
Siti terperangah dan menangis, saat melihat rumahnya yang sudah rata dengan tanah dan hanya menyisakan puing-puing yang sudah menjadi arang. Sementara Batra mencoba untuk menopang tubuh Siti yang hampir saja terjatuh. Kedua anak Siti pun menangis saat melihat rumah kakek dan nenek mereka yang sudah terbakar habis dan di berikan garis polisi yang berwarna kuning.
Tiba-tiba saja seorang wanita menghampiri Siti dan memeluknya. Dia adalah bundo Niar yang sudah menunggu kehadiran Siti di sana. Bundo Niar sengaja menunggu setelah ia mendapatkan kabar, bila Siti sedang dalam perjalanan ke kampung halamannya.
"Ti, sabar, Ti.." Ucap bundo Niar, sengaja terus memeluk Siti yang sedang meronta dan menangis.
"Kok bisa tabaka rumah ambo bundo?" Tanya Siti, di sela isak tangis nya.
"Sudah menjadi takdir Allah, Ti. Sabar nak.." Bundo Niar terus mencoba untuk menyabarkan Siti.
"Dima apak kini bundo? Kok apak bisa ikuik tabaka?"
"Apak kau, masih di rumah sakik. Siap di autopsi jasad nyo," Jawab bundo Niar.
"Terus amak kini dima, bundo?" Tanya Siti lagi.
"Amak kau di rumah bundo. Kami sadonyo sadang menunggu jasad apak kau," Terang bundo Niar.
"Ya Allah, amakkk.." Siti terus menangis. Sedangkan bundo Niar mulai menuntun Siti untuk beristirahat di rumahnya.
Sementara Siti dan anak-anak di bawa ke rumah bundo Niar, Batra hanya terdiam di depan rumah yang kini tinggal menyisakan puing-puing yang berbentuk arang. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca. Batra ingat betul pertama kali ia mendatangi rumah tersebut untuk melamar Siti. Lalu ingatannya berpindah ke saat dirinya tinggal di rumah itu. Meskipun tidak nyaman tinggal di rumah mertua, namun di sana terukir kenangan indah bersama orang yang sangat ia kagumi. Yaitu bapak Dahlan, ayahanda Siti yang kini sudah berpulang.
"Semoga bapak husnul khatimah dan di terima segala amal dan ibadahnya. Aamiin," Batin Batra. Lalu dengan gontai, ia berbalik badan dan menyusul Siti yang kini sudah berada di rumah bundo Niar.
.
"Amakkkk..!" Seru Siti, saat melihat bundo Halimah yang sedang berbaring di ruang tamu rumah bundo Niar.
Bundo Halimah pun menoleh dan bergegas duduk menyambut kehadiran Siti.
"Siti...!" Seru bundo Halimah, seraya merentangkan kedua tangannya saat menyambut siti yang menghambur ke pelukannya.
"Ya Allah mak, astaghfirullah.. Ya Allah.." Siti tidak dapat berkata-kata lagi. Ia terlihat begitu terpukul saat melihat bundo Halimah yang kini menumpang di rumah bundo Niar.
"Nenek!" Seru anak-anak Siti.
"Cucu ambo.." Bundo Halimah pun menyambut ke dua cucunya dengan derai air mata.
"Assalamu'alaikum,"
"Waalaikumsalam," Jawab semua yang sedang berada di sana.
Bundo Halimah melirik Batra, lalu ia mulai bertingkah seolah Batra tidak ada di hadapannya.
Batra mulai menyalami satu persatu orang yang sedang berada di sana. Setelah itu, ia pun menghampiri bundo Halimah dan bersimpuh di depan wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Bundo, saya sangat terpukul atas kepergian bapak. Bundo tidak apa-apa kan?" Tanya Batra.
Namun bukan jawaban yang Batra dapatkan. Justru bundo Halimah berpura-pura tidak mendengar ucapan duka dari Batra.
