
"Rima.. apa kamu tidak masak? Bundo lapar," Ucap bundo Halimah, seraya menatap Rima yang sedang asik rebahan di depan televisi bersama dengan anak bungsunya.
Rima yang sedang asik dengan ponselnya dan melihat video-video viral di salah satu media sosial pun, melirik bundo Halimah dengan raut wajah yang datar.
"Tidak." Jawab Rima singkat.
"Terus anak-anak mu dan kamu makan apa? Nanti Fadli pulang dia makan apa?" Tanya bundo Halimah lagi.
"Ya beli lah, masa puasa!"
Jawaban Rima membuat hati bundo Halimah merasa terlukai, pasalnya dirinya tidak di anggap sama sekali oleh Rima.
"Tapi bundo lapar, Rim. Bundo belum makan dari pagi."
Mendengar ucapan bundo Halimah, Rima pun menghela napas panjang dan beranjak duduk dan menatap bundo Halimah dengan tatapan tak suka.
"Ya beli lah! Masih punya kaki kan? Sana jalan keluar! Minta di masakin saya? Jangan harap ya! Saya ini bukan pembantu bundo!"
"Astaghfirullahalazim!"
Bundo Halimah terkejut saat mendengar ucapan yang tak pantas itu dari bibir Rima.
"Astaghfirullahalazim, Astaghfirullahalazim! Maksudnya apa ya bundo? Kan memang benar, saya ini bukan pembantu di rumah saya sendiri. Kalau bundo minta di layani, sana di panti jompo! atau kembali saja ke kampung dan tinggal dengan si Siti!"
Tubuh Halimah bergetar hebat kala mendengar ucapan-ucapan tak pantas itu. Ia menatap wajah Rima yang dulu terlihat lemah lembut dan santun saat hendak menikahi Fadli. Namun kini, wajah polos dan perkataan santun itu hilang begitu saja, berganti dengan sosok Rima yang tidak tahu sopan santun dan menghargai orang tua.
Kemana Rima yang dulu?
Tentu saja perubahan seseorang itu tidak terjadi begitu saja. Bila saat ini orang mengatakan Rima begitu tega, ya.. memang Rima sangat tega terhadap mertuanya sendiri. Namun di balik itu semua, ada sebab yang membuat sikap Rima menjadi seperti itu pada bundo Halimah. Namun apapun itu, tetap tidak di benarkan bila seorang menantu berbicara seperti itu pada mertuanya. Bagaimanapun juga, mertua adalah orang tua kita juga. Walaupun ia tidak melahirkan kita, namun ia melahirkan suami kita. Ayah dari anak-anak kita. Maka, membalaskan sakit hati dengan sikap yang tak terpuji seperti Rima, itu sama sekali bukan jalan yang baik atau jalan yang bisa di tiru untuk memberikan pelajaran kepada 'mertua' yang sempat membuat kita merasa sakit hati atas sikapa dan ucapannya.
"Di kulakas ada tempe sisa kemarin! Masak saja! Di rice cooker sudah ada nasi sisa kemarin! habiskan dan jangan lupa di cuci!" Perintah Rima.
Bundo Halimah meneteskan air mata, kala mendengar perintah dari Rima.
"Jangan mentang-mentang sakit, jadi tidak berguna dan kerjaan nya cuma makan tidur makan tidur saja! Si Siti dan suaminya pun gak tanggung jawab! Sudah di auruh jemput, malah gak ada respon! Lama-lama saya masukkan ke dinas sosial saja!"
"Ya Allah Rim!"
Saking sakitnya ucapan Rima, bundo Halimah beranjak menghampiri Rima. Ia berdiri di hadapan Rima dengan kedua kaki gemetar dan mengepalkan kedua tangannya.
"Apa! Bundo menantang saya?" Tanya Rima.
"Bahasa kau Rim!"
"Kenapa? Apa yang aku bilang itu fakta semua! Kenapa? mau memukulku? pukul lah! Nanti aku balas, bundo bisa roboh! Ingat, bundo itu habis stroke, saya sentil saja bisa jatuh!" Ucap Rima, seraya beranjak berdiri di hadapan bubundo Halimah dan menantang mertuanya itu.
"Ma.." Si bungsu yang dari tadi melihat sikap ibunya pada neneknya pun mencoba menegur Rima.
__ADS_1
"Apa sayang?" Rima pun segera menghampiri dan menggendong anaknya.
Tiba-tiba saja si sulung keluar dari kamarnya dan menatap Rima dengan seksama. Rupanya dari tadi, si sulung mendengarkan ribut-ribut antara ibunya dan neneknya.
"Ma.., kalau kata guru di sekolah, kita harus santun dengan orang tua." Si sulung mencoba untuk mengingatkan ibunya.
