
Moan menghentikan laju motornya beberapa meter dari rumahnya. Ia membuka kaca helmnya dan menatap ke arah gerbang rumahnya. Moan melihat mobil Butet sudah terparkir di sana, namun ia tidak melihat satupun kendaraan di sana, kecuali mobil Butet.
"Belom datang rupanya tamu si Butet?" Gumam Moan.
Moan pun mengeluarkan kotak rokoknya dan mengeluarkan sebatang rokok dari dalam kotaknya, setelah itu, ia kembali menyimpan kotak rokok tersebut ke dalam kantong jaket nya yang terbuat dari kulit. Lalu ia melepaskan helmnya dan membakar rokok yang baru saja ia selipkan di bibirnya.
Moan terlihat begitu gelisah. Ia sedang memata-matai kegiatan Butet di rumah yang pernah mereka tinggal bersama. Entah mengapa, hati Moan merasa curiga, bila Butet sedang dekat dengan seorang lelaki. Meskipun Butet sudah menerangkan kepadanya, bila malam ini tamunya yang akan singgah adalah seorang wanita. Namun Moan tidak percaya begitu saja. Ia merasa harus menyaksikan sendiri, siapa tamu yang singgah ke rumah yang ia belikan untuk keluarga kecilnya tersebut.
Saat Moan sedang asik mengintai dan menikmati rokoknya, sebuah mobil pun melaju ke arahnya. Mobil mewah berwarna hitam tersebut cukup mengundang atensi Moan. Ia mulai mencurigai Mobil tersebut, sebagai mobil lelaki yang sedang di tunggu oleh Butet. Benar saja, setelah mobil mewah berkaca gelap tersebut melewati dirinya, mobil tersebut pun berhenti tepat di depan pagar rumah Moan.
Moan membulatkan kedua matanya dan mulai beranjak naik ke atas motornya. Dari kejauhan, ia melihat asisten rumah tangganya tergopoh menuju ke gerbang rumah, untuk membukakan pagar rumah tersebut. Moan pun langsung mengenakan helmnya, agar asisten rumah tangganya tidak melihat wajahnya dari kejauhan.
Pagar rumah itu pun terbuka lebar, mobil hitam tersebut mulai beranjak memasuki halaman rumah tersebut. Terlihat asisten rumah tangga kembali menutup gerbang tersebut dan menguncinya. Moan pun mulai merasa penasaran. Lalu ia menyalakan mesin motornya dan mendekati rumah itu, agar ia dapat melihat sosok tamu yang sedang di tunggu oleh Butet.
Saat Moan berada di seberang pagar rumah tersebut, Moan pun melihat Butet keluar dari dalam rumah, untuk menyambut tamunya. Melihat busana dan riasan Butet, Moan pun semakin terbakar cemburu.
"Ish mak, cantek kali dia!" Batin Moan.
Lalu terlihat pintu mobil hitam itu terbuka, dan Moan pun semakin penasaran, hingga ia mendekati pagar rumah tersebut. Ternyata apa yang ia khawatirkan tidak terjadi, Moan melihat dengan jelas bila tamu yang di tunggu Butet bukanlah seorang laki-laki. Melainkan seorang wanita cantik yang tampak begitu elegan.
Wanita itu datang seorang diri, setelah ia menutup pintu mobilnya, ia pun tersenyum kepada Butet dan melangkah menghampiri Butet.
"Halo kak, selamat malam. Maaf terlambat. Saya mampir dulu ke toko buah untuk membawakan buah buat Moana," Ucap wanita itu, seraya tersenyum manis kepada Butet.
"Oh.. itu rupanya binik baru si Dewa... Cantek juga. Bisa aja si Dewa ya.. ngeri jugak seleranya Bah!" Batin Moan, yang masih mengintai di sisi pagar luar rumahnya.
"Oh mak! Mantap-mantap kali buahnya. Pasti mahal ini dia belik. Lumayan lah ya, gak sia-sia aku masak untuk kau!" Batin Butet.