Beberapa saat, suasana canggung yang di saksikan oleh banyak orang tersebut pun berlalu begitu saja, setelah terdengar bunyi ambulans yang berhenti di depan rumah bundo Niar. Sadar dirinya tidak di anggap, Batra pun beranjak dari duduknya dan bergegas menyambut jasad bapak Dahlan yang akan di keluarkan dari ambulans tersebut.
"Keluarga bapak Dahlan?" Tanya seorang polisi.
"Ya, saya menantunya," Sahut Batra.
"Ini hasil pemeriksaan bapak Dahlan. Beliau di nyatakan meninggal dunia karena serangan jantung. Dan kronologinya, sepertinya bapak dahlan Sedang menghangatkan gulai saat ia terkena serangan jantung. Namun karena bapak Dahlan sudah meninggal saat itu, maka terjadilah kebakaran di rumah bapak Dahlan," Terang polisi tersebut.
Batra menghela napas dalam-dalam dan mengangguk paham atas hasil dari autopsi tersebut.
"Baik pak, kalau begitu, tidak ada tindak kejahatan di sini. Saya nyatakan bila kejadian ini murni karena kecelakaan saja. Sekarang mohon di tandatangani surat serah terima ini dan juga surat hasil autopsi ini." Pinta polisi tersebut, seraya menyerahkan sebuah ballpoint kepada Batra.
Dengan tangan gemetar, batra meraih ballpoint tersebut dan mulai menandatangani berkas tersebut. Setelah itu, jasad bapak Dahlan pun dinyatakan sah sudah di serahkan kepada pihak keluarga. Jasad bapak Dahlan di keluarkan dari ambulans dan di taruh di ruang tamu rumah Bundo Niar.
Kedatangan jasad bapak Dahlan, membuat semua orang menangis pilu. Bapak Dahlan terkenal orang yang sangat baik. Maka siapapun akan metasa sangat kehilangan sosok bapak Dahlan. Namun jasad bapak Dahlan hanya di semayamkan sebentar saja di sana. Karena mempertimbangkan bentuk jasad dan juga waktu, maka pihak keluarga setuju untuk segera menyolatkan dan juga mengkebumikan jasad bapak Dahlan.
Sepanjang proses di semayamkannya jasad bapak Dahlan, hingga di kebumikan, hanya Batra lah yang terlihat begitu aktif menerima pelayat, hingga turut turun ke dalam liang lahat, untuk menyambut dan meletakkan jasad mertuanya itu. Namun ada yang kurang pada hari ini. Yaitu tidak hadirnya Fadli, anak tertua dari bapak Dahlan dan bundo Fatimah. Hal itu juga baru Siti sadari setelah bapak Dahlan sudah di kebumikan.
"Uda indak tibo bundo?" Tanya Siti, saat mereka semua baru saja selesai melaksanakan sholat maghrib berjama'ah di rumah bundo Niar.
Bundo Halimah hanya terdiam membisu, saat Siti mempertanyakan prihal kehadiran anak yang sangat ia banggakan itu.
Namun bundo Halimah masih terdiam membisu.
"Ng-uda kau adalah urang nan pertamo bana di agiah kaba. Tapi..." Bundo Niar menghentikan ucapannya.
"Tapi apo bun?" Tanya Siti.
"Uda kau.."
"Alah tu uni Niar," Potong bundo Halimah.
"Kenapa uda bundo?" Desak Siti.
Bundo Niar terlihat enggan mengungkapkannya, setelah bundo Halimah mencegahnya untuk berbicara.
"Kenapa? Cepat bilang samo Siti!" Desak Siti.
Bundo Niar terlihat tidak tahan lagi, akhirnya ia pun mengatakan yang sesungguhnya kepada Siti, tanpa mempedulikan bundo Halimah yang sudah mencegah dirinya untuk berbicara.
"Uda kau sedang jalan-jalan ke Batam. Jadi dia tidak bisa datang," Ucap Bundo Niar.