Rima menatap si sulung dan mulai terlihat canggung.
"Iya, kita harus santun sama orang tua! Tetapi orang tua yang seperti apa dulu!" Ucap Rima berkahilah.
"Memangnya nenek kenapa?" Tanya si sulung lagi.
"Sudah, kamu tidak mengerti! Nenek mu ini mulutnya sadis! nyakitin menantu! ini di sebut hukum karma!" Jelas Rima.
"Tapi kasihan loh ma." Si sulung tampak menatap bundo Halimah dengan tatapan iba.
"Sudah! masuk kamar sana! kamu tidak tahu apa-apa!" Bentak Rima.
Akhirnya si sulung pun kembali masuk ke kamarnya. Pun dengan Rima yang juga beranjak masuk ke kamarnya, membawa serta si bungsu.
Kini tinggal lah bundo Halimah sendiri di ruang televisi. Bundo Halimah memeteskan air mata kesedihan, karena mendapatkan perlakuan tidak pantas dan tidak beradap dari menantunya sendiri. Ya, istri dari anak ke banggaannya, yaitu Fadli. Rasa lapar kini telah menghilang, tinggal lah rasa sedih yang mendalam di hati bundo Halimah. Akhirnya dengan tertatih, bundo Halimah lebih memilih untuk kembali ke kamarnya.
.
"Si Rina kemana?" Tanya Fadli, saat ia baru saja pulang dari bekerja.
"Pulang kampung." Jawab Rima singkat.
"Pulang kampung?" Fadli mengerutkan keningnya.
"Ya, dia pulang kampung tadi pagi, setelah kamu berangkat ke kantor." Terang Rima.
"Ada masalah apa? kok tiba-tiba dia pulang kampung?"
Rima yang baru saja membubuhi lipstik di bibirnya pun membalikkan tubuhnya dan menatap Fadli dengan seksama.
"Karena tidak ada tempat lagi untuk Rina. Kan kamarnya sudah di pakai sama bundo. Jadi, Rina harus mengalah dan pulang kampung." Terang Rima dengan perasaan yang tak merasa bersalah sama sekali.
"Lalu, siapa yang mengerjakan semua urusan rumah tangga?" Tanya Fadli, seraya menatap Rima dengan tatapan yang bingung.
"Ya ibumu lah. Masa aku!"
Fadli terdiam setelah mendengarkan ucapan Rima.
"Ta-tapi, bundo kan sedang sakit Rim. Kenapa tidak kamu saja?" Akhirnya Fadli mengutarakan apa yang ada di pikirannya setelah sekian menit berlalu.
"Aku?"
__ADS_1
"Ya.." Fadli pun mengangguk dengan cepat.
"Aku bukan pembantu ibumu."
Fadli kembali terdiam saat mendengar ucapan Rima.
"Cukup aku jadi pembantu di rumahnya dulu. Apapun yang aku lakukan selalu salah dan di dikte. Sekarang ibumu berada di rumah kita. Kita yang punya aturan!"
"Ta-tapi Rim.."
"Kamu tahu tidak da, kenapa rumah bundo terbakar?"
Fadli masih terdiam seraya menatap istrinya yang sedang berdiri di depannya dengan wajah yang tampak menyimpan dendam pada ibunya.
"Karena bundo mu itu jahat! Sekarang Tuhan tunjukkan padanya, bagaimana rasanya tidak punya suami. Tidak ada rumah dan tidak ada yang mau menampung! Kalau saja dulu dia bersikap baik pada semua mennatunya, mungkin ada rasa ikhlas di hati ku untuk menerima dia dengan keadaan yang seperti ini. Tetapi sudah seperti ini pun! Sikap menguasainya pun tidak hilang! Ibumu itu selalu merasa benar dan minta di hormati. Dia lupa apa, untuk di hormati harus memberikan rasa hormat terlebih dahulu! Dia juga lupa apa? Sikap nya dulu sangat melukai hatiku dan dia tidak pernah meminta maaf sebelumnya. Sekarang enak saja mau tinggal bersama kita di sini." Rima mengeluarkan seluruh keluh kesahnya.
"Ingat da, membeli rumah ini hampir sepenuhnya bantuan dari orang tuaku. Berarti sembilan puluh persen rumah ini hak aku dan orang tuaku. Sepuluh persennya, uang uda. Itu pun untuk membangun dapur dan juga kamar pembantu. Kalau uda mau bundo tinggal di sini, ya kamar pembantu itu yang cocok untuk bundo tempati." Sambung Rima.