"Aduhhh.. repot-repot kali mbak. Padahal, mbak sudah bersedia datang saja, aku sudah senang loh.." Ucap Butet berbasa basi. Namun keranjang buah yang ada di tangan wanita itu langsung Butet raih dan ia serahkan kepada asisten rumah tangganya.
"Cepat kau bawak ke dapur ya bik," Perintah Butet.
Tampak wanita itu terpaku sejenak, lalu ia tersenyum, mencoba memaklumi sikap kenalan barunya tersebut.
Asisten rumah tangga itu pun meraih keranjang buah tersebut. Namun sebelum ia melangkah ke dalam rumah, ia sempat melihat bayangan laki-laki di luar pagar rumah majikannya. Asisten itu pun mulai menegaskan pandangannya, mencoba memastikan siapa lelaki yang sedang mengintai rumah tersebut.
"Kau tunggu apa bik? Cepatlah bawak ke dalam," Ucap Butet, seraya melirik asisten rumah tangganya yang tampak sedang serius menatap ke arah pagar rumahnya.
__ADS_1
"I-itu bu. Kayaknya ada orang di luar pagar," Ucap asisten rumah tangga tersebut.
Seketika Butet langsung melihat ke arah pandangan asisten rumah tangganya, lalu ia mencoba untuk menegaskan pandangannya kepada sosok lelaki tersebut.
"Eh mak, ketauan aku bah," Ucap Moan, yang mulai panik.
"Mbak sama siapa?" Tanya Butet.
"Saya sendiri kok." Sahut Grazia.
"Itu siapa ya?"
"Saya tidak tahu, mungkin tamu kakak juga." Jawab Grazia.
"Masuk dulu ya mbak, biar saya cek ke luar dulu," Ucap Butet dengan ramah. Lalu ia pun melangkah menuju ke pagar rumahnya. Sedangkan Grazia memasuki rumah Butet, di iringi asisten rumah tangga Butet.
"Woi! siapa kau!" Bentak Butet, seraya berjalan dengan cepat ke arah pagar.
"Eh! Mamposss aku!" Moan semakin panik, lalu ia mencoba melarikan diri dari sana, karena takut ketahuan oleh Butet. Moan merasa gengsi, bila Butet mengetahui dirinya sedang cemburu buta dan mengintai Butet di rumahnya sendiri.
Saking paniknya, Moan pun mencoba melarikan diri. Namun nahas bagi Moan, ia terperosok kedalam saluran air yang terbuka di samping gerbang rumahnya.
"Siapa kau?" Tanya Butet, seraya menghampiri lelaki yang memakai jaket, serta helm berwarna hitam tersebut.
"Aduhh! Saket kali... aduh..! Mati aku!" Rintih Moan.
"Mau maleng kau ya?" Butet sudah bersiap untuk meninju Moan.
"Eh! jangan lah dek! Ini aku loh...! Moan... Masak gak tanda kau dek..." Moan mengangkat kedua tangannya, tanda ia mwnyerah dengan keadaan yang telah mempermalukan dirinya sendiri.
"Hah! Ngapain kau di situ bang!" Tanya Butet, seraya berjongkok mencoba melihat wajah Moan yang masih tertutup helm.
"Bantu aku keluar dulu dek. tejepet aku ini. saket kali..." Moan memelas di iringi dengan rintihannya.
"Tah apa aja kerjamu bang. Kok makin aneh ku tengok kau? Ngapain kau di sini bang?" Tanya Butet, seraya membantu Moan untuk membebaskan kakinya yang terjepit di sela beton saluran air.
Setelah Butet berhasil mengeluarkan kaki Moan, dengan cepat Butet langsung menutup hidungnya.
__ADS_1
"Ish, bauk paret kau bang!" Protes Butet.
"Ya iya lah, namanya aku abes jatoh ke paret. Masak bauk parpum aku. Kau pun ada-ada aja!" Ucap Moan, seraya berusaha untuk berdiri, walaupun kakinya terasa sakit, basah dan beraroma tidak sedap.