__ADS_1
"Astaghfirullahalazim....!" Siti tampak begitu menyesali sikap saudara kandungnya tersebut.
"Apa dia tidak peduli? Rumah orang tua nya terbakar, bapaknya meninggal, ibunya sekarang tidak ada rumah! Di mana otak uda Fadli!" Siti terlihat begitu emosi. Sedangkan bundo Halimah hanya mampu menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Sudah, Ti," Batra berusaha menenangkan Siti.
"Sudahlah, Fadli sedang di Batam. Dia sedang liburan keluarga. Dia juga baru dua hari di sana," Ucap bundo Halimah.
"Liburan? Apa pentingnya liburan bun! Suami Siti besok ada diklat! Dia mau naik jabatan! Tapi apa yang di lakukan uda Batra? Dia datang kasiko! Demi bundo dan apak!" Ucap Siti dengan emosi yang meluap.
"Dengan uda Batra kasiko, berarti dia melepaskan kesempatan itu. Dia lebih mengutamakan orang tua Siti! Dia lebih mengutamakan mengantar Siti jo anak-anak sampai di siko dengan salamaik!" Sambung Siti dengan emosi yang semakin menjadi.
Bundo Halimah terdiam membisu.
"Siti, tenanglah. Kita sedang dalam suasana berduka," Ucap Batra, seraya mengusap punggung Siti dengan lembut.
"Uda Fadli tidak ada otak!" Ucap Siti dengan emosinya. Lalu ia pun beranjak dari hadapan bundo Halimah dan memasuki kamar tamu yang telah di sediakan oleh bundo Niar.
Sedangkan Batra masih berdiam diri di sana, bersama dengan bundo Halimah, bundo Niar dan juga keluarganya. Lama mereka terdiam, hingga akhirnya bundo Niar memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang ada di hatinya saat ini.
"Nak Batra,"
"Ya bun?" Sahut Batra.
"Saat ini kami sekeluarga sangat terbuka dan menerima bundo Halimah untuk tinggal bersama dengan kami. Prihal rumah Siti.. hmmm, bagaimana enaknya?" Tanya bundo Niar.
Batra terdiam mendengar pertanyaan tersebut. Jauh di lubuk hatinya, ia juga bingung tentang pertanyaan yang sama.
"Kalau prihal rumah..."
Baru saja Batra membuka suara, bundo Halimah pun langsung memotong ucapan Batra.
"Ambo menunggu di jemput Fadli," Ucap bundo Halimah.
Bundo Niar menghela napas panjang. Pun dengan Batra yang sudah memiliki bayangan, bila Fadli tidak akan pernah mau menjemput bundo Halimah. Batra cukup paham sikap dan sifat abang iparnya tersebut. Sejak menikah, Fadli tidak lagi peduli dengan kedua orang tuanya. Maka sudah dapat di pastikan bila harapan bundo Halimah hanya angan-angan semata.
"Lebih baik bundo ikut saya dan Siti ke Jakarta ya..., nanti bila saya ada rezeki, kita bangun lagi rumah bundo," Ucap Batra.
"Ikut ke rumah kontrakan waang?" Tanya bundo Halimah.
Batra terdiam mendengar ucapan bundo Halimah yang terkesan meremehkan dirinya.
"Istighfar Halimah," Ucap bundo Niar, seraya menatap bundo Halimah dengan tatapan tak percaya.
"Ya sudah. Saya di sini selama satu minggu. Nanti kita tunggu dulu kehadiran uda Fadli. Bila memang uda Fadli siap untuk membawa bundo, tidak apa. Tetapi bila tidak, saya akan membawa bundo ke Jakarta. Saya mau beristirahat dulu," Ucap Batra, seraya beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Semua terdiam, Batra pun bergegas masuk ke dalam kamar tamu, menyusul Siti yang sedang menenangkan diri di kamar tersebut.