Ada rasa sakit mendera di telinga dan hati Fadli, saat ia mendengar keluh kesah dan apa yang ada di pikiran istrinya itu. Bagaimanapun ia laki-laki dan yang di bicarakan itu adalah ibu kandungnya. Namun ia tidak dapat membela ibu kandung nya itu. Karena banyak faktor yang membuat ia tidak bisa membela ibunya.
Yang pertama, Fadli berlagak sukses di kampung halamannya; terutama di depan ibunya. Karena dulu saat baru saja menikah dengan Rima, Fadli bekerja dengan gaji yang sangat kecil. Hingga Rima terpaksa harus tinggal bersama di rumah orang tuanya. Walaupun sebentar, ternyata banyak konflik antara Rima dan bundo Halimah.
Yang kedua, karena banyak nya konflik antara istri dan ibunya, Fadli terpaksa merantau ke Batam. Dari mana modal untuk merantau? Tentu saja Fadli memperalat Rima untuk merengek pada orang tua Rima. Walaupun sempat medapatkan penolakan dari orang tua Rima, akhirnya mereka pun mengalah dan memberikan modal awal kehidupan untuk Rima dan Fadli.
Fakta bahwa Fadli hanya pekerja kantoran biasa, hingga ia tidak dapat membeli tempat tinggal untuk anak dan istrinya. Sedangkan mengontrak di Batam, sangatlah mahal. Maka dari itu, lagi-lagi orang tua Rima memberikan uang untuk membeli tempat tinggal. Tempat tinggal sudah ada, tentunya masih butuh renovasi dan mendirikan dapur untuk jenis rumah baru yang mereka beli di sebuah perumahan pada umumnya. Hanya itulah yang di tanggung oleh Fadli.
Fakta bahwa uang Rima lebih banyak saat ini di bandingkan dirinya. Rima walaupun ibu rumah tangga biasa. Namun karena ia tinggal di Batam, ia sering menjadi jasa penitipan barang-barang branded dan juga menjual berbagai macam barang melalui online. Tima jugalah yang kerap membiayai plesiran mereka sekeluarga.
Dan banyak faktor lainnya yang membuat Fadli semakin merasa kerdil.
"Sekarang kita makan di luar," Ucap Rima.
Fadli yang tengah termenung pun kembali ke kenyataan, ia menatap Rima yang sudah siap untuk makan malam di luar bersama dirinya dan juga anak-anak mereka.
"Bagaimana dengan bundo?"
Ingin sekali Fadli mengajukan pertanyaan itu. Namun seolah mulutnya terbungkam dan hanya bisa mengangguk untuk mengiyakan ajakan istrinya itu.
Tanpa banyak bertanya lagi, Fadli pun membasuh wajahnya dan mengganti pakaiannya. Lalu mereka sekeluarga pun pergi untuk makan malam bersama di sebuah restoran.
Bagaimana dengan bundo Halimah? Wanita tua itu sednag menangis, ia sempat mendengar percakapan anatara Rima dan Fadli. Hatinya luka namun tak berdarah. Kini ia tahu, anak kebanggaannya itu tidak lebih hanya menumpang hidup pada istrinya yang arogan. Gaji Fadli tidak sebanyak yang Fadli ceritakan pada dirinya. Rumah itu, bukanlah hak Fadli sepenuhnya. Pantas saja Fadli seolah lupa pada bundo dna juga bapak saat di kampung dulu. Ternyata gaji Fadli hanya cukup untuk menghidupi seadanya bukan untuk menghidupi hingga mampu bergaya.
Kini bundo Halimah paham, setiap apa yang ia ucapkan dulu, meninggalkan jejak di hati menantunya. Entah itu pada Rima ataupun Batra. Dulu memang bundo dapat berbicara tanpa berpikir, karena ia masih memiliki segalanya walaupun tidak berlimpah, namun semua itu cukup untuk dirinta dan suaminya. Di tambah suaminya adalah orang yang di hormati di kampung halaman.
Kini taring itu seolah sudah tumpul, bahkan copot dari gusi sang harimau. Kini harimau itu sudah menjadu kucing yang hidup di jalanan, menunggu belas kasih dari siapa saja yang berbaik hati. Bahkan, sialnya kucing jalanan itu bertemu dengan orang yang trauma atau tidak menyukai kucing. Dengan gampang mereka menyepak atau mengusir kucing tersebut kala merengek meminta sepotong tulang.
Bundo Halimah menangis, di dinding kamar pembantu tersebut. Langit begitu tinggi untuk dirinya yang kini merasa kerdil dan penyakitan.
__ADS_1
"Itulah mengapa, Anda akan mendapatkan rasa hormat, bila anda menghormati orang lain terlebih dahulu. Anda akan mendapatkan perlakuan baik, kala anda memperlakukan orang lain dengan baik, terlebih dahulu." -De'rini-