor dari pemilik pesan tersebut. Ia merasa tidak perlu lagi berurusan dengan lelaki bernama Ronald itu lagi. Karena ia sedang sibuk mencari perhatian Dewa dan sudah berhasil membuat Dewa menomorsatukan dirinya dan Kimberly dari pada Sri dan Ardi. Namun tanpa ia duga dan tanpa ia tahu siapa yang memberikan nomor ponselnya pada Ronald, lelaki itu mulai mencoba masuk lagi ke dalam kehidupannya.
Rupanya tindakan Grazia yang memblokir nomor ponsel Ronald, membuat Ronald merasa tersinggung. Sejak saat itulah, kehidupan Grazia tidak tenang. Ia mulai terjebak dengan permainan Ronald yang membuat dirinya kian tersiksa dari hari ke hari. Bahkan saat Kimberly sakit pun, ia tidak dapat menolak permintaan Ronald yang ingin bertemu dengan dirinya.
Grazia mengusap air matanya. Lalu ia menambah kecepatan laju mobilnya kala ponselnya mulai berdering berkali-kali. Ya, panggilan tersebut sudah pasti dari Ronald. Karena Grazia adalah orang yang paling kesepian, teman, keluarga, bahkan Dewa pun tidak pernah menghubungi dirinya. Hanya Ronald saja yang terus memberondong dirinya dengan pesan dan juga panggilan yang kian membuat dirinya semakin merasa tertekan.
"Aku masih di jalan, kamu mau aku kecelakaan!" Ucap Grazia yang mau tidak mau menerima panggilan telepon tersebut. Bila tidak di angkat, Grazia akan merasakan akibatnya sendiri saat ia bertemu dengan Ronald.
"Cepat!" Desak Ronald.
"I-iya," Sahut Grazia.
"Jangan lupa beli makanan! Aku lapar!" Pinta Ronald.
"I-iya, sebentar." Jawab Grazia.
Tut..
Tut..
Tut..
Panggilan telepon itu pun di akhiri oleh Ronald begitu saja, tanpa sepatah katapun.
Grazia memukul stir mobilnya dengan keras, hingga telapak tangannya tampak memerah.
__ADS_1
"Kenapa datang lagi sih lo ke kehidupan gue! Setelah lu kecewakan gue! Setelah lu sakiti mental dan badan gue! Sekarang lu datang lagi, setelah gue berniat untuk hidup dengan baik dengan lelaki yang baik, seperti yang gue mau! Salah gue apa sih sama elu Ronald! Gue benci sama elu! Gue benci sama elu! Biadap lu Ronald!" Grazia berteriak teriak seraya memukuli stir mobilnya berkali-kali.
Tentu saja ungkapan kekesalan itu hanya dapat ia ungkapkan saat dirinya seorang diri. Itu tidak akan pernah terjadi saat ia berhadapan langsung dengan Ronald. Karena saat ia bersama Ronald, Grazia seperti boneka. Boneka yang dapat di permainkan sesuka hati Ronald.