"Ngapain kau bang? Mata matai aku kau ya? Gak percaya rupanya kau, kalok tamu ku betina itu?" Tanya Butet.
Moan tertunduk malu, seraya berdiri mematung di hadapan Butet.
"Aaaa... tau aku. Iya kan? Itu alasannya kan? Cemburu kau? Curiga rupanya kau bang? Gak percaya lau bang? Ku kasi tau kau ya bang, aku gak kek kau bang, gampang selingkuh," Ucap Butet dengan raut wajah yang terlihat begitu puas.
Dengan ragu, Moan menatap Butet.
"Apa kau liat-liat! Amper aja rusak rencanaku gara-gara kau bang! Jangan kau masok ke dalam. Aku ngaku janda soalnya. Pulang kau sanan ke kosanmu.." Ucap Butet.
"Ya Tuhan... dek.. jangan kek gitu lah..."
"Gadak cerita.. Bauk kali kau pon. Pulang lah kau bang. Besok kita bicara," Ucap Butet.
Moan kembali tertunduk lesu. sesekali ia mencoba mengangkat kakinya, agar sepatunya tiris dari air.
"Ish! Mercik mercik loh..! Kenak aku bang! Jorok kali kau! Pulang lah sanan cepat! Geram pulak aku samamu!"
"Iya iya. Tapi, aku mau mintak maap samamu dulu dek. Aku kek gini karna terlalu cinta samamu. Takot aku dek, kalok kau bawak laki-laki laen ke rumah kita," Ucap Moan.
Butet terdiam mendengar alasan Moan yang memata-matai dirinya.
"Dek.. kek manapun, aku gak bisa idop tanpa kau dek. Sebetolnya aku lagi putus asa, tah cemana caranya aku mau buat kau percaya sama aku, kalok aku udah jujur kali samamu. Jadi, aku kesini bukan karena aku takot kau balas dendam samaku. Tapi lebih ke aku takot kehilangan kau sama anak kita."
Butet melihat wajah Moan yang mulai memerah.Entah mengapa, dirinya mulai merasa iba kepada Moan.
"Ya udah lah dek. Aku ke kost dulu. Maap kan aku ya dek. Bodoh kali memang aku dek. Tapi aku kek ciom ciom aroma arsik ikan mas lah. Lapar aku dek, rindu aku masakanmu. Kalok kau berbaek hati, kau bawakkan lah buat aku nantik, sepotong pun gak apa." Sambung Moan.
Butet masih terdiam membisu. Hatinya mulai luluh, namun egonya belum juga surut. Karena logika wanita adalah cocoklogi. Wanita akan mempercayai apa yang ia lihat, daripada harus mencerna penjelasan. Namun meskipun begitu, Butet mulai merendahkan nada suaranya kepada Moan.
"Ya udah bang. Tunggu dulu ya, aku ambekan satu potong buatmu. Sekalian nasinya. Biar makan kau. Kurus kali ku tengok badanmu sekarang. Tapi tunggu kau di situ ya bang. Jangan kau masok, nantik gagal rencanaku." Ucap Butet, seraya beranjak dari hadapan Moan.
Moan terpaku, hatinya terasa begitu bahagia. Walaupun dirinya tidak boleh masuk, meski hanya sekedar mencuci kaki dan sepatunya, namun ia begitu bahagia mendengar ucapan Butet yang begitu lembut. Serta janji Butet yang akan membawakan dirinya masakan istrinya yang selalu ia rindukan.
__ADS_1
"I-iya dek." Sahut Moan, seraya tersenyum. Namun meskipun bibirnya tersenyum, air matanya mulai meleleh membasahi pipinya.
"Tuhan.. akhirnya satu aja doa ku Engkau jawab. Makasi Tuhan... aku janji, makin rajen aku ibadah nantik." Batin Moan.